<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<atom:link href="https://yayasansanctamaria.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<description>Jalan Puncak Trikora R2/06 RT 008 RW VII Kelurahan Karang Besuki Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur Kode Pos 65146</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Oct 2026 05:01:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/01/logo-YSMM-1-150x150.webp</url>
	<title>YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>TANGGUNGJAWAB DALAM 25 KALIMAT PENDIDIKAN KARAKTER ALA ASRAMA ST. ALBERTUS</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/10/06/tanggungjawab-dalam-25-kalimat-pendidikan-karakter-ala-asrama-st-albertus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 05:01:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2280</guid>

					<description><![CDATA[oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm. Hakekat kehidupan asrama bukan sekedar pembentukan kebiasaan dan kesan-kesan sensorik, namun juga suatu proses pembentukan nilai-nilai hidup(Hamiyah.2015:187). Salah satu fungsi dan tujuan asrama adalah menanamkan nilai dalam diri anggotanya sehingga menjadi sebuah karakter(2016:3-4).&#160; Sebuah nilai dikatakan menjadi karakter apabila sudah terinternalisasi atau terbatinkan. Pada sisi lain sebenarnya pada masing-masing anak...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/karakter-asrama-1024x768.webp" alt="" class="wp-image-2490" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/karakter-asrama-1024x768.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/karakter-asrama-300x225.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/karakter-asrama-768x576.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/karakter-asrama-1536x1152.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/karakter-asrama-2048x1536.webp 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Hakekat kehidupan asrama bukan sekedar pembentukan kebiasaan dan kesan-kesan sensorik, namun juga suatu proses pembentukan nilai-nilai hidup(Hamiyah.2015:187). Salah satu fungsi dan tujuan asrama adalah menanamkan nilai dalam diri anggotanya sehingga menjadi sebuah karakter(2016:3-4).&nbsp; Sebuah nilai dikatakan menjadi karakter apabila sudah <em>terinternalisasi</em> atau terbatinkan. Pada sisi lain sebenarnya pada masing-masing anak sudah ada potensi untuk menjadi baik. Hanya kebaikan itu perlu diasah sehingga menjadi mengkilat. Seseorang dikatakan memiliki karakter apabila dalam dirinya sendiri mampu menampilkan nilai (nilai) tertentu secara terus menerus sehingga menjadi sebuah jati diri atau identitas. Maka penanaman karakter tidak sekali jadi atau beberapa kali jadi, melainkan butuh proses yang bersifat berkelanjutan dan terus menerus. Dari sinilah berangkat istilah pembiasaan dan kebiasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada banyak nilai yang hendak ditanamkan pada anggota asrama. Ada banyak cara pula dalam usaha menanamkan nilai-nilai kehidupan. Salah satu cara yang dipakai adalah dengan menulis refleksi sepanjang dua puluh kalimat. Lho? Bagaimana caranya? Apa hasilnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Latar Belakang</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu kelemahan anak asrama adalah soal tanggungjawab. Lemahnya tanggungjawab ini berkorelasi dengan nilai-nilai hidup lainnya: kepedulian, kebersihan, hemat, bela rasa, dan sebagainya. Dengan demikian, tanggungjawab merupakan nilai dasar yang harus sungguh-sungguh diperhatikan dan ditumbuhkembangkan dalam diri anak. Lemahnya tanggungjawab &nbsp;tampak pada sikap dan tindakan &nbsp;meninggalkan barang di sembarang tempat. Tidak heran bila pada masa-masa awal tahun pembinaan sering ditemukan barang-barang bergeletakan di tempat-tempat umum seperti teras, ruang belajar, dan sebagainya. Barang-barang yang ditinggalkan pun bermacam-macam, antara lain&nbsp; tas sekolah, buku – alat tulis, peralatan makan, HP, laptop, pakaian, dan sebagainya. Dampaknya adalah mereka sering membuang sampah sembarangan dan membiarkan tempat umum yang baru saja dipakai dalam keadaan berantakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebiasaan hidup nyaman dengan layanan pembantu di rumah&nbsp; dalam segala hal membuat anak-anak&nbsp; tidak peka terhadap harta milik. Hal ini didukung oleh sikap <em>permisif</em> orang tua yang tidak menghendaki anaknya “menderita atau susah.” Tidak jarang juga anak-anak ditinggal bekerja oleh orang tua dengan disediakan aneka macam mainan (termasuk game). Sikap <em>cinta semu</em> ini berlanjut pada sikap orang tua yang enggan &nbsp;menunjukkan apalagi mengajari anaknya hidup susah. Padahal bagaimanapun juga manusia butuh berjuang agar bisa hidup (<em>struggle of life</em>). Kenyamanan dan kemapanan hanya akan melenakan orang saja kalau tidak mau dikatakan membuat orang malas. Akibatnya (banyak) anak tidak menyadari bagaimana orang tua mengusahakan barang-barang itu melalui kerja kerasnya. Mereka tahunya hanya meminta, meminta, dan meminta. Bila barang itu rusak atau hilang dengan mudahnya mereka minta uang untuk membelinya. Pada sisi lain orang tua begitu mudah memenuhi keinginan dan permintaan anak. Padahal mereka sendiri tidak mampu mengusahakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti sudah disingguung dalam awal sub ini, dalam tindakan meninggalkan barang sembarangan sebenarnya terkandung banyak nilai hidup terabaikan. Nilai-nilai hidup itu antara lain tanggungjawab, syukur/terima kasih, hemat, dan perjuangan. Nilai – nilai ini berubah menjadi sikap instan, tidak mau repot. Hal ini tidak dapat dibiarkan karena bertentangan dengan nilai pendidikan. Pendidikan tidak hanya sekedar mengembangkan otak tetapi mengembangkan sisi-sisi kehidupan manusia secara utuh (holistic). Anak-anak yang hanya sekedar berkembang otaknya &nbsp;hanya akan menyuramkan masa depannya. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pembinaan &nbsp;Asrama.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Asrama sekolah adalah suatu tempat dimana para siswa bertempat tinggal dalam jangka waktu yang relative tetap bersama dengan guru sebagai pengasuhnya yang memberikan bantuan kepada para siswa dalam proses pengembangan pribadinya melalui proses penghayatan dan pengembangan nilai budaya(Hamiyah. 187). Salah satu prinsip pengelolaan asrama adalah memberikan pengaruh positif dalam pembentukan dan penanaman sikap serta kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa((Latifah.2012).&nbsp; Untuk itu asrama bermanfaat sebagai pengendali perilaku buruk murid (ebagai lembaga pendidikan non formal, asrama prihatin dengan keadaan awal para anggotanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asrama berusaha membuat mekanisme aturan untuk meminimalisir bahkan menghilangkan sikap tidak bertanggungjawab ini. Asrama – dalam hal ini pembina – mengambil dan menyimpan (menyita) barang-barang yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. &nbsp;Barang ini tidak akan kembali pada pemiliknya tanpa ada tebusan. Tebusan itu bisa berupa membeli kembali saat diadakan pelelangan atau mengerjakan suatu tugas dari pembina. Hasil dari lelang – yang biasa berupa uang &#8211; ditambahkan dalam dana APP yang kemudian diserahkan kepada gereja saat Paskah. Kita tahu bahwa hasil APP digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait dengan tebusan berupa pengerjaan tugas, pembina asrama menentukan pembuatan &nbsp;&nbsp;refleksi tertulis sepanjang 25 kalimat. Aneka topik bisa menjadi bahan refleksi. Topik itu antara lain perjuangan orang tua mencari nafkah. Dalam refleksi juga dimuat beberapa hal antara lain alasan pengambilan barang, dan janji untuk tidak meninggalkan barang. Refleksi ditulis tangan – bukan diketik-&nbsp; dengan &nbsp;tangan dengan mengindahkan tata cara penulisan ilmiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski tampak sederhana, tidaklah demikian bagi &nbsp;anak asrama. Alasannya adalah bahwa perkembangan tekhnologi dan kemajuan jaman membawa dampak tidak menggembirakan. Budaya SMS mengakibatkan anak enggan membaca tulisan/kalimat panjang. Kebiasaan membuka referensi dan copy paste menyebabkan anak enggan menulis. Itulah sebabnya &nbsp;amatlah tidak mudah bagi anak-anak untuk dapat merangkai kalimat sebanyak 25 itu dengan runtut. Sanksi ini sebenarnya sudah menjadi penderitaan tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun demikian, jika sanksi ini dijalankan dengan baik, sebenarnya ada makna lain yang hendak ditanamkan dalam diri mereka. Mereka dilatih dan dipaksa untuk bisa menuangkan &nbsp;gagasan/ide dalam tulisan secara tertata dan runtut. Hal ini sangat mendukung tugas mereka sebagai pelajar. Sebab pada dasarnya seorang pelajar harus membiasakan diri menulis guna menuangkan ilmu yang diperoleh. Untuk bisa menulis dengan baik, anak juga harus membiasakan diri membaca. Karena kesadaran akan jati diri demikian begitu lemah, maka harus ada pengkondisian dan pembiasaan ilmiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Proses Pembinaan</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Visi-misi asrama menuntut seorang Pembina asrama tidak hanya sekedar hadir. Seorang Pembina asrama harus mencintai tugas dan tanggungjawabnya. Rasa cinta dan tanggungjawab ini yang akan menggerakkan seorang Pembina asrama menghayati lebih dahulu nilai-nilai hidup berasrama sebelum menuntutkan kepada para anggotanya. Dengan kata lain, seorang Pembina asrama harus bias menjadi teladan bagi anak-anaknya (Rasa cinta ini pula yang membuat Pembina asrama selalu memiliki idealitas terhadap asrama beserta anggota-anggotanya. Pembina asrama selalu melakukan inovasi dan kreasi agar hidup berasrama tidak <em>monoton</em> dan <em>mandeg</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembina asrama selain senantiasa menjaga relasi baik terhadap anak-anaknya, juga berusaha menerapkan prinsip pendidikan 6 N. Adapun yang dimaksud dengan 6 N adalah singkatan dari <em>Nuntun</em>, <em>Nonton, Nuduhke, Ngaruh-aruhi, Nyeneni</em>, dan&nbsp; <em>Nyembahyangke</em>. Penanaman nilai tanggungjawab termasuk bagian dari 6 N ini (Mungsi. 2013).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum melakukan penyitaan barang tertinggal, Pembina terlebih dahulu mengingatkan berkali-kali akan pentingnya sikap tanggungjawab dan manfaatnya. Sikap &nbsp;bertanggungjawab setidak-tidaknya mengajak anak untuk meringankan beban orang tua. Anak berlaku hemat sehingga tidak setiap kali minta uang untuk membeli barang yang hilang karena tidak dijaga keberadaannya. Kebutuhan orang tua tidak hanya untuk anak itu sendiri, tetapi masih banyak kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Dengan ringannya beban hidup maka orang tua tidak stress.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembinapun tidak hanya sekedar menyita lalu menaruh barang sitaan secara sembarangan. Pembina juga tidak boleh meninggalkan barang-barang miliknya sembarangan. Untuk itu asrama &nbsp;menyediakan tempat khusus untuk menyimpan barang-barang itu. Tempat itu terkunci rapat dengan kunci hanya dipegang oleh Pembina sendiri. Di asrama putra tempat penyimpanan barang sitaan itu berupa &nbsp;dua almari.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Hasil Pembinaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penderitaan menulis refleksi menyebabkan anak-anak cukup jera meninggalkan barang sembarangan. Dengan sadar mereka memilih untuk menjaga barang-barangnya daripada menulis. Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa &nbsp;tujuan dan harapan penanaman nilai mulai menampakkan buahnya. Secara tidak sadar mereka diajak untuk bertanggungjawab terhadap barang-barang miliknya. Selanjutnya mereka juga diajak bertanggungjawab terhadap barang-barang pun tanggungjawab yang dipercayakan kepada mereka. Barang-barang itu &nbsp;termasuk barang asrama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasar pencermatan proses, usaha ini baru menampakkan &nbsp;hasil yang cukup menggembirakan setelah pelaksanaan minimal 6 bulan berjalan ke depan secara terus menerus. Anak-anak baru (baca kelas X) mulai tidak meninggalkan (lagi) barangnya secara sembarangan. Mereka juga berusaha mengingatkan temannya untuk tidak meninggalkan barang sembarangan. Semakin sering mengingatkan maka dalam diri seseorang terpatri nilai apa yang diingatkan itu. Sedangkan kelas XI dan kelas XII sangatlah jarang meninggalkan barang – barang miliknya. Dengan demikian, &nbsp;selanjutnya konsentrasi penanaman nilai tanggungjawab berpusat terarah pada kelas X saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski dikatakan bahwa anak asrama tidak suka menulis, itu &nbsp;bukan berarti anak asrama tidak dibiasakan dan dikondisikan menulis. Dengan cara dan konteks berbeda anak asrama diwajibkan menulis. Mereka wajib melaporkan kegiatan liburan saat akhir semester. Kegiatan pembinaan awalpun menuntut anak untuk memaknainya dalam bentuk tulisan. Beberapa tulisan ini dikumpulkan dan digabungkan dengan jenis-jenis tulisan lain kemudian&nbsp; dibukukan sebagai bentuk laporan pembinaan kepada orang tua. Buku yang dimaksud adalah buku <em>Segulung Benang Pengurai Berkat</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Siklus yang &nbsp;Terus Terulang</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalan pembinaan asrama terletak pada selalu terulangnya kasus-kasus &nbsp;kelemahan manusia: kurang tanggung jawab, tidak peduli, masa bodoh, dan sebagainya. Hal ini sangat masuk akal karena setiap tahun ada rombongan anggota baru yang masuk. Meski tidak semua anggota baru memiliki kelemahan dalam hal tanggungjawab, tetapi kelemahan itu menghinggapi mayoritas orang baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks tertentu penanaman nilai di asrama St. Albertus dapat dikatakan cukup berhasil. Hal ini dapat dicermati pada pemikiran, sikap perbuatan, dan perkataan &nbsp;anak-anak kelas XI dan XII. Sangat jarang ditemukan barang-barang anak kelas XI dan XII berceceran di tempat umum. Bahkan tidak segan-segan mereka mengingatkan adik kelasnya untuk tidak meninggalkan barang sembarangan. Namun demikian, &nbsp;penanaman nilai tanggungjawab bukan berarti selesai. Penanaman nilai selalu dan terus berlangsung. Maka dalam kurikulum pembinaan asrama anak kelas XI dan XII memang harus sampai pada tugas menghayati nilai dan menjadi teladan bagi adik-adiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selalu berulangnya masalah seringkali membuat bosan Pembina asrama. Namun cinta dan kesadaran akan tanggungjawab kepada banyak pihak menggerakkannya untuk tidak membiarkan rasa bosan terus terjadi. Nilai 6 N harus senantiasa dihudupi, dihayati dan dijalankan dalam pembinaan asrama. Pembina asrama harus senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan untuk menjalankan prinsip ke 6; Nyembahyangke, nyembahyangke anak asrama dan nyembahyangke diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Daftar Referensi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Hamiyah, Nur dan Mohammad jauhar. 