KREATIVITAS DALAM DUNIA PENDIDIKAN

oleh: Ireneus Sola Wene

Guru mempunyai andil besar dalam membawakan materi pelajaran; yang tidak gampang menjadi gamblang, yang menakutkan menjadi menyenangkan, serta yang jenuh dan bosan menjadi menarik. Hal demikian pertama-tama dilakukan demi  murid. Mereka tidak pernah berhenti mengupayakan berbagai terobosan untuk menggembirakan murid dan memudahkan pemahaman setiap materi pelajaran. Hal seperti ini hanyalah dilakukan oleh guru yang kreatif, cerdas dan menghayati profesinya. Guru yang demikian ini disebut sebagai guru yang kreatif. 

Beberapa waktu yang lalu Bapak Irenius dari Majalah Flos Carmeli berbincang-bincang dengan tiga guru  kreatif. Berdasar pantauan media ini, ketiga orang ini memiliki metode unik dalam mengelola KBM. Hal ini menjadi nilai lebih mengingat mata pelajaran yang diampunya sering diidentikkan sebagai “momok” bagi setiap murid. Mata pelajaran dimaksud adalah matematika. Berikut rangkuman hasil sharing pengalaman ketiga guru tersebut.

Guru harus kreatif

Pembelajaran menjadi menarik apabila proses yang dijalankan menimbulkan dalam diri murid perasaan senang, tertarik, tertantang dan bermakna. Murid menjadi antusias. Pengalaman demikian yang disharingkan Elisabeth Enie R.Y.S., S.Si., S.Pd., guru Matematika SMAK St. Paulus. Ibu Enie, demikian lajang kelahiran Bontang ini biasa dipanggil melihat bahwa  ada perbedaan ketika awal mengajar dengan sekarang. “Dulu ‘saklek’, tetapi sekarang lebih fleksibel. Dulu menakutkan, tetapi sekarang menjanjikan murid senang dengan pelajaran matematika.”katanya. Lebih lanjut lulusan Universitas Negeri Malang ini menuturkan, “Agar  murid tidak bosan dan mengantuk, saya harus kreatif. Prinsip yang saya gunakan adalah satu jam pelajaran untuk materi/menanamkan konsep, sisanya untuk kegiatan pendalaman, seperti diskusi, video/film, game, dll. Kegiatan menyenangkan ini membuat anak tidak merasa bosan sehingga saat bel tanda akhir pelajaran murid berkata ‘lho kok wis mari’. Kreativitas  lain yang diungkapkan guru yang hobinya jalan-jalan ini adalah bagaimana ia masuk dalam dunia orang muda dengan bahasa “gombalan.” “Ketika saya mengajar materi tentang Sinus dan Cosinus,  saya mengaitkannya menggunakan kata-kata gombal(red: rayuan gombal): aku dan kamu bagaikan sin 90 derajat. Maksudnya aku dan kamu adalah satu. Ternyata kalau aku dekat dengan kamu seperti sin ½ x . Maksudnya deg-degan. Menarikkan!”

Hal berbeda namun bermakna sama dituturkan oleh ibu Dwi Nila Indriani, S.Pd. Pengampu mata pelajaran matematika  SMAK St. Paulus Jember ini mengatakan bahwa Guru harus kreatif menciptakan suasana pembelajaran yang menarik tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pendidikan dan pembelajaran. “Seorang guru harus bijak, kreatif dan cerdas menghadapi murid yang heterogen kemampuan akademisnya.”katanya. Guru yang berdarah Madura ini memisalkan usaha menanamkan konsep matematika. “Dibutuhkan ketelatenan memberi penguatan baik untuk murid yang level rendah maupun yang levelnya tinggi. Bagi murid yang level-nya rendah guru harus memetani satu-satu. Sedangkan untuk murid yang levelnya tinggi guru harus mevariasikan soal-soal latihan yang tingkatannya pengayaan. Memang harus ‘telaten’.”tukasnya serius. Lebih lanjut, ibu guru yang pernah masuk sepuluh besar UKG dari Kabupaten Jember tingkat nasional ini mengatakan, “Untuk menarik dan membangkitkan semangat belajar matematika, saya menggunakan game. Game dapat disiapkan oleh murid, sedangkan soal game saya yang menyiapkan.” Menjawab tentang alas an mengapa murid dilibatkan menyiapkan game,  ibu kelahiran 1 Mei ini berkata,“Ya. Karena kreativitas game haruslah sesuai dengan kondisi dan minat murid dan game apa yang lagi trend untuk murid sekarang? Murid dulu dan sekarang berbeda. Murid sekarang membutuhkan media belajar yang sesuai dengan dunianya dan yang menarik. Ketika game-nya sudah oke, maka saya tinggal menyiapkan soal-soal untuk tampilan dalam game tersebut. Komposisi soal mulai yang bertaraf mudah – sedang – sulit – sangat sulit. Salah satu contoh game yakni dengan menggunakan game Pokemon.”

