<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<atom:link href="https://yayasansanctamaria.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<description>Jalan Puncak Trikora R2/06 RT 008 RW VII Kelurahan Karang Besuki Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur Kode Pos 65146</description>
	<lastBuildDate>Fri, 21 Aug 2026 01:54:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/01/logo-YSMM-1-150x150.webp</url>
	<title>YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jadilah Tuan atas Media!!!!</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/21/jadilah-tuan-atas-media/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2026 01:54:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2128</guid>

					<description><![CDATA[oleh: Sr. Purnama Lusi Mandalahi, H.Carm Hari menunjukkan pukul 06. 45. Para murid dan guru SMAK St. Albertus Malang berseliweran menuju ruang kerja dan kelas masing-masing untuk memulai kegiatan pembelajaran. Di sela-sela kesibukan itulah&#160; biarawati Hermanas Karmelitas yang bertugas sebagai guru BK dan membantu sebagai Pembina asrama ini bersedia membagikan pemahaman dan pengalamannya dalam memanfaatkan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">oleh: <strong>Sr. Purnama Lusi Mandalahi, H.Carm</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="322" height="319" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/image-1.png" alt="" class="wp-image-2130" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/image-1.png 322w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/image-1-300x297.png 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/03/image-1-150x150.png 150w" sizes="(max-width: 322px) 100vw, 322px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Hari menunjukkan pukul 06. 45. Para murid dan guru SMAK St. Albertus Malang berseliweran menuju ruang kerja dan kelas masing-masing untuk memulai kegiatan pembelajaran. Di sela-sela kesibukan itulah&nbsp; biarawati Hermanas Karmelitas yang bertugas sebagai guru BK dan membantu sebagai Pembina asrama ini bersedia membagikan pemahaman dan pengalamannya dalam memanfaatkan barang-barang digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Serba Digital</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Sekarang ini memang era gitital. Hampir semua barang menyangkut hidup kita sudah didigitalisasi: kamera, computer, TV, HP, jam tangan, jam dinding, lampu lalu lintas, computer, dan sebagainya. Namanya jaman digital, maka semua barang memang berbasis digital. Kita tidak dapat mengelak dan menolak barang-barang digital. Sebaliknya kalau kita memanfaatkan secara tepat, justru akan membantu tugas dan pelayanan kita.” papar anak sulung 8 bersaudara pasangan K. Mandalahi dan L. boru Malau ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Kami biasa menggunakan barang-barang ini untuk keperluan hidup sehari-hari. Bendahara rumah biasa menggunakan kalkulator. Untuk membuat laporan pembukuan, bendahara menggunakan program exel dalam computer. Para pendamping biasa menggunakan telpon untuk menyampaikan informasi kepada pihak-pihak di luar asrama; misalkan kepada para orang tua. &nbsp;HP itu barang digital lho. Kami selalu berpesan kepada anak-anak asrama agar memberitahu dengan cara telpon atau melalui SMS ketika terlambat pulang atau meminta ijin. Kami juga memanfaatkan computer untuk membuat laporan pembinaan.”katanya kelahiran 8 Agustus 1976 ini. Biarawati asal Sumbul, Sumatra Utara ini mengatakan bahwa para Pembina asrama tidak akan dapat memantau anak didik tanpa masuk ke media digital. Para Pembina&nbsp; bisa menyimak perkembangan dan perilaku anak lewat FB atau instagram yang mereka gunakan. “Jangan alergi terhadap barang-barang digital.”pesannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ditanya manfaatnya bagi seorang guru BK, biarawati yang bekerja di SMAK St. Albertus sejak tahun 2014 ini mengatakan bahwa media digital sangat mendukung tugasnya. Biarawati berjubah coklat ini  biasa menggunakan internet untuk mencari referensi-referensi pembinaan, meng-<em>update</em> ilmu, mencari solusi kasus-kasus pembinaan, juga berbagi ilmu. Membuat media pembelajaranpun menggunakan media digital. “Memang, mendampingi anak-anak di era digital ini tidak mudah. Kurangnya pengawasan orang tua karena kesibukan atau tinggal di tempat kos membuat anak-anak tidak tahu atau mengabaikan yang baik dan benar. Kita bisa belajar dari rekan-rekan guru berbagai sekolah yang dengan rela membagikan pengalaman pendampingannya melalui blog yang mereka buat. Kita juga perlu membudayakan kegiatan-kegiatan komunal dialogis agar orang muda  tidak makin jauh terseret dampak negative media digital.”</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dampak media digital</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Harus diakui bahwa media digital selain membawa dampak positif juga dampak negative. Karena media ini, orang menjadi malas, khususnya dalam berelasi dengan orang lain.”ungkapnya. Biarawati berkacamata ini lalu mencontohkan kasus di mana orang&nbsp; tinggal dalam satu rumah namun dalam berkomunikasi menggunakan HP. “Lucu kan, satu rumah dalam berkomunikasi dengan cara SMS-an?” katanya sambil senyum-senyum.&nbsp; Akibatnya media digital justru menjauhkan orang-orang terdekat. “Sebaliknya, karena media digital seperti HP dan internet, orang terdekatkan dengan orang lain yang jaraknya bisa beratus-ratus kilometer. Lewat FB, WA, orang asyik <em>chating</em> dan ngobrol. Orang terkesan tiada sekat dan berakrab-akrab ria. Kalau sudah begini orang bisa lupa diri lho.”kelakarnya. &nbsp;“ Hati-hati dengan media digital khususnya HP. Ada&nbsp; orang-orang tertentu – mungkin juga kaum berjubah &#8211;&nbsp; tersandung masalah karena kesalahpahaman.&nbsp; Kata atau kalimat yang sepotong bias disalah tafsir dan dipahami berbeda-beda. Hal ini tentu berbahaya dalam hidup berkeluarga pun hidup membiara.”keluhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Media digital juga mengakibatkan relasi dangkal. “Bagaimana relasi akan mendalam kalau komunikasinya hanya melalui SMS. Relasi mendalam diandaikan kalau orang mau ketemu muka dengan muka, lalu saling <em>sharing</em>, curhat, dan mengungkapkan isi hati. Dalam suasana itulah orang membina rasa saling percaya dan saling berserah. Dalam peristiwa itu mereka yang berdialog saling memperdalam pengenalannya satu dengan yang lain. Hal demikian juga berlaku dalam pembinaan BK. Tatap muka dengan murid sangat penting. Guru BK harus memberi waktu cukup pada murid yang ingin konsultasi, terlebih ingin curhat.” &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Media digital membuat orang terganggu belajarnya. “Di sekolah sering terjadi anak terkantuk-kantuk saat jam pelajaran karena suka begadang nonton You Tube atau main game. Maka orang tua, pemilik kos, atau Pembina asrama hendaknya selalu memantau anak-anak dampingannya saat malam hari. Tidak menutup kemungkinan tengah malam saat para Pembina tidur mereka bangun lalu nonton You Tube atau main game.”pesannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Usaha Mengendalikan Media Digital</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelemahan manusia menjadikan media digital yang sifatnya netral membawa dampak buruk. Terkait dengan usaha mengendalikan dampak-dampak buruk media, kelahiran Sumbul 8 Agustus 1976 ini menyampaikan beberapa tips.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampak buruk media digital dapat dikendalikan dengan penghayatan spiritualitas persaaudaraan. “Secara pribadi saya lebih mengutamakan kebersamaan. Bukankah spiritualitas Karmel menekankan persaudaraan? Persaudaraan dapat diwujudkan dengan mengutamakan kepentingan orang lain. Misalnya saat nonton TV, kita&nbsp; tidak harus menguasai remote demi kesenangan kita. Kita bias membiarkan anggota lain komunitas membawa remote untuk memilih acara yang disenangi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengutamakan komunitasi tatap muka adalah tips, berikutnya. “Saya lebih senang komunikasi “face to face” sejauh itu dimungkinkan. Dengan komunikasi demikian saya tahu reaksi dan sikap lawan bicara saya apakah dia senang, susah, tidak suka, marah, geram, dan sebagainya.&nbsp; Ungkapan-ungkapan perasaan itu tentu membantu kita untuk menata perasaan pun menentukan sikap. Kalau memang lawan bicara kita tidak suka dengan yang kita bicarakan, kita tidak akan melanjutkan pembicaraan itu. Kalau lawan bicara tidak mood saat berbicara dengan kita kaarena mungkin sedang ada persoalan, kita bias member peneguhan, penghiburan, dan sebagainya. Orang mungkin juga sedang butuh dukungan kita sehingga enggan kalau diajak bicara yang mungkin sekedar ngobrol saja. Hal-hal macam &nbsp;ini sering tidak dipedulikan dalam komunikasi melalui media sosial. Apakah Anda tahu reaksi lawan bicara saat baca SMS? Tidak kan?”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai Pembina asrama Sr. Lusi mengendalikan penggunaan internet sebagai salaah satu usaha mengurangi dampak buruknya. Pada jam-jam tertentu, terutama saat jam tidur, internet dimatikan. “Selain membatasi penggunaan internet, kami juga memantau apakah internet itu digunakan secara benar atau tidak. Kami tidak mengijinkan anak nonton You Tube saat jam belajar. Kalau ketahuan ada anak nonton you tube ya diberi sanksi. Kami tidak henti-hentinya mengingatkan pentingnya menggunakan internet secara benar.” kata Pembina Asrama Mahasiswi “Serafic” ini.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyadari keluhuran martabat sebagai ciptaan adalah tips biarawati berkulit kuning langsat ini. “Kita itu makhluk paling mulia, diciptakan seturut citra Tuhan. Barang-barang digital itu buatan manusia. Masak kita kalah dan diperbudak oleh media. Ini namanya ironis. Sudah penyembahan berhala ini. Untuk itu kita harus menjadi tuan atas media di era digital ini. Kita dianugerahi akal budi untuk memilah, memilih dan bermenung tentang media digital ini. Media digital digunakan untuk kebaikan manusia bukan untuk keburukan manusia. Ini harus sunggguh-sungguh disadari. Kalau orang rajin berefleksi tentu ia akan bijaksana karena tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.&nbsp; Kita bisa memperlakukan apa saja sesuai dengan kebutuhan dan tujuan. Kita juga bias tahu kapan harus menggunakan media ini, kapan harus jaga jarak, bahkan kapan harus melepaskan diri dari media digital.” pungkasnya</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Batman Humanis, Jurus Ampuh Hadapi Siswa Bermasalah</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/18/batman-humanis-jurus-ampuh-hadapi-siswa-bermasalah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2026 04:49:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2000</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia) Dunia pendidikan kembali dibuat miris karena aksi tidak terpuji dilakukan di lingkungan sekolah. Lagi-lagi, perselisihan guru dan siswa menjadi penyebab utama. Parahnya, kali ini melibatkan pihak ketiga yaitu orang tua siswa yang turut memperkeruh suasana. Telah kita ketahui bersama, ada kejadian pemukulan yang dilakukan oleh orang tua siswa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh:</strong> Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia)</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/Ardi-batman-edit.webp" alt="" class="wp-image-2041"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dunia pendidikan kembali dibuat miris karena aksi tidak terpuji dilakukan di lingkungan sekolah. Lagi-lagi, perselisihan guru dan siswa menjadi penyebab utama. Parahnya, kali ini melibatkan pihak ketiga yaitu orang tua siswa yang turut memperkeruh suasana. Telah kita ketahui bersama, ada kejadian pemukulan yang dilakukan oleh orang tua siswa terhadap gurunya. Kejadian tersebut terjadi di Makasar. Awal kejadiannya sebenarnya sederhana, seorang guru menegur siswanya yang tidak tertib dan tidak mengerjakan tugas. Merasa tidak terima, siswa tersebut mengadu pada orang tuanya. Nada marah diiringi emosi meluap luap membuat siswa mampu membakar api kemarahan ayahnya yang saat itu juga langsung ke sekolah, memukul guru yang dimaksud.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sungguh, merekonstruksi kejadian tersebut membuat kita patut mengelus dada. Akar permasalahan sebenarnya cukup sederhana yaitu teguran yang diberikan oleh guru pada siswa. Di sini mulai timbul pertanyaan. Bagaimana cara guru menegur sehingga dia meledak emosinya? Apakah cara guru menegur siswa sudah tepat? Meskipun guru berdalih tidak melakukan kekerasan fisik, tapi bisa jadi ada kekerasan simbolik yang secara tidak sengaja dilakukan oleh guru sehingga membuat siswa yang ditegur merasa benar-benar tersakiti. Kekerasan simbolik dapat berupa kekerasan verbal (ucapan), atau mempermalukan siswa di hadapan teman-temannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah sebabnya perlu penanganan cerdas dalam menghadapi siswa bermasalah. Siswa zaman sekarang tentu tidak sama dengan siswa sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Perkembangan teknologi informasi diiringi peralatan canggih, membuat siswa semakin mudah untuk mengakses sesuatu dan memperoleh fasilitas yang dapat membantu mereka memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut secara tidak langsung juga berpengaruh pada mentalitas siswa. Khususnya mentalitas dalam hal ketahanmalangan. Akses dan kemudahan fasilitas yang diperoleh anak zaman sekarang, sebenarnya menurunkan tingat ketahanmalangan mereka. Di sisi lain, guru harus paham kondisi itu. Situasi dan kondisi yang dialami oleh guru saat menjadi siswa tidak sama dan sangat berbeda jauh dengan situasi siswa zaman sekarang. Teguran dan peringatan yang hendak diberikan pada siswa seharusnya memperhatikan kondisi latar belakang siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siswa yang memiliki ketahanmalangan tinggi akan patuh dan jera ketika ditegur di hadapan teman-temannya, dibentak, bahkan ditegur dengan menggunakan kekerasan fisik. Apabila cara itu diterapkan untuk siswa zaman sekarang, mereka akan berontak. Teguran tersebut terlalu menyakitkan bagi mereka sehingga ada hasrat dalam dirinya untuk melakukan pembelaan diri. Bentuk pemberontakan ini bermacam-macam, ada yang melaporkan pada orang tua, ada yang menggebrak meja, menggebrak pintu, atau bahkan menyentak balik gurunya.&nbsp; Saat kejadian tersebut berlangsung, guru bukan lagi dianggap sebagai pengajarnya bahkan mereka tetap kesulitan melihat guru sebagai orang yang lebih tua. Bagi mereka, guru adalah sosok monster yang telah merenggut, mencabik-cabik hatinya hingga terluka.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Batman Humanis</strong> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"> Berdasarkan fakta tersebut, diperlukan pendekatan khusus dalam menghadapi siswa bermasalah. Salah satu cara yang dilakukan adalah pendekatan Batman. Seperti yang kita ketahui bersama, Batman merupakan <em>super hero</em> dari kota Gotham yang membrantas kejahatan. Menangkap orang-orang bermasalah adalah tugasnya. Uniknya, Batman sangat jarang mengeksekusi sasarannya di tempat kejadian perkara. Setelah berhasil menangkap targetnya, Batman membawanya ke ruang interogasi. Di situ, dia selalu mengajak berdialog secara empat mata. Salah satu orang yang sangat tidak disukainya, yaitu Joker pun diperlakukan sama. Ditangkap dalam keadaan hidup dan diinterogasi di tempat khusus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika menghadapi siswa, tentu kita tidak mungkin mengadopsi metode Batman ini secara 100%. Perlu modifikasi yang mampu memperhalus metode ini agar dapat diaplikasikan secara nyata di lapangan. Modifikasi tersebut adalah dengan cara menambahkan sisi-sisi humanis saat berbicara empat mata dengan siswa. Oleh sebab itu metode ini dapat disebut dengan metode Batman Humanis. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </p>



