<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Artikel &#8211; YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<atom:link href="https://yayasansanctamaria.org/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<description>Jalan Puncak Trikora R2/06 RT 008 RW VII Kelurahan Karang Besuki Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur Kode Pos 65146</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 03:42:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/01/logo-YSMM-1-150x150.webp</url>
	<title>Artikel &#8211; YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tidak Ada Lagi E-mail, Online dan Offline</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/05/06/tidak-ada-lagi-e-mail-online-dan-offline/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 May 2026 03:42:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=1908</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ujang Sarwono (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember) Seringkali kita masih menggunakan istilah bahasa asing karena kesulitan mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia. Seperti penggunaan kata E-mail, Online, dan Offline yang masih saja digunakan dalam bahasa Indonesia meski sudah ada padanan kata yang menggantikan. E-mail merupakan bentuk pendek dari electronic mail. Selain e-mail,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-1911" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-1536x1024.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-2048x1365.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/asram-online-600x400.webp 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Oleh: Ujang Sarwono (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seringkali kita masih menggunakan istilah bahasa asing karena kesulitan mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia. Seperti penggunaan kata <em>E-mail, Online, </em>dan<em> Offline </em>yang masih saja digunakan dalam bahasa Indonesia meski sudah ada padanan kata yang menggantikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>E-mail</em> merupakan bentuk pendek dari <em>electronic mail</em>. Selain <em>e-mail</em>, ada juga istilah <em>pos-el</em> yang berarti pos elektonik. Pos elektronik adalah alat atau sistem untuk mengirimkan pesan secara elektronik kepada seseorang atau instansi, baik antarkomputer maupun telepon seluler dalam sebuah jejaring. Ada juga istilah “surel” kependekan dari surat elektronik. Kata itu juga padanan dari <em>e-mail</em>. Pada awalnya <em>e-mail</em> dibuat hanya untuk mengirimkan teks. Namun sekarang kenyataannya sistem “pengiriman” tersebut tidak hanya untuk mengirimkan teks, tetapi dokumen, foto, gambar, dan juga program sederhana dapat dikirim melalui pos-el. Dengan pertimbangan di atas maka istilah pos elektronik atau “pos-el” dipilih untuk menggantikan <em>e-mail. </em>(http://<em>badanbahasa.kemdikbud.go.id</em>)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu bagaimana dengan istilah <em>online</em> dan <em>offline</em>? Dalam bahasa Indonesia istilah <em>online</em> dipadankan menjadi “dalam jaringan” (daring), yaitu perangkat elektronik yang terhubung ke dalam jaringan. Sedangkan<em> offline </em>dipadankan menjadi “luar jaringan” (laring), yakni tidak terhubungnya perangkat elektronik dalam jaringan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai wujud kecintaan terhadap bahasa Indonesia, mulai sekarang kita harus terbiasa menyebut istilah “pos-el”, “daring”, dan “luring” untuk menggantikan kata <em>e-mail, online</em>, dan <em>offline</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menilik Semboyan Ki Hajar Dewantara</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/05/02/menilik-semboyan-ki-hajar-dewantara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 May 2026 03:04:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=1904</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ujang Sarwono (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember) Sebelum menjabarkan tentang semboyan yang dipakai oleh pendidikan di Indonesia akan saya ungkapkan fakta yang mencengangkan terkait prestasi pendidikan Indonesia di mata dunia. Tahun 2016 sebuah perusahaan pendidikan dunia ternama yakni Program for International Student Assessment (PISA) menempatkan Indonesia pada urutan terakhir dari 40 negara...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph">Oleh: Ujang Sarwono (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember)</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="687" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/ki-ajar-dewantara-1024x687.webp" alt="" class="wp-image-1914" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/ki-ajar-dewantara-1024x687.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/ki-ajar-dewantara-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/ki-ajar-dewantara-768x515.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/ki-ajar-dewantara.webp 1073w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum menjabarkan tentang semboyan yang dipakai oleh pendidikan di Indonesia akan saya ungkapkan fakta yang mencengangkan terkait prestasi pendidikan Indonesia di mata dunia. Tahun 2016 sebuah perusahaan pendidikan dunia ternama yakni <em>Program for International Student Assessment </em>(PISA) menempatkan Indonesia pada urutan terakhir dari 40 negara yang disurvei. Indonesia masih kalah dengan Malaysia dan Thailand. Sementara itu, Jepang dan Singapura masih menempati urutan lima besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu indikator penilaian internasional tentang pendidikan sebuah negara yakni &nbsp;dilihat dari skor yang dicapai pelajar dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains. Rendahnya ketiga kemampuan tersebut memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap penilaian. Fakta di atas merupakan bukti sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk turut berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pendidikan Indonesia yakni dengan meningkatkan kesadaran untuk lebih aktif membaca. Pertanyaannya, siapa yang harus berperan untuk hal ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Salah satu cara yang dapat dilakukan yakni dengan menilik kembali semboyan yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Kita mengenal tiga kalimat beliau yang hingga kini masih digunakan dalam pendidikan Indonesia namun sering tidak mengetahui makna dan bagaimana memaknai semboyan terebut. <em>Tut Wuri Handayani</em>. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya <em>ing ngarsa sung</em> <em>tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri</em> <em>handayani</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penjabaran arti dan maksud masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut, pertama <em>ing ngarso sung tulodho. </em>Bila diartikan dalam bahasa Indonesia <em>ing</em> berarti di, <em>ngarso</em> berati depan, <em>sung</em> berarti jadi, <em>tulodho</em> berarti contoh. Jika dirangkai akan berarti, di depan seorang guru atau pendidik harus bisa memberikan contoh yang baik. Dalam beberapa kasus pelecehan seksual yang justru dilakukan oleh seorang guru menandakan belum adanya kesadaran bagi guru tersebut tentang bagaimana memberikan contoh yang baik baik di lingkungan sekolah dan masyarakat. Terlepas dari memberikan contoh yang baik, seorang guru yang melakukan pelecehan seksual (maaf) sodomi dan pemerkosaan seolah tidak menyadari pelanggaran norma yang telah dilakukan. Meski tidak banyak, kasus semacam ini hendaknya menjadi perenungan yang mendalam untuk benar-benar menyadari profesi guru yang disandang. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mengambil contoh yang lebih sederhana yakni tentang penyampaian pelajaran di sekolah. Sebagai guru tentu kita dituntut&nbsp; mengajarkan siswa kita untuk rajin membaca, menulis, dan berhitung. Namun apakah kita menyadari, sudahkah kita melakukannya?. Sebagai contoh, suatu ketika saya pernah menyuruh siswa untuk menulis cerpen, sementara saya sendiri saat itu sebagai guru belum pernah menulis cerpen. Hal semacam ini perlu kita renungkan bersama sebagai seorang guru. Ketika menuntut siswa untuk bisa rajin membaca, menulis, dan berhitung kita harus bersikap adil dengan memberikan teladan kebiasaan membaca, menulis, dan berhitung kepada siswa. Singkatnya, berani menyuruh juga harus berani memberikan contoh. Apalagi jika dikaitkan dengan kurikulum 2013 yang menuntut keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Jika tidak didasari akan kesadaran memberikan contoh akan semakin “meninabobokkan” guru. Menyuruh tapi kita sendiri belum pernah melakukan hal yang kita suruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, <em>ing madya mangun karsa, </em>berarti di tengah guru atau pendidik harus mampu menciptakan prakarsa atau ide. Menjadi murid atau sekolah tidak harus selalu unggul dalam bidang akademik semata. Banyak hal yang bisa dikembangkan sehingga menjadi sebuah nilai lebih atau keunggulan. Sebut saja bidang seni dan olahraga yang masih menjadi “anak tiri” di beberapa sekolah. Padahal setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Siswa yang cerdas pada mata pelajaran Matematika belum tentu baik dalam bidang olahraga, begitu juga sebaliknya. Artinya, sebagai pendidik kita harus mampu menciptakan sebuah ide atau gagasan yang dapat meningkatkan segala potensi yang dimiliki siswa. Entah itu sains, bahasa, olahraga, atau seni. Karena pada dasarnya setiap orang sudah diberi bakat yang berbeda-beda. “Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidikan hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu” kata Ki Hajar Dewantara. Ungkapan ini memberikan gambaran bahwa setiap siswa tidak bisa dituntut untuk cerdas dalam semua bidang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, <em>tut wuri</em> <em>handayani, </em>berarti dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Sebenarnya semboyan ini masih terkait dengan sebelumnya yakni<em> ing madyo mangun karso. </em>Selaras dengan tujuan kurikulum 2013, pelajar diberi keleluasaan untuk menggali potensi diri yang dimiliki. Hal ini dapat dilihat dari penerapan cara belajar melaui pendekatan keilmuan yang menuntut siswa untuk berpikir ilmiah. Mulai dari mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, hingga mengomunikasikan merupakan tahapan berpikir yang diharuskan dalam kurukulum 2013. Harapannya peran guru benar-benar hanya sebagi pendorong dan pemberi arahan. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Memang dalam praktik nyata tidak mudah melaksanakan pembelajaran yang ideal. Banyak hal seperti kondisi siswa, sarana dan prasarana di sekolah, serta, peran orang tua menjadi hambatan dalam mewujudkan pelaksanaan pendidikan yang ideal. Akan tetapi, melihat fakta tentang kondisi dan prestasi pendidikan Indonesia diharapkan mampu menjadi semangat untuk terus berpacu menciptakan pendidikan yang berkualitas.