<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<atom:link href="https://yayasansanctamaria.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<description>Jalan Puncak Trikora R2/06 RT 008 RW VII Kelurahan Karang Besuki Kecamatan Sukun Kota Malang Provinsi Jawa Timur Kode Pos 65146</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2026 02:52:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2025/01/logo-YSMM-1-150x150.webp</url>
	<title>YAYASAN SANCTA MARIA MALANG</title>
	<link>https://yayasansanctamaria.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tanda dan Petanda FDS di Mata Guru</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/07/03/tanda-dan-petanda-fds-di-mata-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 02:52:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2292</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Albertus) Peraturan Pemerintah (PerMen) No 23 Tahun 2017 telah terbit. Wacana untuk menjadikan sekolah lima hari mulai santer digulirkan. Pro dan kontra mulai menyeruak di kalangan masyarakat, khususnya yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan. Beberapa sekolah terlihat aman-aman saja karena telah melaksanakan program full day school...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="2560" height="1707" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/06/FDS_ardi-scaled.webp" alt="" class="wp-image-2409"/></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Albertus)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peraturan Pemerintah (PerMen) No 23 Tahun 2017 telah terbit. Wacana untuk menjadikan sekolah lima hari mulai santer digulirkan. Pro dan kontra mulai menyeruak di kalangan masyarakat, khususnya yang bersentuhan langsung dengan dunia pendidikan. Beberapa sekolah terlihat aman-aman saja karena telah melaksanakan program <em>full day school</em> sebelum PerMen diterbitkan. Meskipun demikian, tak sedikit sekolah yang mulai khawatir apabila hal ini dilaksanakan. Persoalan utama tentu ada pada sarana dalam mewujudkan sebuah gagasan menjadi sebuah perilaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketidaksiapan sekolah untuk menyelenggarakan program <em>full day school</em> apabila ditinjau dan dianalisis adalah berkaitan dengan sarana dan prasarana yang terdapat pada sekolah tersebut. Ahli etika publik, Dr. Haryatmoko mengatakan bahwa etika publik diperlukan untuk menjembatani norma dan perilaku. Norma adalah peraturan yang digulirkan oleh pemerintah sedangkan perilaku adalah pelaksanaanya di lapangan. Butuh fasilitas yang mampu menjembatani konsep <em>full day school</em> ini dengan realitas yang ada dalam masyarakat. Kesiapan fasilitas dan sarana prasarana perlu ditinjau ulang apabila <em>full day school</em> ini wajib diterapkan secara nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain sarana dan prasarana, sebenarnya esensi dari <em>ful day school</em> ini cukup mulia. Siswa diajak untuk membangun budaya positif di sekolah kemudian menginternalisasikan budaya tersebut saat sampai di rumah. Hal ini sebenarnya mirip dengan teori The Power of Habit karya Charles Duhigg. Dalam karyanya tersebut, Duhig mengatakan bahwa kekuatan dari <em>hab</em><em>b</em><em>its</em> (kebiasaan) apabila ada tiga formula yang berjalin berkelindan satu sama lain. Ketiga formula itu adalah tanda, rutinitas, dan ganjaran. Tanda merupakan masalah yang timbul. Rutinitas adalah perlakuan yang dilaksanakan secara berulang untuk menyelesaikan masalah tersebut, sedangkan ganjaran merupakan hasil yang diperoleh.&nbsp; Contohnya, seorang siswa mendapat nilai jelak (tanda). Siswa tersebut belajar berkali-kali hingga nilainya bagus (rutinitas). Hasil dari usahanya adalah mendapat nilai baik (ganjaran). Pola inilah yang nantinya diinternalisasi ke lingkungan rumah dan lingkungan sosial siswa. hal itu berarti bahwa siswa akan terbentuk sesuai dengan karakter yang ditanamkan oleh sekolahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Permasalahan baru timbul apabila masalah (tanda) yang ditemui oleh siswa di sekolah hanya sebatas nilai. Padahal kita tahu bahwa nilai sekolah hanya berhenti di meja pengajuan beasiswa atau meja pengajuan studi ke jenjang selanjutnya. Tanda-tanda yang terjadi di masyarakat cukup banyak dan beragam. Semakin lama siswa di sekolah, maka semakin buta siswa membaca tanda-tanda dalam kehidupan bermasyarakat. Itulah sebabnya di negara maju, pendidikan tidak terlalu lama. Siswa diajak untuk menghadapi realita di masyarakat dan berusaha memecahkan masalah tersebut di sekolah. Dengan demikian, sekolah berfungsi sebagai tempat untuk memecahkan masalah. Hasil dari pemecahan masalah tersebut oleh siswa dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa menjadi pribadi yang solutif sejak dini. Menyelesaikan beragam masalah dalam kehidupan bermasyarakat juga mengasah kesadaran kritis para siswa. Paulo Freire, pakar pendidikan membagi tingkat kesadaran menjadi tiga yaitu magis, naif, dan kritis. Pendidikan dengan kesadaran kritis merupakan pendidikan yang transkultur. Pendidikan menembus batas, baik batas ruang (kelas) dan waktu (jam belajar). Itulah yang disebut dengan belajar sepanjang hayat. Kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun, siswa akan belajar. Semoga konsep <em>full day school</em> tidak membuat siswa hanya belajar di sekolah, tapi juga mampu menemukan serta menyelesikan permasalahan (petanda) yang terjadi dalam masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KREATIVITAS PENDIDIKAN, PAKEM, HINGGA KURIKULUM 2013</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/22/kreativitas-pendidikan-pakem-hingga-kurikulum-2013/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2026 02:12:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2235</guid>