2015. <em>Pengantar Manajemen Pendidikan di Sekolah</em>. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Latifah, Nur. 2012. <em>Pengelolaan dan Penyelenggaraan&nbsp; Asrama Sekolah</em>. dalam <a href="https://manajemenlayanankhusus.wordpress.com">https://manajemenlayanankhusus.wordpress.com</a> diunduh 29/8/2017.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungsi, Antonius. 2016. <em>Buku Tata Hidup dan panduan Hadiah – Sanksi Asrama Putra St. Albertus Malang</em>. Malang: Literasi Aspuci</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungsi, Antonius. 2016. <em>Segulung Benang Pengurai Berkat. Kumpulan Refleksi dan laporan Kegiatan Asrama Putra St. Albertus.</em> Malang: Literasi Aspuci.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungsi, Antonius. 2014. <em>Mendidik Kaum Muda Berkarakter Sebuah Sharing Usaha Penanaman Nilai&nbsp; Di Sekolah Dan Asrama</em>. Materi Pembinaan Guru Katholik Keuskupan Malang. Pusat Pastoral Keuskupan Malang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nurwardani, Paristiyanti. 2017. <em>Panduan Asrama Pendidikan Profesi Guru 2017</em>. Jakarta: Direktorat Pembelajaran. Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi. Rahmatullah Putri, Anisa. 2015. <em>Administrasi Layanan Khusus</em> dalam&nbsp;&nbsp; <a href="http://annisarahmatullahputri.blogspot.co.id">http://annisarahmatullahputri.blogspot.co.id</a>. diunduh 29/8/2017.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ILMU PSIKOLOGI BAGI KEHIDUPAN MANUSIA</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/26/ilmu-psikologi-bagi-kehidupan-manusia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2026 01:19:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2243</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Immaculata Sriunon K.M. Setiap manusia mutlak membutuhkan interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain, kebutuhan ini bersifat mengikat sejak manusia lahir sampai berakhir pada kematian. Keterikatan ini adalah merupakan salah satu kebutuhan manusia yang hakiki, sehingga tak satupun manusia terbebas dari interaksi dan komunikasi dengan orang lain. Seorang bayi sejak berada dalam kandungan ibunya, ia...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Immaculata Sriunon K.M.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-2244" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-1536x1024.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-2048x1365.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Ilmu_Bu-Ima-600x400.webp 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Setiap manusia mutlak membutuhkan interaksi dan berkomunikasi dengan orang lain, kebutuhan ini bersifat mengikat sejak manusia lahir sampai berakhir pada kematian. Keterikatan ini adalah merupakan salah satu kebutuhan manusia yang hakiki, sehingga tak satupun manusia terbebas dari interaksi dan komunikasi dengan orang lain. Seorang bayi sejak berada dalam kandungan ibunya, ia sudah membutuhkan campur tangan ibu dan ayahnya. Ada ungkapan bahwa, <em>“no man is an island</em>”. Tak satu pun manusia bisa hidup di sebuah pulau sendiri, ini menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi kita akan menghadapi berbagai karakter pribadi manusia yang tidak ada satupun yang sama. Menyadari bahwa sungguh luar biasa karya Tuhan dalam penciptaan manusia, sehingga terbentuklah berbagai karakter pribadi yang berbeda, unik, spesial dan dinamis. Tidak ada orang yang sama di dunia sekalipun mereka terlahir kembar, manusia adalah unik sebagai makhluk&nbsp; individual yang memiliki karakter tiada duanya. Dari pemahaman ini maka manusia itu bersifat individual sekaligus sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengenalan karakter pribadi dapat dipelajari melalui berbagai pendekatan teori, Misalnya: teori Tipologi (Hippocrates 400 SM dan Galenus 175 M) manusia dibedakan berdasarkan cairan di dalam tubuh manusia, maka ditemukan empat tipe manusia, tipe Sanguinis, Kholeris, Melankholis dan Flegmatis. Perbedaan dua karakter pribadi, tipe yang cenderung terbuka (Ekstrovert) yakni Sanguinis dan Koleris dan orang yang cenderung menutup diri (Introvert) Melankolis dan Flegmatis. Masih banyak lagi pendekatan teori &nbsp;dalam psikologi kepribadian untuk mengenal dan mendalami karakter manusia keberagaman dan keunikan pribadi dilakukan berbagai penelitian, misalnya pendekatan Behavioral, Humaniora, Rasional Emotive Theraphy, Teori Enneagram dll. &nbsp;Dari sinilah akan diketahui bagaimana kepribadian, sifat-sifat kelebihan dan kekurangan seseorang, yang akan mempengaruhi perilaku, komunikasi dan relasi masing-masing. Melalui teori tersebut, kita bisa memahami, menyelami, menerima orang lain maka akan terciptalah relasi, dan komunikasi yang baik dan mengurangi kesalahpahaman, ketidakmengertian yang bisa menimbulkan suatu persoalan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ilmu Psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku organisme. Perilaku organisme meliputi pikiran, perhatian,&nbsp; persepsi, intelegensi, kemauan dan ingatan. Ilmu psikologi diartikan juga sebagai ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan berhubungan struktur organisme (Psikologi Kepribadian- Suryadi Sumadibrata). Ilmu Psikologi akan bermanfaat bagi kehidupan manusia, di mana segala perilaku manusia akan dipengaruhi oleh berbagai aspek yang dapat dipelajari, diperbaiki dan dikembangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Fakta peranan Ilmu Psikologi yang masih minim dalam kehidupan masyarakat</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pendapat bahwa di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat,<em>“Men sana in corpore sano”</em><em> </em>Pendapat ini benar, tetapi ada kalanya yang terjadi tidak demikian. Banyak kita temui di dalam tubuh yang sehat secara jasmani terdapat jiwa yang tidak sehat, alias jiwanya sakit. Bagaimana ini bisa terjadi? Kita pernah mendengar, ada seorang lelaki di salah satu kota dengan wajahnya yang ganteng, ternyata dia pembunuh berdarah dingin. Seorang penyanyi terkenal di Amerika, meninggal karena overdosis. Seorang artis Korea ditemukan bunuh diri di balik kesuksesan yang sudah dicapainya, ternyata dia kesepian. Seorang polisi membunuh istrinya&nbsp; dan masih banyak kasus yang lain di mana menunjukkan pribadi secara fisik sehat tetapi mereka tidak sehat secara psikis dan tidak tertolong. Contoh kasus-kasus &nbsp;ini menyadarkan kita bahwa manusia bisa sakit secara psikis, yang seharusnya ada terapi penanganan khusus dari mereka yang ahli kejiwaan dan memiliki kewenangan untuk membantunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Realita yang ada kesehatan jasmani lebih mudah terperhatikan dan tertangani karena lebih tampak atau kasad mata. Tetapi bagaimana dengan kesehatan jiwa atau mental, sudahkah pemerintah atau masyarakat memperhatikan akan pentingnya kesehatan jiwa? Jika kebutuhan akan dokter bahkan dokter spesialis diupayakan untuk terpenuhi, bagaimana dengan ketersediaan &nbsp;dokter jiwa atau Psikiater, Psikolog, Konselor. Sudahkah tersedia tenaga ahli jiwa seimbang dengan kebutuhan yang ada. &nbsp;Suatu keprihatinan jika dalam kehidupan masyarakat yang semakin maju dan berkembang tetapi ilmu psikologi yang sangat bermanfaat dalam kehidupan perilaku setiap insan tetapi terabaikan kurang dipelajari dan dimanfaatkan oleh masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Psikologi dalam Pendidikan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang tua adalah pendidik yang utama dan pertama, peranan mereka akan jauh lebih baik jika kedua orang tua memiiki dan memahami akan psikologi, minimal mengetahui psikologi perkembangan anak, psikologi orang tua.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Ilmu Psikologi juga berlaku di lingkungan sekolah, seorang guru yang bijaksana akan lebih tepat dalam memperlakukan murid sebagai subyek didik secara personal karena mereka menerapkan pemahaman akan ilmu psikologi. Setidaknya mereka mempelajari psikologi anak, psikologi remaja, psikologi belajar, dll. Lebih-lebih di zaman atau era digital saat ini, murid banyak dihadapkan berinteraksi dengan kotak kecil berupa <em>handphone, gadget, ipad, android</em>, yang sangat minim aplikasi perasaan, empati, sedikitnya komunikasi dan sosialisasi secara langsung. Jika murid tidak&nbsp; didekati dengan hati, maka akan terbentuklah pribadi murid yang berkembang secara tidak seimbang. Guru dapat membantu murid agar mereka bisa mengeksplore dirinya dengan baik, segala potensi murid dapat dikembangkan dan kekurangan diri bisa diatasi, sehingga pencapaian aktualisasi diri murid dapat tercapai dengan tepat, jika guru tersebut mengenali karakter muridnya secara personal dengan baik. Peran seorang guru tidak dapat digantikan dengan teknologi dan mesin. Sependapat yang tertulis dalam majalah Flos Carmeli edisi III bulan Maret 2017, bahwa “<em>Teknologi hanya sebuah alat. Dalam hal membuat siswa bekerja sama dan menjadikan mereka termotivasi, gurulah yang paling utama “&nbsp; (Bill Gates). </em>Murid belajar di sekolah dalam rangka menggali ilmu dan mengeksplorasi diri, sehingga bekal ilmu tersebut mereka dapat gunakan dalam menjalani kehidupan yang semakin kompleks dengan mengandalkan kecakapan hiduplah mereka tetap bisa menunjukkan eksistensinya kelak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Psikologi dalam Karier/ dunia kerja</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia kerja bagaimana seseorang dapat&nbsp; diterima, ditempatkan pada posisi yang tepat, juga dibutuhkan penerapan ilmu psikologi. <em>Rekruitment</em> diawali dengan tahap seleksi melalui tes psikologi baik tulis maupun wawancara. Melalui hasil ini dapat diketahui bagaimana tingkat kemampuan atau IQ, potensi dasar, minat, kepribadian dan karakter yang bersangkutan sehingga pihak yang merekrut tenaga kerja mendapatkan calon pegawai yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan dapat ditempatkan sesuai dengan keberadaannya sehingga karyawan tersebut dapat berkembang sesuai dengan eksistensi dan kompetensinya. Dalam bahasa dunia kerja berlaku istilah <em>“the right man in the right place”</em>, menempatkan karyawan dengan tepat sesuai dengan potensi dan karakternya, maka akan membuahkan suatu produktifitas yang tinggi. Bidang bisnis, seorang penjual/<em>sales</em> menerapkan pendekatan persuasif dan <em>hypnoselling</em> saat menawarkan produk kepada konsumen, pemahaman akan karakter pembeli juga perlu dikenali, sehingga omzet penjualan atau target produk tercapai seperti yang diharapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Psikologi dalam kehidupan Sosial</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbagai fakta selain bidang pendidikan dan karier, psikologi juga bermanfaat dalam kehidupan secara sosial &nbsp;di masyarakat. Ilmu psikologi membantu kita untuk lebih bisa mengenal, memahami, menerima diri dan mengembangkannya ke arah yang baik. Demikian juga bermanfaat dalam proses sosialisasi dan interaksi dengan orang lain, yang pada akhirnya kita bisa menyehatkan diri kita secara psikis serta bisa menjadi vitamin bagi orang lain untuk sehat pula secara psikis. Interaksi&nbsp;&nbsp; dan sosialisasi yang baik dengan orang lain secara tepat akan membuahkan perasaan diterima dan saling menerima keberadaan masing-masing. Menerima karakter pribadi dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing, akan membuahkan suatu relasi yang indah, membawa kebahagiaan dan kedamaian serta meminimalkan terjadinya konflik dalam diri, maupun konflik dengan orang lain. Tuntutan zaman adalah bagaimana mencerdaskan diri secara emosional atau kecerdasan emosional (EQ), meliputi cerdas ke dalam diri <em>(Intrapersonal)</em>, misalnya memiliki kesadaran emosi, mandiri, memiliki sikap assertif, menghargai diri dan dapat mengaktualisasikan diri . Sedangkan&nbsp; cerdas keluar atau cerdas sosial <em>(Interpersonal)</em> dapat terekpresi bagaimana yang bersangkutan memiliki empati, tanggung jawab secara sosial dan memiliki hubungan pribadi dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sosialisasikan peranan dan manfaat ilmu Psikologi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Memasyarakatkan ilmu psikologi kepada warga masyarakat dan mendorong mereka untuk mau belajar ilmu psikologi yang bermanfaat bagi harkat dan martabat hidup manusia. Bersosialisasi dengan siapapun akan terjalin dengan lebih baik jika kita mengerti psikologi, kita akan terdorong untuk lebih empati, berkomunikasi dengan lebih menghargai satu sama lain. Menekuni karier apapun dan dalam situasi apapun, berbagai gejala perilaku manusia akan&nbsp; tampak dikenali dan dipahami, sedang dalam kondisi sehat ataukah perilakunya mencerminkan dirinya sedang sakit dan membutuhkan bantuan. &nbsp;Dalam sisi kehidupan individu dan sosial, keluarga, pendidikan, bisnis, industri dunia kerja apapun, psikologi bermanfaat&nbsp; di setiap aspek kehidupan manusia. Harapan penulis melalui wawasan dan pengetahuan psikologi terciptalah manusia yang sehat jasmani dan rohani secara seimbang. Masyarakat Indonesia dapat beraktualisasi dengan tepat, sehingga eksistensinya sebagai manusia yang luhur dan mulia secitra dengan Allah Sang Pencipta, dapat bermanfaat bagi kesehatan diri pribadi dan bagi orang lain. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PEMBINAAN MULTIKULTURAL BERLANGSUNG SEPANJANG HIDUP</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/21/pembinaan-multikultural-berlangsung-sepanjang-hidup/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Sep 2026 02:53:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2348</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Br. Vincentius Parsi, O.Carm. Multikultural dalam bahasa yang sederhana berarti bersifat keberagaman budaya. Keberagaman mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggaan untuk mempertahankan kemajemukan (A. Rifai Harahap 2007,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Br. Vincentius Parsi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="720" height="482" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Pembinaan_-Br-Parsi.webp" alt="" class="wp-image-2349" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Pembinaan_-Br-Parsi.webp 720w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Pembinaan_-Br-Parsi-300x200.webp 300w" sizes="(max-width: 720px) 100vw, 720px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Multikultural dalam bahasa yang sederhana berarti bersifat keberagaman budaya. Keberagaman mencakup gagasan, cara pandang, kebijakan, penyikapan dan tindakan, oleh masyarakat suatu negara, yang majemuk dari segi etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai cita-cita untuk mengembangkan semangat kebangsaan yang sama dan mempunyai kebanggaan untuk mempertahankan kemajemukan <em>(A. Rifai Harahap 2007, mengutip M. Atho Muzhar) [https://id.m.wikipedia.org]</em>. Keberagaman suku, agama, dan budaya yang ada di negeri kita ini adalah merupakan suatu anugerah dari Tuhan yang patut kita syukuri dan harus menjadi kebanggaan bagi kita, bukan untuk diperdebatkan ataupun dipertentangkan satu sama lain. Seperti halnya bunga di taman yang beranekaragam jenis dan warnanya yang membuat keindahan dan keasrian, demikian juga keragaman suku, agama dan budaya di mana ada saling toleransi, saling membantu dalam kebaikan, maka akan terciptalah suasana yang damai dan harmonis. Karena keragaman merupakan suatu anugerah dari Tuhan maka harus dijaga dan di rawat. Siapa yang harus menjaga dan merawat? Adalah kita semua tanpa kecuali mulai dari anak-anak sampai dengan orangtua, baik tak terpelajar maupun pendidik, baik awam maupun tokoh agama, baik secara individual maupun secara kelembagaan, semua komponen bangsa berkewajiban dan bertanggungjawab atas terpeliharanya keberagaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan lebih lanjut adalah bagaimana cara menjaga dan merawat keberagaman? Kiranya pertanyaan tersebut bisa dijawab sesuai Undang-Undang SISDIKNAS, yakni bisa melalui pendidikan formal (jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang), non formal(jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang merupakan pendidikan tambahan untuk melengkapi pendidikan formal) maupun informal (jalur pendidikan keluarga dan lingkungan) yang semuanya saling melengkapi dan memperkaya. <em>(UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003 Pasal 1 ayat 11, 12, 13 dan Pasal 13 ayat 1)</em>. Kata Pendidikan menurut KBBI berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dalam tulisan ini saya sengaja tidak menggunakan istilah Pendidikan Multikultural melainkan Pembinaan Multikultural dengan maksud menghindari kesan pendidikan yang formal di sekolah yang tertata rapi, terstruktur termasuk kurikulumnya karena dalam tulisan ini yang lebih saya tekankan adalah pembinaan di luar sekolah baik non formal maupun in formal. Kata Pembinaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Keduanya, baik Pendidikan maupun Pembinaan merupakan suatu usaha atau proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang agar menjadi lebih dewasa. Istilah Multikultural seperti sudah dijelaskan di atas berasal dari kata Multi yang berarti banyak atau beranekaragam dan Kultural yang berarti Budaya. Secara sederhana multicultural berarti keberagaman budaya. Dengan demikian Pembinaan Multikultural yang dimaksudkan di sini berarti suatu usaha, proses, tindakan, dan kegiatan dalam usaha mendewasakan manusia yang dilakukan secara efektif dan efisien guna menjaga, merawat dan membina keberagaman. Semestinya dalam keberagaman tidak mengenal istilah lebih baik atau lebih jelek, lebih rendah atau lebih tinggi, atau saya yang benar dan anda yang salah dan sebaliknya. Maka tepat sekali apa yang dikatakan Tilaar, H.A.R (2005.18), <em>“Dalam pendidikan multicultural tidak ada pengelompokan-pengelompokan komunitas yang mengagungkan nilai-nilai kelompok sendiri tetapi yang mengenal akan nilai-nilai hidup budaya suku atau komunitas yang lain.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa tujuan akhir yang mau dicapai dari pembinaan multikultural? Setiap orang pasti mempunyai cita-cita untuk hidup damai, aman, makmur dan sejahtera. Damai,&nbsp; aman di dalam hati masing-masing, dalam keluarga, di tempat kerja, dalam masyarakat dan di manapun kita berada. Orang belajar mulai dari taman kanak kanak sampai perguruan tinggi, kemudian cari kerja dan menjadi pegawai, tidak lain tujuannya adalah demi tercapainya cita-cita tersebut, baik untuk dirinya sendiri, keluarganya maupun anak cucunya atau generasi selanjutnya. Salahsatu cara untuk mencapai cita-cita tersebut adalah dengan pembinaan multikultural. Tujuan utama dari pembinaan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpatik, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama, suku dan budaya yang berbeda. Dengan itu diharapkan pada akhirnya terwujudlah sebuah bangsa yang kuat, maju, adil, makmur, dan sejahtera tanpa perbedaan etnik, ras, agama, dan budaya dengan semangat membangun kekuatan diseluruh sektor.<em> (bdk. Mashadi 2009).</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tanggungjawab Seluruh Komponen Bangsa</strong><strong></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembinaan Multukultural dimulai sejak usia dini bahkan sejak dalam kandungan. Apa keistimewaan dari anak-anak usia dini sehingga pembinaan multikultural dimulai sejak usia dini? Meski bukan suatu jawaban yang lengkap dan memuaskan namun menurut ahli psikologi bahwa sekitar 50% kecerdasan orang dewasa mulai terbentuk pada usia 4 tahun, maka pada usia di bawah 5 tahun dikatakan sebagai usia emas atau <em>Golden Age (Sigmund Freud). </em>Anak pada usia ini sampai masa kanak-kanak juga menjadi masa untuk meniru, mencontoh apa yang mereka lihat dan dengar, maka menjadi sangat penting peranan orang-orang di sekitarnya dalam memberikan nilai-nilai dan menanamkan sikap pada anak karena segala sesuatu yang mereka terima dan alami akan menjadi dasar atau pondasi bagi mereka nantinya ketika dewasa. Memberikan pembinaan multikultural sejak usia dini dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi perkembangan jiwa anak. Dengan itu anak-anak mulai terbangun sikap toleransi demokrasi terhadap perbedaan. Usia dini merupakan periode perkembangan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Pada masa ini seluruh instrument besar manusia terbentuk, bukan hanya kecerdasan saja tetapi seluruh kecakapan psikis. Sejak usia dini anak-anak sudah dilatih untuk mulai bertanggungjawab atas apa yang diterima melalui pendidikan, bukan hanya kemampuan merasa (afektif) dan kemampuan berpikir (koqnitif) tetapi juga kemampuan bertindak atau berperilaku (psikomotorik) <em>[bdk adidilib88.blogspot.co.id]</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembinaan Multikultural juga harus menjadi perhatian ketika anak-anak menginjak masa usia remaja. Pada tahap ini manusia mengalami gejolak emosi yang labil dan kerap kurang terkontrol. Emosi yang labil dan kurang terkontrol ini menyebabkan remaja terkadang cenderung berbuat seenaknya dan mudah terhasut. Maka di sini penting sekali peranan orang tua dalam keluarga atau peran konselor dalam Bimbingan Konseling (BK) di sekolah. Merekalah yang harus bisa memberikan motivasi dan inspirasi, memberikan nilai-nilai ideal sehingga para remaja ini didorong untuk bangkit bukan karena paksaan dan arahan tetapi karena kesadaran diri untuk melakukan perubahan perilaku individu ke arah yang lebih baik. Maraknya kenakalan remaja dalam bentuk tawuran dan perkelaian antar remaja yang sering terjadi akhir-akhir ini merupakan salah satu indikasi bahwa pembinaan remaja dalam menanamkan nilai-nilai toleransi belum sepenuhnya berhasil. Maka dari itu peran dan metode pembinaan dalam keluarga, di sekolah dan di masyarakat perlu dievaluasi dan ditingkatkan. Pembinaan formal saja di sekolah sungguh tidak cukup. Maka harus ada&nbsp; implementasi langsung yang merupakan bentuk tanggung jawab para remaja. Misalnya kegiatan Sarasehan Kebangsaan yang diadakan baru-baru ini oleh SMAK St Paulus Jember bersama dengan SMK Darul Muqomah Jember pada 22 – 23 september 2017 yang lalu dan kegiatan Live In SMAK St Albertus 11-14 Des 2017 di Malang Selatan. Kegiatan macam ini &nbsp;harus menjadi tradisi dan perlu lebih dikembangkan baik dari aspek teritorialnya maupun metodenya sehingga bisa menjangkau secara lebih luas baik kuantitas maupun kualitasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut apa dan bagaimana peran kaum muda dalam pembinaan multikultural? Masa muda merupakan masa puncak energi, masa puncak ide, gagasan dan kreativitas. Apa yang kita alami dan rasakan sekarang ini tidak bisa kita lepaskan dari perjuangan kaum muda pada masa lampau. Lebih lanjut, apa yang dilakukan kaum muda sekarang ini akan menentukan dan mewarnai masyarakat dan bangsa kita di masa yang akan datang. Masa muda juga merupakan masa emas kekuatan, ide, gagasan dan kreativitas, bahkan melebihi para orangtua. Presiden pertama kita Soekarno dalam pidatonya dihadapan para kaum muda mengatakan“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Seribu orangtua hanya dapat bermimpi, satu orang muda dapat mengubah dunia<em> (</em><a href="http://www.kompasiana.com"><em>www.kompasiana.com</em></a><em>)</em>. Daya kemampuan dan kekuatan orang muda yang luar biasa itu harus diarahkan dan disalurkan ke hal-hal positif yang membangun masyarakat dan bangsa. Segala ide dan gagasan &nbsp;cemerlang kaum muda sungguh dinantikan demi terciptanya masyarakat dan bangsa yang damai, sukacita&nbsp; dan penuh toleran di tengah&nbsp; masyarakat yang majemuk. Sebagai contoh: Setiap 3 tahun sekali para kaum muda katolik se Asia mengadakan pertemuan. Pada bulan Agustus tahun 2017 lalu, telah berlangsung kegiatan tersebut dan Indonesia sebagai tuan rumah, tepatnya di Keuskupan Agung Semarang. Pertemuan tersebut mengambil tema “<em>Asian Youth: Gospel’s Joy of Multiculturalistic Asia</em>” (OMK Asia: Suka cita Injil bagi Asia yang Majemuk).