Oleh: Sylvana N.S.

Mungkin judul dari artikel ini dapat menggelitik hati sebagian para pembaca. Bahkan adapula yang bertanya bagaimana mungkin matematika dapat mengembangkan budaya sedangkan keduanya sama sekali tak terkait satu dengan yang lain. Nah, melalui tulisan ini penulis pun ingin sedikit berbagi pengalaman yang pernah penulis dapatkan selama studi.
Hal ini dimulai dari “perkenalan” kali pertama penulis dengan PMRI. Beberapa pembaca mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Namun, sebagian yang lain mungkin ada yang belum pernah mendengar. PMRI adalah singkatan dari Pendidikan Matematika Realistik Indonesia. Metode pembelajaran ini sendiri diadaptasi dari RME (Realistic Mathematics Education), yang dikembangkan kali pertama di Belanda dan baru diterapkan di Indonesia pada tahun 2001 (Zulkardi, 2002). PMRI kemudian berkembang dengan cukup pesat di Indonesia dan saat ini terus digalakkan sebagai gerakan reformasi pendidikan di Indonesia dimulai dari pendidikan dasar (Sembiring, 2010).
Salah satu karakteristik dari PMRI adalah menggunakan masalah kontekstual sebagai titik awal pembelajaran (Gravemeijer, 1994). Masalah kontekstual yang dimaksud disini adalah masalah yang dirasa riil bagi siswa dan mampu membantu siswa untuk mencapai pemahaman terhadap konsep matematika yang sedang dipelajari. Disinilah, peran seorang pendidik untuk mengenalkan budaya bangsa sekaligus membelajarkan siswa tentang suatu konsep matematika dimulai.
Dalam artikel ini, penulis akan mengangkat suatu penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran tentang statistika dimana menggunakan salah satu karya budaya bangsa sebagai awalan dari proses belajar siswa. Mengenalkan tentang turus, rata-rata dan beberapa konsep statistika yang lain dengan dibalut cerita rakyat.
Penelitian ini dilakukan oleh Lestariningsih (2012) di salah satu sekolah di Palembang. Oleh karena itu cerita rakyat yang digunakan pun adalah cerita rakyat yang diambil dari legenda Pulau Kemaro, Palembang.
Konteks cerita rakyat yang dipakai tentunya tidak terbatas pada satu cerita ini saja, melainkan dapat diterapkan menggunakan cerita rakyat lainnya, dengan memodifikasi beberapa bagian agar sesuai dengan pembelajaran konsep yang diinginkan.
Berikut adalah cerita yang digunakan dalam penelitian tersebut.
“Alkisah, pada zaman dahulu seorang putri dari Kerajaan Sriwijaya bernama Siti Fatimah dilamar oleh putra raja dari negeri Cina bernama Tan Bun Ann. Raja Sriwijaya mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Tan Bun Ann. Persyaratannya adalah Tan Bun Ann harus menyediakan 7 guci berisi emas. Tan Bun Ann pun segera mengirim utusan ke Negeri Cina untuk menyampaikan surat kepada kedua orang tuanya. Selang beberapa waktu, utusan itu kembali membawa surat balasan kepada Tan Bun Ann. Surat balasan dari raja Cina itu berisi restu atas pernikahan Tan Bun Ann dan Siti Fatimah dan sekaligus permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mereka. Namun sebagai tanda sayang kepadanya, kedua orang tuanya akan mengirim 7 guci berisi emas. Raja Cina memasuki sebuah ruangan yang berisi setumpuk emas batangan dan tujuh guci dengan berbagai macam warna. Dia ingin mengisi semua guci dengan jumlah emas batangan yang sama. ”Bagaimana caranya ya?” Tanya raja Cina kepada dirinya sendiri. Sang Raja berdiri lama dan belum menemukan caranya. Akhirnya dia memasukkan emas batangan ke dalam guci tanpa mempedulikan rencananya semula. Raja Cina pun mengisi guci yang berwarna merah dengan 7 emas batangan, guci yang berwarna biru diisi 5 emas batangan, 4 emas batangan untuk guci yang berwarna coklat, 5 emas batangan diisikan ke dalam guci yang berwarna orange. Kemudian guci yang berwarna hijau diisi dengan 7 emas batangan sedangkan guci yang berwarna ungu diisi dengan 9 emas batangan. Guci berwarna putih diisi dengan 5 emas batangan. Setelah semua guci selesai diisi dengan emas batangan, Raja Cina pun meletakkan sayuran sawi diatas semua guci sehingga yang tampak adalah guci berisi sawi. Selanjutnya dia menyuruh beberapa utusan untuk mengirim tujuh guci tersebut kepada Tan Bun Ann di negeri Sriwijaya. Pada suatu hari rombongan Tan Bun Ann tiba dari Tiongkok dengan 7 guci emas yang telah dijanjikan. Namun, setelah diminta menunjukkan isi gucinya oleh raja Sriwijaya, Tan Bun Ann terkejut karena melihat sayur mayur di dalam 7 guci yang dibawanya. Karena kaget dan marah, tanpa memeriksa terlebih dahulu, Tan Bun Ann langsung melemparkan guci-guci tersebut ke dalam Sungai Musi. Tetapi pada guci yang terakhir, terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan, sehingga terlihatlah emas batangan yang berada di dalamnya. Rasa penyesalan membuat Tan Bun Ann mengambil keputusan tak terduga, ia menceburkan diri ke dalam Sungai Musi untuk mencari guci-guci. Melihat kejadian tersebut , Siti Fatimah ikut menceburkan diri ke sungai sambil berkata,”Bila suatu saat ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini, maka di situlah kuburan saya.” Dan ternyata benar, tiba-tiba dari bawah sungai timbul gundukan tanah yang akhirnya sekarang menjadi Pulau Kemaro.”
Cerita ini digunakan oleh Guru untuk mengawali kegiatan pembelajaran. Dari cerita tersebut, Guru meminta siswa membuat tabel banyak emas di dalam guci, seperti berikut.
| Warna guci | Banyak emas |
| Merah | 7 |
| Biru | 5 |
| Coklat | 4 |
| Orange | 5 |
| Hijau | 7 |
| Ungu | 9 |
| Putih | 5 |
Tabel 1. Banyak emas dalam guci
Di samping itu, Guru juga dapat mengenalkan turus kepada para siswa dengan memberi contoh penulisan turus sebagai berikut.

