
Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.
Pada tanggal 30 Oktober sampai dengan tanggal 12 November 2016 yang lalu telah diadakan Pertemuan Internasional Para Formator (Pertemuan Para Romo dan Bruder yang berkecimpung dalam dunia pembinaan para calon Karmelit) seluruh dunia di hotel Purnama Batu, Jawa Timur. Karena saya termasuk salah seorang formator dan sebagai tuan rumah pertemuan tersebut, maka tugas saya ringan-ringan saja, mengatur penjemputan para tamu yang datang dari berbagai belahan dunia; sekaligus menjemput mereka di bandara Surabaya dan Malang.
Pada saat saya menjemput para tamu dari berbagai negara di Bandara Surabaya tersebut, saya sendiri justru mengalami “keterkejutan-keterkejutan” kecil. Keterkejutan pertama, saya harus tahu dengan pasti waktu pendaratan pesawat dari tamu-tamu tersebut dengan terus memantau pada layar monitor kedatangan. Setelah mereka tiba,saya pun harus terus memegang handphone dan mencari pada “mister Google” terjemahan kata-kata yang sungguh asing pada telinga saya yang disampaikan tamu tersebut (italia, spanyol, portuguese, jerman). Hal ini harus saya lakukan, supaya bisa berkomunikasi dengan mereka. Karena mereka hanya tahu bahasa mereka dan sama sekali tidak paham bahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia.
Keterkejutan kedua, saya memerhatikan bahwa tamu yang termasuk generasi tua (senior), ketika keluar dari pintu kedatangan, mereka hanya membawa tas pakaian dan tas laptop. Saya tidak melihat mereka memegang handphone atau tablet. Mereka menjumpai saya tanpa apa-apa di tangan. Hal ini berbeda dengan tamu yang termasuk generasi muda (yunior, usia muda – baru ditahbiskan menjadi imam). Selain membawa koper, tas laptop, juga mereka memegang handphone atau tablet. Sambil berjalan, tangan mereka terus main handphone atau membaca sesuatu di tablet.
Keterkejutan terakhir, sambil menunggu kedatangan tamu dari Jerman dan juga dari Italia yang datang bersamaan pada hari Sabtu sore, saya bersama beberapa frater menyempatkan diri untuk mengikuti Misa di Gereja dekat Bandara Internasional Surabaya. Pada waktu itu, saya sendiri merasa “asing” ketika saya menyaksikan seorang Romo muda sebagai pemimpin misa menggunakan tablet untuk membaca Injil (bukan Kitab Suci), juga menggunakannya ketika kotbah atau homili. Ketika kotbah, jari-jarinya terus bergerak menyentuh monitor tablet tersebut. Sebagai seorang yang lahir bukan pada zaman lahirnya internet, saya merasa risih.
Seakan-akan cerita tersebut tidak ada hubunganya dengan pendidikan di era digital. Namun mari kita simak secara mendalam, saya yakin bahwa cerita ini memiliki hubungan yang erat serta memberikan pesan yang mendalam terhadap dunia pendidikan di era perkembangan teknologi digital.
Di era perkembangan digital seperti sekarang ini, semua orang – entah siapa saja, baik pendidik maupun peserta didik, baik ayah-ibu maupun anak-anak, baik generasi tua maupun generasi muda, baik para romo atau bruder senior maupun yunior, baik para guru senior maupun yunior tidak bisa tidak dan harus mengenal, mengetahui dengan baik perkembangan teknologi, secara khusus dunia digital seperti internet. Bila tidak, maka siapa pun dirinya akan mengalami ketertinggalan dalam berbagai informasi serta perkembangan kehidupan serta teknologi.
Dari cerita di atas, kita dapat memahami bahwa generasi manusia, dapat dikategorikan dalam dua kelompok. Kelompok pertama, kelompok immigrants digital. Yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang lahir sebelum adanya internet dan sekarang mereka “dipaksa” harus tahu internet dan harus bisa menggunakannya. Antara lain orang tua, orang yang sudah tua, termasuk juga para pendidik senior, para romo dan bruder senior, yah termasuk juga penulis sendiri. Kelompok kedua, kelompok native digital. Yang termasuk kelompok ini adalah mereka yang lahir dalam dunia internet, yakni para romo dan bruder yunior, para biarawan-biarawati yunior, para pendidik atau guru yunior, para peserta didik atau murid atau siswa, dan para mahasiswa yang hidup zaman sekarang. Semuanya menggunakan internet sebagai “kebutuhan” interaksinya di dunia maya.
Nah sejalan dengan perkembangan pesat dunia teknologi serta media informasi saat ini, maka dunia pendidikan harus bisa beradaptasi atau menyesuaikan dirinya. Dunia pendidikan, secara khusus para pendidik harus mampu memanfaatkan era digital saat ini sebagai media pembelajaran bagi para peserta didik di sekolah, khususnya pengajaran di kelas. Memang, kadang-kadang para peserta didik lebih memahami dahulu informasi melalui internet dari para pendidik. Mengapa? Karena mereka memiliki berbagai fasilitas yang memadai di rumah; dan tambahan pula mereka lahir dalam dunia internet. Akan tetapi, hal ini tidak akan membuat para pendidik merasa ketinggalan. Karena kehadiran sekaligus keberadaan para pendidik di lingkungan sekolah atau di kelas lebih pada memfasilitasi para peserta didik untuk belajar.