&nbsp; Melihat dari tema-tema selama pertemuan, 1). Datang bersama sebagai Asia Multikultural, 2) Menghargai dan Merayakan Keanekaragaman Kita, 3) Menjadi Bersatu dalam Keanekaragaman Budaya, 4) Merayakan Komuni Kita, dan 5) Hidup dan Berbagi Sukacita Injil(penakatolik.com<em>)</em> para kaum muda diarahkan agar mampu membagikan sukacita, damai kepada siapapun dan dimanapun kita berada tanpa memandang perbedaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah orang tua identik dengan orang yang sudah matang, teruji, berpengalaman dan bijaksana. Orang tua merupakan penanggung jawab utama atas seluruh anggota keluarga dan nama baik keluarga. Dalam kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak seringkali orangtua dilibatkan dalam proses penyelesaiannya. Kalau anak itu masih di bawah umur maka pembinaan dikembalikan kepada keluarga atau orangtua. Dalam hubungan dengan masyarakat sekitar, orangtua atau lebih tepatnya kepala keluarga juga berkewajiban untuk mengenal tetangga dan masyarakat sekitar, namun sebaliknya juga mengenalkan keluarga pada masyarakat sekitar sehingga keberadaan keluarga itu bukan menjadi sesuatu yang asing bagi mereka. Kenal dengan tetangga sekitar inilah yang menurut pengamatan saya masih sangat kurang terutama di kota-kota besar. Melalui keluarga dan masyarakat sekitar, kita sudah bisa belajar banyak hal soal keberagaman. Di keluarga saya ada yang suami dan istri beda agama, anaknya 2 dan semuanya beragama katholik. Suaminya yang adalah katolik itu aktif di kegiatan gereja yang istri dan bukan katolik itu juga taat beribadah namun mereka bisa hidup rukun, penuh toleran dan saling membantu. Meski mereka semua sekarang sudah mempunyai cucu, hidup mereka tetap harmonis baik antar suami istri maupun orangtua dengan anak-anak dan cucunya. Meskipun sampai sekarang mereka tetap dalam agamanya masing-masing, namun mereka tetap bisa menjaga hidup dengan saling toleransi, saling membantu dan saling mendukung. Orangtua harus bisa menjadi contoh dalam menghadapi keberagaman, misalnya ikut dalam kegiatan di lingkungannya, mengajak menghadiri pekan budaya, mengajak kunjung ke rekan kerja yang berbeda agama, suku dan budayanya, menghargai pemberian ataupun ucapan selamat dari orang lain, menghargai dan menghormati hari-hari besar keagamaan yang berbeda. Orangtua juga harus bisa mendampingi anak-anak dalam menghadapi keberagaman misalnya mendampingi anak untuk selektif dalam nonton TV, memberi pengertian kepada anak-anak untuk kenal dengan tetangga sekitar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai gambaran keberagaman yang ada di lingkup Yayasan Sancta Maria Malang berikut saya sajikan sedikit informasi. Pada data terbaru per Desember 2017 keadaan murid, guru dan karyawan ditunjukkan adanya keberagaman, baik keberagaman suku, agama dan budaya. Menurut data tersebut terdapat 44% atau sejumlah 850 murid beragama katolik, 49% atau sejumlah 942 murid beragama Kristen dan selebihnya yakni 7% beragama lain. Demikian juga untuk para guru dan karyawan, sejumlah 67% atau 134 orang beragama katolik dan 33% atau 66 orang selebihnya beragama bukan katolik. Dari segi asal daerah untuk murid St. Albertus, 72% atau sejumlah 794 murid berasal dari Jawa yang didominasi dari Jawa Timur dan 28% sisanya dari luar jawa yang didominasi dari Kalimantan (12%) dan Papua (7%). Untuk murid St Paulus Jember hampir seluruhnya dari Jawa Timur<em>(Sumber data berdasarkan informasi dari Bapak Jalu dan Bpk Taufik). </em>Sekarang sudah dirintis adanya asrama putra dan putri St Paulus Jember. Dengan adanya asrama ini diharapkan mampu menjangkau anak-anak dari luar pulau, dengan demikian semakin kompleks dan beragam anak-anak yang sekolah di St. Paulus Jember. Asal daerah seseorang akan ikut menentukan suku dan budayanya yang berbeda-beda. Segala perbedaan yang ada jangan sampai menghalangi dalam mencapai tujuan Visi Yayasan, tetapi sebaliknya hendaknya justru semakin mendukung tercapainya Visi Yayasan Sancta Maria Malang yakni menjadikan komunitas pendidikan sebagai jalan untuk transformasi diri menuju pribadi manusia&nbsp; utuh, unggul, matang dan dewasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan diri kita masing-masing? Hidupku harus menjadi kesaksianku. Seorang Kristiani dipanggil untuk saling mengasihi, itulah yang harus menjadi kesaksian hidupku, saling mengasihi, menghargai, toleransi kepada siapapun, saling membantu dalam kebaikan bersama.&nbsp; Untuk bisa menjadi murid Yesus seseorang tidak harus dibaptis tetapi dengan saling mengasihi kepada siapapun, seperti dikatakan Yesus, ”Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13: 34-35), biarkanlah perbedaan tetap ada dan selamanya perbedaan memang tetap akan ada, tidak mungkin semuanya sama. Seorang Kristiani adalah orang yang sudah diurapi oleh Roh Kudus dan mempunyai tugas untuk mewartakan kabar sukacita, kasih dan damai. Dalam Injil Lukas dikatakan “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4: 18-19). Kabar sukacita, damai dan kasih harus menjangkau kepada semua orang, semua golongan tanpa mengenal perbedaan. Gereja dalam Karya Misionernya mengajak kita semua di manapun berada melalui teladan hidup serta kesaksian lisannya wajib menampilkan manusia baru yakni manusia yang dipenuhi dengan kasih kepada siapapun, sukacita dan damai. Agar kesaksian kita membuahkan hasil hendaknya dengan penghargaan dan cinta kasih menggabungkan diri dengan sesama, menyadari diri sebagai anggota masyarakat dilingkungannya dan ikut serta dalam kehidupan budaya dan social melalui aneka cara pergaulan hidup manusiawi dan pelbagai kegiatan <em>( Ad Gentes 11). </em>Kasih kepada siapapun harus mengatasi segala perbedaan. Berpikir positif tentang orang lain, agama, golongan maupun budaya lain merupakan salah satu bentuk kasih kepada orang lain. Karena dengan berpikir positif akan melahirkan sikap dan tindakan yang positif pula.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana dengan peran pendidik dalam menjaga dan merawat keberagaman? Seorang pendidik memang harus menguasai bidangnya sendiri sehingga bisa memberikan yang terbaik kepada anak didiknya (mendidik sesuai dengan kompetensinya), namun demikian janganlah menutup diri terhadap ilmu &#8211; ilmu lain atau bidang lain terutama bidang sosial dan budaya. Seorang pendidik yang berwawasan multikultural diharapkan mampu mendidik bukan hanya menekankan aspek intelektual saja tetapi mampu memberi contoh melalui tutur kata dan perilaku yang baik, memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik <em>(bdk. UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 4)</em>. Maka dari itu pembinaan multikultural memerlukan pedagogik baru. Pendidikan formal tradisional membatasi proses pendidikan di dalam ruangan sekolah yang sarat dengan pendidikan intelektualistik (program-program hafalan atau praksis pendidikan yang hanya menekankan kepada simbol-simbol&nbsp; kesatuan bangsa), sedangkan kehidupan sosial budaya di Indonesia menuntut pendidikan hati (<em>pedagogy of heart</em>) yaitu diarahkan kepada rasa persatuan dari bangsa Indonesia yang pluralistic. <em>(Tilaar, H.A.R. 2005. 18)</em>. Pendekatan seperti itulah yang harus selalu dipupuk terus-menerus yang bisa dimulai dari lingkup yang paling kecil yakni dalam keluarga, sekolah, kemudian dalam hidup bermasyarakat. Dalam hal ini para pendidik melalui unit karya bisa bekerjasama dengan lembaga atau sekolah lain terutama di luar <em>stakeholder </em>sehingga jangkauannya akan lebih luas<em>.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kecuali para pendidik yang mempunyai basis massa yakni anak didik, juga para tokoh agama. Tokoh agama mempunyai peran sentral dalam membina, menjaga dan merawat keberagaman. Salah satu tugas penting para tokoh agama adalah menciptakan kesejukkan bagi basis massanya. Fungsi sosial yang diperankan secara penuh dalam membina hubungan antar umat beragama, menempatkan para tokoh agama juga pemimpin lembaga pendidikan keagamaan untuk memposisikan dirinya sebagai figure multicultural <em>(Sulalah, M.Ag,hal 23)</em>. Para tokoh agama khususnya dan kita semua pada umumnya hendaknya mempunyai kesadaran akan keberagaman ini. Kesadaran akan keberagaman membuat seseorang untuk tidak mengagungkan dirinya sendiri dan merendahkan yang lain atau memaksa orang lain harus sama dengan dirinya. Kita semua hendaknya juga mempunyai kesadaran bahwa “semua bangsa merupakan SATU masyarakat, SATU asal yakni dari Tuhan dan SATU tujuan terakhir, yakni Allah sendiri <em>(</em>bdk KGK. No. 842-843, NA.1<em>)</em>. Toleransi dan belas kasih hendaknya berada di atas segalanya. Dalam konteks hidup beragama tak seorangpun dibenarkan memaksa orang untuk memeluk imannya melawan hatinurani <em>(</em>bdk.KHK 748: 2<em>)</em>. Setiap orang diberi kebebasan untuk memilih imannya dengan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, kemudian untuk menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing. Seorang tokoh agama yang adalah sebagai seorang <em>figure multicultural</em> harus bisa memberikan contoh dalam hidup bersama, misalnya apa yang dilakukan oleh tokoh agama dan tokoh dunia Presiden Palestina Mahmoud Abbas menghadiri Misa malam Natal Desember 2017&nbsp; yang lalu di salah satu Gereja di Bethlehem <em>(</em><a href="https://m.detik.com"><em>https://m.detik.com</em></a><em>)</em> di mana dia dalam Gereja itu duduk di bangku yang paling depan. Ternyata kebiasaan seperti ini sudah dilakukan secara rutin oleh Presiden Palestina sebelumnya. Perbedaan apapun seharusnya tidak menjadi penghalang dalam menciptakan kedamaian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembinaan Multikultural juga merupakan suatu usaha mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa. Cita-cita para pendiri bangsa terkandung dalam pembukaan UUD 1945 alinea 4 yakni: Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selain itu para pendiri bangsa (<em>founding fathers</em>) mendirikan NKRI dengan dasar Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Di mana Pancasila dengan kelima silanya menuntun bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang bermoral, dengan rasa kebangsaan yang tinggi, bangga terhadap tanah air dan menghindari konflik dengan musyawarah dan mufakat, serta bersama-sama menuju masyarakat sejahtera dan makmur. Sementara Bhineka Tunggal Ika adalah prinsip yang menghargai perbedaan dan selalu bertoleransi dalam menghadapi perbedaan <em>(Hanum. 2011, uun-halimah.blogspot.co.id]. </em>Dalam usaha mencapai cita-cita tersebut Pemerintah telah menyiapkan perangkat dalam bentuk Undang-Undang SISDIKNAS. Dalam Undang-Undang tersebut dikatakan “Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama suku, ras kedudukan sosial dan tingkat kemampuan ekonomi” <em>(UU Sisdiknas No 2 tahun 1989 Bab III pasal 7). </em>Lebih lanjut dalam pasal lain disebutkan “Pendidikan diselenggarakan&nbsp; secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa”<em>(UU Sisdiknas No 20 tahun 2003 pasal 4 ayat 1). </em>Perangkat yang telah dibuat oleh Pemerintah itulah yang harus di taati dan dijalankan bukan hanya berhenti pada tataran Peraturan atau Undang-Undang ditingkat pusat melainkan harus sampai ditingkat yang paling bawah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gereja Katolik sangat menjunjung tinggi nilai keberagaman. Keselamatan dan damai sejahtera yang dirindukan dan menjadi cita-cita setiap orang harus terjadi pada setiap pribadi umat manusia di seluruh muka bumi tanpa terkecuali atau tanpa mengenal perbedaan. Pada dasarnya Gereja diutus ke seluruh dunia, ke segala bangsa, dan kepada semua orang tanpa dibatasi oleh suku, agama, budaya, status sosial kepada suatu cita-cita bersama setiap orang yakni keselamatan dan damai sejahtera, dan itulah yang dikehendaki Kristus yakni agar semua manusia selamat. Yang mereka bawa dan wartakan adalah kabar sukacita, kasih, dan damai. Dalam pelaksanaan misinya haruslah disesuaikan dengan setiap situasi atau keadaan orang yang menerimanya. Bagi orang yang menyambut perutusan itu kalaupun belum bisa menerima semuanya minimal mereka memiliki jiwa saling menghargai dan saling mencintai dalam keberagaman <em>(</em>bdk AG. Art. 6<em>). </em>Gereja Katolik sangat menekankan persaudaraan semesta tanpa Diskriminasi. Bahkan Gereja mengecam setiap diskriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat Kristus (NA. 5). Misi Gereja adalah membawa setiap orang kepada keselamatan dan damai sejahtera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya bagaimana peran Lembaga atau Yayasan dalam pembinaan multikultural? Yayasan Sancta Maria Malang membawahi beberapa unit kegiatan: Sekolah, Asrama, Kantin dan toko. Semua unit kegiatan tersebut, baik masing-masing maupun secara bersama-sama adalah merupakan sebuah Komunitas pembelajaran (<em>community learning)</em>. Melalui komunitas setiap orang belajar membentuk diri dan belajar dibentuk oleh orang lain melalui proses perjumpaan, relasi dan dialog atau komunikasi dalam pelbagai pengalaman hidup sehari-hari <em>(Standar Operasional Prosedur Yayasan Sancta Maria Malang 2.1.4). </em>Dalam dunia yang ditandai dengan makin meningkatnya pluralisme religius dan kultural, dialog menjadi sangat penting untuk mengatasi konflik tragis yang merupakan warisan masa lampau dan untuk memastikan bahwa “nama Allah yang satu semakin meningkat menjadi: nama perdamaian dan puncak perdamaian”. <em>(SDG No 86 hal 34 No 21)</em>. Yayasan memberi wadah dan kebijakan, sedangkan implementasinya diserahkan kepada masing-masing. Tentunya Yayasan mendukung sepenuhnya semua kegiatan unit maupun komunitas yang bertujuan memupuk keberagaman, dan sebaliknya akan memberikan peringatan maupun teguran bagi yang melanggar. Namun perlu tetap diingat bahwa setiap lembaga apapun mempunyai Visi dan Misinya. Implementasi Visi dan Misi harus&nbsp; bisa berjalan seiring ditengah keberagaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kesimpulan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Multikultural atau keberagaman budaya adalah sebuah keniscayaan dan merupakan suatu anugerah dari Tuhan, kita wajib menjaga, merawat dan membinanya. Diakui setiap orang dan setip bangsa bahwa kemajuan teknologi dibidang komunikasi membawa kemajuan diberbagai bidang disatu sisi, namun tidak bisa dipungkiri bahwa disisi lain bisa juga dengan cepatnya menghancurkan atau merusak suatu tatanan yang sudah baik. Maka kecuali harus pintar dalam menggunakan teknologi komunikasi juga harus bijaksana, artinya tahu bagaimana menggunakan sarana itu sehingga bermanfaat bagi banyak orang dan mana yang bisa merusak yang harus dihindari. Seluruh komponen bangsa mempunyai kewajiban menjaga, merawat dan membina keberagaman dan ini harus berlangsung terus-menerus sepanjang hidup.Meningkatkan keterlibatan langsung dari setiap elemen bangsa kiranya dapat menjadi solusi dalam mengatasi segala persoalan berkenaan dengan kemajemukan yang ada di tanah air kita. Tujuan dari semua itu adalah untuk menjadikan manusia seutuhnya&nbsp; yangpenuh damai, aman, makmur dan sejahtera yang menjadi cita-cita setiap orang, bukan hanya untuk kita sekarang ini tetapi juga untuk generasi selanjutnya.Dengan demikian kita menjadi manusia yang bermartabat yang disegani oleh bangsa lain dan menjadi contoh bagi mereka karena kita mampu menciptakan bangsayang penuh damai ditengah kemajemukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Rujukan:</em></p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Dokumen Konsili Vatikan II, Dokumentasi dan Penerangan Konperensi Wali Gereja Indonesia.</li>