Membangkitkan semangat belajar

Kegiatan belajar mengajar bisa berlangsung seru. Artinya KBM selain menegangkan tetapi juga menyenangkan. Dengan cara ini guru berusaha membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Hal inilah yang coba diusahakan oleh Rosevita Melati, S.Pd.

Ibu Vita, demikian guru muda ini biasa dipanggil  ia  tergerak untuk menghilangkan image matematika sebagai ilmu yang sulit dipelajari. Ia mencoba berbagai model pembelajaran yang dapat membawa murid senang untuk belajar matematika. Ibu guru yang punya hobi menari Gambyong ini menegaskan  bahwa pilihan profesi guru bukanlah pilihan utama tetapi ketika pilihan itu jatuh padanya maka timbul sebuah impian dalam benaknya. “Ketika saya menjadi guru, saya tidak ingin menjadi guru yang biasa-biasa saja”. Inilah yang memotivasi dia untuk kreatif dan inovatif. Setiap kali mengajar ada hal-hal atau game baru yang dapat ditampilkan agar pembelajaran matematika tidak monoton. Beberapa model pernah dipraktekkan yaitu  Bamboo Dancing (Menari), Basket Ball Drilling (Bola Basket), TTM (Teka Teki Matematika), Puzzle (Memasang soal dengan pilihan jawaban) atau Tebak Wajah Tokoh-tokoh legendaris ( di balik wajah ada soal). Ibu yang juga memiliki hobi traveling ini menuturkan bahwa  penggunaan game dalam pembelajaran game yang menarik ini membuat murid tidak ngantuk. Pembelajaran menjadi menyenangkan pun target pemahaman materi  sesuai   harapan.

Hal senada diamini oleh Ibu Elisabeth Enie. Ia menyatakan bahwa untuk mengkondisikan murid maupun guru agar keluar dari zona nyaman, diperlukan teknik-teknik kreatif dalam pembelajaran. Teknik dimaksud antara lain  ulangan on-line, e-library sebagai  ganti buku paket, penyajian materi dengan PPT, pembuatan soal dalam bentuk kasus yang relevan dengan masyarakat (murid), dan menyenangkan. Seorang guru haruslah berani membuat terobosan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi Iptek.

Cara pembelajaran yang berbeda.

Indonesia membutuhkan guru-guru inspiratif nan kreatif bagi kemajuan murid-muridnya. Pola pikir pendidikan gaya lama yang hanya membolehkan penggunaan cara guru pengajarnya saja haruslah diubah. Pendidikan model demikian sungguh menyedihkan. Anak menjadi takut salah pun tidak kreatif. Pada pendidikan modern, murid ditawarkan untuk berkreasi dan berpendapat dengan cara yang berbeda. Ibu Elisabeth Enie menggarisbawahi bahwa masing-masing pendapat dapat didiskusikan bersama. Guru tidak boleh ‘saklek’ dengan teorinya (terbuka terhadap ilmu baru), asalkan tetap berada direl atau rambu-rambu normatif. “Saya tidak pernah melarang murid bekerja menggunakan cara mereka; dari manapun dia peroleh.” urai putri dari ibu Hasnah Siburian dan bapak Johnson Sinurat ini. Tanpa segan-segan Ibu Eli memberi keleluasaan murid untuk berekspresi, dan berpendapat menemukan alternatif-alternatif jawaban. Baginya tugas seorang guru adalah menuntun para murid agar tidak keluar dari kaidah-kaidah yang ada.

Betapa bahagianya jika murid diajar dan didampingi oleh guru yang tiada henti mengupayakan pembelajaran yang menyenangkan. Orangtua tidak akan khawatir, di tangan guru yang kreatif seperti ini. Anak-anaknya akan paham lebih cepat materi pembelajaran, karena para guru tidak hanya menyajikan materi belajar yang menyenangkan, tetapi juga menjalankan tugas sebagai guru yang kreatif dengan hati.

Terkait dengan manfaat kreativitas, ketiga guru memiliki pandangan yang sama. Kreatifitas guru dalam pendidikan sangat penting bagi pendidikan jaman ini. Kreativitas guru dapat mengatasi kebosanan sehingga selama KBM murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, dan penuh partisipasi.  Kreatifitas guru yang tepat dalam merancang proses belajar mengajar akan memberikan manfaat bagi murid, antara lain: (1) membangkitkan semangat untuk persiapan belajar materi lebih dulu, (2) timbul rasa penasaran murid, (3) muncul keaktifan yang sifatnya kompetitif, murid tidak bermalas-malasan lagi, (4) juga menanamkan konsep bahwa yang ada di dalam kelas itu semua saudara, maka tidaak ada masalah dengan kelompok belajar yang selalu baru. Adalah sebuah tanggungjawab bagi guru memacu kreatifitas mencari dan mencari metode serta model pembelajaran yang terbaru, yang menarik, menyenangkan, dan bermakna untuk murid. Menjadi guru bukan sekedar guru yang biasa-biasa saja tetapi guru yang luar biasa di mana ia memiliki tanggungjawab moral menghantar murid ke masa depan yang lebih baik.