Gambar 1. Contoh Penulisan Turus`
Kegiatan pembelajaran pun dilanjutkan dengan menggambar diagram batang untuk penyajian data banyak emas dalam guci. Berikut adalah salah satu hasil kerja siswa.

Gambar 2. Diagram Batang
Pembelajaran yang dilakukan dapat dilanjutkan dengan mencari rata-rata emas dalam guci, mengenalkan istilah modus sebagai nilai yang paling banyak muncul dari banyak emas dalam guci, juga mencari nilai terendah, dan nilai tertinggi.
Seperti yang terlihat pada hasil kerja siswa pada Gambar 3 berikut, nilai modusnya adalah 5 karena ada sebanyak 3 guci yang memuat 5 batang emas. Jumlah ini adalah yang paling banyak dibanding dengan banyak emas 4, 7, atau 9.

Gambar 3. Tabel banyak guci
Dari Gambar 3, dapat kita ketahui pula bahwa nilai yang terendah adalah 4 batang emas dan nilai tertingginya adalah 9.
Dalam pembelajaran yang dilakukan, Guru dapat menggunakan alat peraga lainnya untuk membantu proses visualisasi dari cerita yang dibacakan. Gabus untuk memodelkan batang emas dan kotak mika sebagai gucinya.

Gambar 3 . Gabus dan Mika
Alat bantu ini juga dapat membantu siswa untuk mencari rata-rata emas batang dalam guci. Salah satu strategi yang digunakan oleh siswa untuk menghitung rata-rata emas dalam guci adalah dengan membuat tinggi gabus dalam setiap mika sama. Sehingga ditemukanlah bahwa rata-rata emas dalam tiap guci adalah 6 batang emas.
Selain itu, kreativitas guru dalam penggunaan teknologi juga dapat dikombinasikan disini. Misalnya Guru dapat mengganti pembacaan cerita dengan visualisasi gambar kartun dari video yang dibuat dengan adobe flash maupun program lainnya.
Secara umum, penelitian yang dilakukan ini telah menunjukkan bahwa cerita rakyat mampu menggiring siswa untuk menemukan kembali (reinvent) beberapa konsep dalam matematika disamping upaya Guru untuk melestarikan budaya bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Gravemeijer, K.P.E. (1994). Developing realistic mathematics education. Utrecht: CD-ß Press/Freudenthal Institute.
Lestariningsih. (2012). Desain Pembelajaran Matematika: Legenda Pulau Kemaro pada Pembelajaran Statistika di Kelas VI Sekolah Dasar. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Sembiring, R.K. (2010). Pendidikan matematika realistik Indonesia (PMRI): Perkembangan dan tantangannya. IndoMS Journal Mathematics Education.(1)1, 11-16.
Sumarto, S.N., & Palupi, E.L.W. (2013). Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI): Melestarikan Karya Budaya Bangsa Melalui Pembelajaran Matematika. Diseminarkan dalam Seminar Nasional PGRI Palembang tahun 2013.
Zulkardi, Nieveen, N., Akker, J.,van den., & Lange, J.,de.(2002). Designing, evaluating and implementing an innovative learning environment for supporting mathematics education reform in Indonesia: The CASCADE-IMEI study.