<li><em>https://id.m.wikipedia.org</em></li>



<li>http://www.penakatolik.com</li>



<li><a href="https://m.detik.com">https://m.detik.com</a></li>



<li>Kitab Hukum Kanonik (KHK), Konperensi Wali Gereja Indonesia</li>



<li>Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi V, Aplikasi luring resmi Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.</li>



<li>Kitab Suci Deoterokanonika, Lembaga Alkitab Indonesia</li>



<li><em>uun-halimah.blogspot.co.id</em></li>



<li>Undang-Undang Dasar 1945</li>



<li>UU SISDIKNAS No 2 Tahun 1989</li>



<li>UU SISDIKNAS No 20 Tahun 2003</li>



<li>Sulalah, M.Ag Dr Hj, Pendidikan Multikultur</li>



<li>Standar Operasional Prosedur Yayasan Sancta Maria Malang, 2017</li>



<li>Tilaar, H.A.R. 2005. <em>Pendidikan Multikultural dan Revitalisasi Hukum Adat Dalam Perspektif Sejarah</em>. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Sejarah dan Purbakala.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KREATIVITAS DALAM DUNIA PENDIDIKAN</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/18/kreativitas-dalam-dunia-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2026 04:03:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2229</guid>

					<description><![CDATA[oleh: Ireneus Sola Wene Guru mempunyai andil besar dalam membawakan materi pelajaran; yang tidak gampang menjadi gamblang, yang menakutkan menjadi menyenangkan, serta yang jenuh dan bosan menjadi menarik. Hal demikian pertama-tama dilakukan demi &#160;murid. Mereka tidak pernah berhenti mengupayakan berbagai terobosan untuk menggembirakan murid dan memudahkan pemahaman setiap materi pelajaran. Hal seperti ini hanyalah dilakukan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">oleh: Ireneus Sola Wene</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kreativitas_Pak-Iren-1024x768.webp" alt="" class="wp-image-2230" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kreativitas_Pak-Iren-1024x768.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kreativitas_Pak-Iren-300x225.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kreativitas_Pak-Iren-768x576.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kreativitas_Pak-Iren.webp 1040w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Guru mempunyai andil besar dalam membawakan materi pelajaran; yang tidak gampang menjadi gamblang, yang menakutkan menjadi menyenangkan, serta yang jenuh dan bosan menjadi menarik. Hal demikian pertama-tama dilakukan demi &nbsp;murid. Mereka tidak pernah berhenti mengupayakan berbagai terobosan untuk menggembirakan murid dan memudahkan pemahaman setiap materi pelajaran. Hal seperti ini hanyalah dilakukan oleh guru yang kreatif, cerdas dan menghayati profesinya. Guru yang demikian ini disebut sebagai guru yang kreatif.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa waktu yang lalu Bapak Irenius dari Majalah Flos Carmeli berbincang-bincang dengan tiga guru &nbsp;kreatif. Berdasar pantauan media ini, ketiga orang ini memiliki metode unik dalam mengelola KBM. Hal ini menjadi nilai lebih mengingat mata pelajaran yang diampunya sering diidentikkan sebagai “momok” bagi setiap murid. Mata pelajaran dimaksud adalah matematika. Berikut rangkuman hasil sharing pengalaman ketiga guru tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Guru harus kreatif</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran menjadi menarik apabila proses yang dijalankan menimbulkan dalam diri murid perasaan senang, tertarik, tertantang dan bermakna. Murid menjadi antusias. Pengalaman demikian yang disharingkan Elisabeth Enie R.Y.S., S.Si., S.Pd., guru Matematika SMAK St. Paulus. Ibu Enie, demikian lajang kelahiran Bontang ini biasa dipanggil melihat bahwa&nbsp; ada perbedaan ketika awal mengajar dengan sekarang. “Dulu ‘saklek’, tetapi sekarang lebih fleksibel. Dulu menakutkan, tetapi sekarang menjanjikan murid senang dengan pelajaran matematika.”katanya. Lebih lanjut lulusan Universitas Negeri Malang ini menuturkan, “Agar &nbsp;murid tidak bosan dan mengantuk, saya harus kreatif. Prinsip yang saya gunakan adalah satu jam pelajaran untuk materi/menanamkan konsep, sisanya untuk kegiatan pendalaman, seperti diskusi, video/film, <em>game</em>, dll. Kegiatan menyenangkan ini membuat anak tidak merasa bosan sehingga saat bel tanda akhir pelajaran murid berkata ‘<em>lho kok wis mari’. </em>Kreativitas &nbsp;lain yang diungkapkan guru yang hobinya jalan-jalan ini adalah bagaimana ia masuk dalam dunia orang muda dengan bahasa “gombalan.” “Ketika saya mengajar materi tentang <em>Sinus </em>dan<em> Cosinus</em>,&nbsp; saya mengaitkannya menggunakan kata-kata gombal(red: rayuan gombal): aku dan kamu bagaikan sin 90 derajat. Maksudnya aku dan kamu adalah satu. Ternyata kalau aku dekat dengan kamu seperti sin ½ x . Maksudnya <em>deg-degan</em>. Menarikkan!”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal berbeda namun bermakna sama dituturkan oleh ibu <strong>Dwi Nila Indriani, S.Pd. </strong>Pengampu mata pelajaran matematika&nbsp; SMAK St. Paulus Jember ini mengatakan bahwa Guru harus kreatif menciptakan suasana pembelajaran yang menarik tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pendidikan dan pembelajaran. “Seorang guru harus bijak, kreatif dan cerdas menghadapi murid yang heterogen kemampuan akademisnya.”katanya. Guru yang berdarah Madura ini memisalkan usaha menanamkan konsep matematika. “Dibutuhkan ke<em>telatenan</em> memberi penguatan baik untuk murid yang <em>level</em> rendah maupun yang <em>level</em>nya tinggi. Bagi murid yang<em> level-</em>nya rendah guru harus <em>memetani</em> satu-satu. Sedangkan untuk murid yang <em>level</em>nya tinggi guru harus mevariasikan soal-soal latihan yang tingkatannya pengayaan. Memang harus ‘<em>telaten’</em>.”tukasnya serius. Lebih lanjut, ibu guru yang pernah masuk sepuluh besar UKG dari Kabupaten Jember tingkat nasional ini mengatakan, “Untuk menarik dan membangkitkan semangat belajar matematika, saya menggunakan <em>game</em>. <em>Game</em> dapat disiapkan oleh murid, sedangkan soal <em>game</em> saya yang menyiapkan.” Menjawab tentang alas an mengapa murid dilibatkan menyiapkan <em>game, </em>&nbsp;ibu kelahiran 1 Mei ini berkata,“Ya. Karena kreativitas <em>game</em> haruslah sesuai dengan kondisi dan minat murid dan <em>game</em> apa yang lagi <em>trend</em> untuk murid sekarang? Murid dulu dan sekarang berbeda. Murid sekarang membutuhkan media belajar yang sesuai dengan dunianya dan yang menarik. Ketika <em>game</em>-nya sudah oke, maka saya tinggal menyiapkan soal-soal untuk tampilan dalam <em>game</em> tersebut. Komposisi soal mulai yang bertaraf mudah – sedang – sulit – sangat sulit. Salah satu contoh <em>game</em> yakni dengan menggunakan game Pokemon.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Membangkitkan semangat belajar</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung seru. Artinya KBM selain menegangkan tetapi juga menyenangkan. Dengan cara ini guru berusaha membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Hal inilah yang coba diusahakan oleh Rosevita Melati, S.Pd.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu Vita, demikian guru muda ini biasa dipanggil &nbsp;ia&nbsp; tergerak untuk menghilangkan <em>image</em> matematika sebagai ilmu yang sulit dipelajari. Ia mencoba berbagai model pembelajaran yang dapat membawa murid senang untuk belajar matematika. Ibu guru yang punya hobi menari Gambyong ini menegaskan &nbsp;bahwa pilihan profesi guru bukanlah pilihan utama tetapi ketika pilihan itu jatuh padanya maka timbul sebuah impian dalam benaknya. “Ketika saya menjadi guru, saya tidak ingin menjadi guru yang biasa-biasa saja”. Inilah yang memotivasi dia untuk kreatif dan inovatif. Setiap kali mengajar ada hal-hal atau <em>game </em>baru yang dapat ditampilkan agar pembelajaran matematika tidak monoton. Beberapa model pernah dipraktekkan yaitu &nbsp;Bamboo Dancing (Menari), Basket Ball Drilling (Bola Basket), TTM (Teka Teki Matematika), Puzzle (Memasang soal dengan pilihan jawaban) atau Tebak Wajah Tokoh-tokoh legendaris ( di balik wajah ada soal). Ibu yang juga memiliki hobi <em>traveling</em> ini menuturkan bahwa &nbsp;penggunaan game dalam pembelajaran <em>game</em> yang menarik ini membuat murid tidak ngantuk. Pembelajaran menjadi menyenangkan pun target pemahaman materi&nbsp; sesuai &nbsp;&nbsp;harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal senada diamini oleh Ibu Elisabeth Enie. Ia menyatakan bahwa untuk mengkondisikan murid maupun guru agar keluar dari zona nyaman, diperlukan teknik-teknik kreatif dalam pembelajaran. Teknik dimaksud antara lain &nbsp;ulangan <em>on-line</em>, <em>e-library</em> sebagai &nbsp;ganti buku paket, penyajian materi dengan PPT, pembuatan soal dalam bentuk kasus yang relevan dengan masyarakat (murid), dan menyenangkan. Seorang guru haruslah berani membuat terobosan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi Iptek.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Cara pembelajaran yang berbeda.</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia membutuhkan guru-guru inspiratif nan kreatif bagi kemajuan murid-muridnya. Pola pikir pendidikan gaya lama yang hanya membolehkan penggunaan cara guru pengajarnya saja haruslah diubah. Pendidikan model demikian sungguh menyedihkan. Anak menjadi takut salah pun tidak kreatif. Pada pendidikan modern, murid ditawarkan untuk berkreasi dan berpendapat dengan cara yang berbeda. Ibu Elisabeth Enie menggarisbawahi bahwa masing-masing pendapat dapat didiskusikan bersama. Guru tidak boleh ‘<em>saklek’ </em>dengan teorinya (terbuka terhadap ilmu baru), asalkan tetap berada direl atau rambu-rambu normatif. “Saya tidak pernah melarang murid bekerja menggunakan cara mereka; dari manapun dia peroleh.” urai putri dari ibu Hasnah Siburian dan bapak Johnson Sinurat ini. Tanpa segan-segan Ibu Eli memberi keleluasaan murid untuk berekspresi, dan berpendapat menemukan alternatif-alternatif jawaban. Baginya tugas seorang guru adalah menuntun para murid agar tidak keluar dari kaidah-kaidah yang ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Betapa bahagianya jika murid diajar dan didampingi oleh guru yang tiada henti mengupayakan pembelajaran yang menyenangkan. Orangtua tidak akan khawatir, di tangan guru yang kreatif seperti ini. Anak-anaknya akan paham lebih cepat materi pembelajaran, karena para guru tidak hanya menyajikan materi belajar yang menyenangkan, tetapi juga menjalankan tugas sebagai guru yang kreatif dengan hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait dengan manfaat kreativitas, ketiga guru memiliki pandangan yang sama. Kreatifitas guru dalam pendidikan sangat penting bagi pendidikan jaman ini. Kreativitas guru dapat mengatasi kebosanan sehingga selama KBM murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, dan penuh partisipasi.&nbsp; Kreatifitas guru yang tepat dalam merancang proses belajar mengajar akan memberikan manfaat bagi murid, antara lain: (1) membangkitkan semangat untuk persiapan belajar materi lebih dulu, (2) timbul rasa penasaran murid, (3) muncul keaktifan yang sifatnya kompetitif, murid tidak bermalas-malasan lagi, (4) juga menanamkan konsep bahwa yang ada di dalam kelas itu semua saudara, maka tidaak ada masalah dengan kelompok belajar yang selalu baru. Adalah sebuah tanggungjawab bagi guru memacu kreatifitas mencari dan mencari metode serta model pembelajaran yang terbaru, yang menarik, menyenangkan, dan bermakna untuk murid. Menjadi guru bukan sekedar guru yang biasa-biasa saja tetapi guru yang luar biasa di mana ia memiliki tanggungjawab moral menghantar murid ke masa depan yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MELESTARIKAN BUDAYA BANGSA MELALUI MATEMATIKA</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/08/melestarikan-budaya-bangsa-melalui-matematika/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2026 06:13:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2246</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Sylvana N.S. Mungkin judul dari artikel ini dapat menggelitik hati sebagian para pembaca. Bahkan adapula yang bertanya bagaimana mungkin matematika dapat mengembangkan budaya sedangkan keduanya sama sekali tak terkait satu dengan yang lain. Nah, melalui tulisan ini penulis pun ingin sedikit berbagi pengalaman yang pernah penulis dapatkan selama studi. Hal ini dimulai dari “perkenalan”...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Sylvana N.S.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-2248" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-1536x1024.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-2048x1365.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Melestarikan_Bu-Sylvana-1-600x400.webp 600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Mungkin judul dari artikel ini dapat menggelitik hati sebagian para pembaca. Bahkan adapula yang bertanya bagaimana mungkin matematika dapat mengembangkan budaya sedangkan keduanya sama sekali tak terkait satu dengan yang lain. Nah, melalui tulisan ini penulis pun ingin sedikit berbagi pengalaman yang pernah penulis dapatkan selama studi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini dimulai dari “perkenalan” kali pertama penulis dengan PMRI. Beberapa pembaca mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Namun, sebagian yang lain mungkin ada yang belum pernah mendengar. PMRI adalah singkatan dari Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Metode pembelajaran ini sendiri diadaptasi dari RME (<em>Realistic Mathematics Education</em>), yang dikembangkan kali pertama di Belanda dan baru diterapkan di Indonesia pada tahun 2001 (Zulkardi, 2002). PMRI kemudian berkembang dengan cukup pesat di Indonesia dan saat ini terus digalakkan sebagai gerakan reformasi pendidikan&nbsp; di Indonesia dimulai dari pendidikan dasar (Sembiring, 2010).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu karakteristik dari PMRI adalah menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal pembelajaran (Gravemeijer, 1994). Masalah kontekstual yang dimaksud disini adalah masalah yang dirasa riil bagi siswa dan mampu membantu siswa untuk mencapai pemahaman terhadap konsep matematika yang sedang dipelajari. Disinilah, peran seorang pendidik untuk mengenalkan budaya bangsa sekaligus membelajarkan siswa tentang suatu konsep matematika dimulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam artikel ini, penulis akan mengangkat suatu penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran tentang statistika dimana menggunakan salah satu karya budaya bangsa sebagai awalan dari proses belajar siswa. Mengenalkan tentang turus, rata-rata dan beberapa konsep statistika yang lain dengan dibalut cerita rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penelitian ini dilakukan oleh Lestariningsih (2012) di salah satu sekolah di Palembang. &nbsp;Oleh karena itu cerita rakyat yang digunakan pun adalah cerita rakyat yang diambil dari legenda Pulau Kemaro, Palembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konteks cerita rakyat yang dipakai tentunya tidak terbatas pada satu cerita ini saja, melainkan dapat diterapkan menggunakan cerita rakyat lainnya, dengan memodifikasi beberapa bagian agar sesuai dengan pembelajaran konsep yang diinginkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Berikut adalah cerita yang digunakan dalam penelitian tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Alkisah, pada zaman dahulu seorang putri dari Kerajaan Sriwijaya bernama Siti Fatimah dilamar oleh putra raja dari negeri Cina bernama Tan Bun Ann. Raja Sriwijaya mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tan Bun Ann. Persyaratannya adalah Tan Bun Ann harus menyediakan 7 guci berisi emas. Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya. Selang beberapa waktu, utusan itu kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. Surat balasan dari raja Cina itu berisi restu atas pernikahan Tan Bun Ann dan Siti Fatimah dan sekaligus permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Namun sebagai tanda sayang kepadanya, kedua orang tuanya akan mengirim 7 guci berisi emas. Raja Cina memasuki sebuah ruangan yang berisi setumpuk emas batangan dan tujuh guci dengan berbagai macam warna. Dia ingin mengisi semua guci dengan jumlah emas batangan yang sama. ”Bagaimana caranya ya?” Tanya raja Cina kepada dirinya sendiri. Sang Raja berdiri lama dan belum menemukan caranya. Akhirnya dia memasukkan emas batangan ke dalam guci tanpa mempedulikan rencananya semula. Raja Cina pun mengisi guci yang berwarna merah dengan 7 emas batangan, guci yang berwarna biru diisi 5 emas batangan, 4 emas batangan untuk guci yang berwarna coklat, 5 emas batangan diisikan ke dalam guci yang berwarna orange. Kemudian guci yang berwarna hijau diisi dengan 7 emas batangan sedangkan guci yang berwarna ungu diisi dengan 9 emas batangan. Guci berwarna putih diisi dengan 5 emas batangan. Setelah semua guci selesai diisi dengan emas batangan, Raja Cina pun meletakkan sayuran sawi diatas semua guci sehingga yang tampak adalah guci berisi sawi. Selanjutnya dia menyuruh beberapa utusan untuk mengirim tujuh guci tersebut kepada Tan Bun Ann di negeri Sriwijaya. Pada suatu hari rombongan Tan Bun Ann tiba dari Tiongkok dengan 7 guci emas yang telah dijanjikan. Namun, setelah diminta menunjukkan isi gucinya oleh raja Sriwijaya, Tan Bun Ann terkejut karena melihat sayur mayur di dalam 7 guci yang dibawanya. Karena kaget dan marah, tanpa memeriksa terlebih dahulu, Tan Bun Ann langsung melemparkan guci-guci tersebut ke dalam Sungai Musi. Tetapi pada guci yang terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga terlihatlah emas batangan yang berada di dalamnya. Rasa penyesalan membuat Tan Bun Ann mengambil keputusan tak terduga, ia menceburkan diri ke dalam Sungai Musi untuk mencari guci-guci. Melihat kejadian tersebut , Siti Fatimah ikut menceburkan diri ke sungai sambil berkata,”Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya.” Dan ternyata benar, tiba-tiba dari bawah sungai timbul gundukan tanah yang akhirnya sekarang menjadi Pulau Kemaro.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cerita ini digunakan oleh Guru untuk mengawali kegiatan pembelajaran. &nbsp;Dari cerita tersebut, Guru meminta siswa membuat tabel banyak emas di dalam guci, seperti berikut.</p>



<figure class="wp-block-table"><table class="has-fixed-layout"><tbody><tr><td>Warna guci</td><td>Banyak emas</td></tr><tr><td>Merah</td><td>7</td></tr><tr><td>Biru</td><td>5</td></tr><tr><td>Coklat</td><td>4</td></tr><tr><td>Orange</td><td>5</td></tr><tr><td>Hijau</td><td>7</td></tr><tr><td>Ungu</td><td>9</td></tr><tr><td>Putih</td><td>5</td></tr></tbody></table></figure>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Tabel 1. Banyak emas dalam guci</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di samping itu, Guru juga dapat mengenalkan turus kepada para siswa dengan memberi contoh penulisan turus sebagai berikut.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="379" height="387" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image.png" alt="" class="wp-image-2249" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image.png 379w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-294x300.png 294w" sizes="auto, (max-width: 379px) 100vw, 379px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Gambar 1. Contoh Penulisan Turus`</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegiatan pembelajaran pun dilanjutkan dengan menggambar diagram batang untuk penyajian data banyak emas dalam guci. Berikut adalah salah satu hasil kerja siswa.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="376" height="314" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-1.png" alt="" class="wp-image-2250" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-1.png 376w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-1-300x251.png 300w" sizes="auto, (max-width: 376px) 100vw, 376px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Gambar 2. Diagram Batang</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran yang dilakukan dapat dilanjutkan dengan mencari rata-rata emas dalam guci, mengenalkan istilah modus sebagai nilai yang paling banyak muncul dari banyak emas dalam guci, juga mencari nilai terendah, dan nilai tertinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang terlihat pada hasil kerja siswa pada Gambar 3 berikut, nilai modusnya adalah 5 karena ada sebanyak 3 guci yang memuat 5 batang emas. Jumlah ini adalah yang paling banyak dibanding dengan banyak emas 4, 7, atau 9.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="457" height="348" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-2.png" alt="" class="wp-image-2251" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-2.png 457w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-2-300x228.png 300w" sizes="auto, (max-width: 457px) 100vw, 457px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Gambar 3. Tabel banyak guci</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Gambar 3, dapat kita ketahui pula bahwa nilai yang terendah adalah 4 batang emas dan nilai tertingginya adalah 9. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pembelajaran yang dilakukan, Guru dapat&nbsp; menggunakan alat peraga lainnya untuk membantu proses visualisasi dari cerita yang dibacakan. Gabus untuk memodelkan batang emas dan kotak mika sebagai gucinya.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="438" height="304" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-3.png" alt="" class="wp-image-2252" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-3.png 438w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-3-300x208.png 300w" sizes="auto, (max-width: 438px) 100vw, 438px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Gambar 3 . Gabus dan Mika</p>



<p class="wp-block-paragraph">Alat bantu ini juga dapat membantu siswa untuk mencari rata-rata emas batang dalam guci. Salah satu strategi yang digunakan oleh siswa untuk menghitung rata-rata emas dalam guci adalah dengan membuat tinggi gabus dalam setiap mika sama. Sehingga ditemukanlah bahwa rata-rata emas dalam tiap guci adalah 6 batang emas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, kreativitas guru dalam penggunaan teknologi juga dapat dikombinasikan disini. Misalnya Guru dapat mengganti pembacaan cerita dengan visualisasi gambar kartun dari video yang dibuat dengan <em>adobe flash</em> maupun program lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara umum, penelitian yang dilakukan ini telah menunjukkan bahwa cerita rakyat mampu menggiring siswa untuk menemukan kembali (<em>reinvent</em>) beberapa konsep dalam matematika disamping upaya Guru untuk melestarikan budaya bangsa. &nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">DAFTAR PUSTAKA</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gravemeijer, K.P.E. (1994). Developing realistic mathematics education. Utrecht: CD-ß Press/Freudenthal Institute.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lestariningsih. (2012). Desain Pembelajaran Matematika: Legenda Pulau Kemaro pada Pembelajaran Statistika di Kelas VI Sekolah Dasar. Palembang: Universitas Sriwijaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sembiring, R.K. (2010). Pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI): Perkembangan dan tantangannya. IndoMS Journal Mathematics Education.(1)1, 11-16.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumarto, S.N., &amp; Palupi, E.L.W. (2013). Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI): Melestarikan Karya Budaya Bangsa Melalui Pembelajaran Matematika. Diseminarkan dalam Seminar Nasional PGRI Palembang tahun 2013.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Zulkardi, Nieveen, N., Akker, J.,van den., &amp; Lange, J.,de.(2002). Designing, evaluating and implementing an innovative learning environment for supporting mathematics education reform in Indonesia: The CASCADE-IMEI study. &nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mendidik Siswa Generasi Z</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/08/mendidik-siswa-generasi-z/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2026 04:12:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2107</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia) Melihat murid tidur ketika guru mengajar merupakan hal yang paling tidak disukai oleh semua guru. Hal itu karena guru merasa jerih payahnya tidak dihargai. Semua materi yang telah disiapkan, terasa hambar ketika siswa&#160; tidak mau memperhatikan guru. Respons beragam dilakukan oleh guru ketika melihat siswanya tidur, ada yang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large is-style-default"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-2144" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-1536x1024.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-2048x1365.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/Mendidik-gen-Z_Pak-Ardi-600x400.webp 600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia)</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat murid tidur ketika guru mengajar merupakan hal yang paling tidak disukai oleh semua guru. Hal itu karena guru merasa jerih payahnya tidak dihargai. Semua materi yang telah disiapkan, terasa hambar ketika siswa&nbsp; tidak mau memperhatikan guru. Respons beragam dilakukan oleh guru ketika melihat siswanya tidur, ada yang marah, ada yang memperingatkan untuk cuci muka, ada yang mencatat dalam buku pelanggaran siswa (tata tertib), dan ada pula yang melakukan instrospeksi diri. Sayangnya untuk poin terakhir, tak semua guru melakukan hal itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Instrospeksi dan mau belajar adalah kunci utama untuk mengatasi siswa yang mengantuk. Apabila dalam satu kelas, terdapat siswa yang mengantuk lebih dari dua atau tiga orang, maka dapat dipastikan ada sesuatu yang salah ketika guru mengajar. Faktor utamanya adalah metode yang digunakan kurang menarik perhatian, sehingga siswa tertidur pulas. Sebelum menindaklanjuti metode yang digunakan, guru harus mengetahui latar belakang siswanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siswa zaman sekarang berbeda dengan siswa sepuluh hingga dua puluh tahun lalu. Mereka yang saat ini duduk di bangku SMA dilahirkan pada tahun 1998 hingga awal 2000-an. Inilah yang dinamakan dengan generasi Z atau generasi internet. Saya yang lahir pada tahun 1992 saja sudah berbeda jauh mental serta pola pikirnya dengan siswa siswi saya. Saat saya dilahirkan, media masa yang paling mutakhir adalah televisi itu pun hanya punya satu saluran. Barulah saat saya SD, stasiun TV mulai bermunculan. Jumlahnya juga tidak banyak. Berbeda dengan siswa saya, ketika mereka dilahirkan mereka sudah diperdengarkan suara televisi dari beragam saluran. Ketika mereka SD, mereka sedikit banyak sudah tahu komputer. Bahkan, ketika SMP mereka sudah mengenal internet. Saat mereka duduk di SMA mereka sudah tidak asing lagi dengan <em>smartphone</em> 4G yang sudah ada dalam genggaman. Berbeda dengan saya, saat saya SMA dulu saya masih mengenal <em>handphone monophonic, poliphonic,</em> dan <em>handphone</em> berwarna. <em>Handphone</em>3G baru marak di akhir masa SMA saya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan latar belakang itu, guru harus mampu menyimpulkan bahwa pengaruh teknologi mempengaruhi mental belajar siswa. Siswa sekarang memiliki banyak opsi ketika dia bosan. Bahkan materi pelajaran pun dapat diunduh baik melalui website maupun aplikasi. Tak jarang mereka berbicara sendiri dengan <em>smartphone</em> miliknya, padahal mereka sedang belajar bahasa melalui aplikasi <em>smartphone</em>. Tantangan guru semakin kompleks, guru harus menjadi lebih seru daripada aplikasi yang dimiliki siswa. Siswa zaman sekarang hanya punya waktu 10 detik saja untuk menentukan mereka bosan atau tidak terhadap sesuatu. Sama halnya seperti menonton Youtube.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah sebabnya guru harus kreatif sejak awal masuk kelas. Apabila guru memiliki fasilitas yang memadahi seperti laptop, dan koneksi internet alangkah baiknya dapat dimaksimalkan semaksimal mungkin agar siswa tertarik. Bagaimana dengan guru yang tidak memiliki akses tersebut? Guru harus yakin bahwa dirinya mampu menarik perhatian siswa. Caranya beragam, mulai dari keterampilan berbicara, membuat permainan di kelas, hingga menggunakan papan tulis dengan cara yang tidak biasa. Biasanya guru menggunakan papan tulis untuk mencatat dan siswa menyalin di buku catatan. Tentu saja siswa menjadi bosan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggambarkan materi yang sedang dijelaskan. Gambar yang digambarkan di papan tidaklah harus bagus dan simetris, cukup ikonik saja asalkan bermakna. Hal ini hampir sama seperti membuat infografis, dengan demikian siswa akan menjadi tertarik dan penasaran. Mereka akan berdebar-debar menantikan gambar atau ikon apa yang dimunculkan oleh guru di papan tulis. Materi tersampaikan dan guru tetap diperhatikan. Itulah cara yang dapat dilakukan untuk mendidik anak generasi Z.