					<description><![CDATA[oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm. Pada dasarnya pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kreativitas, baik kreativitas pendidik maupun peserta didik. Berkat kreativitas keduanya, KBM selain menarik juga menyenangkan. Karena tertarik dan senang, maka murid penasaran sehingga termotivasi untuk ingin tahu lebih jauh. Karena keingintahuan yang tinggi ini peserta didik menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk belajar. Peserta didik...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img decoding="async" width="1024" height="683" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-1024x683.webp" alt="" class="wp-image-2238" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-1024x683.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-768x512.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-1536x1024.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-2048x1365.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Kretivitas-Pakem_Pak-Iren-2-600x400.webp 600w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Pada dasarnya pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kreativitas, baik kreativitas pendidik maupun peserta didik. Berkat kreativitas keduanya, KBM selain menarik juga menyenangkan. Karena tertarik dan senang, maka murid penasaran sehingga termotivasi untuk ingin tahu lebih jauh. Karena keingintahuan yang tinggi ini peserta didik menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk belajar. Peserta didik menggunakan berbagai cara dan kesempatan untuk memahami apa yang sedang dipelajari. Dari suasana-suasana demikianlah pembelajaran menjadi efektif. Memahami akan hal ini, pemerintah menetapkan standar kompetensi guru (baca FC.ed.III). Pemahaman dan penghayatan yang benar akan kompetensi ini pasti akan membuat para guru bukan hanya kreatif tetapi juga menjalankan prinsip pendidikan PAKEM.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Apa itu PAKEM? &nbsp;</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">PAKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Model pembelajaran ini muncul sebagai reaksi atau evaluasi dari model pembelajaran konvensional (behavioristik, kognitif) yang cenderung pasif. Dikatakan pasif karena pada model pembelajaran konvensional pendekatannya satu arah (<em>teacher centre</em>). Karena satu arah maka metodenya lebih banyak ceramah/monolog. Pembelajaran ini menempatkan guru sebagai sumber belajar satu-satunya. Dari sinilah muncul prinsip murid itu tabula rasa yang bak kertas putih bersih siap ditulisi, digambari dan dihiasi oleh guru. Karena prinsip ini muncul semboyan, murid tidak akan mampu menyamai gurunya. Perkembangan jaman membuka kesadaran para pemerhati pendidikan bahwa model konvensional perlu dievaluasi atau kalau tidak perlu dikombinasi. Sebab, pada dasarnya sebelum belajar murid sudah memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman bermacam-macam. Guru tidak lagi satu-satunya sumber belajar. Maka tidak tepat lagi murid digambarkan sebagai kertas putih. Murid juga memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuan dari pengalamannya. Dari sinilah muncul pendekatan AJEL (<em>Aktive Joyfull</em> and <em>Efective Learning</em>). Itulah PAKEM.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PAKEM adalah model pembelajaran yang berdasar pada filsafat <em>konstruktivisme</em>. Filsafat yang digagas oleh Jean Piaget ini &nbsp;berpendapat bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja oleh seorang guru kepada murid sebagaimana terjadi pada filsafat <em>behaviorisme</em>. Pengetahuan yang didapat murid bukanlah suatu perumusan yang diciptakan oleh orang lain (baca:guru), melainkan dibangun (dikonstruksi) oleh murid itu sendiri. Karena pengetahuan dibangun oleh murid sendiri maka murid harus aktif mencari dan mengkonstruksi. Dari sini akan muncul aneka macam konsep akan suatu hal sesuai dengan daya pikIr anak. Sedangkan guru harus memfasilitasi demi mudahnya murid mendapat dan mengkonstruksi pengetahuan tersebut. Guru hendaknya terbuka terhadap aneka konsep itu sejauh masih berada dalam koridor yang benar. Dari sinilah guru dituntut bukan hanya aktif, tetapi juga kreatif dalam merencanakan dan mengelola &nbsp;pembelajaran. Guru juga harus menguasai konsep dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bagaimanakah Pembelajaran PAKEM?</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana telah disinggung pada sub judul sebelumnya, PAKEM &nbsp;singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM selain menjadi proses kegiatan juga menjadi ciri pembelajarannya. Dalam pembelajaran PAKEM dikondisikan kelas yang mendukung murid menikmati pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran <strong>AKTIF </strong>adalah&nbsp; pembelajaran yang bernuansakan (kelompok) murid aktif selama KBM berlangsung. Murid aktif bertanya, mempertanyakan, menemukan, dan mengemukakan gagasan. Dalam hal ini guru aktif memberikan <em>stimulus-stimulus</em> atau pancingan-pancingan yang memungkinkan murid aktif. Pancingan bisa diusahakan melalui pernyataan, pertanyaan, pun penggunaan media dan alat peraga yang diciptakan. Pembelajaran aktif&nbsp; memungkinkan peserta didik berinteraksi secara <em>intensif </em>&nbsp;dengan lingkungan, memanipulasi obyek-obyek yang ada di dalamnya dan mengamati pengaruh dari manipulasi obyek-obyek tersebut. Dalam hal ini guru pun terlibat secara aktif, baik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajarannya. Sebagaimana diuaraikan sebelumnya, keaktifan murid dimaksudkan untuk mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman-pengalaman yang ada. Pengalaman-pengalaman ini diperoleh dari latihan, kerja kelompok, diskusi dan sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran &nbsp;dikatakan KREATIF apabila mampu &nbsp;membangun kreativitas/daya cipta &nbsp;peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar, guru, dan sesama peserta didik, utamanya dalam menghadapi tantangan atau tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam pembelajaran. Peserta didik kreatif dalam cara belajarnya sesuai dengan bakatnya pun dalam menampilkan hasil belajarnya. Guru kreatif menciptakan suasana belajar dengan kreatif pula membuat pun menyediakan media belajar pendukung. Guru kreatif adalah guru yang juga mampu menyikapi persoalan-persoalan yang dihadapinya di kelas secara tepat. Konsekuensinya, guru&nbsp; dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Akhirnya guru akan kreatif kalau mau berefleksi dan berevaluasi terhadap kinerjanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran EFEKTIF adalah pembelajaran tepat sasaran. Tepat sasaran berarti&nbsp; sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Murid menemukan makna, nilai, manfaat, dan <em>relefansinya</em> dalam hidup. Dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran dikatakan &nbsp;MENYENANGKAN apabila murid dan guru merasa nyaman dalam KBM. Murid nyaman karena difasilitasi dan diberi keleluasaan pun kebebasan dalam berproses memahami sesuatu. Murid tidak takut berbuat salah,&nbsp; sebab dari kesalahan itu murid menjadi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Murid nyaman dalam belajar karena dimungkinkan mengungkapkan kemampuannya sesuai dengan potensi dan kecerdasannya. Sedangkan tanggungjawab guru adalah menjaga dan mengarahkan agar kebebasan dan keaktifan murid terkendali, serta berada dalam koridornya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Aplikasi PAKEM dalam Kurikulum 2013</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kreativitas Pendidikan sebenarnya mulai berkembang sejak terkritisinya model belajar <em>behavioristik</em>. Persoalan yang terjadi adalah bahwa seringkali kurikulum berubah tidak disertai dengan perubahan <em>mindset</em>/pola pikir para pendidik. Persoalan lain adalah sosialisasi perubahan beserta pelatihannya tidak sampai di wilayah-wilayah terluar, termiskin, terpinggirkan (bdk. 3T). Akibatnya, meski kurikulum silih berganti, tetapi pola pikir pendidik tetap “setia” pada <em>mindset</em> <em>behavioristi</em>k. Maka masuk akal kalau perkembangan pendidikan Indonesia lamban. Namun demikian, pendidikan Indonesia sebenarnya telah mengadopsi teori konstruksivistik saat pemerintah memberlakukan model belajar/kurikulum CBSA. Selanjutnya model belajar ini terus dibenahi melalui kurikulum KBK, KTSP, dan sekarang dengan kurikulum 2013. Ciri kurikulum 2013 adalah penggunaan pendekatan pembelajaran Scientific. Pendekatan PAKEM nyata dalam pembelajaran scientific dengan proses&nbsp; mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mempentuk jejaring pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada proses mengamati Guru menyajikan media atau alat peraga obyek secara nyata. Saat ini guru telah menunjukkan kreativitasnya membuat, menyiapkan media dan alat peraga yang menarik. Melihat apa yang dibawa/ditunjukkan guru peserta didik merasa terangsang dan&nbsp; tertantang untuk belajar. Pada awal pembelajaran guru menunjukkan kebermaknaan atau kemanfaatan dari materi yang akan dipelajari. Oleh karena itu pada apersepsi guru mengaitkan materi dengan hidup sehari-hari peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada proses bertanya terjadi interaksi saling bertanya antara guru dengan murid, antara murid dengan murid, ataupun sebaliknya. Tidak menutup kemungkinan pada awal pembelajaran murid sudah diliputi dengan banyak pertanyaan. Situasi ini hendaknya senantiasa dijaga oleh guru. Dalam tahap bertanya ini pertanyaan dan pernyataan guru hendaknya mampu menggerakkan murid untuk mencari jawaban pendalaman materi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahap menalar murid diberi kesempatan berpikir secara logis. Di sinilah murid mulai mengkonstruksi pengetahuannya: menandai, mengklasifikasi, memilah, memilih, mengumpulkan, memerinci, mengevaluasi, menyimpulkan, merumuskan dan sebagainya. Salah satu tanda bahwa murid telah berhasil menyelesaikan persoalannya tampak pada raut muka yang puas dan bangga. Mungkin kalau diungkapkan dengan tindakan, murid akan mengepalkan tangan sambil berkata, “Yes. Aku bisa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada proses mencoba peserta didik mempraktekkan ilmu yang telah didapat. Dengan kreativitasnya, talentanya yang berbeda, bahasanya, dan sebagainya murid mengerjakan tugas sebagaimana diintstruksikan oleh guru. Murid mengungkapkan kembali, murid mengadakan latihan-latihan, hingga menghasilkan sesuatu. Kemauan keras menyelesaikan tanggungjawab akan menjadikan (kelompok) murid bekerja dengan asyik. Sebagaimana pada tahap bertanya pada tahap inipun ketika murid berhasil menyelesaikan tugas dengan raut muka puas dan bangga. akan mengepalkan tangan sambil berkata, “Yes. Aku bisa.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan scientific sebenarnya tidak terpaku dengan tahap-tahap secara berurutan. Tahap-tahap itu bias saling terbalik dalam proses atau saling berkelindan satu dengan yang lain. Contoh sederhanya tentang hal ini adalah bahwa tahap bertanya bisa berlangsung dari awal proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sinergi Guru dan Peserta Didik</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski masih menimbulkan kontroversi, pemerintah telah berbuat sesuatu demi peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini dengan ditetapkannya Kurikulum 2013. Pemerintah&nbsp; berusaha menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tataran sekolah keberhasilan Kurikulum 2013 salah satunya terletak pada&nbsp; kerjasama antara guru dengan peserta didik. Kreativitas guru tanpa mendapat tanggapan yang selayaknya oleh murid hanya akan membuat guru frustasi. Sebaliknya kreativitas murid tidak dikukung oleh keterbukaan guru akan perubahan akan mati.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bahan Bacaan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">H. E. Mulyasa.&nbsp; 2015. <em>Guru dalam Implementasi kurikulum 2013</em>. Bandung: PT. Rosdakarya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">H. E. Mulyasa. 2015. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT. Rosdakarya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nana Sudjana. 1989. <em>Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar</em>. Bandung: Sinar Baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wina Sanjaya. 2012. <em>Strategi pembelajaran Berorientasi Standar proses Pendidikan</em>. Jakarta: Kencana Prenada Media.</p>