<p class="wp-block-paragraph">Cara penerapannya pun cukup mudah. Pertama, apabila guru menemukan siswa bermasalah saat jam pelajaran maka ambil saja tatibsi atau salah satu buku mereka. Setelah itu, instruksikan untuk mengambil buku tersebut sepulang sekolah atau saat jam istirahat dengan cara menemui guru terlebih dahulu. Sebagian besar siswa akan menurut melakukan hal ini. Mereka akan menemui guru yang bersangkutan saat istirahat atau jam pulang sekolah. Ketika siswa telah menemui guru, maka ajaklah siswa tersebut ke kelas kosong atau ruang kosong. Ruang Bimbingan Konseling (BK) atau sudut perpustakaan dapat digunakan sebagai tempat untuk mengajak siswa berbicara secara empat mata. Ketika guru dan siswa yang bermasalah tersebut sudah bertemu secara empat mata, maka saatnya guru untuk menyembuhkan masalah siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cara penyembuhannya pun juga bertahap. Hindari menuduh kesalahan siswa secara langsung. Jangan jadikan siswa sebagai tersangka, namun tanyakan terlebih dahulu penyebab siswa melakukan kesalahan. Kecenderungan siswa adalah mereka akan menceritakan bahkan curhat masalah pribadinya ketika guru menanyakannya secara pribadi. Biasanya guru akan dibuat terperangah dengan kejujuran siswa dan masalah sebenarnya yang sedang mereka hadapi, sehingga mereka membuat masalah di sekolahan. Pancing agar siswa mau menceritakan permasalahan terdasar. Dari sini, guru dapat menasihati siswa untuk menyelesaikan masalahnya. Obat berupa nasihat yang diberikan oleh guru pun tentu tepat guna karena guru tahu penyebab siswa tersebut bermasalah. Hal tersebut tentu jauh lebih efektif daripada membentak atau menegur siswa di hadapan teman lain. Biar bagaimanapun, siswa bermasalah membutuhkan obat untuk menyelesaikan masalahnya. Mereka ingin motivaasi, perhatian, dan kepedulian yang mendalam dari orang-orang terdekat termasuk guru. Mereka tidak ingin, bahkan tidak butuh diobati secara keras dan menyakitkan. Itu hanya akan menambah luka dan rasa sakit mereka. Jadi, sudahkah anda siap menerapkan metode Batman Humanis untuk memperbaiki siswa anda? Silahkan dicoba dan rasakan manfaatnya.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KEBERAGAMAN MULTIKULTURAL ASRAMA EDITH STEIN</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/13/keberagaman-multikultural-asrama-edith-stein/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2026 04:07:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2385</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Sr. Yohana Barek, CP. Asrama putri St. Edith Stein yang beralamat di Jalan Bondowoso Dalam 22 adalan asrama yang menampung siswi-siswi SMAK St. Albertus. Sebagaimana SMAK ST. Albertus beranggotakan warga yang beragam. Demikian pula asrma putri St. Edith Stein. Tulisan ini rangkuman beberapa sharing pengalaman anak asrama tentang suasana multikultural di asrama St. Edith...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Sr. Yohana Barek, CP.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="600" height="400" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kerberagaman-Asrama-putri.jpg" alt="" class="wp-image-2387" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kerberagaman-Asrama-putri.jpg 600w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/kerberagaman-Asrama-putri-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Asrama putri St. Edith Stein yang beralamat di Jalan Bondowoso Dalam 22 adalan asrama yang menampung siswi-siswi SMAK St. Albertus. Sebagaimana SMAK ST. Albertus beranggotakan warga yang beragam. Demikian pula asrma putri St. Edith Stein. Tulisan ini rangkuman beberapa sharing pengalaman anak asrama tentang suasana multikultural di asrama St. Edith Stein.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak masuk ke asrama membawa budaya masing-masing. Semua yang terjadi di asrama tidak terlepas dari peran Pembina. Para Pembina selalu membei pengarahan dan pengertian. Inti pengarahan dan penjelasan adalah bahwa hidup di asrama terdiri dari penghuni yang berlatar belakang budaya &nbsp;yang berbeda. Keragaman merupakan hal baik oleh berdampak positif. Persolan yang terjadi dalam hidup ber asrama banyak dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya, cara pandang dan cara berpikir, serta cara mengartikan setiap kata, Bahasa pun bicara yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keragaman di asrama seringkali menjadi tembok atau batas-batas dalam pergaulan. Akibatnya seorang pribadi dapat sulit bergaul. Namun demikian, hal ini dapat diatasi dengan adanya pembinaan karakter oleh Pembina. Pembinaan awal atau induksi. Pembinaan awal dikemas dalam bentuk <em>out bond</em> dan <em>live in</em>. Pada kegiatan itu peserta dituntut bisa Kerjasama. Pembinaan berlanjut pada kehidupan sehari-hari dalam bentuk kegiatan-kegiatan bersama antara lain doa bersama, makan bersama, rekreasi bersama, rekoleksi dan retret. Semua itu telah dilakukan oleh&nbsp; asrma putri St. edith Stein malang. Pada awal masuk dalam lingkungan asrama, hamper semua yang berasal dari daerah masih mempertahankan&nbsp; sifat-sifat budayanya sendiri. Tetapi ketika mulai mengenal pribadi satu dengan pribadi yang lain, secara perlahan-lahan ada sikap di mana yang lain, secara perlahan-lahan ada sikap di mana anak itu membuka diri anatara satu dengan yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam berasrama, ada anak yang dengan mudah membina pergaulan dan menjalankan aturan-aturan, tetapi ada juga yang belum terbiasa. Namu nada satu patokan untuk berkomunikasi yang baik dan terciptanya pergaulan. Patokan itu adalah sikap untuk berpikir positif kepada sesame. Menghargai perbedaan adalah sebuah nilai budaya yang indah. Ibarat rangkaian bunga dalam vas yang bila hanya dirangkai dengan satu warna bunga saja hasilnya tidak akan indah, demikianlah aneka&nbsp; perbedaan itu membentuk keindahan. Perbedaan membuat setiap mendapat teman baru dan diperkaya olehnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hidup berasrama pasti ada konflik. Konflikyang diawali dari perbedaan budaya. Tetapi Pembina asrama mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan konflik tersebut. Pembina menyelesaikan setiap permaslahan dengan cara bermusyawarah dan koreksi persaudaran. Koreksi persaudaraan membantu setiap pribadi berani terbuka, belajar rendah hati untuk menerima kritik dan nasihat. Tujuan koreksi persaudaraan sendiri adalah membantu setiap pribadi agar tidak menjadi pribadi yang egois, sadar kekurangan dan kelebihannya, sehingga mau belajar dan berubah dari kesalahannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekedar informasi. Ada lima agama hidup di asrama. Ada berbagai macam budaya, suku dan ras. Tetapi kami dapat tetap satu dan rukun. Kami sebagai bagian dari anggota asrama ini merasa bersyukur dan berterima kasih dengan situasi asrama kami. Dengan adanya multikultur ini kami&nbsp; menjadi pribadi yang memiliki cara pandang luas dan berkembang. Kami tidak lagi menganggap diri kami yang baik dan yang lain tidak baik.Untuk itulah kita sebagi generasi penerus bangsa, seharusnya mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa tercinta Indonesia kit aini. Jangan biarkan perbedaan membuat kita lemah dan memicu konflik. Tapi marilah kita bergandengan tangan menyongsong Indonesia Jaya dan penuh dengan harapan indah.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KARAWITAN SIMBOL PERSATUAN</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/11/karawitan-simbol-persatuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2026 01:54:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2368</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ujang Sarwono, S.Pd. “Meski terdiri dari bermacam-macam alat musik, karawitan atau gamelan mampu menyuguhkan harmoni yang indah. Semua alat musik mampu menyuguhkan suara yang selaras. Karawitan adalah simbol indahnya persatuan dalam perbedaan.” Begitulah kira-kira penggalan dalam homili yang disampaikan oleh Rm. Atanasius Mariyanto Eka, S.Fil., M.Th. dalam misa perayaan Pesta Pelindung Sekolah (PPS) Januari...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Ujang Sarwono, S.Pd.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="1024" height="681" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-1024x681.webp" alt="" class="wp-image-2369" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-1024x681.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-768x511.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-1536x1022.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-2048x1363.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kerawitan_Pak-Ujang-600x400.webp 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><em>“Meski terdiri dari bermacam-macam alat musik, karawitan atau gamelan mampu menyuguhkan harmoni yang indah. Semua alat musik mampu menyuguhkan suara yang selaras. Karawitan adalah simbol indahnya persatuan dalam perbedaan.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah kira-kira penggalan dalam homili yang disampaikan oleh Rm. Atanasius Mariyanto Eka, S.Fil., M.Th. dalam misa perayaan Pesta Pelindung Sekolah (PPS) Januari lalu di SMAK Santo Paulus Jember. Rasa-rasanya memang benar begitu analogi soal persatuan. Seperti yang kita tahu, karawitan atau yang merujuk pada gamelan memiliki unsur alat musik yang bermacam-macam dan terkesan rumit. Namun, ketika semua alat musik itu dimainkan dengan benar, maka&nbsp; akan muncul suara yang merdu dan indah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dalam buku <em>Pilar-Pilar Bumi Panggung </em>karya Ahmad Naufel, dikatakan bahwa karawitan berasala dari kata dasar <em>rawit </em>dalam bahasa Jawa yang berarti lembut, halus, atau rumit. Dari asal kata itu dapat diartikan bahwa karawitan merupakan karya seni yang memiliki sifat halus, rumit, dan indah. Adapun gamelan merupakan alat musik yang digunakan dalam karawitan. Gamel, dalam bahasa Jawa berarti ‘memukul’ atau ‘menabuh’. Akhiran ‘an’ menunjukkan kata benda sehingga gamelan bermakna seperangkat alat musik yang dimainkan dengan berirama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Gamelan terdiri dari kendang, bonang, penerus, demung, saron, peking, kenong dan kethuk, siter, gender, gambang, gong, slenthem, rebab, dan suling. Bisa dibayangkan betapa banyaknya alat musik dalam karawitan. Semua memiliki suara yang khas apabila dimainkan. Bukan hanya khas, setiap alat musik dalam gamelan juga mampu menjadi ‘penting’ sesuai peran masing-masing tanpa saling melemahkan suara alat musik yang lain. Kehadiran suara setiap alat musik justru seolah menjadi pelengkap yang semakin memperindah suara yang dihasilkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Mari kita ulas beberapa terkait alat musik dalam karawitan. Pertama, mari membicarakan alat musik yang disebut kendang. Kehadiran kendang sangat penting dalam menciptakan harmoni dalam karawitan. Bagaimana tidak, kehadiran kendang menurut Bapak Sumarno, guru bahasa Jawa di SMAK Santo Paulus layaknya sebuah ‘aba-aba’ dalam gerak jalan. Bisa dibayangkan jika gerak jalan tanpa ada aba-aba. Sudah pasti semua yang telah tertata akan biungung akan bergerak ke mana. Kehadiran kendang seolah memberikan instruksi agar semua alat musik yang dimainkan mampu berada dalam irama yang sama. Penting sekali peran kendang dalam permainan karawitan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Lalu bagaimana dengan saron? Kehadiran saron juga seolah tidak bisa diremehkan. Lantunan suara yang dihasilkan seolah menjadi yang terlantang didengarkan. Jika tidak ada saron, sudah dapat ditebak akan seperti apa bunyi yang dihasilan. Akan benar-benar kehilangan sesuatu yang inti dalam permainan gamelan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Begitu juga dengan gong, alat musik yang dipukul atau dimainkan dengan kebanyakan ketukan terakhir pada setiap baris ini juga memiliki kekhasan tersendiri. Meski tidak sesering saron dalam memainkan, kehadiran gong seolah selalu dinanti karena menjadi penanda berakhirnya satu baris <em>tembang</em> atau keseluruhan <em>tembang</em> yang dimainkan. Bukan menjadi tidak penting meski hanya dipukul atau dimainkan ‘jarang-jarang’. Kehadiran suara gong justru menjadi yang dinanti dan begitu mudah terdeteksi ketika suara gong tidak sesuai ketukan yang seharusnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Dari tiga alat musik saja, kita mampu belajar tentang perbedaan peran dan analogi menjalani hidup dalam perbedaan. Menjadi kendang berarti kita mengambil peran untuk ‘memimpin barisan’. Ketika menjadi kendang, kita harus paham betul kapan harus memainkan tempo cepat dan lambat. Kapan kita harus berjalan cepat, kapan harus pelan, dan kapan harus berhenti menjadi tanggung jawab sepenuhnya kendang sebagai ‘pemimpin barisan’. Memegang peranan kendang berati kita juga harus mampu memberikan kepercayaan pada semua alat musik yang lain. Selain itu, menjadi kendang yang dianalogikan sebagai ‘pemimpin barisan’ juga harus mempu percaya diri dengan irama yang dimainkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sementara itu, menjadi saron ibarat menjadi seorang yang lantang dalam menyuarakan segala sesuatu dengan lantang. Dalam hal ini kebaikan dan keburukan sekalipun. Nada dalam saron seolah menjadi yang paling lantang didengarkan. Oleh karena itu, jika mengambil peran menjadi saron wajib menyuarakan kebenaran dan keburukan dengan lantang dengan satu tujuan yakni keindahan berasama. Tidak banyak yang mampu mengambil peran sebagai saron. Terkadang kurang percaya diri hingga suara yang dihasilkan menjadi ‘samar-samar’. Tidak jelas salah atau benar. Berada pada posisi yang tidak hitam dan tidak putih. Menjadi saron kita belajar untuk ‘tegas’ dalam menyuarakan sesuatu. Katakan benar jika itu benar dan salah jika itu salah dengan suara yang lantang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terakhir, melaui gong kita belajar untuk menjadi pribadi yang siap untuk diberikan masukan dan komentar. Bagaimana tidak, menjadi gong memang tidak terlalu mengambil banyak peran. Gong juga hanya dimainkan beberapa kali, lebih sedikit dibandingkan kendang atau saron. Akan tetapi, jika suara gong tidak sesuai dengan ketukan yang seharusnya, maka akan sangat mudah untuk didengarkan kesalahannya. Maka, dari gong kita belajar untuk ekstra berhati-hati dalam bertindak. Siap menerima segala konsekuensi jika ternyata apa yang kita lakukan ‘menyimpang’. Menjadi gong, kita berarti harus siap untuk menerima masukan atau kritikan terkait segala tindakan kita yang menyimpang. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Kendang, saron, dan gong hanya tiga dari sekian banyak alat musik dalam karawitan. Melalui ketiga alat musik tersebut, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang memegang peran masing-masing tanpa saling merendahkan atau menganggap diri paling penting di antara yang lain. Melalui karawitan kita belajar untuk menjadi pribadi yang mampu untuk mengenali diri menjadi siapa dan berperan menjadi siapa tanpa harus saling merendahkan yang lain. Melalui karawitan kita juga belajar untuk mengutamakan keindahan dan keharmonisan dalam setiap perbedaan yang ada. Seperti beragamnya alat musik dalam gamelan, namun mampu menciptkan harmoni yang menghasilkan keindahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keberagaman/Multi-Kultural Perlu Dipahami Bersama. Tidak Boleh Ada Yang Superior Dari Yang Lain.</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/05/keberagaman-multi-kultural-perlu-dipahami-bersama-tidak-boleh-ada-yang-superior-dari-yang-lain/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2026 04:53:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2359</guid>

