
Tanggal 28 Januari – 30 Januari 2026 adalah tanggal yang bersejarah bagi Yayasan Sancta Maria Malang. Saat itu Yayasan mengadakan workshop pembelajaran STEAM di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
STEAM singkatan dari Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics. Berdasar akronim ini pembelajaran STEAM dikemas dalam bentuk proyek. Hadir dalam workshop, guru-guru berbagai mata pelajaran perutusan dari kedua unit sekolah di bawah kelola Yayasan Sancta Maria Malang. Dari SMAK St. Albertus (Dempo) Malang hadir Br. Antonius Sumardi, O.Carm (KaSek), Ibu Yohana Sugiarti Keraf (Bahasa Indonesia), Ibu Maria Kristin Sondang S(Matematika), Bapak Rizky Kadhafy (Kimia), Ibu Lidya Cristin N. (Akuntansi), dan Bapak Galih Prasetya W(Matematika). Sedangkan dari unit SMAK St. Paulus Jember hadir Rm. Thomas Onggo S, O.Carm (Agama), Bp. FX. Dedianto (Fisika – WaKa kurikulum), Ibu Elysabeth Eni R (Matematika), Ibu Dina Putu A(Biologi), Bp. Octo S (Sejarah), dan Bp. Alexander S (Bahasa Indonesia). Hadir sebagai wakil Yayasan Sancta Maria Malang mendampingi para peserta workshop Br. Vianey S, O.Carm dan Br. Mungsi, O.Carm.
Sebagai narasumber adalah Tim Pembelajaran STEAM Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di bawah kendali Bp. Tarsisius Sarkim. Mereka adalah Bapak Hongki, Ibu Natalia, Ibu Louisa, Ibu Maria, Ibu Dian, Bapak Beny, dan Bapak Tri. Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari kegiatan Rapat Kerja Yayasan Sancta Maria Malang pada 26-28 Januari 2025 lalu di Jember.
Pengutusan para guru dari berbagai mata pelajaran memang sengaja dirancang oleh Yayasan sesuai dengan karakter dasar pembelajaran STEAM yang dijadikan topik workshop kali ini. Karakteristik pembelajaran STEAM berakar pada tujuan dasarnya, yaitu mengintegrasikan pengetahuan lintas disiplin untuk memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui penerapan praktik ilmiah dan rekayasa (scientific and engineering practices) (Bybee, 2013). STEAM dipandang sebagai pendekatan pedagogis yang menekankan pengalaman belajar autentik, penerapan konsep secara nyata, serta pengembangan ketrampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking), dan kolaborasi di antara peserta didik (Kemendiknas, 2025). Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai pembelajar aktif yang tidak hanya memahami konsep, tetapi juga menggunakannya untuk merancang solusi inovatif terhadap persoalan kontekstual di sekitarnya. Pada sisi lain, pembelajaran STEAM juga menuntut guru-guru mata pelajaran bidang tertentu untuk bersinergi dan berkolaborasi sehingga dari satu proyek dapat ditarik berbagai kepentingan masing-masing. Diharapkan para guru dari lintas mata pelajaran ini mampu menjadi motor penggerak tindak lanjut pembelajaran STEAM dengan melakukan proyek STEAM kolaboratif di masing-masing unit sekolah yang dilayani. Sedangkan pelibatan pengelola sekolah, baik itu kepala sekolah ataupun WaKa kurikulum, khususnya sangat mendukung dalam implementasi program STEAM dan keberlanjutannya.
Proses Kegiatan Workshop STEAM
Workshop bertujuan membekali para guru pemahaman yang benar tentang pembelajaran STEAM, merancang kegiatan STEAM dalam bentuk pembuatan RPP, mewujudkan pembelajaran STEAM dalam bentuk Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) hingga pelaksanaan assesmen (penilaian). Maka sepulang mengikuti workshop para guru mampu menyelenggarakan pembelajaran STEAM pun mengimbaskan kepada para guru yang lain.