<p class="wp-block-paragraph">http://www.salamedukasi.com/2014/06/langkah-langkah-pembelajaran-scientific.html.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PERBEDAAN UNTUK PERSATUAN</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/19/perbedaan-untuk-persatuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2026 02:53:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2377</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Joshua Kaleb Purwanto(Siswa XI-A.3 SMAK St. Albertus) Bhineka Tunggal Ika, itulah paham dari negara kita Indonesia. Hal ini bertitik tolak dari keadaan bangsa Indonesia yang memiliki &#160;banyak kemajemukan dalam setiap aspek kehidupan. Salah satu perbedaan itu adalah budaya. Banyaknya pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke juga menjadi pendukung nyata bahwa Negara kita ini...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Joshua Kaleb Purwanto(Siswa XI-A.3 SMAK St. Albertus)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img decoding="async" width="1000" height="665" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Perbedaan-_Kaleb.webp" alt="" class="wp-image-2378" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Perbedaan-_Kaleb.webp 1000w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Perbedaan-_Kaleb-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Perbedaan-_Kaleb-768x511.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Perbedaan-_Kaleb-600x400.webp 600w" sizes="(max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Bhineka Tunggal Ika, itulah paham dari negara kita Indonesia. Hal ini bertitik tolak dari keadaan bangsa Indonesia yang memiliki &nbsp;banyak kemajemukan dalam setiap aspek kehidupan. Salah satu perbedaan itu adalah budaya. Banyaknya pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke juga menjadi pendukung nyata bahwa Negara kita ini majemuk. Maka semboyan inilah yang mempersatukan kita semua. Meski berbeda, tetapi tetaplah satu bangsa dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Seperti halnya bangsa Indonesia, keberagaman budaya tampak dari siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Katolik Santo Albertus atau biasa dipanggil dengan nama “SMA Dempo”. Sekolah Dempo bisa disebut sebagai Indonesia kecil, karena keberagaman budaya yang dimilikinya. Secara khusus, demikianlah keadaan kelas kami, kelas XI IPA 3.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberagaman kelas bahkan sekolah berusaha kami ungkapkan dalam bentuk mural di dinding lapangan sekolah. Pada diinding itu kami lukiskan keberagaman budaya dalam bentuk-bentuk figure tertentu: Leak Bali, pemain Kendang, Kuda Lumping, Candi, dan Tugu Malang yang berdiri dengan tegaknya menjulang ke langit. Semua figure itu dipersatukan oleh bendera merah putih yang gagah berkibar. Lukisan ini menjelaskan bahwa budaya yang dimiliki bangsa Indonesia sangatlah banyak. Dari ujung barat Indonesia sampai dengan ujung timur berkumpulah kami semua di sekolah Dempo untuk merajut persaudaraan guna menggapai masa depan yang gemilang. Di sinilah letak keindahan dari perbedaan yang kami miliki satu sama lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbedaan juga sering kami alami dalam berpendapat. Salah satunya adalah saat persiapan &nbsp;lomba paduan suara untuk memeriahkan acara natal sekolah. Saat itu kami tampil sebagai juara dua. Predtasi itu ternyata harus kami raih dengan proses &nbsp;perdebatan dalam memilih lagu budaya yang akan dinyanyikan. Asal daerah yang bermacam-macam memunculkan masalah pelik. Kami bingung memutuskan lagu mana yang harus ditampilkan. Teman yang berasal dari Pulau Jawa mengusulkan lagu yang bernuansakan javanisme. Sedangkan teman yang berasal dari Pulau Papua mengusulkan lagu yang bernuansakan semangat yang selalu membara dalam setiap ketukan nada yang dimainkan. Ini jelas pandangan yang sangat berbeda dari sisi tempo dan pembawaan sifat lagu. Akan tetapi, kami dapat memutuskan perbedaan itu dengan saling mengerti dan menerima satu sama lain. Kemenangan itu juga kami raih dengan saling mempelajari budaya yang kami miliki sebagai bangsa yang bersatu. Pengalaman sederhana ini memunculkan kesadaran dalam diri kami bahwa perbedaan tidak selamanya membawa suatu kehancuran. Perbedaan bisa membawa keindahan dalam hidup bersosial. Dari sana ada nilai saling menghargai dan membantu satu sama lain. Kami juga disadarkan pun dimotivasi untuk selalu menjaga hubungan antar &nbsp;sesama yang berbeda ini.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>SANTA TERESIA DARI AVILA,SANG PEMBARU</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/11/santa-teresia-dari-avilasang-pembaru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 01:16:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2270</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm. Santa Teresa dari Avila, juga dipanggil Santa Teresa dari Yesus, lahir dengan nama Teresa Sanchez de Cepeda y Ahumada, Spanyol 28 Maret 1515. Dia meninggal di Salamanca, Sponyol pada tanggal 4 Oktober 1582 pada usia 67 tahun. Teresa termasuk seorang biarawati Karmelites Kontemplatif, seorang mistik, seorang pembaru dalam...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="439" height="655" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-4.png" alt="" class="wp-image-2271" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-4.png 439w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/image-4-201x300.png 201w" sizes="auto, (max-width: 439px) 100vw, 439px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Santa Teresa dari Avila, juga dipanggil Santa Teresa dari Yesus, lahir dengan nama Teresa Sanchez de Cepeda y Ahumada, Spanyol 28 Maret 1515. Dia meninggal di Salamanca, Sponyol pada tanggal 4 Oktober 1582 pada usia 67 tahun. Teresa termasuk seorang biarawati Karmelites Kontemplatif, seorang mistik, seorang pembaru dalam kehidupan Karmel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama hidupnya, dia terus berusaha menghayati tata hidup monastic Karmel yang lebih keras – hidup kontemplatif yang keras, seperti idealnya hidup para Karmelit awali di Gunung Karmel. Selain mendirikan 16 biara baru di Spanyol, dia juga menulis beberapa buku rohani yang terkenal hingga sekarang, dan buku-buku ini sangat membantu orang di dalam mengembangkan hidup rohaninya, antara lain: “Pendirian Biara-Biara Pertama”, “Puri Batin”, “Jalan Kesempurnaan”,&nbsp; dan “Hidup”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa peristiwa penting setelah kematian Teresa, antara lain: 24 April 1614 – Paus Paulus VI menyatakan Teresa sebagai beata.; 16 November 1617 &#8211;&nbsp; Pemerintahan Spanyol menyatakan bahwa Teresa sebagai pelindung Spanyol. Pada 12 Maret 1622 Paus Gregorius XV menyatakan Teresa sebagai orang kudus, Santa. Pada tanggal 18 September 1965, Paus Paulus VI menyatakan Teresa sebagai pelindung penulis Spanyol. Paus yang sama juga menyatakan Teresa sebagai Doktor Gereja pada tanggal 27 September 1970 – yang merupakan penghormatan pertama Gereja diberikan kepada seorang perempuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selanjutnya, saya akan mengajak pembaca untuk melihat beberapa hal penting yang diajarkan oleh Teresa dalam hubungan dengan pendidikan – khususnya pendidikan karakter yang menjadi tema majalah kita. Dalam bukunya “Pendirian Biara-Biara Pertama”, Teresa selalu mengajak semua orang untuk <strong>sesering mungkin menerima Komuni Kudus</strong>. Kita tahu bahwa pada waktu itu, penerimaan komuni kudus tidak sesering seperti sekarang. Teresa memandang bahwa dengan menerima Komuni Kudus, hati dan pikiran orang disucikan oleh Yesus, sehingga tidak berbicara kotor, tidak gosipin orang, tidak membenci orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain menerima Komuni Kudus supaya pikiran dan hati disucikan, umat beriman diharapkan untuk senantiasa melakukan <strong>pantang dan puasa</strong>. Pantang dan puasa setiap hari Jumat dalam Minggu. Teresa melihat bahwa pantang dan puasa bukan soal tidak makan ini dan itu, tetapi lebih-lebih hal-hal yang buruk yang keluar dari mulut seseorang. Pantang marah, pantang berkata-kata kasar. Puasa untuk tidak menaruh dendam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentang <strong>kerendahan hati</strong>. Teresa menandaskan bahwa seorang pemimpin itu dipercaya oleh saudara-saudaranya sendiri untuk memimpin mereka. Dia itu pengganti Yesus. Karena pengganti Yesus, maka dia harus belajar memimpin seperti Yesus memimpin 12 rasul-Nya. Seorang pemimpin harus bersikap rendah hati, mau mencuci kaki saudara-saudaranya, mau melayani tanpa minta dihormati, mau mendengarkan, mau membimbing, mau dicaci maki, dikianati, disakiti bahkan dijual oleh saudaranya sendiri. Bukan hanya pemimpin, juga saudara-saudara yang dipimpin, hendaknya tidak boleh mencela dan membenci satu sama lain karena melakukan kesalahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak kecil, Teresa terbiasa memberikan sedekah kepada orang miskin. Untuk itu dia mengatakan bahwa <strong>belas kasih</strong> tumbuh di dalam hati bukan hanya karena doa atau teori buku, tetapi juga lebih-lebih melalui pengalaman nyata hidup sehari-hari. Teresa meminta kepada kita untuk menaruh belas kasih kepada orang yang miskin, lapar dan haus; juga belas kasih terhadap mereka yang tengah berada dalam dosa, seperti yang dikatakannya: “kita jangan melupakan mereka, melainkan mendoakan mereka yang berada dalam dosa berat sebagai bukti belas kasih yang besar.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teresa memiliki gambaran yang indah dalam hidup bersaudara, yakni melalui <strong><em>correction fraternal</em> – koreksi persaudaraan</strong>. Bagi Teresa, memperbaiki hidup sesama saudara itu sangatlah penting dalam hidup bersama yang berdasarkan cinta kasih Kristus kepada kita. Teresa melihat bahwa hidup setiap orang akan menjadi sempurna bersama orang lain, karena “jika ada orang melihat yang lain menyeleweng dari jalan yang benar atau melakukan beberapa kesalahan, maka ia langsung menegur secara persaudaraan agar berpaling pada jalan yang benar”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teresa melihat bahwa saling mengoreksi tidak hanya dilaksanakan antara atasan – bawahan atau bawahan &#8211; atasan tetapi juga antara bawahan dengan bawahan. Tujuannya tak lain untuk memperbaiki, bukan untuk menghakimi. Semuanya harus dilakukan atas dasar persaudaraan dan kasih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana gagasan Teresa mengenai <strong>kerja</strong>? Teresa mengatakan bahwa mereka yang sibuk bekerja dan mengarahkan hati kepada salib Kristus, akan memperoleh kemajuan rohani dengan cepat. Ia menambahkan bahwa cinta mengubah karya menjadi istirahat. Ini berarti bahwa seseorang yang bekerja dan menaruh cinta pada pekerjaan, akan memperoleh anugerah dari Tuhan. Teresa mengajarkan kepada para susternya untuk bekerja tanpa batas waktu. “Janganlah para suster diberi pekerjaan yang harus diselesaikan dalam batas waktu tertentu. Mereka masing-masing harus berusaha bekerja sehingga suster lain memperoleh makanan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah terakhir mengenai <strong>uang</strong>. Teresa mempunyai pengalaman berharga yang dapat bermanfaat bagi kita soal sikap terhadap uang. Ia mengakui bahwa ia pernah sangat menginginkan dan menghargai uang. Akan tetapi dia menulis, “jiwa merasa geli sendiri tentang masa ketika menghargai uang dan merindukannya.” Sikap kita terhadap uang memperlihatkan bagaimana iman kita yang sesungguhnya. Kita memang membutuhkan uang, tetapi hal itu jangan pernah membawa kita pada rasa kuatir sekaligus merindukannya. Karena bila setiap waktu kita merindukan uang, maka jangan sampai kita jatuh dalam sikap manipulasi dan korupsi. Marilah kita mencoba menghayati apa yang diajarkan Santa Teresa ini. Semoga hidup kita dibarui menjadi manusia baru yang hidup dengan pikiran baru, hati baru, dan perasaan yang baru. Semoga Tuhan membimbing dan menuntun kita seperti kata Teresa, “Jangan kamu gelisah, jangan kamu gentar, semua akan berlalu; Allah tidak berubah. Dengan kesabaran, semua dapat diraih, orang yang memiliki Allah tiada kekurangan: Allah saja cukup!”</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Live in: Sekolah Kehidupan</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/05/live-in-sekolah-kehidupan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 02:11:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2010</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Bapak Yulius Lilik Andoko (Guru Sosiologi) “Jujur, saat menulis refleksi ini saya bahagia mengingat semua pengalaman yang saya dapat dari tempat live-in. Saya mulai merindukan keluarga angkat saya, merindukan masyarakat Wonorejo, dan merindukan semua yang sempat terjadi di Desa Wonorejo selama saya live-in. Live-in ini mengajarkan saya bagaimana saya harus banyak-banyak bersyukur dengan apa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Bapak Yulius Lilik Andoko (Guru Sosiologi)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="685" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-1024x685.webp" alt="" class="wp-image-2027" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-1024x685.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-300x200.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-768x514.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-1536x1028.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-2048x1371.webp 2048w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/02/livedempo-600x400.webp 600w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><em>“Jujur, saat menulis refleksi ini saya bahagia mengingat semua pengalaman yang saya dapat dari tempat live-in. Saya mulai merindukan keluarga angkat saya, merindukan masyarakat Wonorejo, dan merindukan semua yang sempat terjadi di Desa Wonorejo selama saya live-in. Live-in ini mengajarkan saya bagaimana saya harus banyak-banyak bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan, tidak boleh bermalas-malasan, bekerja keras, dan belajar tentang bagaimana pentingnya bersosialisasi.”</em><em> </em><em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph">(dikutip dari refleksi <em>live in</em> Arin Anjas, Peserta Didik SMAK St. Albertus Malang kelas &nbsp;XI-S.3/3 Tahun Ajaran 2015/2016)</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sudah lama <em>live-in</em> menjadi salah satu program pendidikan karakter di SMA Katolik St. Albertus (SMA Dempo) Malang. Bahkan menurut keterangan beberapa guru senior, SMA Dempo adalah sekolah pelopor pertama <em>live in </em>di Kota Malang. Dalam kegiatan ini, para siswa tinggal selama 4 hari 3 malam di tengah masyarakat desa. Tulisan ini mencoba mengkaji kegiatan ini secara filosofis-sosiologis serta memberikan saran/masukan demi semakin baiknya kegiatan ini selanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Membentuk Manusia yang Integral</strong></p>