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PMB Asrama Putra St. Albertus &#038; Asrama Putri St. Edith Stein Malang</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/03/pmb-asrama-putra-st-albertus-asrama-putri-st-edith-stein-malang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2026 06:41:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2486</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="683" height="1024" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Asrama-683x1024.jpeg" alt="" class="wp-image-2487" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Asrama-683x1024.jpeg 683w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Asrama-200x300.jpeg 200w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Asrama-768x1152.jpeg 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Asrama.jpeg 1024w" sizes="auto, (max-width: 683px) 100vw, 683px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PMB SMAK St. Albertus Malang</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/03/pmb-smak-st-albertus-malang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2026 06:39:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2482</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="737" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo1-1024x737.jpeg" alt="" class="wp-image-2483" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo1-1024x737.jpeg 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo1-300x216.jpeg 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo1-767x552.jpeg 767w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo1.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="742" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo2-1024x742.jpeg" alt="" class="wp-image-2484" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo2-1024x742.jpeg 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo2-767x556.jpeg 767w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo2-300x218.jpeg 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/09/PMB-Dempo2.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Iman dan Kasih yang Kritis dan Kreatif</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/09/01/pendidikan-iman-dan-kasih-yang-kritis-dan-kreatif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2026 02:39:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2240</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Rm. Gregorius Maria Jeffrey Wibiksono, O.Carm. Setiap orang Katolik tentu saja memiliki keyakinan kuat bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi semua manusia tanpa pembedaan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) dan pembedaan ekonomi. Ia datang ke dunia yang penuh dosa ini agar semua manusia dari berbagai bangsa menjadi satu dalam Kerajaan Allah. Artinya,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Rm. Gregorius Maria Jeffrey Wibiksono, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="685" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-1024x685.webp" alt="" class="wp-image-2241" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-1024x685.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-768x513.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-1536x1027.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-2048x1369.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kreatif_Romo-Jeffry-600x400.webp 600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Setiap orang Katolik tentu saja memiliki keyakinan kuat bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi semua manusia tanpa pembedaan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) dan pembedaan ekonomi. Ia datang ke dunia yang penuh dosa ini agar semua manusia dari berbagai bangsa menjadi satu dalam Kerajaan Allah. Artinya, Tuhan membawa kasih-Nya yang berlimpah agar semua manusia dapat merasakan kasih-Nya dan menjadi perpanjangan kasih-Nya yang menghidupkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pendidikan iman dari Yesus yang lintas budaya dan status</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Orang Katolik yakin bahwa warna kulit, rambut, mata, bentuk hidung, mata, bibir adalah ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Biar pun fisik berbeda, namun memiliki fungsi yang sama karena perbedaan berasal dari Tuhan untuk menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang sama persis meski berasal dari spesies yang sama dan serupa secara kasat mata. Manusia pun tidak ada yang sama persis meski kembar sekali pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Demikian halnya dengan Yesus yang berkarya di Israel. Ia tetap melayani manusia tanpa pilih kasih.Ia memilih kedua belas murid-Nya yang juga disebut rasul dari berbagai latar belakang keluarga, budaya dan ekonomi. Ada yang bersaudara seperti Simon Petrus dan Andreas serta Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus (Mat 10:1-4). Meski mereka semua adalah orang Yahudi, namun mereka berbeda karakter dan sifatnya. Meski mereka berempat adalah nelayan atau penjalan ikan, mereka berbeda secara tingkat ekonomi. Perbedaan-perbedaan ini menjadi kekayaan yang disatukan oleh Yesus bersama dengan kedelapan pria Yahudi yang lain menjadi satu sekolah iman Kristiani yang pertama di dunia. Sekolah iman inilah komunitas Kristiani yang dalam sejarahnya menjadi Gereja Katolik yang bertahan hingga saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam karya-Nya di masyarakat Israel dan juga dalam mendidik keduabelas murid-Nya secara langsung, Yesus menunjukkan bahwa kehadiran dan kuasa cinta-Nya bisa dirasakan pula oleh orang-orang bukan Yahudi. Misalnya ketika seorang perwira Romawi yang datang kepada-Nya untuk memohon agar Ia menyembuhkan hambanya yang menderita sakit lumpuh dan hanya bisa terbaring di rumah, Yesus bersedia menyembuhkannya tanpa harus datang ke rumahnya. Bahkan, Ia memuji perwira dari bangsa bukan Yahudi itu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Mat 8:10-12).Yesus tidak lupa menyinggung atau memperingatkan secara cukup tegas para pendengar-Nya dari bangsa Israel sendiri agar mereka memiliki iman yang benar kepada Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Teladan kasih Yesus yang lintas budaya dan gender</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pendidikan iman dari Yesus kepada para murid-Nya tidak berhenti di situ. Ia juga mengajarkan bagaimana kata-kata-Nya yang keras bisa diterima dan dipahami dengan baik dan benar oleh orang bukan Yahudi. Kali ini seorang perempuan Kanaan dari daerah Tirus dan Sidon yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Cara Yesus menghadapi ibu yang sedang kebingungan itu sekilas terdengar tidak wajar dan kasar. <em>Pertama</em>, Yesus sama sekali tidak menjawab. <em>Kedua</em>, setelah itu Yesus menjawab bahwa Ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. <em>Ketiga</em>, setelah perempuan itu menyembah dan memohon dengan sangat pertolongan-Nya, Yesus justru menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat 15:26).</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Bagi banyak orang, kata-kata Yesus ini bisa memancing emosi dan sentimen negatif kalau mereka tidak memahaminya. Namun, ibu tersebut tahu dengan pasti bahwa Yesus tidak bermaksud menghinanya. Orang Yahudi memang suka memelihara anjing dan menganggap anjing bagian dari keluarga, khususnya anak-anak anjing yang disukai oleh anak-anak, tetapi tentu mengutamakan anak-anak manusia dalam memberi makan daripada anjing peliharaan. Ibu itu tanpa ragu mengamini kata-kata Yesus yang mengguncangkan pikiran dan hati, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (Mat 15:27). Komunikasi yang positif dalam pendidikan iman ini berakhir dengan penyembuhan oleh Yesus bagi anak perempuannya dan juga kelegaan hati sang ibu. Yesus memuji ibu itu dan mengabulkan permohonannya, “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki” (Mat 15:28).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Spiritualitas kasih dalam diri Beato Baptista Spagnoli</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Teladan kasih Yesus kepada manusia baik bangsa Yahudi maupun bukan Yahudi telah berkembang secara luas di dunia khususnya dalam Gereja Katolik. Ordo Karmel sebagai bagian kecil dari Gereja Katolik juga memiliki tokoh-tokoh yang meneladani kasih Yesus dan menghayati pendidikan iman dari Tuhan. Meskipun lahir di tanah Palestina tepatnya di Gunung Karmel, namun Ordo Karmel menjadi besar di Eropa Barat khususnya di Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda dan Spanyol. Ini menjadi bukti bahwa kasih Tuhan berbicara kepada banyak suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda, namun tetaplah satu Roh Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di bulan April, Ordo Karmel memperingati Beato Baptista Spagnoli Mantuanus. Ia lahir pada 17 April 1447 di kota Mantua, Italia utara, dari keluarga yang berasal Spanyol. Ia belajar teologi dan menjadi imam Karmelit sekitar tahun 1470dan pada tahun 1475 ia menjadi pengajar teologi di biara San Martino,&nbsp; Bologna. Ia berbakat dalam tulis menulis khususnya puisi. Pada umur 16 tahun, ia menulis buku berjudul <em>De vita beata</em> (Hidup Kudus) yaitusebuahdialog tentang hidup religius yang memuat aspirasi relasi manusia dengan Tuhan. Ia mendedikasikan dirinya secara sungguh-sungguh di bidang pengajaran dengan karya-karya tertulis tentang hidup religius, teologi, filsafat, prosa, puisi dan bahkan komedi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Puisinya yang berjudul <em>Parthenice Mariana</em> mengisahkan hidup Bunda Maria dalam bahasa yang bersifat kepahlawanan. Ia juga memiliki sifat kritis dalam homilinya. Di Milan, ia dikenal sebagai tokoh pemberantas korupsi yang pada saat itu merajalela di masyarakat awam dan kaum klerus.Pada tahun 1489, ia berkhotbah di basilika Santo Petrus, Vatikan dan memberi konferensi di hadapan Paus Innocentius VIII dan para kardinal untuk melawan korupsi di dalam sistem Kuria Kepausan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu puisinya yang berisi pesan tentang perlawanan menentang korupsi di kepausan telah digunakan secara khusus oleh Martin Luther dalam bukunya <em>Against the Roman Papacy, An Institution of the Devil</em> yang merupakan serangan besar terakhir Luthersecara langsung kepada Kuria. Puisi yang menentang korupsi kepausan itu telah membuat karya-karya Beato Spagnoli menjadi teks populer yang istimewa di kalangan Gereja Protestan Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Di samping menjadi pengajar dan penulis, Baptista juga mendedikasikan diri untuk Tarekatnya dengan enam kali menjadi Wakil Jenderal Kongregasi Mantova. Ia akhirnya menjadi Jenderal Ordo Karmel untuk periode 1513-1516. Ia juga dikenal sebagai tokoh pembaruan Kongregasi Mantova dan Ordo Karmel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beato Baptista Spagnoli telah menunjukkan kasihnya bagi Gereja, Ordo dan masyarakat. Sifat kritisnya telah membawa pembaruan karena berasal dari kasih akan Tuhan dan sesama. Siapa pun yang datang kepada Yesus akan mendapatkan pembaruan hidup yang nyata asalkan mau datang dengan rendah hati dan memohon agar Yesus melengkapi kekurangan dan kelemahan manusiawi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan sipil dan militerserta lembaga hidup bakti tetap memerlukan sifat dan sikap kritis dari insan-insan yang peduli akan perkembangan positif dan kemajuan organisasi tersebut. Perwira Romawi dan perempuan Kanaan telah berjuang memohon dengan penuh kerendahan hati demi hidup hamba dan anaknya. Yesus pun dengan cara-Nya yang tegas, kritis dan mendidik mengabulkan permohonan dan memuji iman mereka yang bukan Yahudi. Para pendengar yang lain termasuk kita hendaknya menyadari juga pentingnya pendidikan iman yang kritis dan kasih yang unik dari Yesus bagi hidup kita setiap hari apa pun latar belakang budaya, sosial dan ekonomi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph">1. Alkitab Deuterokanonika</p>



<p class="wp-block-paragraph">2. Leks, Stefan, <em>Tafsir Injil Matius</em>, Yogyakarta: Kanisius, 2003.</p>



<p class="wp-block-paragraph">3. Tinambunan, Edison R.L., <em>Para Kudus Karmel</em>, Malang: Karmelindo, 2015. 4. <em>https://en.wikipedia.org/wiki/Baptista_Mantuanus</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rm. Petrus Nikolaus Kramer, O.Carm.</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/29/rm-petrus-nikolaus-kramer-o-carm/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2026 01:44:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2254</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm. Rm. Kramer O.Carm lahir di Hoofddorp, Belanda pada tanggal 27 November 1911. Masa kecil hingga remaja beliau habiskan di tanah kelahirannya. Kemudian biarawan yang dikenal sangat sederhana ini masuk biara. Beliau mengikrarkan kaul sebagai seorang Karmelit di Boxmeer pada tanggal 1 Oktober 1929. Ditahbiskan imam tanggal 14 Juli 1935 di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="207" height="289" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Rm-Kramer.webp" alt="" class="wp-image-2255"/></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Rm. Kramer O.Carm lahir di Hoofddorp, Belanda pada tanggal 27 November 1911. Masa kecil hingga remaja beliau habiskan di tanah kelahirannya. Kemudian biarawan yang dikenal sangat sederhana ini masuk biara. Beliau mengikrarkan kaul sebagai seorang Karmelit di Boxmeer pada tanggal 1 Oktober 1929. Ditahbiskan imam tanggal 14 Juli 1935 di Merkelbeek, Belanda. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 11 Desember 1936 biarawan penuh semangat ini datang ke Indonesia sebagai misionaris. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia Rm. Petrus Nikolas Kramer, O.Carm pernah melayani di dua keuskupan: Keuskupan Malang dan Keuskupan Agung Medan. Hampir semua paroki di Keuskupan Malang pernah beliau pimpin. Sedangkan di Keuskupan Agung Medan beliau pernah menjadi pastor di Paroki Sidikalang dan Paroki Sumbul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kiprahnya di dunia pendidikan seringkali dijalankan seiring dengan tugas pastoralnya sebagai pastor paroki. Di Paroki Situbondo, misalnya biarawan yang biasa mengendarai sepeda motor TWN ini menata persekolahan Privatles (Frobel) dan sekolah rakyat Diberikan kedua sekolah itu tempat untuk beroperasi. Dalam Ordo Karmel sendiri lelaki penuh wibawa ini dikenal sebagai inisiator, perintis, dan pendiri sekolah. Dua sekolah yang lahir dari tangan dinginnya adalah SMAK St. Albertus Malang dan SMAK St. Paulus Jember. Jiwa pendidik pastor yang biasa mengendarai sepeda motor TWN ini tampak pada kesetiaannya menemani murid yang menunggu jemputan orang tua dan kepiawaiannya memikat hati anak-anak yang belum katolik. Tidak lupa ia selalu membagikan permen bagi anak-anak dari saku jubahnya yang terkesan tidak pernah habis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak pengalaman berkesan di kalangan umat, kenalan, dan saudara setarekat. Rm. Sixtus Catur Pujodarmo, O.Carm. mengenalnya sebagai orang yang dekat dengan kaum muda. Beliau pernah melihat pastor paroki Jember ini bermain sepakbola dengan para misdinar dengan masih mengenakan jubah. Pasti seru. Rm. Kutschruiter, O.Carm. mengenal beliau sebagai orang yang serius sederhana, taat total pada pimpinan, dan konsekuen. Ia menerima dengan lapang dada akan vonis sakit kanker yang dideritanya. Iapun yang waktu itu sudah kembali ke Belanda memilih kembali lagi ke Indonesia untuk meninggal di bumi nusantara. Di Indonesiapun ia memilih dirawat di RKZ kamar kelas IV, bukan kelas VIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;Berdasar kesaksian almarhum Rm. Kortink, O.Carm. yang diingat oleh Rm. Kutscruiter, O.Carm., lelaki jangkung ini dikenal sebagai orang beriman besar. Sebagai Karmelit beliau dengan senang hati menerima tugas sebagai perintis paroki di daerah Situbondo yang dikenal panas, kering, dan tandus. Di sana juga belum ada gereja. Sejalan dengan kesaksian Rm. Kutscruiter, tim sejarah Paroki Situbondo (<a href="http://mawarlimapuluh.blogspot.co.id">http://mawarlimapuluh.blogspot.co.id</a>), menuturkan bahwa Rm. Kramer tekun, gigih, dan pantang menyerah dalam&nbsp; melayani umat. Ketekunannya memelihara jiwa-jiwa ditunjukkan dengan tak kenal lelah mengunjungi umat di stasi Besuki &nbsp;yang hanya dua orang. Perjuangan luar biasa beliau alami saat membuka paroki Sidikalang dan Sumbul di Sumatra. Umat Paroki Sumbul (<a href="http://parokisumbul.blogspot.co.id">http://parokisumbul.blogspot.co.id</a>) memberi kesaksian bahwa Rm. Kramer adalah seorang yang berpribadi tegas dan disiplin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah 40 tahun membaktikan hidupnya bagi perkembangan Gereja di Indonesia pada umumnya, dan keuskupan Malang khususnya, beliau meninggal dunia tanggal 15 September 1975. Beliau dimakamkan di pemakaman Kristen Sukun, Malang. Sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada beliau, mari kita teladani pribadinya yang baik dan kita teruskan perjuangannya (Ms).</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