Pada hari pertama di bawah bimbingan Ibu Louisa dan Ibu Natalia, para guru berproses dalam kelompok. Sesuai arahan pemateri, peserta workshop melakukan curah pendapat, diskusi, dan kolaborasi, guna menyelesaikan persoalan sampah rumah tangga. Dari kerja kelompok ini dihasilkan berbagai solusi penanganan masalah sampah rumah tangga, yang mengerucut pada proyek pembuatan sabun cuci tangan berbahan ecoenzim, Methyl Ester Sulfonat(MES), dan garam. Pada proyek dirancangkan perbandingan ukuran bahan(berbeda untuk masing-masing kelompok), pentahapan pencampuran, dan penelitian hasil. Pada bagian hasil dilakukan pencermatan perbedaan karakter warna, bau, kekentalan, dan kekesatan. Sedangkan pada bagian refleksi, berusaha digali kaitan proyek pembelajaran dengan beberapa mata pelajaran (Fisika, Kimia, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Sejarah, Biologi) dan aplikasinya. Ecoenzim adalah hasil olahan sampah rumah tangga berupa fermentasi kulit buah dengan gula merah atau mulosa. Maka, membuat ecoenzim sendiri sebenarnya sudah merupakan usaha mengatasi limbah rumah tangga, yang dalam dunia pendidikan dapat dilakukan dengan pembelajaran STEAM. Berdasar ecoenzim dapat dibuat berbagai bahan keperluan rumah tangga misalnya pupuk organik, sabun mandi, cairan pembersih lantai, pestisida, penjernih air, dan pengurai bau. Dalam pendalaman, ditekankan bahwa pembelajaran STEAM bukanlah hasil yang diutamakan, melainkan proses, pengalaman, dan pemaknaan diskusi dalam belajar. Dari sinilah pembelajaran menjadi mendalam, menyenangkan, meskipun harus berpikir dan bekerja keras. Mengacu pada pengalaman kerja kelompok peserta, Bp. Sarkim membantu menarik pemahaman tentang Pembelajaran STEAM. Pembelajaran STEAM sesuai dengan tuntutan kecakapan murid abad 21 yang dirumuskan dalam 6C (Critism thinking, Creatif, Colaboratif, Comunication, Literasi tecknologi, dan Caracter) dengan pendekatan meaningfull (bermakna), joyfull(menyenangkan), mindfull(penuh kesadaran). Kegembiraan murid dalam kegiatan belajar bukan diperoleh dengan sekedar aktivitas fisik yang gembira, misalnya gurau sana-gurau sini, tetapi karena murid menemukan makna dan manfaat belajar ilmu yang digeluti. Implementasi pembelajaran STEAM adalah Inkuiri (penemuan suatu pengetahuan), PBL (penyelesain masalah), dan PjBL (pengerjaan proyek). Pembelajaran STEAM melibatkan siswa secara aktif: belajar fisik dan mental – emosional, multy sensory. Penting ditekankan pula adanya refleksi sebagai penemuan makna pembelajaran.