					<description><![CDATA[Wawancara Khusus dengan Rektor Untar Jakarta: Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, S.T., M.T., I.P.M Merupakan sebuah berkat khusus dari Tuhan ketika pada edisi ini redaksi Majalah Flos Carmeli bisa memuat laporan hasil wawancara dengan Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, S.T., M.T., I.P.M. Prof. API, demikian lelaki&#160; kelahiran Mataram, Tugu Mulyo, Lampung ini adalah seorang peneliti...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Wawancara Khusus dengan Rektor Untar Jakarta: Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, S.T., M.T., I.P.M</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Wawancara1_API-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-2360" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Wawancara1_API-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Wawancara1_API-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Wawancara1_API-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Wawancara1_API-600x400.webp 600w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Wawancara1_API.webp 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Merupakan sebuah berkat khusus dari Tuhan ketika pada edisi ini redaksi Majalah Flos Carmeli bisa memuat laporan hasil wawancara dengan Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, S.T., M.T., I.P.M. Prof. API, demikian lelaki&nbsp; kelahiran Mataram, Tugu Mulyo, Lampung ini adalah seorang peneliti dan tokoh pendidikan yang mumpuni dalam bidangnya. Beliau diminta oleh Yayasan Sancta Maria Malang untuk memberikan seminar/workshop kepada para guru dan karyawannya. Di sela-sela persiapan workshop tersebut wartawan kita berhasil mewawancarainya. Berikut petikan hasil wawancara Bapak Irenius Sola (tulisan cetak miring) dengan Bapak API.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bolehkah kami mengetahui secara sepintas identitas Bapak?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Nama saya Agustinus Purna Irawan. Saya punya satu istri, namanya. Dr. Dwinita Laksmidewi, S.E., M.Si. Sekarang istri saya bekerja sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unika Atmajaya Jakarta.&nbsp; Anak saya tiga: yang pertama bernama &nbsp;Albertus Raditya Danendra, siswa SMA Kanisius Jakarta, Kelas XII. Yang kedua bernama &nbsp;Gregorius Dimas Baskara, siswa SMA Kanisius Jakarta, Kelas XI. Terakhir bernama Brigita Jasmine Anindya, masih TKK Sang Timur, Kelas TK B.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saya biasa dipanggil dengan nama API. Entah kebetulan atau suatu anugerah bahwa sapaan API sungguh penuh makna. Sebagaimana api berperan membakar semangat, demikianlah saya ingin selalu membakar semangat siapa pun. Pesan yang hendak saya sampaikan adalah, “Jangan pernah menyerah, pasti selalu ada jalan. Selama memiliki talenta, keyakinan, dan semangat, kita pasti bisa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang saya tinggal di Jalan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Daerah saya masuk lingkungan Antonius – Paroki Maria Bunda Karmel Tomang Jakarta. Saya berusaha aktif dalam hidup menggereja. Cukup banyak kegiatan menggereja saya libati: anggota koor Swara Antonius, Lingkungan Antonius; Pemandu Kitab Suci; Pemazmur; Ketua Lingkungan Antonius (2010-2015); Anggota Dewan Paroki Harian Gereja MBK Tomang (2010 – 2012); Sekretaris De2wan Paroki Harian Gereja MBK Paroki Tomang (2015 – 2018).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>&nbsp;Bagaimana tentang sejarah pendidikan Bapak?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan SD dan SMP saya tempuh di Tugumulyo: SD Xaverius Tugumulyo, 1978-1984, SMP Xaverius Tugumulyo, 1984-1987. Pendidikan SMA saya tempuh di Lubuklinggau: SMA Xaverius Lubuklinggau, 1987-1990. Sarjana Strata Satu saya tempuh di Sarjana Teknik Mesin, FT-UGM, 1995. Kemudian saya melanjutkan S2 di Magister Teknik Mesin, FT-UI, 2003. Study doctoral saya tempuh di Teknik Mesin, FT-UI, 2011. Dan gelar Profesor Bidang Ilmu Teknik, FT Untar, 2014.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentang sejarah pendidikan ini saya punya pengalaman menarik. Dahulu sewaktu lulus SMA saya adalah juara satu se kabupaten Musi Rawas. Tetapi ketika harus sekolah di luar daerah, tepatnya di UGM saya harus akui bahwa kejuaraan saya itu tidak ada apa-apanya. IP saya sangat rendah. Kesadaran akan kenyataan ini membuat saya memacu diri untuk belajar giat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bagaimana peran Bapak dalam pendidikan nasional?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterlibatan saya dalam kegiatan eksternal (Kementerian dan Organisasi Profesi) cukup banyak. Anggota Tim Reviewer Kenaikan Jabatan Fungsional Akademik Dosen, Kopertis Wilayah III Jakarta. Evalutor Program Studi Baru, Kemristekdikti. Panitia Teknis Penyusunan SNI di IKM Kementerian Perindustrian. Reviewer Hibah Penelitian Dikti. Asesor Sertifikasi Dosen dan Laporan Beban Kerja Dosen. Koordinator Bidang Sertifikasi dan Profesi, Badan Kejuruan Mesin, Persatuan Insinyur Indonesia. Wakil Sekretaris merangkap Anggota, Majelis Penilai Sertifikasi Insinyur Profesional, Badan Kejuruan Mesin, Persatuan Insinyur Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keterlibatan dalam Lembaga pendidikan sejak tahun 1998 hingga sekarang juga lumayan banyak. Tahun 1998-sekarang Dosen Tetap di FT UNTAR. Tahun 2004-2009 Sekretaris Jurusan Teknik Mesin FT UNTAR. Tahun 2011-2012 Staf Rektor Bidang Pengembangan Aakdemik . Tahun 2012-2017 Dekan Fakultas Teknik UNTAR. Tahun 2016-sekarang Rektor UNTAR. Tahun 2000-sekarang Kepala Laboratorium Fenomena Mesin. Tahun 2000-2009 Wakil Kepala Bagian Konstruksi Mesin . Tahun 2009-sekarang Kepala Bagian Perancangan Mekanikal dan Otomasi. Tahun 2011-2017 Manajer Sentra HKI UNTAR</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Luar biasa padat ya Pak? Sekarang kita masuk ke pokok wawancara. Bagaimana sikap dan pandangan&nbsp; Bapak Agustinus tentang masyarakat multikultural?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara essensi, kita ini selain makhluk individu, juga makhluk social. Fakta ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat hidup sendiri. Hidup kita tergantung banyak hal dan banyak orang, pun melibatkan banyak orang. Keterlibatan dapat dilihat dari &nbsp;berbagai lini, budaya, agama, bangsa dan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Multikultur merupakan satu sistem yang besar. Maka multikultur ini perlu dipahami bersama. Penting juga untuk diperhatikan adalah bahwa di dalam multikultur ini tidak boleh ada yang superior dari yang lain. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, sehingga dapat saling mengisi dan melengkapi. Multi kultur harus dan sangat perlu dikembangkan terus.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Akhir-akhir ini, Indonesia sering dilanda konflik horizontal yang bernuansa SARA, apa tanggapan&nbsp; Bapak Agustinus atas hal tersebut?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik horizontal sebenarnya tidak banyak. Ini terkesan menjadi banyak kan karena di-<em>blow</em>&#8211;<em>up</em> di media sosial. Secara umum, masyarakat kita sesungguhnya masyarakat yang betul-betul baik. Kita sudah dapat merasakan di tempat kita masing-masing. Persoalannya adalah bahwa kadang-kadang hal yang kecil di perbesar atau dibesar-besarkan maka menjadi konflik yang luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah sangat berperan dalam memelihara keragaman. Untuk itu perlu pemerintah terus mengedapankan penegakan&nbsp; hukum terhadap pelanggaran hukum, sehingga tidak terjadi konflik apalagi konflik yang berkepanjangan. Tidak kalah penting adalah keteladanan para pemimpin. Mereka harus memberikan teladan dalam kerukunan. Misalnya, tidak ada konflik di TV atau media.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>UNTAR perguruan Tinggi besar dan ternama di Indonesia. Tentu yang kuliah di situ beragam etnis-agama-ras-golongan. Sebagai orang nomor satu di UNTAR, apa kiat yang Bapak Agustinus jalankan untuk mengayomi semua yang beragam tersebut?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya. UNTAR memang memiliki mahasiswa yang berasal dari semua propinsi dari Sabang sampai Merauke. Maka bias dikatakan bahwa UNTAR adalah universitas nasional. Kalau ingin melihat Indonesia mini ada di sana. Sikap kami terhadap hal ini adalah tidak membeda-bedakan. Semua orang boleh kuliah di UNTAR.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kami mengayomi berdasarkan keragaman budaya dan agama masing-masing. Semua kegiatan kemahasiswaan semua agama ada pun &nbsp;dibiayai oleh Untar. Lebih dari itu, ada pentas bersama, misalnya perayaan bersama dalam kegiatan keagamaan. Sebentar lagi ada perayaan Imlek, Natalan Bersama, Halalbihalal bersama. Semua civitas akademika diundang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Sebagai orang Katolik yang diberi kepercayaan sebagai orang nomor satu di lingkungan UNTAR, kalau boleh tahu: apakah ada tantangan/hambatan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab? Apa itu?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangan jelas banyak. Pertama, nilai-nilai yang dikembangkan di Untar sifatnya nasional. Kedua, tidak semua orang seiman dengan kita. Ketiga, mahasiswa beragam. Namun demikian, bukan berarti tidak dapat dikembangkan dari kaca mata kristiani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apa yang harus kita buat sebagai orang katolik. Perbuatan kita harus berdasarkan injil. Pelayanan untuk semua orang. Kesempatan diberikan kepada semua orang: potensi, penilaian. Sebisa mungkin kita mempertahankan nilai-nilai kekatolikan. Dalam setiap pengarahan atau pidato saya selalu mengutip ayat-ayat injil. Misalnya: Selagi beri ceramah saya kutip dari Kej.:3:19. Selain itu kita harus member pelayanan lebih dari yang lain. Sejauh saya tahu, tidak ada rektor yang datang paling pagi dan pulang paling malam. Saya melakukan ini. Semua orang kaget dan heran. Saya kira tidak semua rektor demikian.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bagaimana menanamkan sikap saling menghormati dalam keberagaman yang multikultural di Negara kita yang tercinta ini?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama-tama harus berangkat dari para pemimpinnya. Keteladanan dari para pemimpin menjadi sangat penting. Kalau pemimpin tampil saling menghargai, maka di bawah akan menjadikan tindakan para pemimpinnya ini sebagai acuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, kita perlu mengembangkan pendidikan karakter. &nbsp;Pendidikan karakter yang berkaitan dengan penumbuhkembangan niali-nilai keberagaman harus dikembangkan, seperti pendidikan bela negara, juga prinsip persatuan yang mengarah kepada pengakuan akan Negara Indonesia yang multikultur. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Apakah di UNTAR ada semacam model pendidikan multikultutral yang yang terserap dalam mata kuliah khusus?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya.&nbsp; Ada tiga nilai yang menjadi pilar pendidikan UNTAR. Ketiga nilai itu adalah &nbsp;integritas, profesionalisme, dan enterpreneuship. Dari ketiga nilai itu terdapat nilai multikultur, entrepreneurship, budaya inovasi, budaya saling menghargai, yang ada di mata kuliah agama. Dalam kegiatan kemahasiswaan terjadi pembauran antara satu &nbsp;dengan yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Bagaimana pandangan Bapak Agustinus tentang kebhinekaan yang sifatnya multikultural dalam merajut harmoni Tunggal Ika?</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita harus bangga dan bersyukur dengan kebinekaan yang menjadi ciri kas bangsa kita. Suatu rahmat kekayaan yang sungguh luar biasa. Selain itu kebhinekaan harus kita kembangkan. Untuk itu, orang Indonesia harus memiliki semangat kebhinekaan. Kalau tidak amat sangat berbahaya. &nbsp;Negeri ini akan cepat hancur oleh perpecahan dan peperangan. Sejak jaman dulu kita telah diajarkan sikap yang namanya “tepo seliro”, atau tenggang rasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Di sekolah kami (SMAK St.Albertus dan SMAK St.Paulus) tidak lepas dari murid-murid dan guru-guru yang beragam multikultual. Apa saran Bapak Agustinus untuk pengelola, juga warga masyarakat (murid, guru, karyawan) sekolah-sekolah ini?</em> Saran saya adalah bahwa sistem harus dibuat yang baik. Sistem sangat menentukan arah ke mana lembaga ini akan dibawa. Tidak kalah penting bahwa semua orang yang menjadi warga lembaga ini harus memtuhi aturan yang sama. Lembaga harus &nbsp;mempunyai visi dan misi yang sama. Harus juga sering diadakan dialog, komunikasi, pertemuan dari hati ke hati. Tujuannya adalah untuk membangun kebersamaan. Kalau ada persoalan, utamakan mencari solusi bukan <em>punishment</em>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meluruskan K13:Upaya Mengembalikan Marwah Multikulturalisme Pendidikan</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/08/04/meluruskan-k13upaya-mengembalikan-marwah-multikulturalisme-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2026 06:21:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2365</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Albertus) Kurikulum 2013 pada dasarnya dibuat sesuai dengan pola pikir pendidikan abad 21 yang bersifat multikultural. Pemaknaan multikultural ini dapat dilihat dari segi pemberdayaan potensi beragam yang dimiliki oleh peserta didik. Niat dan landasan utama pembentukan K13 tersebut sudah sangat baik karena mampu mewadahi keberagaman yang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Albertus)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Meluruskan-K13_Ardi-1024x768.webp" alt="" class="wp-image-2366" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Meluruskan-K13_Ardi-1024x768.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Meluruskan-K13_Ardi-300x225.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Meluruskan-K13_Ardi-768x576.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Meluruskan-K13_Ardi-1536x1152.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Meluruskan-K13_Ardi-2048x1536.webp 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Kurikulum 2013 pada dasarnya dibuat sesuai dengan pola pikir pendidikan abad 21 yang bersifat multikultural. Pemaknaan multikultural ini dapat dilihat dari segi pemberdayaan potensi beragam yang dimiliki oleh peserta didik. Niat dan landasan utama pembentukan K13 tersebut sudah sangat baik karena mampu mewadahi keberagaman yang dimiliki oleh siswa. Permasalahanya ternyata timbul dalam hal implementasi. Ketika ditelusuri dengan jeli dan dikembalikan pada landasan teoretisnya, ternyata masih ada kegagapan dalam menerjemahkan maksud dari arah juang K13 ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tayangan <em>power point</em> yang diedarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 16 Maret 2013, disebutkan bahwa proses pembelajaran dalam K13 merupakan proses pembelajaran yang mendukung kreatifitas sesuai dengan kecakapan abad 21. Pada slide ke 59 dikatakan bahwa landasan teori yang digunakan adalah teori Jeff Dyer. Dalam slide tersebut dikatakan bahwa teori Dyer diimplementasikan menjadi lima tahap utama yaitu <em>observing, questioning, associating, experimenting</em>, dan <em>networking</em>. Hal ini kemudian diwujudkan dalam sintaks pembelajaran yang diterjemahkan menjadi SKL. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada kekeliruan tahapan dalam menerjemahkan maksud dari teori Dyers.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata teori Dyers tidak diawali dengan <em>observing</em>, melainkan <em>associating, questioning, observing, </em>dan <em>experimenting.</em> Landasan ini diperoleh dari buku babonya langsung, buku yang ditulis oleh Jef Dyer, Hal Gregersen, dan Clay M. Cristensen yang berjudul “The Innovator’s DNA”. Buku ini terbit tahun 2011 di Boston denganpenerbit Harvard Business Review Press. Apabila ditinjau dengan saksama, maka isi buku ini sesungguhnya mengajak pembaca untuk menjadi seorang inovator yang penuh kreatifitas. Dyer menyebutnya sebagai DNA Inovator. Maksudnya adalah bakat inovasi sesungguhnya sudah menubuh dan mendarah daging dalam diri setiap manusia. Inovasi pada apa? Inovasi pada setiap kemampuan yang dimilikinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inovasi tersebut dapat terwujud apabila dilakukan dengan cara associating atau kemampuan untuk mengasosiasikan pemikiran dan pengalamanya. Tahap awal ini sebenarnya mengajak siswa untuk berani menjadi dirinya sendiri. Berani berbeda dan mengakui perbedaan yang dimilikinya. Hal tersebut menjadi logis karena inovasi yang dimiliki setiap individu pastilah berbeda. Ketika tahap awal ini dirubah menjadi observasi, maka cikal bakal kemurnian individu sudah dikurangi. Observasi yang mewujud pada sintaks dan standard pembelajaran merupakan observasi yang ditentukan oleh sistem pembelajaran. Baik dalam bentuk buku, media, atau instruksi dari guru sehingga siswa mengerjakan apa yang diinstruksikan bukan apa yang diinginkan.Peran guru dalam mengembangkan diri siswa sesuai dengan teori Dyer ini pun juga lebih terarah. Guru menjadi fasilitator siswa dalam mengembangkan bakatnya, bukan jadi instruktur atau penyuruh siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kekeliruan dasar yang bersifat elementer ini perlu diluruskan. Meskipun demikian, merubah kebijakan dan memperbaikinya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kementrian pendidikan dan kebudyaan pun juga tak sesempit yang dipikirkan. Banyak elemen yang menaungi sehingga sosialisasi pada perubahan ini tentu tidak bisa instan. Meskipun demikian, saya yakin menteri pendidikan kita Muhadjir Effendy meyakini perlunya perbaikan dan pelurusan kembali K13. Keyakinan tersebut muncul setelah Pak Menteri menginstruksikan agar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) lebih luwes, cair, dan fleksibel dalam menghadapi kebijakan dari pusat. Diharapkan setiap sekolah memiliki manajemen yang baik untuk menyesuaikan, menyaring hingga memodivikasi kebijakan atau langkah yang dibuat oleh pihak kementrian. Hal ini menunjukkan bahwa Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Univrsitas Negeri Malang itu menginginkan adanya kemurnian dari setiap MBS dalam mengelola pembelajaran di sekolahnya. Pak Menteri sadar benar pada multikuluturalisme dunia pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kesadaran ini diperkuat dengan kebijakan barunya yang menghimbau agar pelaksanaan pembelajaran itu lebih luwes, akrobatik dan out of the box. Dia juga mengusulkan agar pendidikan menengah, kejuruhan, hingga universitas mulai membuka jurusan baru yang relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Usul ini berjalin berkelindan dengan pendapat Prof. Rhenald Khasali yang mengatakan bahwa setiap tahun lapangan kerja berubah dengan pesat, ada yang punah dan ada yang baru, sehingga generasi muda perlu disiapkan benar dalam menghadapi tantangan zaman. Salah satunya adalah dengan pendidikan. Pendidikan yang seperti apa? Pendidikan multikulturalisme, dengan melihat keberagaman dalam diri siswa sebagai potensi sekaligus talenta yang diberikan oleh Tuhan untuk menyongsong hari depan mereka.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KARAKTER SEBAGAI POROS PENDIDIKAN</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/07/23/karakter-sebagai-poros-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Jul 2026 04:51:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2273</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm. Pada tanggal 6 September 2017 lalu, bertempat di Istana Negara, Jakarta, Presiden Joko Widodo telah menandatangani pemberlakuan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 mengenai Penguatan Pendidikan Karakter. Peraturan ini dimasukan ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 195, tahun 2017. Pertanyaan kita sederhana saja. Mengapa Penguatan Pendidikan Karakter...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><em>Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="575" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Karakter_Rm-Djono-1-1024x575.webp" alt="" class="wp-image-2275" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Karakter_Rm-Djono-1-1024x575.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Karakter_Rm-Djono-1-300x168.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Karakter_Rm-Djono-1-768x431.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Karakter_Rm-Djono-1-1536x862.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Karakter_Rm-Djono-1-2048x1150.webp 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pada tanggal 6 September 2017 lalu, bertempat di Istana Negara, Jakarta, Presiden Joko Widodo telah menandatangani pemberlakuan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 mengenai Penguatan Pendidikan Karakter. Peraturan ini dimasukan ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia No. 195, tahun 2017. Pertanyaan kita sederhana saja. Mengapa Penguatan Pendidikan Karakter harus diberlakukan melalui Keputusan Presiden? Mengapa harus Presiden? Kalau memang hanya untuk lingkup pendidikan yakni sekolah dari TKK hingga Perguruan Tinggi, bukankah sudah ada Menteri Pendidikan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawaban terhadap pertanyaan di atas ini tidaklah sederhana. <em><u>Pertama</u></em>, perlu kita ketahui bersama bahwa kehadiran Peraturan Presiden Penguatan Pendidikan Karakter ini merupakan suatu kesepakatan bersama antara pemerintah dan masyarakat di dalam memantapkan jati diri bangsa. Untuk itu diharapkan seluruh elemen bangsa harus membulatkan tekad secara bersama-sama membangun kembali karakter bangsa dengan menjunjung tinggi akhlak mulia, nilai-nilai luhur, kearifan serta budi pekerti. Jadi penguatan pendidikan karakter harus terjadi dalam seluruh segmen kehidupan masyarakat, bukan hanya dalam dunia pendidikan formal (sekolah).<em><u>kedua</u></em>, Presiden sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan&nbsp; sungguh-sungguh memahami betul bahwa selama ini, khususnya dua tahun&nbsp;&nbsp; terakhir ini terjadi krisis moral yang sangat dasyat dalam seluruh bidang kehidupan. Saya sendiri pun merasakannya. Krisis moral ini tidak hanya melanda kaum muda, tetapi juga orang tua maupun para pejabat pemerintahan. Banyak kasus dapat kita paparkan di sini. Peningkatan pergaulan bebas di antara kaum muda dan kaum remaja, bahkan anak-anak. Perkelahian antar remaja dan kekerasan di antara kelompok masyarakat. Mencuri seakan-akan menjadi suatu “kebutuhan” dan “pekerjaan.” Menyontek, menjiplak hasil karya orang lain seakan menjadi suatu keharusan dan dilakukan tanpa ada rasa salah. Penyalahgunaan obat-obatan: mulai dari kalangan remaja hingga pejabat. Pornografi dan pelecehan seksual seakan menjadi suatu kenikmatan tersendiri dalam hidup kaum wanita maupun pria. Merusak barang milik orang lain, selingkuh seakan-akan dipandang benar oleh agama. Tambahan lagi banyaknya pejabat yang ditangkap KPK karena kasus korupsi. Semua masalah sosial ini belum bisa ditangani dengan baik. Oleh karena itu betapa pentingnya penguatan pendidikan karakter pada semua level kehidupan, bukan hanya dalam dunia pendidikan formal, tetapi juga dalam kelompok masyarakat apa pun, termasuk juga keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita tahu <strong>pendidikan</strong> itu berlangsung seumur hidup. Kita belajar untuk memaknai kehidupan mulai dari kanak-kanak hingga usia tua, entah itu pendidikan formal maupun non formal, entah itu dalam kelompok sosial masyarakat maupun hidup pribadi seseorang. Untuk itu penguatan karakter harus menjadi poros pendidikan yang terus-menerus dalam hidup sehari-hari. Seseorang harus diarahkan untuk <strong>memahami hal-hal yang baik</strong>, entah bagi dirinya sendiri, orang lain, Tuhan maupun masyarakat umumnya. Tahu banyak mengenai hal yang baik, belum menjamin dia memiliki karakater baik. Sesudah tahu tentang yang baik, dia harus <strong>memiliki kemauan untuk berbuat hal-hal yang baik</strong>. Tahu dan mau itu harus disempurnakan dalam <strong>melakukan hal-hal yang baik</strong>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa saja yang terlibat dalam penguatan pendidikan karakter ini? Peraturan Presiden mengenai Penguatan Pendidikan Karakter ini melibatkan seluruh titik tumpu pendidikan, yakni <strong>satuan pendidikan</strong> – pendidikan formal mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi, entah itu Negeri maupun Swasta; <strong>keluarga</strong> sebagai pendidik pertama, dan seluruh kelompok <strong>masyarakat</strong>. Bila itu penguatan pendidikan karakter <strong>anak</strong>, maka yang terlibat aktif dalam proses pendidikan sehari-hari itu: orang tua, pendidik – guru – dosen di sekolah maupun universitas, kelompok sosial masyarakat. Bila itu penguatan pendidikan karakter <strong>orang dewasa</strong>: keluarga, kelompok sosial masyarakat dan tempat di mana dia bekerja (kantor). Bila itu penguatan pendidikan karakter <strong>pejabat </strong>dan juga kaum religius: keluarga, tempat di mana dia bekerja dan kelompok sosial di mana dia hidup. Singkatnya, yang terlibat dalam seluruh penguatan pendidikan karakter adalah seluruh elemen masyarakat yang hidup di bumi nusantara ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan kita selanjutnya, kalau karakter itu sebagai poros pendidikan dalam proses hidup seseorang, maka <strong>nilai-nilai apa saja yang harus dikuatkan</strong>? Penguatan nilai-nilai karakter meliputi: jujur, tidak menipu, tidak menjiplak atau mencuri, berani melakukan hal yang benar, dan membangun reputasi yang baik, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, peduli pada lingkungan, peduli pada orang lain, bertanggungjawab, berbicara yang sopan, tidak mengancam atau memukul atau menyakiti orang lain, mendengarkan orang lain, mengampuni orang lain dan membantu mereka yang membutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai penguatan karakter ini? Pendidikan karakter harus diarahkan untuk <strong>menumbuhkan seluruh potensi seseorang secara menyeluruh dan terpadu</strong>, yakni tahu tentang yang baik, mau untuk berbuat baik dan melakukannya dalam hidup harian. Dalam dunia pendidikan formal, peserta didik harus tahu mengenai hal-hal baik dan ada kemauan untuk berbuat baik serta melakukannya dalam hidup harian. Misalnya Kreatif. Dia harus tahu makna kreatif; adanya kemauan untuk hidup kreatif; dan melakukan hal-hal kreatif dalam hidup harian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya penguatan pendidikan karakter harus didukung oleh <strong>keteladanan</strong>. Keteladanan itu sangat penting, khususnya orang-orang atau pribadi-pribadi yang menjadi panutan. Seperti dalam <strong>dunia pemerintahan atau birokrat</strong>: presiden, para menteri, para kepala daerah dan sebagainya. Begitu pula kepala lembaga-lembaga Negara lainnya: DPR, MPR, BPK, KPK dan sebagainya mulai dari pusat hingga daerah. Bila keteladanan ini tidak ada, maka sia-sia peraturan presiden mengenai penguatan karakter ini. Misalnya, bagaimana kita meminta masyarakat untuk hidup disiplin atau jujur sementara banyak pejabat yang hidupnya tidak disiplin dan banyak melakukan korupsi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu dalam dunia <strong>pendidikan formal</strong>: kepala sekolah/rektor, para guru, dosen dan karyawan harus pertama-tama menghayati nilai-nilai penguatan karakter ini. Kita tidak bisa meminta peserta didik itu jujur dan disiplin, sementara kita sendiri senantiasa tidak jujur dalam memberikan nilai atau terlambat datang ke sekolah. Kita tidak bisa meminta siswa atau mahasiswa itu kreatif, sementara kita tidak kreatif di dalam menyampaikan bahan ajar sehari-hari di kelas. Maka keteladanan di dalam mencerminkan karakter yang baik harus dimulai dari para pemimpin atau orang yang menjadi panutan. Bukan hanya guru, tetapi juga karakter yang baik harus dimulai dari semua orang tua di rumah, tokoh masyarakat: para religius, politisi, birokrat, pengusaha dan semua komponen masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penguatan pendidikan karakter harus berlangsung melalui <strong>pembiasaan dan berlangsung terus-menerus dalam hidup sehari-hari</strong>. Pembatinan dan praktek nilai-nilai&nbsp; moral sebagai penguatan karakter harus berlangsung sepanjang waktu mulai dari pagi hingga larut malam, mulai dari kanak-kanak hingga usia tua. Kapan&nbsp; dan di mana pun proses penguatan pendidikan karakter harus dilakukan dan menjadi bagian dari kehidupan seseorang. Nilai-nilai pendidikan karakter harus menjadi poros pendidikan yang berlangsung terus-menerus dalam hidup seseorang – entah siapa pun, baik itu di rumah, sekolah, kelompok sosial, maupun dalam hidup bermasyarakat. Bilai nilai-nilai yang baik ini telah menjadi bagian dari hidup seseorang sebagai anggota masyarakat, saya yakin: kita akan menjadi masyarakat dan bangsa yang berbudaya, yang mampu menghargai diri sendiri, mencintai sesama dan Tuhan serta mau berbakti kepada Nusa dan Bangsa!</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mendidik Generasi Strawberi</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/07/21/mendidik-generasi-strawberi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2026 02:40:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2285</guid>