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penghayatan  Spritualitas Karmel dalam Hidup Sehari-Hari</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/04/28/penghayatan-spritualitas-karmel-dalam-hidup-sehari-hari/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 01:21:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=1892</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm. Pengantar Spiritualitas Karmel adalah suatu nilai yang amat luhur bagi manusia. Namun demikian, nilai ini tidak begitu mudah untuk dihayati. Sejauh pengalaman, banyak orang merasa kesulitan menghayati Spiritualitas Karmel karena terasa &#160;masih di awang-awang alias tidak jelas. Padahal sebagai orang yang belajar, bekerja dan mencari rejeki di lembaga pendidikan milik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-center has-medium-font-size wp-block-paragraph">Oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="1024" height="576" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Br-Gora-sedang-berdoa-2-1024x576.webp" alt="" class="wp-image-1899" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Br-Gora-sedang-berdoa-2-1024x576.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Br-Gora-sedang-berdoa-2-300x169.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Br-Gora-sedang-berdoa-2-768x432.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Br-Gora-sedang-berdoa-2-1536x864.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Br-Gora-sedang-berdoa-2.webp 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Pengantar</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Spiritualitas Karmel adalah suatu nilai yang amat luhur bagi manusia. Namun demikian, nilai ini tidak begitu mudah untuk dihayati. Sejauh pengalaman, banyak orang merasa kesulitan menghayati Spiritualitas Karmel karena terasa &nbsp;masih di awang-awang alias tidak jelas. Padahal sebagai orang yang belajar, bekerja dan mencari rejeki di lembaga pendidikan milik Ordo Karmel kita punya tanggungjawab menanamkan nilai-nilai itu untuk diri sendiri dan sesama sehingga menjadi kekhasan hidup. Orang demikian akan disebut sebagai karmelit. Artikel ini dimaksudkan untuk berbagi gagasan dan pengalaman penghayatan spiritualitas karmel. Jika ide-ide ini dapat ditindaklanjuti di tempat karya kita masing-masing, tentu sangatlah indah suasana tempat kerja kita masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Doa</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Hidup Karmelit bersumber pada doa sebagai kerinduan akan Allah. Para Karmelit terpanggil untuk hidup di hadirat Allah dan melihat segala sesuatu dengan mata Allah sendiri (bisa disebut kontemplatif).”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Spiritualitas pertama ini terkait dengan hakekat manusia sebagai makhluk religius. Manusia makhluk religious adalah manusia yang terbuka akan hal-hal transenden yang mengatasi dirinya (Hardjana.2009:16). Kereligiusitasan bangsa Indonesia diwadahi dalam sila pertama Pancasila dan dilegalisasikan dalam pasal 37 UUD 1945. Maka siapapun orangnya dan di manapun keberadaannya, semasih menganggap diri sebagai orang Indonesia pasti bisa berdoa dan mengembangkan hidup rohani. &nbsp;Perlu disadari bahwa doa tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Doa tidak juga harus&nbsp; diungkapkan secara formal. Namun demikian sebagai anggota masyarakat ilmiah (baca sekolah) kemampuan berdoa seseorang dengan kata-kata menjadi perlu dan penting. Ketika orang ingat akan Tuhan beserta segala rahmatNya, lalu berusaha mengungkapkannya dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, dalam hal itulah sejatinya &nbsp;spiritualitas doa dihayati. Dengan demikian, spiritualitas doa dapat dihayati dengan tetap menjaga hubungan dan kedekatan diri dengan Tuhan. Orang yang senantiasa menjaga hubungan dan kedekatan dengan Tuhan tentu akan mudah sekali ingat akan Dia dan berusaha mengungkapkan ingatannya itu melalui kata-kata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Spiritualitas doa dapat ditumbuhkembangkan melalui berbagai kegiatan rohani bersama seperti retret, rekoleksi, dan sebagainya (bdk. Charmers. 1995:57). Sedangkan penumbuhkembangan spiritualitas doa secara pribadi dapat dilakukan dengan kemauan setia berdoa pribadi dan terlibat dengan aneka kegiatan rohani. Mengembangkan refleksi/permenungan pribadi akan kehendak Tuhan dalam setiap peristiwa hidup juga merupakan penghayatan pribadi spiritualitas doa. Dalam kaitan dengan proses pembelajaran, spiritualitas doa dapat diwujudkan dengan menyisihkan waktu barang &nbsp;tiga menit menjelang akhir pelajaran untuk berefleksi atas materi pelajaran yang dibahas dan mensyukurinya. Guru dapat meminta seorang murid untuk menyampaikan doa secara spontan. Ketika orang bekerja dalam kesadaran penuh akan &nbsp;Tuhan (dalam nama Tuhan), ia pasti akan melakukan pekerjaan yang terbaik. Tidak ada dosa dan dusta padanya. Maka hendaknya kita perlu senantiasa berdoa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Persaudaraan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Dari kelimpahan hidup doa ini para Karmelit menjalin dan mewujudkan hidup bersaudara dalam komunitas. saling menerima dan memahami adalah kunci utama untuk membentuk persaudaraan.”</em> Spiritualitas&nbsp; Persaudaraan terkait dengan spiritualitas pertama. Spiritualitas Persaudaraan merupakan tindak lanjut atau penerapan dari pengalaman doa (pengalaman religious/pengalaman iman). Pengalaman relasi baik dengan Allah hendaknya juga menjadi dasar dibangunnya relasi baik dengan sesama saudara. Pengalaman menikmati kasih Allah dalam doa dibagikan kepada sesama saudara di luar doa. Dalam orang lain kita melihat dan menemukan Allah (Charmer. 1995:22). Maka akan sulitlah orang menghayati spiritualitas persaudaraan sejati jika tidak mengindahkan hidup rohani (hidup doa).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Spiritualitas persaudaraan &nbsp;akan dengan mudah dihayati apabila kita sadar akan hakekat diri sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial kita tidak dapat hidup sendiri. Kita dibutuhkan dan membutuhkan orang lain. Hanya dengan cara itulah manusia bisa mencapai tujuan hidup pribadi dan bersama. Supaya masing-masing dapat menjalankan tanggungjawabnya sebagai makhluk sosial, diperlukan perhatian dan kepekaan terhadap orang lain dan kebutuhannya. Untuk itu seseorang harus keluar dari <em>ego</em>nya; keluar dari ketertutupannya,&nbsp; untuk selanjutnya membuka diri terhadap&nbsp; orang lain. Lalu, siapakah saudara kita? Mereka yang ada di sekitar kita. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, persaudaraan karmel dapat diwujudkan dengan banyak ragam sikap dan perbuatan nyata. Persaudaraan dapat dibiasakan dengan bertegur sapa secara tulus penuh keramahan (bdk. Charmers.1995:40). Tegur sapa&nbsp; menunjukkan niat baik seseorang untuk mengorangkan/memanusiakan orang lain. Ketika bertegur sapa seseorang sadar dan mengakui keberadaan/kehadiran orang lain di sekitarnya. Kepekaan untuk mengenal dan dikenal adalah bukti awal dari keterbukaan itu. Persaudaraan dapat diungkapkan dengan cara saling memberi hormat, khususnya kepada mereka yang lebih tua. Landasan dari persaudaraan adalah persahabatan (Romeral. 2013:56).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait dengan hidup bersama, penghayatan Spiritualitas Persaudaraan tampak nyata pada kehadiran seseorang yang menyejukkan dalam tutur kata, sikap,&nbsp; dan perilaku. Orang akan merasa <em>adem </em>dan<em> ayem</em> berada di dekatnya. Tetapi ketika kehadiran seseorang menjadikan gerah orang lain bisa dipertanyakan sejauhmana ia menghayati Spiritualitas Persaudaraan. &nbsp;Sedangkan terkait dengan kehidupan bersama penghayatan persaudaraan tampak dalam suasana kekeluargaan yang penuh dengan keguyupan dan kerukunan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kerasulan/ Pelayanan</strong><em>“Para Karmelit tidak mau hidup dalam &#8220;menara gading&#8221;, lepas dari saudaranya. Sebab itu akan menghentikan makna hidup doa dan persaudaraan. Para Karmelit hendak hidup di tengah-tengah umat. Mereka rindu memberikan kesaksian tentang kasih Allah&nbsp; yang tak terhingga. Lewat karya pastoral dan kemasyarakatan inilah bentuk pelayanan sempurna karena berguna untuk sesama dan lingkungan.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerasulan atau pelayanan adalah spiritualitas Karmel yang ketiga. Sebagaimana uraian di atas, spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas doa dan persaudaraan. Apa yang dirasakan dan dialami dalam doa dan persaudaraan dikonkritkan lagi dalam tindak pelayanan. Spiritualitas Pelayanan adalah wujud konkrit dari dua spiritualitas yang lain. Bagaimana spiritualitas ini dapat dihayati? Santo Yakobus dalam suratnya mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia (Yak. 2:20). Dalam konteks ini pelayanan merupakan bagian dari perbuatan perwujudan iman. Lebih lanjut Prior Jendral Ordo Karmel mengingatkan bahwa pelayanan hendaknya dilakukan&nbsp; secara sukarela dan tanpa pamrih (Romeral. 2013:39). Pelayanan yang tidak dilandasi dengan kerelaan dan tanpa pamrih hanya akan menyebabkan turunnya pengorbanan dan pengabdian seseorang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerasulan atau pelayanan adalah spiritualitas Karmel yang ketiga. Sebagaimana uraian di atas, spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas doa dan persaudaraan. Apa yang dirasakan dan dialami dalam doa dan persaudaraan dikonkritkan lagi dalam tindak pelayanan. Spiritualitas Pelayanan adalah wujud konkrit dari dua spiritualitas yang lain. Bagaimana spiritualitas ini dapat dihayati? Santo Yakobus dalam suratnya mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia (Yak. 2:20). Dalam konteks ini pelayanan merupakan bagian dari perbuatan perwujudan iman. Lebih lanjut Prior Jendral Ordo Karmel mengingatkan bahwa pelayanan hendaknya dilakukan&nbsp; secara sukarela dan tanpa pamrih (Romeral. 2013:39). Pelayanan yang tidak dilandasi dengan kerelaan dan tanpa pamrih hanya akan menyebabkan turunnya pengorbanan dan pengabdian seseorang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Spiritualitas Karmel doa, persaudaraan, dan pelayanan adalah satu kesatuan. Doa mendasari dan berbuah persaudaraan dan pelayanan. Sebaliknya pengalaman persaudaraan dan pelayanan dibawa dan dipersembahkan dalam doa. Dalam penghayatan satu tindakan dapat menjadi cermin perwujudan ketiga spiritualitas sekaligus. Seorang guru &nbsp;&nbsp;menjadi promotor kebersihan kelas karena sadar bahwa kelas yang bersih akan menggembirakan pegawai kebersihan (persaudaraan dan pelayanan) pun sebagai bentuk syukur atas kesehatan yang diterima (doa). Seorang murid&nbsp; dengan rela membantu temannya yang kesulitan belajar (persaudaraan dan pelayanan) karena sadar bahwa tindakan membantu itu merupakan ungkapan&nbsp; syukurnya pada Tuhan&nbsp; atas ilmu yang diterima. Dalam doa menjelang akhir pelajaran seseorang dapat mengungkapkan syukurnya pada Tuhan (doa) dan mendoakan orang-orang yang telah terlibat dalam proses belajar hari ini (persaudaraan dan pelayanan). Keluarga karmel hendaknya menjadikan ketiga Spiritualitas Karmel sebagai pilar penopang kehidupan. Dengan tetap menyadari ketiga spiritualitas sebagai satu kesatuan, kita tidak akan mudah jatuh ke dalam pragmatisme-pragmatisme pelayanan yang memerosotkan kualitas kinerja sebagai murid, guru, pun karyawan.</p>