<pre class="wp-block-preformatted">Plato, seorang filsuf Yunani kuno, mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang integral (utuh). Manusia yang utuh adalah manusia yang mampu menghidupi <strong><em>αρετή</em></strong><em> </em>(areti: keutamaan) dan <strong>ηθική</strong> (ithiki: moralitas). <em>Live in</em> dapat menjadi sarana bagi para siswa untuk mencari dan menemukan keutamaan-keutamaan hidup. Keutamaan itu bisa berupa kasih, keadilan, persaudaraan, kelemahlembutan, syukur, kesederhanaan, kerendahanhati, dan lain sebagainya. </pre>



<p class="wp-block-paragraph">Refleksi menjadi langkah pertama untuk menginternalisasikan keutamaan itu dalam kehidupan mereka. Mengapa refleksi? Dengan tegas Socrates mengatakan, hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani. Berefleksi adalah melangkah mundur untuk melihat peristiwa/pengalaman yang pernah dialami. Bukankah kita akan melompat lebih jauh kalau kita mundur ke belakang mengambil <em>ancang-ancang</em>? Atau terinspirasi puisi Kahlil Gibran “Anakmu Bukan Milikmu” yang menyebut anak-anak adalah anak panah, refleksi ibaratnya menarik mundur tali busur agar anak panah (dalam hal ini peserta didik) dapat melesat maju ke arah tujuan.</p>



<pre class="wp-block-preformatted">Aksi <em>(act)</em> menjadi langkah berikutnya dalam menginternalisasikan keutamaan hidup. Ini adalah langkah penting yang justru sering dilupakan. Mungkin pernah muncul pertanyaan: mengapa retret, <em>outbond</em> atau <em>live in</em> yang menghabiskan ratusan juta itu rasanya tidak mengubah apa-apa? Hal ini karena kegiatan-kegiatan tersebut, mengutip Jean Paul Sartre, hanya sampai pada tataran kesadaran reflektif, dan belum menjadi <em>habitus</em>. Barangkali dalam mengolah pengalaman <em>live in </em>kita bisa mengadopsi gagasan Cardinal Joseph Cardijn (1882-1967) yang dalam analisa sosialnya menggunakan metode <em>see – judge – act. </em></pre>



<pre class="wp-block-preformatted">Dalam <em>act</em> terjadi praktik penghayatan keutamaan hidup. Keutamaan tidak berhenti pada renungan indah, tetapi pada aksi nyata. Di sinilah seseorang menghidupi dan memperjuangkan keutamaan. Aksiyang dilakukan terus menerus akan melahirkan <em>habitus. </em>Paulo Friere mengatakan, pendidikan sebagai sebuah proses dialektika: aksi – refleksi – aksi. Dialektika ini terjadi berulang-ulang sehingga menghasilkan siklus dialektika. </pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pendidikan Multikultural</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultur, <em>live in</em> dapat menjadi sarana pendidikan karakter. Di tengah berbagai gejala intoleransi yang masih terjadi akhir-akhir ini, para siswa diajak untuk menyadari realitas masyarakat Indonesia yang secara <em>an sich</em> adalah masyarakat multikultur. Pakar pendidikan, Paul Suparno, SJ mengatakan, melalui <em>live in</em> siswa bisa diajarkan menghargai perbedaan melalui tinggal bersama dengan komunitas berbeda, dan kemudian merefleksikannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjumpaan dengan masyarakat akar rumput dapat menjadi sarana bagi para siswa bagaimana hidup dalam harmoni. Perbedaan yang ada bukan menjadi halangan untuk menjalin persaudaraan. Umumnya sifat hubungan masyarakat pedesaan berbentuk komunitas paguyuban (<em>gemeinshacft)</em>. Sosiolog Ferdinand Tonnis menyatakan, salah satu ciri masyarakat desa ialah adanya ikatan &nbsp;kebersamaan &nbsp;(kolektif) &nbsp;yang &nbsp;sangat &nbsp;kuat. Semangat kesetiakawanan dan gotong royong menjadi dasar ikatan kebersamaan itu. Di sinilah para peserta <em>live in</em> dapat belajar bagaimana membangun persaudaraan sejati di tengah masyarakat multikultur.</p>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Beberapa Masukan</strong></pre>



<pre class="wp-block-preformatted">Pengalaman terlibat sebagai tim Pastoral Care, panitia dan pendamping <em>live in</em> selama lima tahun membuahkan beberapa evaluasi dan masukan untuk kegiatan ini.</pre>



<pre class="wp-block-preformatted">&nbsp;</pre>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama, </em>perlu ada <em>act</em>/karya nyata sebagai <em>follow up </em>dari buah-buah refleksi. <em>Live in </em>yang dilakukan di SMA Dempo menurut Penulis sudah terencana dengan baik. Kegiatan ini dimulai dengan 3 kali pembekalan, meliputi pembekalan spiritualitas, pembekalan tentang sosiologi pedesaan, dan pembekalan etiket. Setiap peserta masing-masing diberi buku harian yang digunakan untuk mencatat peristiwa/pengalaman selama mereka <em>live in. </em>Di akhir kegiatan <em>live in</em> setiap anak diwajibkan untuk menulis refleksi pengalaman dan dikumpulkan kepada Pastoral Care.</p>



<pre class="wp-block-preformatted">Menurut Penulis, buah-buah refleksi itu perlu diwujudnyatakan dalam karya nyata. Karya nyata itu, misalnya, dapat berupa pengabdian sosial kepada masyarakat yang ditinggali. Bersama pendamping, para siswa dapat diajak untuk berefleksi dan menemukan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat tersebut. Sebuah karya nyata pernah dilakukan ketika para siswa <em>live in </em>di Paroki Purworejo dan Lodalem, Malang Selatan pada tahun 2011. Mereka membagikan dan menanam 1000 pohon jambu merah. Setelah para siswa kembali, sekolah pun masih memberikan sumbangan kepada sebuah Taman Kanak-Kanak yang kondisi bangunannya sangat memprihatinkan. </pre>



<pre class="wp-block-preformatted">&nbsp;Pengabdian sosial bisa juga dilakukan dalam lingkup yang lebih luas. Misalnya, pendampingan belajar untuk anak-anak jalanan, pendampingan PIA/Sekolah Minggu, pelayanan ke panti asuhan, kunjungan ke penjara, relawan pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dapat diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran tertentu, misalnya Pendidikan Agama, PPKn, atau Sosiologi. Di sini proses dialektika aksi – refleksi – aksi dapat diimplementasikan.</pre>



<pre class="wp-block-preformatted">Kedua, <em>live in </em>dapat diberi nilai tambah sebagai sarana pendidikan multikultural. Selama ini, pintu masuk untuk mengadakan <em>live in</em> adalah melalui pendekatan Gereja. Kelebihan dari pendekatan ini adalah lebih praktis dan mudah dalam membagi dan menempatkan para siswa. Selain itu, pengawasan/mekanisme kontrol dapat dilakukan dengan mudah. Namun, kalau <em>live in </em>ingin diberi nilai tambah sebagai sarana pendidikan multikultural, maka para siswa yang selama ini tinggal di keluarga-keluarga Katolik atau Kristen, dapat juga tinggal di keluarga-keluarga non-Katolik/Kristen. Maka, pendekatan Gereja yang selama ini dilakukan dapat ditambah dengan pendekatan Pemerintahan.</pre>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai sebuah sekolah kehidupan, <em>live in </em>dapat menjadi harapan di tengah-tengah usaha menanamkan karakter pada peserta didik. Dukungan dari Kepala Sekolah dan para guru selama ini menunjukkan komitmen SMA Dempo sebagai sekolah yang unggul dalam penanaman karakter. Semoga terus berlanjut!</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Lowongan Guru</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/02/lowongan-guru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 05:53:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2392</guid>

					<description><![CDATA[Mulai tanggal 2 Juni 2026]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Mulai tanggal 2 Juni 2026</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="600" height="849" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/06/loker-edit3.jpg" alt="" class="wp-image-2395" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/06/loker-edit3.jpg 600w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/06/loker-edit3-212x300.jpg 212w" sizes="auto, (max-width: 600px) 100vw, 600px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Berani Beda dalam Memberi Nilai</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/02/berani-beda-dalam-memberi-nilai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 01:36:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2351</guid>