					<description><![CDATA[Oleh; Ardi Wina Saputra (Pebelajar Bahasa Indonesia di SMAK St. Albertus) Saat ini dunia sedang lari tunggang langgang. Itulah ungkapan An Revolusi digital membuat pergerakan segala bidang semakin cepat dan tak terarah. Pola baru selalu muncul dari tahun ke tahun. Banyak hal hal yang mengejutkan yang tak lagi mampu diprediksi secara tepat. Pola ini ternyata...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh; Ardi Wina Saputra (Pebelajar Bahasa Indonesia di SMAK St. Albertus)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="768" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Strawberi_Ardi-1024x768.webp" alt="" class="wp-image-2294" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Strawberi_Ardi-1024x768.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Strawberi_Ardi-300x225.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Strawberi_Ardi-768x576.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Strawberi_Ardi-1536x1152.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Strawberi_Ardi-2048x1536.webp 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Saat ini dunia sedang lari tunggang langgang. Itulah ungkapan <em>An Revolusi digital</em> membuat pergerakan segala bidang semakin cepat dan tak terarah. Pola baru selalu muncul dari tahun ke tahun. Banyak hal hal yang mengejutkan yang tak lagi mampu diprediksi secara tepat. Pola ini ternyata berpengaruh pada generasi baru yang dilahirkan. Rhenald Kasali menamakan generasi baru yang muncul ini adalah generasi strawberi (<em>strawbery generation</em>). Dinamakan strawberi karena generasi zaman sekarang lahir dengan fasilitas yang serba komplit sehingga terlihat indah berkilau, ranum segar layaknya buah strawberi. Di sisi lain strawberi juga memiliki kelemahan yaitu mudah rapuh dan mudah busuk jika tidak cepat dimakan. Hal itu juga ditemui pada genersi kita. Kerapuhan serta mudahnya rasa putus asa semakin sering dialami anak zaman sekarang. Kosa kata untuk menggambarkan kerapuhan itu pun semakin lama semakin banyak mulai dari patah hati, <em>broken heart</em>, hingga galau. Herannya lagi, kosa kata itu semakin lama semakin menjadi <em>trending topi</em><em>c</em>. Anak zaman sekarang malah senang jika kerapuhanya tersebar luas di media sosial sehingga dia mendapat simpatisan. Inilah fakta-fakta yang menunjukkan bahwa generasi starwberi itu benar-benar ada. Oleh sebab itu, diperlukan inovasi dari para pendidik untuk mendidik generasi strawberi ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satunya adalah dengan cara memperkuat karakter. Karakter digunakan sebagai kompas diri agar anak tidak terjerumus dalam badai arus informasi yang makin lama makin menghanyutkan jiwa dan badan. Untuk mewujudkan hal ini maka inti pendidikan perlu diperkental, aspek kompetisi, <em>skill</em>, keterampilan harus dipertajam. Apabila aspek-aspek tersebut diasah maka generasi strawberi tadi akan berubah menjadi generasi yang kokoh serta mampu mempertajam diri sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbicara tentang pendidikan, sesungguhnya Pak Mentri, Muhadjir Efendy telah memberikan keluwesan terhadap Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam mempresepsikan kebijakan-kebijakannya. Salah satunya adalah kebijakan Lima Hari Sekolah (LHS). Sering kali LHS ini dianggap sebagai <em>Full Day School</em> (FDS) padahal tidak! LHS adalah sistem belajar di sekolah yang mengintegrasikan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui LHS sesungguhnya kegiatan belajar mengajar tak hanya duduk di ruang kelas. Jika siswa masih dipaksa duduk di kelas sejak pagi hingga malam, maka tentu saja rasa betah menjadi pertanyaan. Apabila sekolah mampu menanggapi kebijakan ini maka sesungguhnya pemerintah sedang menanamkan Penerapan Pendidikan Karakter (PPK) bagi generasi strawberi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah mendorong sekolah untuk berinovasi dan tidak <em>sakl</em><em>e</em><em>k</em>. Penerapan kebijakan pemerintah ini dapat dikategorisasikan ke dalam lima tempat yaitu sekolah perkotaan, sekolah satelit, sekolah perdesaan, sekolah terpencil, dan sekolah pedalaman. Penanaman karakter dan wujud pembelajaran di luar kelas pun juga berbeda dari masing masing tempat tersebut. Semisal sekolah di desa saat jam pelajaran IPA sangat diperbolehkan mengajak siswa untuk ke sawah, ikut praktik dan berproses di sawah. Demikian pula dengan sekolah di kota, sangat dianjurkan agar sekolah tidak kuper (kurang pergaulan). Apabila letak sekolah tersebut dekat dengan perguruan tinggi, maka bisa saja siswanya diajak untuk mengikuti seminar, melihat pementasan drama, atau berkunjung ke perpustakaan kota saat jam pelajaran. Hal ini sekaligus memberi pengalaman baru pada siswa dan mengajak siswa untuk berani berinteraksi di masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lingkungan Superdiversitas</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang ahli sosiologi, Ralph Keyes mengatakan bahwa saat ini manusia berada dalam zaman pasca kebenaran. Zaman itu menyebabkan lingkungan menjadi serba luas seluas taman kota. Lingkungan superdiversitas ini juga dialami oleh anak. Melalui gawai yang berada dalam genggaman, mereka bisa menjelajah dan melebarkan sayap hingga ke ujung dunia sekali pun. Sesungguhnya faktor lingkungan maya ini juga mempengaruhi keranuman sekaligus kerapuhan generasi strawberi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak sedang diarak untuk tumbuh dalam hutan rimba informasi yang menyediakan berbagai macam buah. Mulai dari buah yang segar lezat bergizi, hingga buah yang beracun dan mematikan. Tentu tidak ada yang berharap seorang anak memakan buah tersebut. Dalam kitab suci dikisahkan Hawa memakan buah kuldi di taman Eden Ia tak tahu bahwa buah yang dimakannya adalah buah pengetahuan yang menjerumuskanya dalam dosa asal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Begitulah kondisi generasi strawberi sekarang, mereka sedang berada dalam taman surga yang bisa saja memakan buah kuldi informasi sehingga tak mampu mengolahnya dan akhirnya terjerumus dalam dosa. Sungguh mengerikan,&nbsp; Oleh sebab itu sebagai pendidik alangkah baiknya kita menjauhkan ular-ular penggoda di Taman Eden anak anak agar anak tak mengkonsumsi informasi yang salah. Sekolah harus mampu luwes menerjunkan anak ke masyarakat, memaparkan realita sosial dan menunjukkan berbagai kemungkinan buruk yang terjadi. Sekolah tidak hanya terpatok dan bersungut ria dengan nilai-nilai kognitif saja tapi juga harus mampu mendobrak tembok sistematis yang justru membelenggu cara berpikir anak. Semoga restu keluwesan MBS yang disampaikan oleh Menteri ini dapat sampai juga di lapangan sehingga semakin luwes dan inovatiflah metode pembelajaran yang diberikan pada siswa, terlebih mampu mengembalikan siswa pada nilai hidup sesungguhnya, nilai karakter menghadapi realita kehidupan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Melayani Sepenuh Hati</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/07/17/rekoleksi-unit-kantor-yayasan-dan-asrama/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2026 03:39:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2443</guid>

					<description><![CDATA[Rekoleksi Pegawai Yayasan Unit Kantor dan Asrama Tahun 2026 Pada tanggal 17 – 18 Juni 2026 telah dilangsungkan rekoleksi Yayasan Sancta Maria Malang di Rumah Pembinaan St. Julie Billiart Jalan Argomoyo No.2A &#160;Lawang. Sebanyak 39 orang peserta dalam kegiatan ini. Mereka terdiri dari pengurus dan karyawan kantor pusat, serta pembina dan karyawan keempat asrama di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="771" data-id="2444" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/07/rekoleksi-lawang-1024x771.webp" alt="" class="wp-image-2444" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/07/rekoleksi-lawang-1024x771.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/07/rekoleksi-lawang-300x226.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/07/rekoleksi-lawang-768x578.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/07/rekoleksi-lawang-1536x1156.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/07/rekoleksi-lawang.webp 1600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rekoleksi Pegawai Yayasan</strong> <strong>Unit Kantor dan Asrama Tahun 2026</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tanggal 17 – 18 Juni 2026 telah dilangsungkan rekoleksi Yayasan Sancta Maria Malang di Rumah Pembinaan St. Julie Billiart Jalan Argomoyo No.2A &nbsp;Lawang. Sebanyak 39 orang peserta dalam kegiatan ini. Mereka terdiri dari pengurus dan karyawan kantor pusat, serta pembina dan karyawan keempat asrama di bawah kelola Yayasan. Rekoleksi ini sangat istimewa karena melibatkan seluruh karyawan asrama yang ada di bawah Kelola Yayasan meliputi asrama putra St. Albertus, Asrama Edit Stein 1 dan 2, serta asrama Putra-Putri St. Paulus. Selama ini kegiatan Yayasan belum melibatkan karyawan asrama Putra-Putri St. Paulus, Jember. Hadir sebagai pendamping adalah Rm. Frans Borta Rumapea, O. Carm. Hadir juga sebagai pencair suasana dua frater Karmel dari komunitas Rajabasa: Fr. Santus dan Fr. Mario.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Br. Vianey, O. Carm sebagai kepala PSDM Yayasan dalam pengantarnya mengatakan bahwa rekoleksi ini berpijak pada Peraturan Kepegawaian Yayasan pasal 11. Dikatakan bahwa setiap pegawai Yayasan wajib mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh Yayasan. Pembinaan karyawan meliputi rekreasi dan rekoleksi yang dilaksanakan bergantian di setiap tahunnya. Tujuannya adalah selain untuk membina persaudaraan karyawan antar unit, juga terwujudnya visi misi Yayasan. Pembinaan karyawan juga menjadi sarana peneguhan dan pemotivasian karyawan asrama yang bekerja secara tersembunyi. Sebagai lambang kesatuan dan persaudaraan, masing-masing pegawai unit diminta menyanyian lagu Flos Carmeli. Sedangkan Rm. Dion sebagai ketua Yayasan dalam sambutannnya selain mengucapkan banyak terima kasih kepada Rm. Borta sebagai pemateri, tetapi juga menyampaikan rasa kebahagiaannya atas berkumpulnya seluruh karyawan asrama untuk berkegiatan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pendalaman Tema</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana ditulis sebagai judul artikel, rekoleksi karyawan Yayasan Sancta Maria kali ini mengambil tema “Melayani Sepenuh Hati.” Namun, sebagai karyawan lembaga yang bernaung di bawah perlindungan St. Maria, tema rekoleksi dibuat lebih menukik dengan sub tema “Melayani Sepenuh Hati seperti Maria Melayani Sepenuh hati.” Dengan demikian, maksud rekoleksi adalah mengajak peserta untuk meneladan St. Maria, sang pelindung yang telah melayani dengan sepenuh hati. Adalah sebuah tindakan yang sangat mulia bila suatu perlindungan dibalas dengan peneladanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Apakah Anda bahagia bekerja di asrama atau kantor Yayasan?” demikian pertanyaan sederhana namun tampaknya tidak mudah dijawab oleh peserta. Pertanyaan ini menjadi salah satu pertanyaan pemantik untuk menggali pengalaman suka duka bekerja di asrama, pun di kantor pusat yayasan. Dari pertanyaan-pertanyaan macam ini, karyawan diajak berefleksi tentang perasaan bekerja di asrama selama ini untuk selanjutnya menemukan maknanya. Beberapa karyawan menyatakan bangga dan syukurnya bisa bekerja di asrama. Bangga dan bahagia karena diingat alumni. Bersyukur, karena asrama telah memberikan tempat dan kesempatan untuk bekerja. Ada juga pegawai yang mengungkapkan bahwa selalu bersemangat dalam kerja karena suasana dan aura positif asrama. Dari pengalaman konkrit itu, pastor paroki Gembala Baik, Batu ini masuk ke tema rekoleksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak Lembaga menggunakan slogan “Melayani Sepenuh Hati” tetapi beda dalam implementasi dan tujuan. Ada lembaga yang melayani sepenuh hati demi menarik pelanggan, pun agar tidak kehilangan pelanggan, sehingga lembaga tetap bisa berdiri, bahkan mengeruk keuntungan yang besar. &nbsp;Dengan kata lain, para karyawan pada lembaga demikian “melayani sepenuh hati” dilakukan supaya tidak dipecat. Namun, “melayani sepenuh hati” bagi seorang karyawan Yayasan Sancta Maria lebih dari itu. Meski konsepnya sama, tetapi pelayanan seorang pegawai asrama berwujud nyata dalam kesaksian hidup. “Melayani Sepenuh Hati” mengandaikan adanya keselarasan antara pikiran, hati, dan ketrampilannya. Mengutip nasehat St. Paulus, Rm. Borta menyatakan &nbsp;bahwa apapun yang dilakukan, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah (bdk. 1 Kor. 10:31). Persoalannya adalah bagaimana perasaan&nbsp; &nbsp;kita, bila pelayanan sepenuh hati ini&nbsp; &nbsp;mendapat tanggapan yang tidak bagus. Sakit kan? Tidak enak kan? Solusinya adalah, bahwa kita perlu kembali ke tujuan pelayanan; untuk melayani Tuhan. Setiap aktivitas dilakukan sebagai kesaksian pelayanan kita pada Tuhan. Maka, tetaplah berbuat baik. Boleh sedih, menangis, marah, kecewa, dan sebagainya sebagai respon sementara. Tetapi selanjutnya adalah kembali pada prinsip, “Tetaplah berbuat baik.” Jadi setiap kali hendak &nbsp;&nbsp;bertindak harus kita senantiasa bertanya pada diri sendiri, apakah tujuan saya bekerja; untuk kepuasan dirikah, atau untuk memuliakan Tuhankah. Motivasi bekerja untuk Tuhan tetap harus dijunjung tinggi. Sebagaimana dipesankan oleh St. Paulus kepada Timotius, kita tidak perlu malu bekerja di asrama, tetapi perlu bangga bekerja di mana saja, dengan cara apa saja, asalkan pekerjaan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelayanan sepenuh hati terutama diteladankan oleh Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia yang adalah Tuhan dan guru (martabat luhur) rela menjadi hamba (martabat rendah). Dalam tradisi Israel, tindakan membasuh kaki juga merupakan keutamaan seorang istri terhadap suami. Hal ini dilakukan sebagai tanda hormat, kasih, dan pelayanannya. Membasuh kaki adalah lambang kerendahan hati. Bekerja untuk Tuhan juga merupakan ungkapan penyembahan kepada Tuhan. Ketika kita mengatakan bekerja untuk Tuhan, maka apapun yang kita kerjakan tidak terpisah dari Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam persekutuan dengan Tuhan, tidak ada yang sia-sia meski secara manusiawi dan duniawi terasa sia-sia. Manfaat kita beragama dan rekoleksi adalah dalam agama ada keyakinan bahwa pekerjaan baik akan dapat pahala dari Tuhan. Ketika kita berkomitmen, kita menghidupi iman kita. Kita dipanggil tidak sekedar menjalankan tugas, tetapi menjunjung nilai-nilai keutamaan hidup/agama. Setiap momen menjadi kesempatan untuk menunjukkan iman. Setiap pekerjaan harus merupakan pewartaan kristus, ada semangat doa, membawa keselamatan, pelayanan, jangan menyalahgunakan mandate yang dimiliki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita perlu berjuang menghadapi godaan untuk setia bekerja demi Allah. Godaan itu antara lain mencari keuntungan pribadi, mencari perhatian, mencari pujian, bekerja minimalis, berhenti bekerja, dll. Melayani sepenuh hati bukan hanya slogan, tetapi perlu dilandasi iman/keyakinan sesuai ajaran agama kita masing-masing. Untuk mengatasi godaan, seorang motivator, Yansen Sinamo menulis delapan ethos kerja professional:</p>