<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<div class="wp-block-group"><div class="wp-block-group__inner-container is-layout-constrained wp-block-group-is-layout-constrained">
<p class="wp-block-paragraph">Sumber : &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Charmers, Joseph. 1995. <em>Konstitusi Ordo saudara-Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel</em>. Malang: Karmelindo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hardjana, Agus M. 2009. <em>Religiositas, Agama, dan Spiritualitas</em>. Yogyakarta: Kanisius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kitab Suci Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Romeral, Fernaando Milan. 2013.<em>Pembinaan Karmelit: Suatu Perjalanan Transformasi. Ratio Institutionis Vitae Carmelitane. Kuria Jendral Ordo Karmel Roma 2013. &nbsp;</em>Malang: Karmelindo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">www.ordokarmelindonesia.org.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
</div></div>
</div></div>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berkaca pada Prinsip Pendidikan  Titus Brandsma</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/04/28/berkaca-pada-prinsip-pendidikan-titus-brandsma/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 28 Apr 2026 01:16:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=1887</guid>

					<description><![CDATA[Dunia pendidikan kita memang penuh dengan dinamika. Kebijakan-kebijakan pendidikan nasional khususnya kurikulum sering berubah seiring pergantian pejabat menteri yang berkuasa. Salah satunya pemberlakuan K.13 (Kurtilas) yang menurut pemerintah sebagai sebuah tanggapan atas persoalan pendidikan perlu terus menerus dikaji. Namun demikian, ada harapan terkandung di sana, penanaman nilai religious dan kepribadian dalam pelajaran mulai kembali mendapat...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="570" height="321" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Titus-Brandsma.webp" alt="" class="wp-image-1888" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Titus-Brandsma.webp 570w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Titus-Brandsma-300x169.webp 300w" sizes="auto, (max-width: 570px) 100vw, 570px" /></figure>
</div>


<p class="has-small-font-size wp-block-paragraph">Dunia pendidikan kita memang penuh dengan dinamika. Kebijakan-kebijakan pendidikan nasional khususnya kurikulum sering berubah seiring pergantian pejabat menteri yang berkuasa. Salah satunya pemberlakuan K.13 (Kurtilas) yang menurut pemerintah sebagai sebuah tanggapan atas persoalan pendidikan perlu terus menerus dikaji. Namun demikian, ada harapan terkandung di sana, penanaman nilai religious dan kepribadian dalam pelajaran mulai kembali mendapat perhatian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalan muncul ketika terjadi banyak &nbsp;keluhan dari para &nbsp;guru, terutama guru-guru eksak. Mereka kesulitan menyisipkan penanaman nilai sebagaimana diwajibkan oleh K.13. Apakah para guru ini memang tidak menemukan cara, atau tidak mau merepot diri, tetapi mestinya sebagai manusia Indonesia yang menghayati Pancasila, keluhan-keluhan itu tidak harus terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada sisi lain, di sekolah yang tidak ada keluhanpun penanaman nilai itu patut dipertanyakan juga. Banyak guru cenderung menekankan penyampaian materi daripada membumbui kegiatannya dengan penanaman nilai sebagaimana diharapkan oleh K.13. Maka situasi KBM lebih mirip ruang les privat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada pertemuan para penanggungjawab pendidikan Ordo Karmel yang diprakarsai oleh Komisi Pendidikan Ordo di kantor Yayasan Sancta Maria Malang beberapa waktu lalu muncul keprihatinan bahwa hingga saat ini penanaman nilai Karmel masing dianggap kurang.  Baik pendidik maupun peserta didik belum mampu menunjukkan sikap dan tindakan sebagai buah penghayatan nilai Karmel. Justru yang terjadi adalah masih kentalnya persaingan tidak sehat, lemahnya pengabdian, dan melunturnya persaudaraan. Semakin memprihatinkan lagi, karena hingga saat ini belum ada format khusus pola penanaman nilai Pedagodi Karmel. Dalam hal ini Yayasan Sancta Maria Malang sedang berproses membuat format Pedagodi Karmel dengan membentuk tim penyusun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara garis besar mestinya kita bisa berkaca  pada Bapak Pendidikan Ordo Karmel, Titus Bransdma. Dalam hal pendidikan memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu serta mau belajar terus. Ia aktif menulis  buku, artikel dan konferensi. Dalam spritualitas kita bisa belajar lewat sikapnya yang rendah hati, pantang menyerah, ketekunan &amp; ketaatan pada ajaran Gereja, semangat doanya, penghayatan salib dan penyerahan dirinya, serta  pembelaan terhadap kaum tertindas. Sungguh seorang Karmelit yang sejati. Lewat tulisan kita bisa belajar banyak akan totalitas dalam mendidik diri sendiri dan orang lain.  Beliau  seorang yang berjiwa damai, sabar memahami pendapat orang lain, terlebih yang terlindas dan tersingkir. Beliau selalu memberikan kesaksian tentang kebenaran dan memerangi ketidakadilan serta selalu membela dan menegakkan apa yang menurut hati nuraninya benar. Sungguh hal yang sederhana namun sangat mendalam. Kita sering melupakan ini karena keegoisan yang masih mendominasi dalam diri kita.  Titus Brandsma mengajak kita semua untuk melakukan hal-hal yang sederhana atau ringan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan namun semua itu harus sangat berguna bagi sesama/orang lain.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Humanisme dalam Bahasa Indonesia</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/04/27/humanisme-dalam-bahasa-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 03:08:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2004</guid>

					<description><![CDATA[oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia) Masih melekat di benak kita, data yang diberikan oleh UNESCO yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia adalah 0,01%. Hal tersebut berarti bahwa setiap 1 orang pembaca, mewakili 100 orang. Jumlah tersebut tergolong miris dan sangat perlu dibenahi. Sebagai seorang pembelajar Bahasa Indonesia, langkah utama yang dilakukan adalah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/siswa-dempo-membaca.editwebp.webp" alt="" class="wp-image-2048"/></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Masih melekat di benak kita, data yang diberikan oleh UNESCO yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia adalah 0,01%. Hal tersebut berarti bahwa setiap 1 orang pembaca, mewakili 100 orang. Jumlah tersebut tergolong miris dan sangat perlu dibenahi. Sebagai seorang pembelajar Bahasa Indonesia, langkah utama yang dilakukan adalah mengintrospeksi diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelajaran Bahasa Indonesia sudah diberikan sejak SD hingga SMA, bahkan beberapa jurusan di perguruan tinggi mewajibkan mata kuliah Bahasa Indonesia Keilmuan (BIK). Melihat fakta yang diungkapkan oleh Anies Baswedan tersebut, para pembelajar Bahasa Indonesia wajib introspeksi diri. Sudah efektifkah pelajaran Bahasa Indonesia selama ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita menengok ke sekolah, tidak jarang pelajaran Bahasa Indonesia sering dipandang sebelah mata. Bahkan sering diremehkan, meskipun keberadaanya tidak pernah absen dari Ujian nasional semua jenjang pendidikan. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia seringkali menemui kendala. Mulai dari tingkat kurikulum, kebijakan, hingga praktik di lapangan. Seringkali guru dijadikan sebagai kambing hitam kegagalan pembelajaran Bahasa Indonesia. Padahal guru sudah berusaha semaksimal mungkin. Oleh sebab itu tidak ada salahnya apabila guru diajak bangkit bersama untuk membelajarkan Bahasa Indonesia pada siswa agar menjadi lebih efektif dan menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut salah satu pakar pendidikan dari National University of Singapore, Dr. Azhar Ibrahim Alwee PhD., &nbsp;perlu tiga wawasan yang dimiliki oleh guru dalam melakukan pengajaran bahasa yaitu kemampuan lingustik, kemampuan berpikir kritis, dan sosial budaya. Tiga aspek tersebut harusnya saling berjalin-berkelindan dalam pembelajaran bahasa guna membentuk suasana pembelajaran menjadi lebih menarik. Pendapat tersebut nyatanya dapat diadaptasi dan dimodifikasi untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa guru bahasa masih terjebak pada kemampuan linguisitik saja sehingga terkesan lebih mekanis. Sekali lagi guru tidak bisa disalahkan atas hal itu. Tuntutan kurikulum dan tuntutan keberhasilan dalam ujian merupakan salah satu penyebabnya. Meskipun demikian, pola pikir ini harus diubah, cara mengubahnya adalah dengan menggabungkan dua wawasan berikutnya yaitu kemampuan berpikir kritis dan wawasan sosial budaya sehingga materi yang disampaikan oleh guru lebih menarikserta aplikatif dalam kehidupan siswa sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk merealisasikan konsep tersebut, perlu tiga langkah yang harus dilakukan oleh guru bahasa agar pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih menyenangkan dan aplikatif. Pertama, buat siswa jatuh cinta terhadap Bahasa Indonesia. Belajar bahasa harusnya dimulai dari hati, hasrat, kehendak, dan cinta. Cara yang dilakukan agar siswa jatuh cinta pada pelajaran Bahasa Indonesia adalah dengan mengajak siswa untuk memilih bacaan, paragraf, atau bahkan kalimat yang disuka dalam teks. Siswa diajak untuk suka terhadap kalimat, suka terhadap dialog, hingga suka dengan wacana yang dibacanya. Rasa suka tersebut membuat siswa semakin lama semakin haus membaca. Mereka akan menggunakan kemampuan daya jelajah mereka untuk menemukan wacana lain yang ada sangkut pautnya dengan wacana yang disuka, dengan demikian mereka akan suka terhadap wacana yang baru saja ditemuinya. Begitu seterusnya hingga siswa semakin ingin dan ingin lagi membaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah berikutnya yaitu tingkatkan intensitas diskusi dari bahan bacaan yang sudah dipilih oleh siswa. Untuk itu, alangkah baiknya apabila siswa diberi kebebasan membawa bahan bacaan ke kelas kemudian didiskusikan bersama. Ketika&nbsp; mencari dan memilah bacaan yang hendak dibawa ke sekolah, maka ada rasa senang dalam diri siswa. Mereka antusias untuk membawa atau menunjukkan dunia mereka pada teman-temannya melalui berbagai sumber bacaan yang dicarinya. Setelah ditemukan, mereka akan mendalami wacana itu karena mereka ingin tampil sebaik-baiknya saat diskusi dan yang didalami adalah teks-teks yang disukai, jadi tahap ini secara tidak langsung masih ada sangkut pautnya dengan tahap sebelumnya. Minat baca dapat terbentuk secara otomatis ketika siswa melakukan tahap ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah terakhir adalah mengajak siswa untuk tanggap dan produktif terhadap keadaan sekitar. Seringkali model ini dilupakan saat pembelajaran, teks yang ada dalam buku paket juga kurang sesuai dengan keadaan siswa. Buku paket memang diperbolehkan jadi acuan namun bukan berarti guru hanya bisa mengajar di halaman. Membuka halaman satu, dua, dan seterusnya. Topik topik yang digunakan harusnya sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. Apabila siswa berada di desa, maka berikan teks atau materi terkait cara bercocok tanam. Apabila siswa berada di lingkungan perkotaan maka teks yang diproduksi adalah dampak pembangunan gedung bertingkat terhadap lingkungan sekitar, atau solusi menghindari kemacetan saat berangkat sekolah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menanamkan Pendidikan Berkarakter Melalui Sastra</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/04/24/menanamkan-pendidikan-berkarakter-melalui-sastra/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2026 02:48:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2018</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Ujang Sarwono, Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember Siapa yang belum membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata? Atau adakah yang belum melihat film Laskar Pelangi? Pasti sebagian besar dari kita sudah pernah membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata atau hanya sekadar melihat film Laskar Pelangi. Novel yang menjadi best seller...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh : <em>Ujang Sarwono, Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/10/Kegiatan-Supervisi-di-unit-SMAK-St-1024x768.webp" alt="" class="wp-image-1851" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/10/Kegiatan-Supervisi-di-unit-SMAK-St-1024x768.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/10/Kegiatan-Supervisi-di-unit-SMAK-St-300x225.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/10/Kegiatan-Supervisi-di-unit-SMAK-St-768x576.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/10/Kegiatan-Supervisi-di-unit-SMAK-St-1536x1152.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/10/Kegiatan-Supervisi-di-unit-SMAK-St-2048x1536.webp 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Siapa yang belum membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata? Atau adakah yang belum melihat film <em>Laskar Pelangi</em>? Pasti sebagian besar dari kita sudah pernah membaca novel <em>Laskar Pelangi</em> karya Andrea Hirata atau hanya sekadar melihat film <em>Laskar Pelangi</em>. Novel yang menjadi <em>best seller</em> dengan penjualan mencapai ratusan ribu eksemplar ini begitu diburu oleh masyarakat. Lalu kenapa buku berjudul <em>Laskar Pelangi</em> begitu diminati oleh masyarakat hingga sutradara ternama bernama Riri Riza mengangkatnya menjadi sebuah film pada tahun 2008? Inspiratif, membangkitkan semangat, dan banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Mungkin itu adalah sebagian jawaban dari kita saat ditanya kenapa tertarik dengan karya sastra berbentuk novel yang berjudul <em>Laskar Pelangi</em> karya Andrea Hirata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel yang menceritakan tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/SD">SD</a> dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/SMP">SMP</a>) di sebuah sekolah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammadiyah">Muhammadiyah</a> di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Belitung">Belitung</a> yang penuh dengan keterbatasan ini begitu menarik perhatian masyarakat. Mulai dari pelajar, guru, dosen, pejabat, hingga masyarakat umum tertarik membaca novel ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Novel berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah salah satu dari ribuan karya sastra di Indonesia. Sebagian orang rela untuk membeli buku ini selain membeli kebutuhan primer manusia. Melalui tulisan, Andrea Hirata mampu memberikan pengaruh yang sangat besar kepada pembacanya. Melalui karyanya seorang penulis mampu membuat orang menangis, tertawa, bahkan sanggup memberikan semangat baru kepada pembacanya. Karya sastra mampu memberikan pelajaran hidup kepada setiap pembacanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sastra&nbsp;(Sanskerta:&nbsp;<em>shastra</em>) merupakan&nbsp;kata serapan dari&nbsp;bahasa Sanskerta ‘sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar&nbsp;‘<em>sas</em>’&nbsp;yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘<em>tra</em>’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam&nbsp;bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Oleh karena itu, sudah pasti sebuah karya sastra entah itu novel, cerpen, puisi, atau drama memberikan nilai tersendiri bagi pembaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari mana orang dapat menemukan nilai-nilai kehidupan saat membaca sebuah karya sastra? Pada setiap karya sastra baik itu puisi, cerpen, drama, atau novel selalu mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik baik sebagian ataupun keseluruhan. Unsur intrinsik meliputi, tema, tokoh, alur, latar, gaya bahasa, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur pembangun karya sastra dari luar seperti latar belakang pengarang dan nilai-nilai kehidupan</p>



<p class="wp-block-paragraph">( politik, sosial, maupun budaya ). Melalui salah satu unsur intrinsik yaitu amanat para pembaca karya sastra diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan yang salah satu fungsinya dapat digunakan oleh guru Bahasa Indonesia sebagai bahan untuk membentuk karakter siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kerja keras, semangat pantang menyerah, keadilan, kebijaksanaan, dan takwa kepada Tuhan perlu ditanamkan kepada siswa sebagai bentuk pelaksanaan pendidikan berkarakter. Sebuah karya sastra merupakan salah satu media yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada siswa. Oleh karena itu, menjadi hal penting kepada guru, terutama guru Bahasa Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan pada setiap (KD) kompetisi dasar yang akan diajarkan kepada siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karya sastra seperti, cerpen, novel, atau drama adalah sebagian dari karya sastra berbentuk prosa fiksi yang terdapat dalam (SK) standard kompetisi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai guru Bahasa Indonesia yang memiliki tugas menyampaikan materi tersebut kepada siswa harus menepis pandangan bahwa karya fiksi hanya ditulis berdasarkan imajinasi pengarang. Konsepsi bahwa prosa fiksi merupakan cerita hasil khayalan para sastrawan dapat menimbulkan pandangan bahwa sesuatu yang dibicarakan dalam karya sastra itu bukanlah sesuatu yang serius dan berharga. Penjelasan dari guru Bahasa Indonesia kepada murid yang lebih menyeluruh sangat diperlukan sebagi upaya pemahaman bahwa di dalam karya sastra berbentuk prosa fiksi mengandung nilai-nilai kehidupan yang sarat akan kebaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“…<em>kau terpelajar Minke, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan</em>.” Kalimat tersebut adalah penggalan dari novel karya Pramodya Ananta Toer yang berjudul <em>Bumi Manusia</em>. Melalui kalimat tersebut kita akan bisa menangkap sebuah pesan atau nilai kehidupan yaitu keadilan. Ya, sebagai manusia kita harus selalu berperilaku adil kepada siapapun, bahkan Prammodya mengajak kaum terpelajar sudah berperilaku adil sejak dalam pikirannya. Hal ini menjadi bukti bahwa dalam karya sastra mengandung sebuah nilai-nilai kehidupan yang layak dijadikan bahan untuk membentuk karakter siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masih banyak karya sastra lain yang dapat dijadikan bahan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada siswa di sekolah. Semua itu tergantung bagaimana seorang guru dapat menyajikan sebuah materi sastra kepada siswa secara menarik. Hal ini untuk menumbuhkan rasa ketertarikan atau antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi sastra (drama, cerpen, novel, atau puisi) yang kurang disenangi oleh sebagian besar siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan fakta mengenai pelajaran Bahasa Indonesia yang kurang diminati siswa, menjadi tantangan tersendiri bagi setiap guru Bahasa Indonesia untuk menyampaikan materi Bahasa Indonesia khususnya sastra secara menarik dan menyenangkan. Dengan menyajikan materi secara menarik dan menyenangkan akan membuat siswa memiliki motivasi untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Jika sudah timbul motivasi yang tinggi dari siswa untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia khususnya sastra, akan lebih mudah bagi seorang guru untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada siswa sebagai bentuk proses pendidikan berkarakter.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/04/02/pendidikan-di-era-digital/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 01:43:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2103</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm. Pada tanggal 30 Oktober sampai dengan tanggal 12 November 2016 yang lalu telah diadakan Pertemuan Internasional Para Formator (Pertemuan Para Romo dan Bruder yang berkecimpung dalam dunia pembinaan para calon Karmelit) seluruh dunia di hotel Purnama Batu, Jawa Timur. Karena saya termasuk salah seorang formator dan sebagai tuan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="681" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-1024x681.webp" alt="" class="wp-image-2104" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-1024x681.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-768x511.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-1536x1022.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-2048x1363.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/ft-Sajian-Utama-copy-600x400.webp 600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tanggal 30 Oktober sampai dengan tanggal 12 November 2016 yang lalu telah diadakan Pertemuan Internasional Para<em> Formator</em> (Pertemuan Para Romo dan Bruder yang berkecimpung dalam dunia pembinaan para calon Karmelit) seluruh dunia di hotel Purnama Batu, Jawa Timur. Karena saya termasuk salah seorang <em>formator</em> dan sebagai tuan rumah pertemuan tersebut, maka tugas saya ringan-ringan saja, mengatur penjemputan para tamu yang datang dari berbagai belahan dunia;  sekaligus menjemput mereka di bandara Surabaya dan Malang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada saat saya menjemput para tamu dari berbagai negara di Bandara Surabaya tersebut, saya sendiri justru mengalami “keterkejutan-keterkejutan” kecil. <em>Keterkejutan pertama</em>, saya harus tahu dengan pasti waktu pendaratan pesawat dari tamu-tamu tersebut dengan terus memantau pada layar monitor kedatangan. Setelah mereka tiba,saya pun harus terus memegang <em>handphone</em> dan mencari pada “mister Google” terjemahan kata-kata yang sungguh asing pada telinga saya yang disampaikan tamu tersebut (italia, spanyol, portuguese, jerman). Hal ini harus saya lakukan, supaya bisa berkomunikasi dengan mereka. Karena mereka hanya tahu bahasa mereka dan sama sekali tidak paham bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Keterkejutan kedua</em>, saya memerhatikan bahwa tamu yang termasuk generasi tua (senior), ketika keluar dari pintu kedatangan, mereka hanya membawa tas pakaian dan tas laptop. Saya tidak melihat mereka memegang <em>handphone</em> atau tablet. Mereka menjumpai saya tanpa apa-apa di tangan. Hal ini berbeda dengan tamu yang termasuk generasi muda (yunior, usia muda – baru ditahbiskan menjadi imam). Selain membawa koper, tas laptop, juga mereka memegang <em>handphone</em> atau tablet. Sambil berjalan, tangan mereka terus main <em>handphone</em> atau membaca sesuatu di tablet.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Keterkejutan terakhir</em>, sambil menunggu kedatangan tamu dari Jerman dan juga dari Italia yang datang bersamaan pada hari Sabtu sore, saya bersama beberapa frater menyempatkan diri untuk mengikuti Misa di Gereja dekat Bandara Internasional Surabaya. Pada waktu itu, saya sendiri merasa “asing” ketika saya menyaksikan seorang Romo muda sebagai pemimpin misa menggunakan <em>tablet </em>untuk membaca Injil <em>(</em>bukan Kitab Suci<em>)</em>, juga menggunakannya ketika kotbah atau homili. Ketika kotbah, jari-jarinya terus bergerak menyentuh monitor tablet tersebut. Sebagai seorang yang lahir bukan pada zaman lahirnya internet, saya merasa risih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seakan-akan cerita tersebut tidak ada hubunganya dengan pendidikan di era digital. Namun mari kita simak secara mendalam, saya yakin bahwa cerita ini memiliki hubungan yang erat serta memberikan pesan yang mendalam terhadap dunia pendidikan di era perkembangan teknologi digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era perkembangan digital seperti sekarang ini, semua orang – entah siapa saja, baik pendidik maupun peserta didik, baik ayah-ibu maupun anak-anak, baik generasi tua maupun generasi muda, baik para romo atau bruder senior maupun yunior, baik para guru senior maupun yunior tidak bisa tidak dan harus mengenal, mengetahui dengan baik perkembangan teknologi, secara khusus dunia digital seperti internet. Bila tidak, maka siapa pun dirinya akan mengalami ketertinggalan dalam berbagai informasi serta perkembangan kehidupan serta teknologi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari cerita di atas, kita dapat memahami bahwa generasi manusia, dapat dikategorikan dalam dua kelompok. Kelompok pertama, kelompok <em>immigrants  digital</em>. Yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang lahir sebelum adanya internet dan sekarang mereka “dipaksa” harus tahu internet dan harus bisa menggunakannya. Antara lain orang tua, orang yang sudah tua, termasuk juga para pendidik senior, para romo dan bruder senior, yah termasuk juga penulis sendiri. Kelompok kedua, kelompok <em>native digital</em>.  Yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang lahir dalam dunia internet, yakni para romo dan bruder yunior, para biarawan-biarawati yunior, para pendidik atau guru yunior, para peserta didik atau murid atau siswa, dan para mahasiswa yang hidup zaman sekarang. Semuanya  menggunakan internet sebagai “kebutuhan” interaksinya di dunia maya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah sejalan dengan perkembangan pesat dunia teknologi serta media informasi saat ini, maka dunia pendidikan harus bisa beradaptasi atau menyesuaikan dirinya. Dunia pendidikan, secara khusus para pendidik harus mampu memanfaatkan era digital saat ini sebagai media pembelajaran bagi para peserta didik di sekolah, khususnya pengajaran di kelas. Memang, kadang-kadang para peserta didik lebih memahami dahulu informasi melalui internet dari para pendidik. Mengapa? Karena mereka memiliki berbagai fasilitas yang memadai di rumah; dan tambahan pula mereka lahir dalam dunia internet. Akan tetapi, hal ini tidak akan membuat para pendidik merasa ketinggalan. Karena kehadiran sekaligus keberadaan para pendidik di lingkungan sekolah atau di kelas lebih pada memfasilitasi para peserta didik untuk belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ilmu pendidikan, belajar merupakan sebuah perubahan pemahaman dan tingkah laku peserta didik ke arah yang lebih baik. Pemahaman peserta didik meliputi pemahaman kognitif mengenai kehidupan dunia, kehidupanya sendiri, kehidupan orang lain, dan kehidupan imannya. Juga perubahan mengenai tingkah lakunya secara afektif, bagaimana ia membangun relasi yang sehat dengan dunia sekitarnya. Pada titik inilah, pendidik atau guru yang biasanya dikatakan sebagai kelompok immigrant <em>digital</em>, kehadiran sekaligus keberadaannya sangat penting bagi peserta didik, di mana ia membimbing peserta didik untuk belajar memanfaatkan penggunaan media komunikasi melalui internet ke arah yang lebih positif sebagai sarana belajar di sekolah. Kehadiran pendidik sungguh sangat penting untuk menumbahkan sisi kemanusiaan seorang peserta didik. Sentuhan, sapaan, senyuman, dukungan dari pendidik tak dapat tergantikan oleh apa pun yang ada di sekitar kehidupan peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk itu, pendidik atau guru di era digital harus memiliki kualitas yang baik agar dapat menjadi seorang pendidik yang inspiratif. Akan tetapi, kualitas itu tidak akan cukup bila tidak disertai dengan pemahaman teknologi digital secara memadai. Untuk dapat mendidik peserta didik generasi sekarang (yang lebih dikenal dengan sebutan Generasi Z – generasi yang lahir di era internet &#8211; Generasi <em>Native Digital</em>) dibutuhkan pengetahuan yang tepat berbasis internet yang dapat dengan mudah diakses oleh peserta didik. Bahkan informasi yang diakses oleh Generasi Z, tak hanya terbatas pada informasi pendidikan saja, tetapi juga informasi yang berhubungan dengan kepentingan pribadi mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Generasi Z – secara khusus peserta didik merupakan generasi yang sungguh mahir sekaligus sangat gandrung dengan teknologi informasi dan berbagai aplikasi computer, ungkap Prof. Dr. H. Arief Rachman. Menurutnya, generasi ini memiliki beberapa ciri yang dapat kita lihat di dalam hidup sehari-hari. Generasi ini sangat suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan, khususnya melalui jejaring sosial: <em>facebook</em>, <em>twitter, SMS, WhatsApp, skype</em>. Melalui berbagai media ini, mereka menjadi orang yang lebih bebas berekspresi, termasuk apa yang mereka pikirkan maupun yang mereka rasakan sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi menurut Arief Rachman pula,  Generasi Z ini tentu memiliki kelebihan maupun kekurangan. Kelebihan mereka, yakni memiliki daya toleransi yang besar terhadap berbagai perbedaan budaya dan sangat peduli dengan lingkungan. Mereka mampu melakukan berbagai aktifitas dalam waktu yang bersamaan, seperti membaca sambil mendengarkan musik. Sedangkan kelemahan mereka, yakni selalu menginginkan segala sesuatu secara cepat, tanpa bertele-tele atau pun berbelit-belit. Dalam hal komunikasi verbal terasa dangkal atau kurang mendalam, cenderung mementingkan diri, individualis, serba instan, tidak sabar dan kurang menghargai proses.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, kelebihan maupun kekurangan Generasi Z ini, yang adalah anak didik kita, harus menjadi pusat perhatian semua Pendidik. Untuk itu guru harus membuka diri memahami berbagai perkembangan teknologi serta berbagai  mengaplikasikannya. Sehingga apa pun yang diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik sebagai Generasi Z bisa diterima dan dicerna secara baik. Untuk bisa memahami teknologi secara baik, maka sekolah atau lembaga  pendidikan perlu menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk semua pendidik (ruangan khusus komputer guru, saluran internet, komputer, dan sebagainya). Dengan ruangan komputer yang khusus, maka bapak dan ibu guru bisa dengan bebas menggunakan internet demi pengembangan bidang ilmu pengetahuannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, era digital menyadarkan dunia pendidikan akan arti penting sebuah inovasi yang harus terus-menerus dikembangkan. Dunia pendidikan tidak perlu anti dengan peserta didik yang saat ini sangat gandrung dengan media sosial. Semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi media sosial sebagai pembelajaran di sekolah, khususnya kelas di era digital ini. Sekolah harus bisa menyediakan sarana dan prasarana komputer yang lengkap dengan saluran internetnya bukan hanya bagi peserta didik tetapi juga bagi pendidik. Pendidik yang baik harus mampu membuka diri  untuk belajar dan menggunakan internet sebagai media pembelajaran bagi peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengenal STEM Lebih Dekat</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/03/13/mengenal-stem-lebih-dekat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2026 02:46:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2133</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ibu Sylvana Novilia Sumarto (Guru Matematika SMAK St. Albertus) Isu tentang pendidikan tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas karena pendidikan merupakan salah satu pilar negara di mana akan menentukan nasib ke depannya bangsa dan negara tersebut. Secara umum, pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Ibu Sylvana Novilia Sumarto</strong> (Guru Matematika SMAK St. Albertus)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-2135" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-1536x1024.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-2048x1365.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Bu-Sylvana-ngajar-stem-600x400.webp 600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Isu tentang pendidikan tidak akan pernah ada habisnya untuk dibahas karena pendidikan merupakan salah satu pilar negara di mana akan menentukan nasib ke depannya bangsa dan negara tersebut. Secara umum, pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekumpulan manusia yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui pengajaran, pelatihan dan penelitian. Banyak penelitian yang dilakukan dalam mengkaji keberhasilan pelaksanaan suatu pendidikan baik yang dilakukan oleh lembaga resmi maupun perorangan. Semuanya itu demi suatu tujuan yaitu mendapatkan generasi penerus yang bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap dan bertanggungjawab terhadap bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan dalam UU No.2 Tahun 1985.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya dalam mencapai tujuan tersebut butuh keterlibatan dari semua pihak, baik dari siswa, keluarga, lembaga pendidikan, masyarakat maupun pemerintah. Salah satu keterlibatan Pemerintah dalam pendidikan adalah sebagai pembuat kebijakan terkait dengan kurikulum maupun pedoman-pedoman teknis yang menyangkut sistem pendidikan di Indonesia. Seperti saat ini, Pemerintah pun sedang berusaha untuk memperkenalkan dan mulai menggalakkan STEM untuk pendidikan di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Apakah itu STEM?   </strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">STEM adalah singkatan dari <em>science, technology, engineering, and mathematics</em>.  Pada awalnya, STEM diperkenalkan pertama kali oleh <em>National Science Foundation</em> Amerika Serikat pada tahun 1990-an. STEM sendiri merupakan suatu gerakan reformasi pendidikan dalam bidang sains, teknologi, enjiniring serta matematika. Gerakan ini dipicu oleh adanya laporan-laporan studi yang menunjukkan kurangnya kandidat untuk mengisi lapangan kerja yang berkaitan dengan keempat bidang tersebut, posisi capaian Amerika Serikat dalam TIMSS dan PISA pada waktu itu serta tingkat literasi masyarakat tentang isu yang terkait keempat bidang tersebut. Beberapa waktu setelahnya, gerakan pendidikan STEM telah berkembang di berbagai Negara yang mana memandang STEM sebagai jalan keluar bagi masalah kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) dan daya saing masing-masing Negara, termasuk di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Konsep Pendidikan STEM</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang telah disebutkan di atas, empat komponen dalam STEM meliputi:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li><em>Science </em>(sains) merupakan kajian tentang fenomena alam yang melibatkan observasi dan pengukuran sebagai wahana untuk menjelaskan secara obyektif alam yang selalu berubah.</li>



<li><em>Technology</em> (teknologi), merupakan inovasi-inovasi manusia yang digunakan untuk memodifikasi alam agar memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia sehingga membuat kehidupan lebih baik dan lebih aman.</li>



<li><em>Engineering</em> (enjiniring) adalah pengetahuan dan keterampilan untuk memperoleh dan mengaplikasikan pengetahuan ilmiah, ekonomi, sosial, serta praktis untuk mendesain dan mengonstruksi mesin, peralatan, sistem, material, dan proses yang bermanfaat bagi manusia secara ekonomis dan ramah lingkungan.</li>



<li><em>Mathematics</em> (Matematika) adalah ilmu tentang pola-pola dan hubungan-hubungan dan menyediakan bahasa bagi teknologi, sains dan enjiniring.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam STEM, keempat bidang tersebut tidak diberikan secara terintegrasi satu sama lain dengan memfokuskan pada pemecahan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga memampukan peserta didik untuk bersaing dalam era ekonomi baru yang berbasis pengetahuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diharapkan dengan adanya pendidikan STEM ini, setiap peserta didik akan mempunyai:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>pengetahuan, sikap, dan keterampilan untuk mengidentifikasi pertanyaan dan masalah  dalam situasi kehidupannya, menjelaskan fenomena alam, mendesain serta menarik kesimpulan berdasar bukti mengenai isu-isu terkait STEM</li>



<li>memahami karakteristik fitur-fitur disiplin STEM sebagai bentuk-bentuk pengetahuan, penyelidikan, serta desain yang digagas manusia</li>



<li>kesadaran bagaimana disiplin-disiplin STEM membentuk lingkungan material, intelektual, dan kultural</li>



<li>mau terlibat dalam kajian isu-isu terkait STEM sebagai warga Negara yang konstruktif, peduli, serta reflektif dengan mengggunakan gagasan-gagasan sains, teknologi, enjiniring serta matematika. Misalnya dalam efisiensi energi, kualitas lingkungan serta keterbatasan sumber daya alam).</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>STEM dan Kurikulum 2013</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Adapun tiga subjek utama dalam pembelajaran abad 21, yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Keterampilan belajar dan berinovasi, yang meliputi cara berpikir baik berpikir kreatif, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan  serta cara bekerja yang meliputi kemampuan untuk bekerja di dunia global dan digital. Siswa harus mampu berkomunikasi, bekerjasama dan berkolaborasi.</li>



<li>Melek informasi, media, dan teknologi, yang meliputi alat-alat yang digunakan dalam bekerja.</li>



<li>Keterampilan hidup dan berkarir, yang meliputi kemampuan untuk hidup di dunia.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga subyek tersebut merupakan bekal bagi tiap peserta didik untuk mampu bersaing di abad ke-21.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sejalan dengan tujuan Kurikulum 2013 yaitu untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.  Salah satu pola pikir yang digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum 2013 adalah mengubah pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (<em>monodiscipline</em>) menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (<em>multidiscipline</em>). </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari rumusan tujuan dan pola pikir dalam pengembangan Kurikulum 2013 yang dikemukakan tersebut mengindikasikan bahwa terdapat ruang bagi pengembangan dan implementasi pendidikan STEM dalam implementasi kurikulum 2013.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan implementasi Kurikulum 2013, implementasi pembelajaran sains berbasis STEM juga menuntut pergeseran model pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada Guru (<em>teacher centered</em>) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (<em>student centered</em>), dari pembelajaran yang bersifat individual menjadi pembelajaran kolaberatif dan menekankan aplikasi pengetahuan sains, kreativitas, dan pemecahan masalah. Pembelajaran sains berbasis STEM perlu dilaksanakan dalam pembelajaran berbasis masalah (<em>problem based learning</em>) dimana peserta didik ditantang untuk berpikir kritis, kreatif dan inovatif untuk memecahkan masalah nyata yang melibatkan kegiatan kelompok secara kolaboratif.   </p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitu pula dengan sistem penilaiannya, pembelajaran sains berbasis STEM juga menuntut pergeseran dari penilaian konvensional yang menitikberatkan pada ujian menjadi penilaian otentik yang menitikberatkan pada penilaian kinerja dan produk kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Impelementasi Pembelajaran Sains Berbasis Pendidikan STEM</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Idealnya, implementasi STEM  haruslah mengintegrasikan sains, teknologi, enjiniring, dan matematika dalam memecahkan masalah nyata. Namun dalam  prakteknya, ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengintegrasikan keempat bidang yang terdapat dalam STEM (<em>Science, technology, engineering and mathematics</em>), yaitu:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Mengajarkan matapelajaran sains, teknologi, enjiniring, dan matematika sebagai empat matapelajaran yang terpisah satu sama lain dan tidak terintegrasi. Keadaan ini lebih tepat digambarkan sebagai S-T-E-M daripada STEM.</li>



<li>Mengajarkan masing-masing disiplin STEM dengan lebih berfokus pada satu atau dua dari disiplin-disiplin STEM.</li>



<li>Mengintegrasikan satu ke dalam tiga disiplin STEM, misalnya konten enjiniring diintegrasikan dalam matapelajaran sains, teknologi, dan matematika.</li>



<li>Cara yang lebih komprehensif, yaitu dengan meleburkan keempat bidang tersebut dan mengajarkannya sebagai matapelajaran terintegrasi, misalnya konten teknologi, enjiniring dan matematika dalam sains.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Pola pengintegrasian secara penuh relatif lebih mudah dilakukan pada jenjang sekolah dasar, ketika peserta didik  diajar oleh seorang guru kelas. Saat ini lebih dikenal dengan pembelajaran tematik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, bentuk “<em>embedded</em> STEM” lebih tepat dilakukan pada jenjang sekolah menengah. Hal ini dikarenakan di banyak Negara termasuk Indonesia, hanya matapelajaran sains dan matematika yang menjadi bagian dari kurikulum konvensional sedangkan teknologi dan enjiniring hanya merupakan bagian minor dari kurikulu.  yang ada. Ketika pengintegrasian dilakukan secara lebih mendalam ke dalam bentuk matapelajaran transdisiplin diperlukan restrukturisasi kurikulum secara menyeluruh. Salah satu pola yang dapat dilakukan tanpa merestrukturisasi kurikulum adalah dengan menginkorporasikan konten enjiniring, teknologi dan matematika dalam pembelajaran sains berbasis STEM. Pendidikan STEM terwujud dalam situasi tertentu ketika pembelajaran sains atau matematika melibatkan aktivitas pemecahan masalah otentik dalam konteks sosial, kultural, dan fungsional.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Astawa, I Nyoman Temon. 2017. Memahami Peran Masyarakat dan Pemerintah dalam Kemajuan Mutu Pendidikan di Indonesia. Denpasar: Jurnal Penjaminan Mutu</p>