					<description><![CDATA[Rm. Herman Joseph Denteneer, O. Carm Oleh; Br. Antonius Mungsi, O.Carm. Keberadaan Yayasan Sancta Maria Malang beserta unit-unitnya yang berkembang baik hingga saat ini tidak terlepas dari rahmat Tuhan yang terus hadir dan berkarya melalui tokoh-tokoh pendidikan yang terlibat di dalamnya. Ketika kita mau menengok ke belakang, membuka-buka arsip, dan mengorek informasi dari saksi sejarah,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rm. Herman Joseph Denteneer, O. Carm</strong></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="736" height="1024" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-736x1024.webp" alt="" class="wp-image-2352" style="aspect-ratio:0.7185244587008821;width:402px;height:auto" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-736x1024.webp 736w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-216x300.webp 216w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-768x1069.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-1104x1536.webp 1104w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-1472x2048.webp 1472w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Herman-Joseph-Denteneer.-O.-Carm-1949-1954-copy-scaled.webp 1839w" sizes="auto, (max-width: 736px) 100vw, 736px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Oleh; Br. Antonius Mungsi, O.Carm.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberadaan Yayasan Sancta Maria Malang beserta unit-unitnya yang berkembang baik hingga saat ini tidak terlepas dari rahmat Tuhan yang terus hadir dan berkarya melalui tokoh-tokoh pendidikan yang terlibat di dalamnya. Ketika kita mau menengok ke belakang, membuka-buka arsip, dan mengorek informasi dari saksi sejarah, kita akan menemukan banyak mutiara di sana. Dari sana kita&nbsp; banyak belajar bagaimana menjadi pejuang pendidikan yang baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita akan mengenal Rm. H.J. Denteneer, O.Carm, seorang imam yang lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru, kepala sekolah, dosen, perfek para frater, dan ketua Yayasan Sancta Maria.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antara tokoh pendidik awal SMAK St. Albertus Malang, tersebutlah &nbsp;Rm. Herman Joseph Denteneer, O.Carm.&nbsp; Beliau tercatat sebagai kepala SMAK St. Albertus yang ke III. Ia juga tercatat sebagai ketua Yayasan Sancta Maria Malang periode 1949 – 1954. Tentu ini ada kaitannya dengan jabatan sebagai superior misi yang saat itu merangkap sebagai ketua yayasan. Jabatannya sebagai superior regularis menjadikan karmelit yang pernah menjadi superior misi Belanda (1923 – 1927) ini&nbsp; memiliki peran besar dalam pembangunan awal pun pembangunan kembali gedung SMAK St. Albertus yang dibumihanguskan oleh tentara republic ini. Jabatan superior regularis Ordo karmel Indonesia diembannya menggantikan Rm. Henkens (1933-1940) hingga tahun 1951.&nbsp; Lebih dari itu, ia juga pernah menjabat sebagai kepala SMAK St. Albertus tahun 1940 – 1941. Karena alasan itu Flos Carmeli menempatkan sosok ini sebagai tokoh yang layak dikenang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rm. Denteneer lahir di Linne, Belanda 15 Agustus 1898. Sebelum mengelola SMAK Dempo, kemenakan dari Rm. Servatius Denteneer ini &nbsp;telah lama berkecimpung di dunia pendidikan. Ia pernah tinggal serumah sebagai&nbsp; asisten Rm. Titus Brandsma , O.Carm di Nijmegen saat masih sebagai mahasiswa. Rm. Titus sendiri dikenal sebagai karmelit yang sangat perhatian dengan dunia pendidikan. Rm. Denteneer juga pernah menjadi perfek para frater di Merkelbeek. Salah seorang muridnya menuturkan bahwa ahli&nbsp; bahasa Perancis dan ilmu ukur ini&nbsp; adalah model pemimpin yang tenang, punya visi jelas, ramah tetapi tidak ramai, pun mudah bergaul. Sedangkan seorang mantan mahasiswanya menuturkan bahwa kebijaksaan karmelit ini tampak pada penggunaan ukuran berbeda dalam memberi penilaian terhadap pekerjaan mahasiswanya. Ketika marak paham bahwa seorang murid tidak berhak mendapat nilai sama dengan dosennya, justru Rm. Denteneer bersikap beda. Beliau tidak segan-segan memberi nilai 4 (A) yang adalah nilai tertinggi yang dicapai oleh seorang mahasiswa. Ketika mahasiswa ini bertanya mengapa beliau berbuat demikian dijawabnya bahwa nilai ini adalah wujud hasil tertinggi penguasaan paham yang memang diharapkan oleh dosen. Sama-sama bernilai 4 tetapi maknanya berbeda. Sebagai dosen dan guru ia mengajar dengan tenang, menarik, jelas, dan juga tegas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Rm. Denteneer memimpin SMAK St. Albertus, sekolah ini masih sangat muda. Baru lima tahun berdiri. Sebagaimana pernah dimuat dalam media ini, saat itu sekolah ini bernama <em>Rooms Katholiek Algemene Middelbare School </em>(RKAMS). Sebagai lembaga pendidikan yang masih sangat muda tentu banyak hal yang harus dilengkapi dan benahi. Sejauh pengembangan informasi tampaknya beliau termasuk tokoh pembangun gedung baru di Jl. Talang no.1. Mungkin ia yang memboyong RKAMS dari lokasi lama Jl. Rampal Koelon ke Jl. Talang no.1. Sesuai dengan keahliannya, sembari menjadi kepala SMAK St. Albertus, Rm. Denteneer mengajar bahasa Perancis. Ketika proses pelengkapan dan pembenahan masih berlangsung, tiba-tiba usahanya dikacaukan oleh kedatangan tentara Jepang. Tgl 7 Maret 1942 Jepang menduduki Malang. Bala Nipon ini langsung merebut bangunan sekolah untuk dijadikan markas. Situasi genting. Beliau diinternir. Para pendidik lainpun juga diinternir. Maka “tamatlah” riwayat RKAMS. Bukti lain bahwa beliau pernah diinternir adalah kisah, “Seuntai Kalung Sang Interniran.”&nbsp; Pada saat itu, Rm. Denteneer diinternir bersama dengan para frater Yesuit. Sebagaimana diketahui, penjajah Jepang jauh lebih brutal dan kejam daripada penjajahan Belanda. Karena itulah banyak tawanan termasuk para frater Yesuit kelaparan. Melihat hal ini beliau&nbsp; menjual kalungnya untuk mendapatkan uang guna memberi makan para frater Yesuit yang berada dalam satu&nbsp; kam interniran dengannya. Buku kronik Ordo Karmel Indonesia mencatat bahwa setelah mengalami kesulitan di kamp internir Jepang dan kengerian perjuangan kemerdekaan Indonesia, beliau dengan sepenuh hati bekerja untuk provinsi Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi sebagian orang yang mengenalnya, Rm. H.J. Denteneer dikenal sebagai orang yang jaim (jaga <em>image</em>). Ia enggan berbahasa Indonesia. Seorang mantan muridnya menduga bahwa hal ini disebabkan oleh rasa takut keliru berbahasa Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber:</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aukes, H.W.F. 1985. Titus Bransdma. Ultrech/Antwerpen: Het Spectrum. Hasil wawancara dengan Rm. Cyprianus Verbeek, O.Carm.</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>BERANI ASAL BENAR</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/02/berani-asal-benar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 01:36:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2354</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Alwerino Sitompul (Ketua OSIS SMAK St. Albertus KlsXI.A-4/02) Beato Titus Brandsma dilahirkan di Friesland, Belanda, pada tanggal 23 Februari 1881. Ia merupakan Karmelit yang menjadi martir di abad ke-20. Mengapa ia menjadi martir? Karena keberaniannya menentang Nazi. Pada waktu itu, Nazi memerintahkan agar biarawan-biarawati membatasi pengajaran agama. Akan tetapi, Titus Brandsma menolak mentah-mentah ultimatum...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Oleh: Alwerino Sitompul (Ketua OSIS SMAK St. Albertus KlsXI.A-4/02)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="303" height="469" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Titus-Brandsma_Alweino-1.webp" alt="" class="wp-image-2356" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Titus-Brandsma_Alweino-1.webp 303w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Titus-Brandsma_Alweino-1-194x300.webp 194w" sizes="auto, (max-width: 303px) 100vw, 303px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Beato Titus Brandsma dilahirkan di Friesland, Belanda, pada tanggal 23 Februari 1881. Ia merupakan Karmelit yang menjadi martir di abad ke-20. Mengapa ia menjadi martir? Karena keberaniannya menentang Nazi. Pada waktu itu, Nazi memerintahkan agar biarawan-biarawati membatasi pengajaran agama. Akan tetapi, Titus Brandsma menolak mentah-mentah ultimatum tersebut. Pikirnya “Mengapa saya harus membatasi pengajaran agamaku selagi ini bukan hal yang menyesatkan”. Malahan dia terus melawan propaganda Nazi tersebut dengan semakin giat menyemangati biarawan-biarawati lainnya dan menyebarkan majalah-majalah Katolik. Hal tersebutlah yang membuat Titus Brandsma menjadi <em>black list</em> Nazi, dan ia pun meninggal dengan cara disuntik mati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Berani asal benar. Tentu saja sangat sulit dilakukan terutama oleh masyarakat zaman sekarang. Orang-orang zaman sekarang cenderung takut mengatakan kebenaran karena takut dimarahi, dibenci, atau dikucilkan. Sikap-sikap seperti itulah yang membuat kejujuran di zaman akhir ini semakin sulit ditemukan. Jika kita memecahkan gelas di rumah, apa salahnya kita mengatakan yang sebenarnya kalau kita yang memecahkannya. Tidak usah memikirkan akan dimarahi, akan dipukul, dan lainnya. Yang penting kita telah berkata yang jujur. Harus berani berkata jujur <em>toh </em>itu benar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Apa kita bisa seperti Beato Titus Brandsma ? Tentu saja, berani untuk bertindak dan berkata hal yang sebenarnya merupakan keharusan yang dimiliki setiap orang. Tetapi untuk menjaga keharusannya itu sangatlah susah. Beato Titus Brandsma merupakan orang yang suka berdoa, dia berdoa agar bisa tetap yakin akan kebenaran yang dipegang olehnya. Dia berdoa senantiasa agar Roh Kudus memberikan dia keberanian dalam melakukan kebenaran. Jadi kita bisa mencoba untuk bisa berani untuk bertindak dan berkata hal yang sebenarnya dengan berpegang teguh pada iman kita dan memohon pertolongan Tuhan lewat doa-doa kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Ngomong memang mudah, prakteknya itu <em>loh </em>susah. Tapi saya mau mengatakan kepada Anda semua bahwa Tuhan Yesus akan membela hamba-Nya yang jujur. Suatu ketika saya pernah berbuat kesalahan, saya tidak membereskan tempat tidur. Namun yang saya katakan kepada orang tua kalau awalnya sudah dibereskan dan adikku yang memberantaki lagi. Tapi orang tua ku malah marah ke saya karena tahu kalau saya telah berbohong. Tapi suatu kali saya pernah menyontek dan saya jujur ke orang tua ku dan orang tua ku tidak marah, dan hanya menasehati saya. Coba jika dipikirkan lebih dalam, mana yang lebih besar kesalahannya, tidak membereskan tempat tidur atau menyontek ?. Tetapi, masalahnya bukan itu, masalahnya adalah apakah kita mengatakan hal yang benar atau tidak. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Oleh karena itu, hendaklah kita menjadi pribadi yang mau berkata ya jika ya, berkata tidak jika tidak. Berani berkata sebenarnya. Tidak perlu takut, ingat Tuhan akan membela hamba-Nya yang jujur. Ayo mulailah kehidupan <em>Berani Asal Benar</em> bukan <em>Berani Asal Salah</em> di dalam kehidupan kita. Awalnya memang sulit, mintalah pertolongan dari Tuhan, berdoalah pada Tuhan. Hendaklah kita bisa seperti Beato Titus Brandsma, tetap berani melakukan segala hal selagi itu benar sampai akhir hayat kita. Amin.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Debat Korupsi di KPK Jakarta</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/06/02/debat-korupsi-di-kpk-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2026 01:35:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2282</guid>

					<description><![CDATA[oleh : Ariel Tantono (murid kelas XII.S1 SMAK St. Paulus Jember) Perlu berbagai cara untuk menanamkan budaya antikorupsi di kalangan pelajar. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan melibatkan murid pada berbagai kegiatan terkait upaya memerangi korupsi di Indonesia. Tujuannya jelas, memupuk rasa peduli dalam diri murid untuk memerangi korupsi. Suatu kehormatan bagi siswa...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">oleh : Ariel Tantono (murid kelas XII.S1 SMAK St. Paulus Jember)</p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="595" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Korupsi_Ariel-1024x595.webp" alt="" class="wp-image-2283" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Korupsi_Ariel-1024x595.webp 1024w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Korupsi_Ariel-300x174.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Korupsi_Ariel-768x447.webp 768w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Korupsi_Ariel-1536x893.webp 1536w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Korupsi_Ariel.webp 1651w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Perlu berbagai cara untuk menanamkan budaya antikorupsi di kalangan pelajar. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan melibatkan murid pada berbagai kegiatan terkait upaya memerangi korupsi di Indonesia. Tujuannya jelas, memupuk rasa peduli dalam diri murid untuk memerangi korupsi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Suatu kehormatan bagi siswa SMAK Santo Paulus Jember dapat mengikuti ajanglomba debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta. Lomba debat tingkat nasional tersebut diikuti oleh hampir seluruh pelajar SMA dari berbagai penjuru tanah air.Sudah menjadi agenda tahunan bagi KPK menyelenggarakan lomba debat dengan tema antikorupsi. KPK berkeinginan generasi muda semakin menyadari tentang bahaya korupsi yang harus diperangi bersama. Selain itu, KPK juga berharap generasi muda semakin memiliki karakter yang kritis, jujur, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; SMAK Santo Paulus Jember mengirimkan satu tim yang beranggotakan tiga orang yakni, Ariel Tantono kelas XII IPS1, Carmelie Clara Martin Kelas XI IPA 3, dan Margareta Yulinda Kelas XI IPS 1. Pelaksanaan lomba diadakan mulai tanggal 4 – 7 September 2017 bertempat di Gedung KPK C-1, Jakarta Selatan. Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang dengan mengirimkan esai kami lolos ke Jakarta untuk mengikuti debat bersama 15 tim dari sekolah yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kami, pertama kali memasuki gedung KPK merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan sepanjang sejarah hidup. Beberapa orang besar yang kami temui selama di KPK mampu memberikan kesan yang cukup mendalam. Pengalaman yang kami rasakan seolah merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya tidak pernah menyangka, esai yang kami kirimkan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti lomba akan memikat hati para juri yang membacanya. Hasilnya, kami menjadi salah satu tim yang berhak mengikuti perlombaan di Jakarta. Tim ini menjadi satu-satunya tim yang mewakili Kota Jember dalam lomba debat KPK. Rasa bangga yang melekat pada diri kami, dapat membawa nama sekolah untuk maju sampai ke tingkat nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Suatu tantangan tersendiri bagi kami sebagai siswa SMAK Santo Paulus yang berdomisili di Jember untuk berkompetisi dengan pelajarSMA lain se-Indonesia yang didominasi pelajar SMA dari DKI Jakarta. Selain pengalaman berharga yang kami dapatkan, hubungan dan relasi juga kami bangun saat bertanding dengan siswa dari SMA lain. Di dalam ruangan debat mungkin kami beradu argumen dan berselisih pendapat, tapi di luar kami berteman dan bercengkerama bersama. Akhirnya, kami mendapat gelar <em>Top 10</em> <em>Candidates Finalist </em>yang dapat mewakili Jawa Timur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketertarikan dalam bidang politik ternyata mampu mengantarkan saya pada titik ini. Semua ini bermula dari kegemaran saya membaca buku dan mendengarkan berita. Bermula dari hal yang kecil dan ditekuni terus menerus, lama kelamaan akan membentuk karakter yang kuat dalam diri kita. Kuncinya adalah selalu fokus kepada apa yang kita kerjakan, Karena yang bisa menghambat perkembangan dalam diri kita satu-satunya yaitu diri kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dalam perlombaan yang saya ikuti ini. Entah itu ketidaktahuan saya ataupun kesalahan yang saya perbuat. Kekurangan yang saya rasakan pada saat perlombaan menjadikan tempaan bagi saya, guna terbentuknya kepribadian yang rendah hati dan mau bertanggung jawab. Saya sadar bahwa selama ini saya terkungkung dalam lingkungan saya sendiri, tapi sebenarnya masih banyak yang ada di luar sepengetahuan kita. Saya selalu percaya peribahasa bahwa di atas langit masih ada langit. &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Keberhasilan yang kami raih, tidak lepas dari dukungan sekolah dan guru. Peran sekolah sebagai agen penanaman karakter yang paling utama. Penanaman Pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah dapat membawa kami sampai pada pengalaman berharga. Kedisiplinan yang diterapkan pada sekolah berbuah keberhasilan yang dapat kami nikmati pada kemudian hari. Bakat yang dimiliki murid tidak dibiarkan terpendam dan terlupakan. Kami bangga sebagai pelajar dan generasi muda mampu memberikan warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat yang kami miliki.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Itu Pekerjaan Peradaban Cinta</title>
		<link>https://yayasansanctamaria.org/2026/05/22/pendidikan-itu-pekerjaan-peradaban-cinta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin2024]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 00:48:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://yayasansanctamaria.org/?p=2340</guid>

					<description><![CDATA[Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM (Anggota Dewan Perguruan Tinggi (DPT), Perguruan Tinggi Nasional (DPN) dan Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK) Di zaman ini kita kerap menyaksikan ironi yang sunyi seperti anak-anak datang ke sekolah setiap pagi dengan seragam rapi, tas penuh buku, dan langkah yang seolah menuju masa depan, namun tidak sungguh belajar,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM</strong> (<em>Anggota Dewan Perguruan Tinggi (DPT), Perguruan Tinggi Nasional (DPN) dan Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)</em></p>


<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="700" height="450" src="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Artikel-Rm-Damian2.webp" alt="" class="wp-image-2342" srcset="https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Artikel-Rm-Damian2.webp 700w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Artikel-Rm-Damian2-300x193.webp 300w, https://yayasansanctamaria.org/wp-content/uploads/2026/05/Artikel-Rm-Damian2-150x95.webp 150w" sizes="auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px" /></figure>
</div>