Pada hari kedua, Bp. Hongki Juli melakukan pembedahan pembelajaran STEAM. Fokus pembelajaran STEAM bukan pada penyampaian teori-teori atau konsep-konsep tetapi tindakan menuntun peserta didik untuk menemukan ilmunya sendiri. Maka, guru tidak mengawali pembelajaran dengan penyampaian teori-teori, dan konsep-konsep, tetapi dengan mengajak anak untuk berpikir, memaknai (problem solving) misalnya dengan menyodorkan suatu kasus untuk dipecahkan. Dalam diskusipun murid perlu dipahamkan tentang pengertian diskusi, pun masalah yang akan didiskusikan, kemudian diberi waktu cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diskusi. Murid perlu diaktifkan dan dilibatkan dalam proses pembelajaran. Peran guru dalam hal ini lebih banyak sebagai fasilitator daripada tutor. Dalam proses pembelajaran ini pengalaman belajar murid menjadi sangat penting. Guna menumbuhkan pengalaman belajar, peserta workshop diajak diskusi merancang pembelajaran STEAM mengacu pada sikon masing-masing sekolah. SMAK St. Albertus merencanakan pengoptimalan kegiatan Dempo Environmental Education Program (DEEP) ke Taman Safari; sebuah program yang beberapa tahun terakhir telah dijalankan. Sambil rekreasi, para murid ditugaskan mengumpulkan data limbah sampah dan pengelolaannya. Muatan berbagai mata pelajaran tampak dalam panduan kerja para murid. Dari data-data terkumpul baru akan direncanakan tindak lanjutnya. Sedangkan SMAK St. Paulus akan mengadakan bakti sosial berupa kunjungan lansia ke panti jompo. Pelibatan berbagai mata pelajaran tampak dalam kegiatan senam lansia, pembersihan lingkungan dengan bahan ecoenzim, sosialisasi pembuatan ecoenzim, dll. Ibu Maria melanjutkan sessi Pak Hongki dengan perancangan RPP STEAM: peletakan program, bentuk masalah yang diberikan beserta alasannya, dan langkah-langkah kegiatan. Satu hal penting jaminan pelaksanaan STEAM adalah komitmen bersama antara para guru, serta pimpinan Lembaga, baik pengelola sekolah maupun yayasan. Alur pembelajaran STEAM dapat mengikuti Proses Engineering Design Proceess (EDP); dari menemukan masalah menuju STEAM
Tahap-tahap EDP
Keterangan:
• Devine the problem= mencari dan menemukan permasalahan
Murid diberi pertanyaan pemantik guna menemukan persoalan.
• Research and imagine=mencari jawaban dengan search
Murid mencari jawaban melalui referensi-referensi yang sesuai dari buku ataupun dari internet
• Plan=menyusun langkah kerja
Murid merencanakan kegiatan aplikatif guna mewujudkan solusi yang telah ditemukan
• Create= melakukan eksperimen
Murid melakukan percobaan-percobaan/eksperimen
• Test and Evaluate= menguji hasil kerja
Murid melakukan uji kelayakan
• Redesign= mendesain ulang
Perbaikan bila diperlukan
• Comunicatate=mengkomunikasikan
Murid mengkomunikasikan hasil kerja proyek ke khalayak.
Penyusunan RPP yang telah dilatihkan Ibu Maria ditindaklanjuti oleh Ibu Dian Atmajati dalam kegiatan pembuatan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Berangkat dari LKPD yang sudah ada, Ibu Dian memberi masukan, evaluasi, dan koreksi agar LKPD STEAM bisa lebih aplikatif dan sungguh memudahkan murid dalam bekerja. Penting diketahui, bahwa pada LKPD, khususnya LKPD STEAM perlu ditulis tujuan yang disarikan dari tujuan pembelajaran, karena LKPD fokus pada tujuan tertentu dari tujuan pembelajaran. Pencantuman tujuan pembelajaran dalam LKPD dimaksudkan untuk menyemangati murid dalam belajar. Ketika murid tahu tujuan dan manfaat apa yang dikerjakan, pasti akan bekerja dengan lebih sungguh-sungguh. LKPD harus runtut (tahap per tahap) juga detil. Perintah-perintah, pun pertanyaan-pertanyaan, perlu dibuat mengacu pada keadaan murid (memudahkan untuk kerja) sehingga aplikatif. Masalah perlu difokuskan supaya jelas. Perlu juga disiapkan sarana-sarana pendukung lain misalnya tabel, lembar pengamatan. Pendamping perlu mendapat arahan supaya menguasai materi sehingga tidak kebingungan, atau bahkan bisa berkreasi bila menemukan persoalan. Kegiatan pendampingan berupa pembuatan LKPD sesuai dengan proyek yang akan direncanakan.
Pada hari ketiga, dibawah bimbingan Bapak Tri Priantara, bapak – ibu guru berproses menyusun penilaian (rubrik assessment) STEAM. