Mendidik Siswa Generasi Z

Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia)

Melihat murid tidur ketika guru mengajar merupakan hal yang paling tidak disukai oleh semua guru. Hal itu karena guru merasa jerih payahnya tidak dihargai. Semua materi yang telah disiapkan, terasa hambar ketika siswa  tidak mau memperhatikan guru. Respons beragam dilakukan oleh guru ketika melihat siswanya tidur, ada yang marah, ada yang memperingatkan untuk cuci muka, ada yang mencatat dalam buku pelanggaran siswa (tata tertib), dan ada pula yang melakukan instrospeksi diri. Sayangnya untuk poin terakhir, tak semua guru melakukan hal itu.

Instrospeksi dan mau belajar adalah kunci utama untuk mengatasi siswa yang mengantuk. Apabila dalam satu kelas, terdapat siswa yang mengantuk lebih dari dua atau tiga orang, maka dapat dipastikan ada sesuatu yang salah ketika guru mengajar. Faktor utamanya adalah metode yang digunakan kurang menarik perhatian, sehingga siswa tertidur pulas. Sebelum menindaklanjuti metode yang digunakan, guru harus mengetahui latar belakang siswanya.

Siswa zaman sekarang berbeda dengan siswa sepuluh hingga dua puluh tahun lalu. Mereka yang saat ini duduk di bangku SMA dilahirkan pada tahun 1998 hingga awal 2000-an. Inilah yang dinamakan dengan generasi Z atau generasi internet. Saya yang lahir pada tahun 1992 saja sudah berbeda jauh mental serta pola pikirnya dengan siswa siswi saya. Saat saya dilahirkan, media masa yang paling mutakhir adalah televisi itu pun hanya punya satu saluran. Barulah saat saya SD, stasiun TV mulai bermunculan. Jumlahnya juga tidak banyak. Berbeda dengan siswa saya, ketika mereka dilahirkan mereka sudah diperdengarkan suara televisi dari beragam saluran. Ketika mereka SD, mereka sedikit banyak sudah tahu komputer. Bahkan, ketika SMP mereka sudah mengenal internet. Saat mereka duduk di SMA mereka sudah tidak asing lagi dengan smartphone 4G yang sudah ada dalam genggaman. Berbeda dengan saya, saat saya SMA dulu saya masih mengenal handphone monophonic, poliphonic, dan handphone berwarna. Handphone3G baru marak di akhir masa SMA saya.

Berdasarkan latar belakang itu, guru harus mampu menyimpulkan bahwa pengaruh teknologi mempengaruhi mental belajar siswa. Siswa sekarang memiliki banyak opsi ketika dia bosan. Bahkan materi pelajaran pun dapat diunduh baik melalui website maupun aplikasi. Tak jarang mereka berbicara sendiri dengan smartphone miliknya, padahal mereka sedang belajar bahasa melalui aplikasi smartphone. Tantangan guru semakin kompleks, guru harus menjadi lebih seru daripada aplikasi yang dimiliki siswa. Siswa zaman sekarang hanya punya waktu 10 detik saja untuk menentukan mereka bosan atau tidak terhadap sesuatu. Sama halnya seperti menonton Youtube.

Itulah sebabnya guru harus kreatif sejak awal masuk kelas. Apabila guru memiliki fasilitas yang memadahi seperti laptop, dan koneksi internet alangkah baiknya dapat dimaksimalkan semaksimal mungkin agar siswa tertarik. Bagaimana dengan guru yang tidak memiliki akses tersebut? Guru harus yakin bahwa dirinya mampu menarik perhatian siswa. Caranya beragam, mulai dari keterampilan berbicara, membuat permainan di kelas, hingga menggunakan papan tulis dengan cara yang tidak biasa. Biasanya guru menggunakan papan tulis untuk mencatat dan siswa menyalin di buku catatan. Tentu saja siswa menjadi bosan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggambarkan materi yang sedang dijelaskan. Gambar yang digambarkan di papan tidaklah harus bagus dan simetris, cukup ikonik saja asalkan bermakna. Hal ini hampir sama seperti membuat infografis, dengan demikian siswa akan menjadi tertarik dan penasaran. Mereka akan berdebar-debar menantikan gambar atau ikon apa yang dimunculkan oleh guru di papan tulis. Materi tersampaikan dan guru tetap diperhatikan. Itulah cara yang dapat dilakukan untuk mendidik anak generasi Z.