<p class="wp-block-paragraph">Di zaman ini kita kerap menyaksikan ironi yang sunyi seperti anak-anak datang ke sekolah setiap pagi dengan seragam rapi, tas penuh buku, dan langkah yang seolah menuju masa depan, namun tidak sungguh belajar, mereka hadir di ruang kelas, tetapi hati mereka tidak disentuh, pikiran mereka tidak dinyalakan, dan jiwa mereka tidak dibangunkan untuk mencintai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka bersekolah, tetapi belum tentu bertumbuh, mereka menghafal, tetapi belum tentu memahami, mereka lulus, tetapi belum tentu menjadi manusia yang bijaksana dan berbelarasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manusia&nbsp;<em>Pax</em>&nbsp;<em>et</em>&nbsp;<em>Bonum,</em>&nbsp;duta damai dan kebaikan di Planet Bumi sebagai rumah bersama. Karena itu, kita perlu kembali menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar rutinitas administratif atau perlombaan angka-angka, melainkan pekerjaan suci untuk membangun&nbsp;<em>Civilization of Love</em>, sebuah peradaban di mana setiap guru menyalakan pelita harapan, setiap sekolah menjadi taman pembelajaran, dan setiap peserta didik menemukan panggilannya sebagai manusia pembelajar sepanjang hayat yang hidup berkelimpahan, bekerja dengan cinta kasih, merawat bumi sebagai rumah bersama, serta memuliakan Tuhan dengan memulihkan martabat manusia dan seluruh ciptaan sebagai sesama saudara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bersekolah Tetapi Tidak Belajar</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena “Indonesia sekolah tetapi tidak belajar” menggambarkan paradoks pendidikan di mana angka partisipasi sekolah terus meningkat, tetapi banyak siswa dan mahasiswa belum memperoleh kompetensi dasar yang memadai untuk hidup dan bekerja dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini untuk mengkritik situasi ketika sekolah di tanah air&nbsp; lebih menekankan kehadiran, penyelesaian administrasi, dan perolehan ijazah daripada proses pembelajaran yang bermakna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, siswa dan mahasiswa secara formal berada di ruang kelas, namun tidak sungguh-sungguh mengembangkan kemampuan berpikir kritis, literasi, numerasi, kreativitas, dan karakter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjalankan fungsi transformasionalnya sebagai sarana memanusiakan manusia dan mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan abad ke-21.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data internasional memperkuat gambaran tersebut. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh OECD PISA menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun terdapat kemajuan dalam perluasan akses pendidikan, banyak siswa belum mencapai tingkat kemahiran minimum yang diperlukan untuk berpartisipasi secara efektif dalam masyarakat modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Laporan World Bank juga menyoroti masalah&nbsp;<em>“learning</em>&nbsp;<em>poverty”,</em>&nbsp;yaitu kondisi ketika anak berusia 10 tahun belum mampu membaca dan memahami teks sederhana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, tantangan utama pendidikan Indonesia bukan semata-mata memastikan anak masuk sekolah, tetapi menjamin bahwa mereka benar-benar belajar dan berkembang secara optimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mengatasi situasi “sekolah tetapi tidak belajar”, diperlukan transformasi mendasar dalam budaya pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru perlu beralih dari pelaksana teknis kurikulum,&nbsp; sekadar penyampai materi menjadi pemimpin pembelajaran&nbsp; yang menumbuhkan rasa ingin tahu, refleksi, dan keterlibatan aktif peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kurikulum perlu memberi ruang pada pembelajaran kontekstual, diferensiasi, dan penguatan karakter. Selain itu, dukungan orang tua, kepemimpinan sekolah, dan ekosistem pendidikan yang sehat sangat menentukan keberhasilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan yang sejati tidak berhenti pada kehadiran fisik di sekolah, tetapi menghasilkan perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kebijaksanaan yang memampukan peserta didik bertumbuh sebagai manusia yang utuh dan bertanggung jawab.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Rendahnya</strong>&nbsp;<strong>HCI</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Rendahnya&nbsp;<em>Human Capital Index</em>&nbsp;(HCI) Indonesia menunjukkan bahwa investasi pendidikan belum sepenuhnya menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang optimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">World Bank mengembangkan HCI untuk mengukur sejauh mana seorang anak yang lahir hari ini dapat mencapai potensi produktivitasnya ketika dewasa berdasarkan kesehatan dan pendidikan yang diterimanya. Salah satu penyebab utama rendahnya HCI adalah fenomena “bersekolah tetapi tidak belajar” (schooling without learning), yaitu situasi ketika anak-anak menghabiskan bertahun-tahun di sekolah, tetapi tidak menguasai kompetensi dasar seperti membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, lama sekolah yang tinggi tidak otomatis meningkatkan kualitas modal manusia apabila proses pembelajaran tidak efektif dan tidak menghasilkan penguasaan keterampilan yang relevan untuk kehidupan dan dunia kerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan tidak hanya terletak pada akses, tetapi terutama pada mutu pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak peserta didik hadir secara fisik di ruang kelas, namun kurang terlibat secara intelektual dan emosional dalam proses belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembelajaran yang terlalu berfokus pada hafalan, penyelesaian kurikulum, dan persiapan ujian sering kali tidak memberi ruang bagi rasa ingin tahu, kreativitas, kolaborasi, dan pengembangan karakter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk meningkatkan HCI, Indonesia perlu memusatkan perhatian pada kualitas belajar, bukan hanya pada angka partisipasi sekolah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru harus didukung agar mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, reflektif, dan kontekstual, sementara sekolah perlu membangun budaya yang mendorong disiplin, rasa ingin tahu, dan kegembiraan belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebijakan pendidikan juga harus menekankan penguatan kompetensi dasar, kesejahteraan peserta didik, serta keterampilan abad ke-21 yang mencakup kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan karakter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika setiap tahun sekolah benar-benar menghasilkan pertumbuhan kemampuan dan kematangan pribadi, maka pendidikan akan meningkatkan produktivitas, kesehatan, dan daya saing bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, HCI hanya akan meningkat apabila manusia Indonesia tidak sekadar bersekolah, tetapi sungguh-sungguh belajar dan berkembang secara utuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penyebab fenomena ini beragam, antara lain metode pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan, asesmen yang menekankan hasil ujian daripada pemahaman mendalam, ketimpangan kualitas guru, serta keterbatasan akses terhadap sumber belajar yang berkualitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, kurangnya budaya membaca di rumah dan di sekolah serta rendahnya dukungan terhadap perkembangan sosial-emosional peserta didik juga memperburuk situasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibatnya, banyak anak menyelesaikan pendidikan formal tanpa memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, berkomunikasi efektif, dan mengambil keputusan secara rasional, padahal keterampilan tersebut sangat menentukan produktivitas dan kesejahteraan di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk meningkatkan HCI, Indonesia perlu melakukan transformasi pendidikan yang berfokus pada hasil belajar nyata, terutama penguatan literasi dan numerasi sejak pendidikan dasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru harus didukung melalui pelatihan berkelanjutan, sekolah perlu membangun budaya belajar yang aktif dan menyenangkan, dan orang tua harus dilibatkan sebagai mitra pendidikan. Kebijakan seperti Kurikulum Merdeka dan asesmen diagnostik merupakan langkah penting, tetapi implementasinya harus konsisten dan berkualitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan memastikan bahwa setiap anak tidak hanya bersekolah tetapi sungguh-sungguh belajar, Indonesia dapat memperkuat modal manusia, meningkatkan produktivitas nasional, dan mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Budaya Belajar</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya belajar adalah seperangkat nilai, kebiasaan, dan praktik yang menempatkan belajar sebagai kebutuhan dasar sekaligus cara hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam budaya belajar, setiap individu yaitu peserta didik, guru, kepala sekolah, dan orang tua dengan meyakini bahwa pengetahuan, keterampilan, dan karakter berkembang melalui proses yang berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya ini ditandai oleh rasa ingin tahu, disiplin, ketekunan, refleksi, dan keterbukaan terhadap umpan balik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peter Senge menegaskan bahwa organisasi yang berhasil adalah organisasi yang terus belajar, yaitu komunitas yang secara kolektif meningkatkan kapasitasnya untuk menciptakan masa depan yang diinginkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks pendidikan dasar, budaya belajar menjadikan sekolah sebagai komunitas yang menumbuhkan kegembiraan belajar dan pencarian makna, bukan sekadar tempat menyelesaikan kurikulum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tingkat peserta didik, budaya belajar tercermin dalam kebiasaan membaca, bertanya, berdiskusi, mencoba, dan memperbaiki kesalahan. Anak-anak didorong untuk memandang kesalahan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian alami dari proses pertumbuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Carol Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, dan dukungan lingkungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika sekolah menanamkan keyakinan ini, peserta didik menjadi lebih percaya diri, tangguh, dan termotivasi untuk terus belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, budaya belajar membentuk fondasi psikologis yang kuat bagi keberhasilan literasi, numerasi, dan pengembangan karakter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tingkat guru dan sekolah, budaya belajar menuntut para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi profesional dan pedagogis. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari pengalaman, data asesmen, kolega, dan kebutuhan peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepala sekolah berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang menciptakan iklim kolaboratif, menyediakan ruang refleksi, dan mendukung inovasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Organization</em>&nbsp;<em>for Economic Co-operation and Development</em>&nbsp;menekankan bahwa sistem pendidikan yang efektif dibangun di atas kapasitas guru untuk belajar sepanjang hayat dan bekerja sama secara profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, budaya belajar di sekolah mencakup komunitas belajar guru, supervisi yang konstruktif, dan penggunaan bukti untuk memperbaiki praktik pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budaya belajar juga memerlukan keterlibatan keluarga dan masyarakat. Orang tua yang membiasakan membaca bersama, berdialog, dan menghargai usaha anak membantu memperkuat motivasi intrinsik untuk belajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masyarakat dapat mendukung melalui perpustakaan, kegiatan literasi, dan lingkungan yang aman serta kondusif bagi perkembangan anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization</em>&nbsp;menegaskan bahwa pendidikan yang bermutu merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan seluruh ekosistem sosial. Ketika rumah, sekolah, dan komunitas memiliki visi yang sama tentang pentingnya belajar, anak memperoleh dukungan yang konsisten untuk berkembang secara optimal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia, penguatan budaya belajar sangat penting untuk mengatasi fenomena “sekolah tetapi tidak belajar” dan meningkatkan kualitas modal manusia. Budaya belajar yang kuat memastikan bahwa waktu yang dihabiskan di sekolah benar-benar menghasilkan kompetensi, karakter, dan kebijaksanaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia melalui berbagai kebijakan transformasi pendidikan menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada murid, literasi, numerasi, dan pembentukan Profil Pelajar Pancasila.