MENJADI GURU BAGI DIRI SENDIRI

Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.

Selama bertahun-tahun saya berkecimpung dalam dunia pendidikan. Saya tidak tahu mengapa Ordo Karmel mempercayakan saya dalam “dunia” ini. Padahal saya sendiri bukan berasal dari keluarga yang bergulat dengan dunia pendidikan. Keluarga saya itu petani. Dan saya berasal dari keluarga petani, bukan keluarga guru atau pegawai. Akan tetapi semenjak kuliah memang minat saya sendiri justru dalam pendidikan. Saya lebih senang membaca dan mengajar daripada bertani. Saya lebih senang menulis buku daripada menanam tanaman. Akan tetapi saya tidak pernah lupa bahwa saya berasal dari keluarga petani, yang kerjanya setiap hari menanam jagung, padi, kedelai dan sebagainya.

Ketika menjadi “guru” bagi para murid atau peserta didik – entah di Seminari Marianum Probolinggo, SMAK St. Paulus  Jember ataupun SMAK St. Albertus (Dempo) Malang dan saat dengan Para Frater di Jalan Rajabasa Malang, saya selalu memiliki prinsip ini: “Menjadi guru bagi diri sendiri dulu sebelum menjadi guru bagi orang lain”. Ini mengandung konsekuensi yang berat, tetapi sangat indah. Saya harus mengajar diri saya sendiri dulu sebelum saya mengajar orang lain (para peserta didik). Tampaknya sepele tetapi harus. Lalu, apa saja? Berbagai dimensi kehidupan: jujur dan terbuka, disiplin dan teratur, sederhana, berjuang dan tidak mudah menyerah, selalu menjadi sahabat Tuhan!

Sebagai guru atau pendidik, saya harus mengajar dan mendidik diri saya sendiri untuk bersikap jujur dan terbuka. Jujur bahwa saya berasal dari kampung. Terbuka bahwa diri saya memiliki banyak kekurangan. Untuk itu saya perlu belajar mengisi diri saya dengan berbagai hal yang bermanfaat. Jujur bahwa kadang para peserta didik lebih tahu dari saya. Saya harus menerima dan mengakuinya. Boleh perlu saya mau belajar darinya. Jujur bahwa metode mengajar saya kurang baik, sehingga dampaknya para murid kadang tidak mampu menangkap apa yang saya ajarkan. Untuk itu saya harus belajar berbagai metode mengajar, entah melalui media masa atau melalui rekan guru. Kejujuran harus menjadi pilar utama yang menopang langkah kehidupan saya sebagai guru. Saya harus jujur dengan diri saya sendiri melalui pemikiran, kata-kata dan tindakan. Saya harus berpikir jujur. Saya harus berkata jujur. Saya harus bertindak jujur. Dan saya harus hidup jujur dalam situasi dan kondisi apa pun. Bila saya jujur dan terbuka, hidup dan kata-kata saya akan berdampak pada diri saya sendiri. Saya akan mengalami kebahagiaan, kedamaian. Bila saya jujur, orang lain yang hidup bersama saya, maupun yang saya didik, akan merasakan dampaknya. Semua orang yang ada bersama saya akan menerima saya, tidak takut dengan saya, dan menaruh rasa percaya yang tinggi pada saya.

Hidup jujur harus diikuti dengan hidup disiplin. Sebagai seorang guru atau pendidik, saya perlu mendidik diri sendiri untuk hidup teratur dan berpegang pada disiplin. Saya harus membiasakan diri sendiri untuk taat pada aturan di mana pun saya berada. Saya harus membiasakan diri datang tepat waktu dan kembali juga tepat waktu, alias tidak terlambat dan menunda-nunda waktu. Saya harus menyelesaikan tugas sesuai waktu yang ditetapkan. Bila saya terlambat, saya harus memperbaiki diri dan berjanji untuk tidak terlambat lagi pada waktu berikutnya. Hidup disiplin itu berkaitan erat dengan keteraturan. Hidup teratur, itu berarti hidup sesuai dengan aturan, entah itu di sekolah, di jalan, di kantor, di rumah. Kalau di sekolah, saya harus bisa mengatur diri dan hidup sesuai dengan aturan sekolah. Seperti misalnya, saya harus tegas mendidik diri saya untuk memahami bahwa sekolah itu tempat belajar dan mengajar, bukan untuk “tidur” kalau tidak ada pelajaran. Saya harus bisa mengatur tempat kerja saya supaya tampak bersih dan tertata rapi.

Saya sadar bahwa dengan profesi saya sebagai pendidik atau guru, saya tidak mungkin kaya secara material, karena saya bukan pengusaha. Tetapi saya “kaya” secara ilmu pengetahuan, karena saya seorang guru. Karena saya kaya dari sudut ilmu pengetahuan, maka saya harus sungguh-sungguh menguasai ilmu pengetahuan yang menjadi bagian dari kehidupan saya. Saya harus menata diri untuk selalu tampil sederhana dan berusaha menyampaikan bahan pengajaran secara sederhana pula.

Hidup itu adalah rentetan perjuangan. Termasuk juga berjuang untuk menata diri dan mendidik diri sendiri. Segala sesuatu yang saya raih, selalu didahului dengan perjuangan. Termasuk juga berjuang untuk menjadi diri saya sendiri sebagai seorang pendidik. Saya harus berjuang untuk banyak membaca. Sehingga dengan banyak membaca, saya bisa banyak tahu. Saya ibaratkan diri saya ini dengan sebuah botol aqua. Air yang keluar dari botol aqua, akan keluar sesuai dengan banyaknya air yang diisi ke dalam botol tersebut. Begitu pula kalau saya isi air, yah keluarnya pun air. Kalau saya isi bensin, keluar pun bensin. Kalau saya isi minyak tanah, keluar pun minyak tanah. Demikian pula dengan diri saya. Kalau saya isi dengan rumus matematika, maka yang keluar pasti rumus matematika. Kalau saya isi dengan biologi, yah keluar pun biologi. Kalau saya isi dengan hal-hal baik, maka yang keluar pun hal-hal baik.

Berjuang untuk memaknai hidup dari waktu ke waktu sebagai pendidik, harus menjadi bagian dari kehidupan saya. Yah karena inilah pilihan saya. Berjuang harus disertai dengan kegembiraan. Saya harus bergembira dengan status saya sebagai pendidik. Rasa gembira memampukan saya untuk tidak menyerah begitu saja terhadap berbagai tantangan yang menghadang di jalan. Rasa gembira mengarahkan hati saya untuk terus bersyukur bahwa hidup ini bukan milik saya. Hidup ini milik Tuhan. Maka saya tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Tuhan harus menjadi “sahabat” di mana pun saya berada, di mana pun saya mengajar, di mana pun saya hidup. Karena pada suatu saat, entah kapan dan di mana, saya pun tidak tahu, tetapi yang saya tahu pasti bahwa pada suatu saat di suatu tempat, Tuhan pasti akan memanggil saya pulang ke rumah-Nya tanpa minta persetujuan dari saya! Jadilah Guru yang baik bagi diri sendiri sebelum menjadi guru bagi orang lain!