Dalam ilmu pendidikan, belajar merupakan sebuah perubahan pemahaman dan tingkah laku peserta didik ke arah yang lebih baik. Pemahaman peserta didik meliputi pemahaman kognitif mengenai kehidupan dunia, kehidupanya sendiri, kehidupan orang lain, dan kehidupan imannya. Juga perubahan mengenai tingkah lakunya secara afektif, bagaimana ia membangun relasi yang sehat dengan dunia sekitarnya. Pada titik inilah, pendidik atau guru yang biasanya dikatakan sebagai kelompok immigrant digital, kehadiran sekaligus keberadaannya sangat penting bagi peserta didik, di mana ia membimbing peserta didik untuk belajar memanfaatkan penggunaan media komunikasi melalui internet ke arah yang lebih positif sebagai sarana belajar di sekolah. Kehadiran pendidik sungguh sangat penting untuk menumbahkan sisi kemanusiaan seorang peserta didik. Sentuhan, sapaan, senyuman, dukungan dari pendidik tak dapat tergantikan oleh apa pun yang ada di sekitar kehidupan peserta didik.
Untuk itu, pendidik atau guru di era digital harus memiliki kualitas yang baik agar dapat menjadi seorang pendidik yang inspiratif. Akan tetapi, kualitas itu tidak akan cukup bila tidak disertai dengan pemahaman teknologi digital secara memadai. Untuk dapat mendidik peserta didik generasi sekarang (yang lebih dikenal dengan sebutan Generasi Z – generasi yang lahir di era internet – Generasi Native Digital) dibutuhkan pengetahuan yang tepat berbasis internet yang dapat dengan mudah diakses oleh peserta didik. Bahkan informasi yang diakses oleh Generasi Z, tak hanya terbatas pada informasi pendidikan saja, tetapi juga informasi yang berhubungan dengan kepentingan pribadi mereka.
Generasi Z – secara khusus peserta didik merupakan generasi yang sungguh mahir sekaligus sangat gandrung dengan teknologi informasi dan berbagai aplikasi computer, ungkap Prof. Dr. H. Arief Rachman. Menurutnya, generasi ini memiliki beberapa ciri yang dapat kita lihat di dalam hidup sehari-hari. Generasi ini sangat suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan, khususnya melalui jejaring sosial: facebook, twitter, SMS, WhatsApp, skype. Melalui berbagai media ini, mereka menjadi orang yang lebih bebas berekspresi, termasuk apa yang mereka pikirkan maupun yang mereka rasakan sendiri.
Akan tetapi menurut Arief Rachman pula, Generasi Z ini tentu memiliki kelebihan maupun kekurangan. Kelebihan mereka, yakni memiliki daya toleransi yang besar terhadap berbagai perbedaan budaya dan sangat peduli dengan lingkungan. Mereka mampu melakukan berbagai aktifitas dalam waktu yang bersamaan, seperti membaca sambil mendengarkan musik. Sedangkan kelemahan mereka, yakni selalu menginginkan segala sesuatu secara cepat, tanpa bertele-tele atau pun berbelit-belit. Dalam hal komunikasi verbal terasa dangkal atau kurang mendalam, cenderung mementingkan diri, individualis, serba instan, tidak sabar dan kurang menghargai proses.
Nah, kelebihan maupun kekurangan Generasi Z ini, yang adalah anak didik kita, harus menjadi pusat perhatian semua Pendidik. Untuk itu guru harus membuka diri memahami berbagai perkembangan teknologi serta berbagai mengaplikasikannya. Sehingga apa pun yang diajarkan oleh pendidik kepada peserta didik sebagai Generasi Z bisa diterima dan dicerna secara baik. Untuk bisa memahami teknologi secara baik, maka sekolah atau lembaga pendidikan perlu menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk semua pendidik (ruangan khusus komputer guru, saluran internet, komputer, dan sebagainya). Dengan ruangan komputer yang khusus, maka bapak dan ibu guru bisa dengan bebas menggunakan internet demi pengembangan bidang ilmu pengetahuannya.
Akhirnya, era digital menyadarkan dunia pendidikan akan arti penting sebuah inovasi yang harus terus-menerus dikembangkan. Dunia pendidikan tidak perlu anti dengan peserta didik yang saat ini sangat gandrung dengan media sosial. Semua elemen pendidikan harus mampu memanfaatkan potensi media sosial sebagai pembelajaran di sekolah, khususnya kelas di era digital ini. Sekolah harus bisa menyediakan sarana dan prasarana komputer yang lengkap dengan saluran internetnya bukan hanya bagi peserta didik tetapi juga bagi pendidik. Pendidik yang baik harus mampu membuka diri untuk belajar dan menggunakan internet sebagai media pembelajaran bagi peserta didik.