<ol class="wp-block-list">
<li>Kerja adalah rahmat. Harus disadari bahwa tidak semua orang mendapat pekerjaan. Oleh sebab itu perlu bekerja tulus.</li>



<li>Kerja adalah Amanah/kepercayaan. Harus penuh tanggung jawab.</li>



<li>Kerja sebagai panggilan: tuntas penuh integritas.</li>



<li>Bekerja adalah aktualisasi/perwujudan diri. Bekerja untuk Bahagia.</li>



<li>Kerja adalah ibadah; serius penuh cinta.</li>



<li>Kerja adalah seni: cerdas penuh kreativitas</li>



<li>Bekerja adalah kehormatan: tekun penuh keunggulan.</li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Selain Yansen Amano, Rm. Borta juga memaparkan tips menjadi pelayan Yayasan yang &nbsp;profesional. Profesionalitas layanan tampak dalam pribadi yang manis, atraktif, alami, cerdas, dan profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pribadi yang manis tampak dalam kedewasaan/kematangan di mana ia tidak mudah tersinggung, tidak mudah ngambeg karena mampu memaknai setiap peristiwa dan perjumpaan. Profesionalitas pegawai Yayasan juga tampak dalam penampilan yang atraktif/menarik. Kemenarikan pegawai yayasan tampak pada pribadinya yang ramah, rapi, tidak kumuh. Profesional karena semua muncul dari hati yang tulus alias alami; bukan dibuat-buat; bukan suatu kepura-puraan. Profesional juga artinya cerdas atau kompeten. Orang kompeten mampu bekerja dengan baik pun mengatasi persoalan-persolan yang terjadi secara tepat, tidak menimbulkan masalah baru. Akhirnya profesionalias seorang pegawai diukur dari kepekaannya terhadap lingkungan maupun rekan kerja. Seorang pegawai profesional tahu apa yang harus diperbuat dan bersikap terhadap perubahan-perubahan lingkungan pun rekan kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Meneladan Pelayanan Maria</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai lembaga yang berlindung pada St. Perawan Maria, para karyawan Yayasan sudah pantas dan layaklah meneladan St. Maria. Peneladanan kepada St. Maria bisa dilakukan sebagaimana Maria&nbsp;&nbsp; melayani&nbsp;&nbsp; sepenuh&nbsp;&nbsp; hati sebagaimana tercatat dalam kitab Suci. Orang katolik percaya, meneladan Maria sama dengan mencintai dan mentaati ajaran Yesus. Orang katulik juga percaya melalui peneladanan pada St. Maria akan sampai pada Yesus, sang sumber keselamatan sebagaimana terkandung dalam slogan “Tota Christy Per Mariam.” Beberapa kutipan Kitab Suci dipaparkan sebagai contoh keutamaan Maria yang melayani sepenuh hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk. 1:39-45) hendaknya menjadi contoh bagaimana para pengelola asrama khususnya, dan karyawan asrama pada umumnya, untuk dengan ringan hati melawat siapapun, khususnya mereka yang sedang dilayani. Sebagai ibu Tuhan, Maria adalah pribadi sangat mulia, tetapi ia mau mengunjungi siapa saja. Maria tidak gengsi. Pengelola asrama bisa tanpa gengsi melakukan kunjungan dan sapaan kepada siapa saja. Secara konkrit kunjungan bisa dilakukan pada anak-anak asrama yang sedang sakit di kamar, atau kepada karyawan yang mungkin sedang sakit pun sedang menghadapi persoalan lainnya. Dengan tujuan membina persaudaraan, para pengelola asrama dapat mengunjungi karyawan secara berkala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketaatan Maria untuk pergi ke Betlehem dari Nazaret saat diadakannya sensus penduduk (Luk.2:1-6), meneladankan keterbukaan Maria pada perubahan. Tanpa mempedulikan keadaannya yang hamil tua serta jarak yang tidak dekat, St. Maria berangkat menuju Betlehem, kota Daud. Maria siap berubah seturut kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan kaisar Agustus. Ketaatan Maria meninggalkan pertanyaan reflksi apakah kita terbuka dengan perubahan, khususnya yang diadakan/terjadi dari yayasan dan lembaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketaatan Maria pada Yusup untuk mengungsi ke ke Mesir (Mat. 2:13-18) menyiratkan sikap menghargai dan menghormati suami. Maria yakin bahwa meski hanya lewat mimpi, keyakinan Yusup akan bahaya yang mengancam anaknya benar dan nyata. Ketaatan Maria meladankan kepekaan terhadap suara Tuhan dalam diri kita. Ketaatan pada suami dan Tuhan juga menggambarkan perlunya taat pada pimpinan terutama, serta siapa saja yang berkehendak baik. Demikian juga hendaknya para karyawan Yayasan taat kepada suami (istri), rekan kerja, dan sebagainya demi kebaikan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kegalauan Maria saat kehilangan Yesus (Luk. 2:41-52) meneladankan sikap baik/bijaknya ketika tidak dimengerti pun “dibuat susah.” Tidak ada dalam diri Maria keinginan memaksakan kehendak, ataupun amarah karena merasa tidak diindahkan dan dibuat susah. Sebaliknya, Maria justru mengambil sikap rendah hati; merenungkan pengalamannya untuk diambil maknanya. Bagaimana kita mencari solusi ketika kita mengalami kesulitan, kegalauan. Maria menyimpan dalam hati, artinya merenungkannya. Kesabaran dan permenungan yang memungkinkan ditemukannya nilai-nilai positif suatu peristiwa inilah yang perlu diteladani pada Bunda Maria.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa mukjizat air menjadi anggur di Kana (Yoh. 2:1-11) meneladankan kepekaan Maria terhadap situasi lingkungannya. Maria adalah teladan manusia yang bermasyarakat dan memasyarakat. Karena kepekaan Maria, masalah masyarakat yang digambarkan dengan peristiwa kehabisan anggur teratasi. Karyawan asrama diharapkan juga baik dalam berelasi dengan masyarakat, khususnya dalam masyarakat lingkup asrama dan Yayasan, serta tanggap untuk melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Jangan sampai, gara-gara ketidakpedulian para pegawainya, Yayasan kehabisan semangat, kepercayaan, murid, dan sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa Golgota (Yoh. 19) meneladankan sikap teguh berpengharapan. Ibu mana yang mampu berdiri tegak menyaksikan kesengsaraan amat sangat anaknya karena dituduh menghujat Allah? Ibu mana yang tidak tercabik-cabik hatinya melihat anak terkasihnya teraniaya? Dalam bentuk lain, peristiwa Golgota bisa menimpa kita juga di jaman ini. Perkembangan jaman pun perubahan-perubahan kebijakan memungkinkan para karyawan Yayasan “menderita” karenanya. Mampukah kita tetap melayani di tengah krisis yang melanda institusi dan kehidupan?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sessi Keakraban</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu tujuan dari rekoleksi Yayasan adalah terwujudnya keakraban antar karyawan asrama dan kantor Yayasan. Dari keakraban terjalin persaudaraan. Dari persaudaraan terwujud kesaksian hidup dalam layanan yang berkualitas. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat tidak semua karyawan yayasan bisa selalu bertemu dan bekerjasama setiap harinya. Rekoleksi adalah kesempatan istimewa untuk mewujudkan pertemuan dan kerjasama itu, meskipun pertama-tama lebih bersifat simulasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, selain mendapat asupan pengetahuan, keutamaan hidup, pun pembinaan rohani. rekoleksi Yayasan juga mengupayakan terwujudnya keakraban karyawan antar unit karya sebagai keluarga besar Yayasan Sancta Maria Malang. Para karyawan diingatkan bahwa saudara dan rekan kerjanya bukan hanya sebatas lingkup unit yang dilayani, tetapi mencakup antar unit kerja di bawah tata kelola Yayasan Sancta Maria Malang. Hal ini dipahami dengan sangat baik oleh dua frater Karmel yang secara khusus dihadirkan untuk kegiatan tersebut. Dengan sarana-sarana permainan dan lagu-lagu yang telah disiapkan, para frater dengan cakap mengelola sessi &nbsp;game keakraban. Saat itulah, para karyawan keluar dari ikatan kelompok unitnya, menjadi satu warga lembaga Yayasan Sancta Maria Malang. Mereka bekerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh fasilitator dalam bentuk game atau permainan. Game-game itu antara lain volly balon, jualan makanan dan minuman, dan mengeluarkan bola dari dalam keranjang kawat jaring. Mereka juga konsekwen terhadap kesalahan yang mungkin terjadi dengan siap menjalankan sanksi yang oleh para frater diistilahkan dengan kata “persembahan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suasana baru juga terjadi saat saat pagi hari. Para karyawan yang biasa disibukkan dengan tugas kantor dan kerja dapur ataupun kebun pagi itu melakukan kegiatan yang sama sekali berbeda. Di bawah instruksi para frater, para karyawan melakukan doa dan olah raga ringan. Guna melibatkan peserta, para frater mengajak peserta untuk menampilkan daya kreativitasnya mengacu pada mudik-musik yang diputar melalui sound system yang sudah disiapkan. Kreativitas-kreativitas ditampilkan peserta membuat suasana pagi begitu semarak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rekoleksi ditutup dengan perayaan Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi, Rm. Borta kembali menekankan pentingnya pelayanan dengan sepenuh hati (Br. A. Mungsi, O.Carm).</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PENDIDIKAN ABAD 21 – ENTREPRENEUR</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/07/14/pendidikan-abad-21-entrepreneur/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2026 03:56:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2287</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Immaculata Sriunon K.M. (Guru Bimbingan Konseling SMAK St. Paulus) Sekolah bisa kalah cepat Sekolah bisa kalah cepat dengan tuntutan masyarakat. Menurut Dr. Williard Dagget dari International Centre for Leadership &#38; Education) dikatakan bahwa “ Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat dari pada sekolah-sekolah kita”. Masing-masing lembaga pendidikan harus berubah...