<p class="wp-block-paragraph">Firman, Harry. 2015. Pendidikan Sains Berbasis STEM: Konsep, Pengembangan, dan Peranan Riset Pascasarjana. Seminar Nasional Pendidikan IPA dan PKLH Program Pascasarjana Universitas Pakuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-pendidikan.html">https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-pendidikan.html</a> (diakses 31 Desember 2019)</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENJADI GURU BAGI DIRI SENDIRI</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/02/02/menjadi-guru-bagi-diri-sendiri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2026 06:33:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=1920</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm. Selama bertahun-tahun saya berkecimpung dalam dunia pendidikan. Saya tidak tahu mengapa Ordo Karmel mempercayakan saya dalam “dunia” ini. Padahal saya sendiri bukan berasal dari keluarga yang bergulat dengan dunia pendidikan. Keluarga saya itu petani. Dan saya berasal dari keluarga petani, bukan keluarga guru atau pegawai. Akan tetapi semenjak...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="576" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Romo-Djono-di-Paulus-1024x576.webp" alt="" class="wp-image-1922" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Romo-Djono-di-Paulus-1024x576.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Romo-Djono-di-Paulus-300x169.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Romo-Djono-di-Paulus-768x432.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Romo-Djono-di-Paulus-1536x864.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/01/Romo-Djono-di-Paulus.webp 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama bertahun-tahun saya berkecimpung dalam dunia pendidikan. Saya tidak tahu mengapa Ordo Karmel mempercayakan saya dalam “dunia” ini. Padahal saya sendiri bukan berasal dari keluarga yang bergulat dengan dunia pendidikan. Keluarga saya itu petani. Dan saya berasal dari keluarga petani, bukan keluarga guru atau pegawai. Akan tetapi semenjak kuliah memang minat saya sendiri justru dalam pendidikan. Saya lebih senang membaca dan mengajar daripada bertani. Saya lebih senang menulis buku daripada menanam tanaman. Akan tetapi saya tidak pernah lupa bahwa saya berasal dari keluarga petani, yang kerjanya setiap hari menanam jagung, padi, kedelai dan sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika menjadi “guru” bagi para murid atau peserta didik – entah di Seminari Marianum Probolinggo, SMAK St. Paulus  Jember ataupun SMAK St. Albertus (Dempo) Malang dan saat dengan Para Frater di Jalan Rajabasa Malang, saya selalu memiliki prinsip ini: “Menjadi guru bagi diri sendiri dulu sebelum menjadi guru bagi orang lain”. Ini mengandung konsekuensi yang berat, tetapi sangat indah. Saya harus mengajar diri saya sendiri dulu sebelum saya mengajar orang lain (para peserta didik). Tampaknya sepele tetapi harus. Lalu, apa saja? Berbagai dimensi kehidupan: <strong>jujur dan terbuka</strong>, <strong>disiplin dan teratur, sederhana, berjuang dan tidak mudah menyerah, selalu menjadi sahabat Tuhan</strong>!</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai guru atau pendidik, saya harus mengajar dan mendidik diri saya sendiri untuk bersikap jujur dan terbuka. Jujur bahwa saya berasal dari kampung. Terbuka bahwa diri saya memiliki banyak kekurangan. Untuk itu saya perlu belajar mengisi diri saya dengan berbagai hal yang bermanfaat. Jujur bahwa kadang para peserta didik lebih tahu dari saya. Saya harus menerima dan mengakuinya. Boleh perlu saya mau belajar darinya. Jujur bahwa metode mengajar saya kurang baik, sehingga dampaknya para murid kadang tidak mampu menangkap apa yang saya ajarkan. Untuk itu saya harus belajar berbagai metode mengajar, entah melalui media masa atau melalui rekan guru. Kejujuran harus menjadi pilar utama yang menopang langkah kehidupan saya sebagai guru. Saya harus jujur dengan diri saya sendiri melalui pemikiran, kata-kata dan tindakan. Saya harus berpikir jujur. Saya harus berkata jujur. Saya harus bertindak jujur. Dan saya harus hidup jujur dalam situasi dan kondisi apa pun. Bila saya jujur dan terbuka, hidup dan kata-kata saya akan berdampak pada diri saya sendiri. Saya akan mengalami kebahagiaan, kedamaian. Bila saya jujur, orang lain yang hidup bersama saya, maupun yang saya didik, akan merasakan dampaknya. Semua orang yang ada bersama saya akan menerima saya, tidak takut dengan saya, dan menaruh rasa percaya yang tinggi pada saya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hidup jujur harus diikuti dengan hidup disiplin. Sebagai seorang guru atau pendidik, saya perlu mendidik diri sendiri untuk hidup teratur dan berpegang pada disiplin. Saya harus membiasakan diri sendiri untuk taat pada aturan di mana pun saya berada. Saya harus membiasakan diri datang tepat waktu dan kembali juga tepat waktu, alias tidak terlambat dan menunda-nunda waktu. Saya harus menyelesaikan tugas sesuai waktu yang ditetapkan. Bila saya terlambat, saya harus memperbaiki diri dan berjanji untuk tidak terlambat lagi pada waktu berikutnya. Hidup disiplin itu berkaitan erat dengan keteraturan. Hidup teratur, itu berarti hidup sesuai dengan aturan, entah itu di sekolah, di jalan, di kantor, di rumah. Kalau di sekolah, saya harus bisa mengatur diri dan hidup sesuai dengan aturan sekolah. Seperti misalnya, saya harus tegas mendidik diri saya untuk memahami bahwa sekolah itu tempat belajar dan mengajar, bukan untuk “tidur” kalau tidak ada pelajaran. Saya harus bisa mengatur tempat kerja saya supaya tampak bersih dan tertata rapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya sadar bahwa dengan profesi saya sebagai pendidik atau guru, saya tidak mungkin kaya secara material, karena saya bukan pengusaha. Tetapi saya “kaya” secara ilmu pengetahuan, karena saya seorang guru. Karena saya kaya dari sudut ilmu pengetahuan, maka saya harus sungguh-sungguh menguasai ilmu pengetahuan yang menjadi bagian dari kehidupan saya. Saya harus menata diri untuk selalu tampil sederhana dan berusaha menyampaikan bahan pengajaran secara sederhana pula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hidup itu adalah rentetan perjuangan. Termasuk juga berjuang untuk menata diri dan mendidik diri sendiri. Segala sesuatu yang saya raih, selalu didahului dengan perjuangan. Termasuk juga berjuang untuk menjadi diri saya sendiri sebagai seorang pendidik. Saya harus berjuang untuk banyak membaca. Sehingga dengan banyak membaca, saya bisa banyak tahu. Saya ibaratkan diri saya ini dengan sebuah botol aqua. Air yang keluar dari botol aqua, akan keluar sesuai dengan banyaknya air yang diisi ke dalam botol tersebut. Begitu pula kalau saya isi air, yah keluarnya pun air. Kalau saya isi bensin, keluar pun bensin. Kalau saya isi minyak tanah, keluar pun minyak tanah. Demikian pula dengan diri saya. Kalau saya isi dengan rumus matematika, maka yang keluar pasti rumus matematika. Kalau saya isi dengan biologi, yah keluar pun biologi. Kalau saya isi dengan hal-hal baik, maka yang keluar pun hal-hal baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berjuang untuk memaknai hidup dari waktu ke waktu sebagai pendidik, harus menjadi bagian dari kehidupan saya. Yah karena inilah pilihan saya. Berjuang harus disertai dengan kegembiraan. Saya harus bergembira dengan status saya sebagai pendidik. Rasa gembira memampukan saya untuk tidak menyerah begitu saja terhadap berbagai tantangan yang menghadang di jalan. Rasa gembira mengarahkan hati saya untuk terus bersyukur bahwa hidup ini bukan milik saya. Hidup ini milik Tuhan. Maka saya tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Tuhan harus menjadi “sahabat” di mana pun saya berada, di mana pun saya mengajar, di mana pun saya hidup. Karena pada suatu saat, entah kapan dan di mana, saya pun tidak tahu, tetapi yang saya tahu pasti bahwa pada suatu saat di suatu tempat, Tuhan pasti akan memanggil saya pulang ke rumah-Nya tanpa minta persetujuan dari saya! Jadilah Guru yang baik bagi diri sendiri sebelum menjadi guru bagi orang lain!</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sekapur Sirih tentang&#8221;Flos Carmeli&#8221;</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/01/28/sekapur-sirih-tentangflos-carmeli/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Jan 2026 01:58:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=1879</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Rm. Aloysius Djono Moi, O.Carm. “Flos Carmeli” bukan hanya sekedar lagu yang dinyanyikan oleh semua Karmelit. Juga bukan hanya sekedar judul dari suatu majalah yang ditertibkan oleh Yayasan Sancta Maria Malang. “Flos Carmeli” mempunyai makna yang lebih dalam dari sekedar lagu dan nama majalah. Mari kita pandang sejenak gambar di atas ini! Gambar...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="has-text-align-center has-medium-font-size wp-block-paragraph">Oleh : Rm. Aloysius Djono Moi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="240" height="103" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/03/Para-Kudus-Karmel-hlm-1.jpg" alt="" class="wp-image-955" style="width:834px;height:auto"/></figure>
</div>


<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">“Flos Carmeli” bukan hanya sekedar lagu yang dinyanyikan oleh semua Karmelit. Juga bukan hanya sekedar judul dari suatu majalah yang ditertibkan oleh Yayasan Sancta Maria Malang. “Flos Carmeli” mempunyai makna yang lebih dalam dari sekedar lagu dan nama majalah. Mari kita pandang sejenak gambar di atas ini! Gambar di mana Para Kudus Karmel dengan caranya masing-masing menunjukkan cinta, perhatian dan devosinya kepada Santa perawan Maria.  Apa yang kita pikirkan mengenai gambar ini?  Inilah “Flos Carmeli” – suatu kumpulan orang yang dipanggil Allah untuk hidup dan menghayati taman anggur yang berbunga, dalam cahaya surga bersama Perawan Maria yang adalah Bunda. Bunda Allah dan Bunda Kita, yang lembut tanpa noda, yang selalu melindungi kita yang berlindung kepadanya.</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">“Flos Carmeli” mencoba menghadirkan siapakah kita yang bekerja di taman anggur berbunga: hidup bersama, doa dan karya. Dan bersama Bunda Maria, kita belajar untuk mengisi diri kita dengan kelembutan, dengan doa, dengan kebersamaan, dengan keterarahan kita kepada Allah. Bersama Bunda Maria, kita belajar berkomunikasi dengan orang lain, dengan diri sendiri dan lebih-lebih dengan Tuhan! Bersama Bunda Maria kita belajar berjalan menuju Tuhan dengan dasar: kerendahan hati, keterbukaan, kejujuran, ketulusan, kesederhanaan. Semoga Bunda Maria menjadi “Guru” kehidupan bagi kita semua!</p>



<p class="has-medium-font-size wp-block-paragraph">Akhir kata, mari kita belajar hidup yang kudus dan saleh dengan mencari perlindungan, menyerahkan diri dan menimba inspirasi hidup dari Bunda Maria..</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/


Served from: yayasansanctamaria.org @ 2026-05-24 21:15:58 by W3 Total Cache
-->