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan membangun budaya belajar yang hidup di rumah, sekolah, dan masyarakat, Indonesia dapat melahirkan generasi yang gemar belajar, adaptif terhadap perubahan, dan mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan kesejahteraan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ekosistem Pendidikan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Revolusi belajar pada pendidikan dasar merupakan perubahan mendasar dalam cara sekolah membangun kemampuan berpikir dan karakter anak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Revolusi ini menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang belajar melalui eksplorasi, bertanya, berdiskusi, dan memecahkan masalah nyata, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia, revolusi belajar sangat penting karena tantangan utama pendidikan dasar bukan hanya memastikan anak-anak hadir di sekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar menguasai kompetensi fondasional yang menjadi dasar bagi seluruh proses pendidikan selanjutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization</em>&nbsp;menegaskan bahwa literasi dan numerasi merupakan hak dasar setiap anak dan prasyarat untuk pembelajaran sepanjang hayat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, transformasi pendidikan dasar harus berfokus pada kualitas interaksi belajar, penguatan kompetensi guru, serta penggunaan asesmen diagnostik untuk mengetahui kebutuhan belajar setiap peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Literasi dalam pendidikan dasar tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menafsirkan, dan menggunakan informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Numerasi adalah kemampuan menerapkan konsep bilangan, pengukuran, pola, dan data untuk menyelesaikan persoalan praktis secara logis.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Organization for Economic Co-operation and Development</em>&nbsp;menekankan bahwa kedua kompetensi ini merupakan fondasi bagi keberhasilan akademik, produktivitas ekonomi, dan partisipasi warga negara yang bertanggung jawab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak yang memiliki literasi dan numerasi yang kuat akan lebih mudah mempelajari sains, teknologi, dan bidang lainnya, serta mampu membuat keputusan yang bijaksana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, revolusi belajar di sekolah dasar harus diwujudkan melalui pembelajaran kontekstual, penggunaan bahan bacaan yang kaya, aktivitas matematika yang bermakna, dan budaya sekolah yang menumbuhkan rasa ingin tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan revolusi belajar menuntut keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan, yaitu guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru perlu mengintegrasikan kegiatan membaca, menulis, berhitung, dan bernalar ke dalam semua mata pelajaran, sedangkan orang tua perlu menciptakan lingkungan rumah yang mendukung kebiasaan membaca dan eksplorasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia melalui kebijakan Kurikulum Merdeka dan Gerakan Literasi Nasional menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada murid dan penguatan kompetensi dasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan revolusi belajar yang menempatkan literasi dan numerasi sebagai jantung pendidikan dasar, sekolah tidak hanya menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal, tetapi juga anak-anak yang berpikir kritis, kreatif, berkarakter, dan siap membangun masa depan bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kompetensi guru yang berkembang secara berkelanjutan merupakan fondasi utama bagi peningkatan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru yang terus memperbarui pengetahuan pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadiannya lebih mampu merancang pengalaman belajar yang relevan, menarik, dan efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Linda Darling-Hammond menegaskan bahwa pengembangan profesional guru yang efektif harus berfokus pada praktik nyata di kelas dan berdampak langsung pada pembelajaran siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru tidak cukup dilakukan melalui pelatihan sesaat, tetapi harus berlangsung terus-menerus sebagai bagian dari budaya belajar sekolah dan sistem pendidikan yang mendukung pertumbuhan profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan berbasis insentif penting untuk mendorong motivasi dan komitmen guru dalam mengikuti pengembangan profesional secara konsisten. Insentif dapat berupa penghargaan finansial, pengakuan profesional, kesempatan promosi, sertifikasi, maupun akses ke program pengembangan karier.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Organization for Economic Co-operation and Development</em>&nbsp;melalui&nbsp;<em>Teaching and Learning International Survey</em>&nbsp;(TALIS) menunjukkan bahwa guru lebih terdorong meningkatkan kompetensinya ketika mereka melihat hubungan yang jelas antara upaya belajar, peningkatan kinerja, dan apresiasi institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Insentif yang dirancang dengan baik tidak sekadar memberi hadiah, tetapi menciptakan ekosistem yang menghargai inovasi, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan dalam praktik pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengembangan kompetensi guru akan lebih efektif apabila langsung terhubung dengan praktik di kelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Model&nbsp;<em>job-embedded</em>&nbsp;<em>profesional</em>&nbsp;<em>development</em>&nbsp;memungkinkan guru mempelajari strategi baru, menerapkannya dalam pembelajaran, mengamati dampaknya, dan merefleksikan hasilnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fokus utama bukan pada teori semata, tetapi pada pemecahan masalah nyata seperti peningkatan literasi, numerasi, manajemen kelas, dan diferensiasi pembelajaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">John Hattie menekankan bahwa intervensi yang paling berdampak adalah yang membantu guru mengevaluasi pengaruh pengajarannya terhadap hasil belajar siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pelatihan yang langsung dipraktikkan di kelas memberikan peluang nyata bagi perubahan perilaku mengajar.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Coaching</em>&nbsp;merupakan komponen kunci dalam memastikan bahwa pelatihan menghasilkan transformasi praktik, bukan hanya penambahan pengetahuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam&nbsp;<em>coaching,</em>&nbsp;guru memperoleh pendampingan individual atau kelompok melalui observasi kelas, umpan balik konstruktif, penetapan tujuan, dan refleksi bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jim Knight menjelaskan bahwa coaching yang efektif bersifat kemitraan, menghormati profesionalitas guru, dan berfokus pada tujuan pembelajaran siswa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan ini membantu guru menerapkan strategi baru dengan percaya diri, mengatasi hambatan, dan mempertahankan perubahan dalam jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika insentif, praktik langsung di kelas, dan&nbsp;<em>coaching</em>&nbsp;terintegrasi dalam satu sistem pengembangan profesional, sekolah membangun mekanisme yang kuat untuk meningkatkan mutu pembelajaran secara berkelanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Guru merasa dihargai, didukung, dan ditantang untuk terus berkembang, sementara peserta didik memperoleh manfaat melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna dan efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini sangat relevan untuk memperkuat literasi, numerasi, dan budaya belajar, sekaligus mengatasi fenomena “sekolah tetapi tidak belajar.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan investasi yang konsisten pada kompetensi guru, pendidikan dapat menghasilkan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat Human Capital Index bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pekerjaan Peradaban Cinta</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan merupakan pekerjaan mulia untuk membangun&nbsp;<em>Civilization of Love</em>&nbsp;yang berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui sila pertama, pendidikan menumbuhkan iman, ketakwaan, dan kesadaran bahwa seluruh proses belajar adalah partisipasi dalam karya Tuhan untuk memuliakan-Nya melalui pelayanan kepada sesama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sila kedua menegaskan penghormatan terhadap martabat manusia, sehingga setiap peserta didik dibentuk menjadi pribadi yang beradab, berbelarasa, dan menjunjung tinggi hak asasi setiap orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sila ketiga mengarahkan pendidikan untuk menumbuhkan persatuan dalam keberagaman, membangun persaudaraan lintas agama, budaya, dan suku sebagai kekuatan bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sila keempat mendidik generasi agar memiliki kebijaksanaan, semangat dialog, dan tanggung jawab demokratis dalam mengambil keputusan demi kebaikan bersama. Sila kelima meneguhkan komitmen untuk mewujudkan keadilan sosial, solidaritas, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan karya peradaban cinta yang membentuk manusia Indonesia sebagai pembelajar sepanjang hayat, pekerja yang berintegritas, warga bumi yang merawat rumah bersama, serta pribadi yang memuliakan Tuhan dengan memulihkan martabat manusia dan seluruh ciptaan sebagai sesama saudara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan adalah pekerjaan yang mulia karena melalui pendidikan manusia mengambil bagian dalam karya Allah untuk membentuk pribadi yang utuh, cerdas, bermoral, dan berbelarasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan hikmat, karakter, dan tanggung jawab sosial agar setiap peserta didik mampu hidup secara berkelimpahan (bdk. Yohanes 10:10).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif ini, sekolah bukan sekadar institusi formal, melainkan ruang suci tempat nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kebangsaan dipupuk secara berkesinambungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendidikan yang demikian mempersiapkan generasi muda untuk bekerja dengan baik, melayani dengan hati, dan mengembangkan ilmu pengetahuan demi kesejahteraan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pendidikan menjadi fondasi utama bagi lahirnya peradaban yang beradab, adil, damai, dan berakar pada nilai-nilai religius yang memuliakan Tuhan dan menjunjung tinggi martabat manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekolah merupakan komunitas pembelajar, yakni sebuah persekutuan hidup yang di dalamnya guru, peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat bersama-sama bertumbuh dalam pengetahuan, kebijaksanaan, dan keutamaan. Dalam komunitas ini, setiap orang dipandang sebagai pembelajar sepanjang hayat yang terus mengembangkan potensi intelektual, emosional, sosial, moral, spiritual, dan ekologisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manusia sebagai makhluk pembelajar tidak pernah berhenti mencari makna, memperdalam iman, dan meningkatkan kompetensi untuk menjawab tantangan zaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses belajar yang autentik mendorong setiap orang untuk bekerja secara profesional, kreatif, dan etis demi membangun&nbsp;<em>Civilization of</em>&nbsp;<em>Love,</em>&nbsp;yaitu suatu tatanan masyarakat yang didasarkan pada kasih, solidaritas, keadilan, dan penghormatan terhadap setiap pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam semangat&nbsp;<em>Second Vatican Council</em>&nbsp;dan ajaran Pope Francis dalam Laudato Si’, komunitas pembelajar juga dipanggil menjadi warga bumi yang bertanggung jawab, membangun planet ini sebagai rumah kita bersama, serta merawat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia yang majemuk, model pendidikan nasional religius memiliki kekhasan yang sangat relevan. Pendidikan nasional Indonesia berakar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menegaskan bahwa iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap martabat manusia, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial merupakan landasan utama kehidupan bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, pendidikan religius khas Indonesia tidak bersifat eksklusif, tetapi inklusif dan dialogis, menghargai keberagaman agama, budaya, suku, dan bahasa sebagai anugerah Tuhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuan akhirnya adalah membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia, cakap, sehat, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab sebagai warga negara dan warga dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan memuliakan Allah melalui pemulihan martabat manusia dan seluruh ciptaan sebagai sesama saudara, pendidikan nasional religius Indonesia menjadi jalan strategis untuk membangun bangsa yang unggul sekaligus menghadirkan peradaban cinta, persaudaraan universal, dan keutuhan ciptaan bagi generasi sekarang dan yang akan datang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber dari : <a href="https://voxntt.com/2026/05/21/pendidikan-itu-pekerjaan-peradaban-cinta/110902/#google_vignette">https://voxntt.com/2026/05/21/pendidikan-itu-pekerjaan-peradaban-cinta/110902/#google_vignette</a></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/


Served from: yayasansanctamaria.org @ 2026-07-08 19:58:30 by W3 Total Cache
-->