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Immaculata Sriunon K.M. (Guru Bimbingan Konseling SMAK St. Paulus)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="704" height="539" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-5.png" alt="" class="wp-image-2289" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-5.png 704w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-5-300x230.png 300w" sizes="auto, (max-width: 704px) 100vw, 704px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sekolah bisa kalah cepat</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekolah bisa kalah cepat dengan tuntutan masyarakat. Menurut Dr. Williard Dagget dari International Centre for Leadership &amp; Education) dikatakan bahwa “ Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat dari pada sekolah-sekolah kita”. Masing-masing lembaga pendidikan harus berubah atau&nbsp; mati, jika tidak memiliki strategi menyiasati tantangan abad 21, sudah seharusnya dalam menentukan visi dan misi lembaga, menyiasati atas perubahan yang mungkin terjadi.&nbsp; Peserta didik memiliki tujuan, cara dan proses belajar yang mungkin berbeda dengan jaman orang tua mereka saat menjadi murid. Tuntutan dan kebutuhan menyesuaikan dengan perkembangan kemajuan masyarakat dan ilmu dan teknologi. Sekolah pun menyesuaikan dan harus berubah menghadapi tuntutan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sekolah bukan lagi satu-satunya sumber belajar, sumber belajar yang ditemui saat ini sangat variatif ada perpustakaan, e-book, gadget, fasilitas dari situs yahoo, google, dan lain lain. Anak harus dilatih untuk mandiri. Guru berperan lebih sebagai fasilitator, motivator bagi murid, mereka perlu menumbuhkan kepada murid dan mengajarkan belajar bagaimana mereka belajar. Satu fakta yang terjadi, justru sebagian&nbsp; murid semakin tidak senang belajar, lebih tertarik pada aktifitas di luar belajar (browsing internet, main game on line, chatting, bermain di dunia maya, dan&nbsp; yang lain). Tantangan bagi para pendidik adalah bagaimana mereka menciptakan dan membuat murid senang belajar. Ini bukan hal yang mudah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Bekal dari sekolah untuk Sukses</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Hal hal apa saja yang sudah kita berikan ada anak didik? Mendidik atau mengajar? Mengajar hanya berpusat pada pemberian materi disiplin ilmu tertentu, sehingga pencapaian hasil belajar dari hasil tes atau ulangan. Salah satu ukuran keberhasil seorang guru mengajar adalah jika murid memiliki pencapaian ketuntasan belajar dan tidak remidi. Subyek didik memiliki tingkatan belajar yang meliputi unsur kognitif atau pengetahuan, ketrampilan atau psikomotor dan sikap atau afektif yang harus diasah. Mendidik memiliki arti yang lebih luas, dimana peserta didik sebagai subyek yang diolah supaya mereka mampu mengeksplore seluruh potensinya secara benar. Mereka diproses supaya&nbsp; memiliki karakter secara utuh atau holistik, yang meliputi dimensi spiritual, sosial, intelektual,&nbsp; emosional dan jasmaniah. Dimensi holistik inilah yang akan menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan dan mencapai kesuksesan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Peran orang tua</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; </strong>Sudahkan tercipta peran aktif orang tua dalam proses belajar dan bersinergi dengan sekolah? Ataukah orang tua tidak memerlukan komunikasi dan kerja sama dengan sekolah. Sangat memprihatinkan jika orang tua beranggapan tidak perlu komunikasi, yang penting tahu beres, toh sudah membayar biaya ke sekolah, yang penting tahu jadi, awal masuk pendaftaran sampai dengan anak lulus. Masalah yang terjadi adalah adanya gap antara murid dengan orang tua dan guru, atas imbas dari kemajuan dan perkembangan ip-tek yang pesat. Menyikapi hal ini maka perlu adanya kesadaran akan <em>“Parent Education”.</em> Pendidikan untuk orang tua, dengan cara mereka bersinergi dengan pihak sekolah. Pengalaman membuktikan jika ada komunikasi dan kerjasama antara orang tua dengan sekolah, maka masalah yang terjadi dan perkembangan murid akan lebih terpantau dengan lebih baik . Ada pendapat bahwa “ Anak yang hebat akan dihasilkan dari keluarga yang hebat” dan “Sekolah yang hebat adalah sekolah yang ikut mendidik orang tua, sehingga mereka menjadi keluarga yang hebat”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Pemilikan Ketrampilan Hidup <em>(Life Skills)</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Perkembangan ketrampilan hidup (Life skills) seseorang dengan baik menjadi tuntutan kesuksesan jaman ini. Abad 21 lebih menganggap EQ (Kecerdasan Emosional) lebih pentigg dari pada IQ (Kecerdasan Umum). Perkembangan IQ terjadi secara pesat di saat anak masih berusia 10 tahun kebawah, Menurut S. Bloom, hasil penelitian di usia tersebut sudah tercapai perkembangan kapasitasnya sebanyak 80 %, dan akan dicapai secara optimal 100 % disaat anak&nbsp; berusia 20 tahun. Setelah stagnan secara normal. Sedangkan EQ akan mengalami peningkatan dan perkembangan seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup seseorang. Dalam buku <em>The millionaire Mind</em> &nbsp;karya Thomas Stanley, suatu jajag pendapat melibatkan 733 multi milioner di Amerika Serikat, berkenaan dengan kesuksesan mereka, ditemukan bahwa ada sekitar 30 item yang berperan dalam sukses mereka.&nbsp; Lima item tertinggi didominasi oleh kecerdasan EQ, yakni jujur kepada semua orang, disiplin, bergaul baik dengan orang lain, Bekerja lebih giat daripada kebanyakan orang dan memiliki pasangan hidup yang mendukung. IQ menduduki urutan ke 21. Ketrampilan hidup perlu dimiliki setiap orang dengan memadukan kecerdasan Spiritual (SQ), kecerdasan Emosional (EQ), kecerdasan Adversitas (AQ) dan kecerdasan umum (IQ).&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Hasil survey terhadap kualitas pribadi karyawan, dilakukan oleh NACE’Job Outlook 2006 survey) dalam&nbsp; <em>The top Qualities Employers look for the in College Graduates</em></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><em>Communication skills (verbal and written)</em></li>



<li><em>Honesty/ integrity</em></li>



<li><em>Teamwork skills (works well with others)</em></li>



<li><em>Strong work ethic</em></li>



<li><em>Analytical skills</em></li>



<li><em>Flexibility/adaptability</em></li>



<li><em>Interpersonal skills (relates well with others)</em></li>



<li><em>Motivation/Inisiative</em></li>



<li><em>Computer Skills</em></li>



<li><em>Detail oriented</em></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Kesepuluh item survey tersebut semua merupakan dimensi kecerdasan EQ.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Abad 21 adalah Abad untuk Manusia Holistik dan Menuntut kehadiran Sumber Daya Manusia (SDM) yang Multi Tasking</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagian kecil pekerjaan menuntut kecakapan AKADEMIS yang TINGGI untuk berhasil namun sebagian besar pekerjaan menuntut kecakapan NON AKADEMIS yang tinggi untuk berhasil. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan memiliki berbagai ketrampilan dan mengembangkan berbagai kecerdasan pribadi yang akan bertahan dan mampu bersaing. Tuntutan harus diimbangi dengan bagaimana menciptakan kecintaan pada belajar adalah penting sekali, Kelenturan menghadapi berbagai persoalan hidup dan pentingnya memiliki kecakapan berpikir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Abad 21 adalah abad untuk Mereka yang Kreatif</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; John H. Kins dalam bukunya <em>Economic Creative</em> mengatakan bahwa <strong><em>“How people make money from ideas? ”</em> </strong>Mereka yang memiliki kreatifitas dan idelah yang akan berhasil dan dengan ide yang dimilikinya bisa menghasilkan uang. Menurut bapak Ciputra, salah tokoh yang getol menyosialisaikan tentang entrepreneur dengan hasil yang nyata bagaimana mengubah sampah atau rongsokan menjadi emas yaitu : 1. Menciptakan peluang <em>(opportunity creating),</em> bukan sekadar mencari peluang <em>(opportunity seeking),</em> 2. Melakukan inovasi produk <em>(innovation)</em> 3. Berani ambil resiko <em>(Calculated Risk Tasking)</em> dalam buku Quantum Leap. Menurut Ciputra salam entrepreneur (3-E) mengandung makna bagaimana kita memotivasi untuk mencapai Ekonomi Indonesia yang sejahtera dengan cara mengurangi jumlah pengangguran intelektual, Manusia yang memiliki empati terhadap sesama. Untuk mencapai kesejahteraan economi, kita harus mampu mengekpresikan segala potensi yang dimiliki menjadi pribadi yang produktif. <em>(Gambar 1 : salam Entrepreneur)</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Abad 21 adalah abad untuk Wirausaha</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Pada tahun 2020 kebanyakan ATASAN atau BOS di&nbsp; negara maju adalah “Diri sendiri” (Nicholas Negroponte: <em>Being Digital</em>).&nbsp; Bagaimana menyiapkan diri sebagai bos? Inilah ciri-ciri mereka yang akan menjadi entrepreneur yang dibutuhkan abad 21, mereka yang kreatif, inovatif, memiliki daya juang tinggi, pandai mecari peluang dan mampu memperhitungkan resiko. Sudahkah ini kita berikan paradigma ini kepada peserta didik kita?</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; <strong>Guru abad 21 berkompeten dalam :</strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><em>Learning environments</em></li>



<li><em>A Thingking pedagogy</em></li>



<li><em>Information management</em></li>



<li><em>Creative and publishing</em></li>



<li><em>Web access</em></li>



<li><em>Building a new paradigma</em></li>



<li><em>Skill set for the 21 st century</em></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph">Mari kita sebagai pendidik berefleksi hal apa yang sudah dan dapat kita lakukan untuk menghantar generasi Z (<em>generasi Millenia</em>) menjalani dan mengisi abad 21 ini dengan paradigma baru; &nbsp;menjadi peserta didik yang mandiri, mampu menghadapi dan tuntutan abad 21. (Gambar illustrasi guru abad 21).</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Sumber :</em></strong></p>



<ol class="wp-block-list">
<li><strong><em>Materi Seminar Entrepreneur, 15-17 Januari 2008 di Jakarta</em></strong></li>



<li><strong><em>Buku-buku terkait Kecerdasan Umum (IQ), Kecerdasan Emosi (EQ )dan Entrepreneur</em></strong></li>
</ol>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/


Served from: yayasansanctamaria.org @ 2026-08-23 23:42:35 by W3 Total Cache
-->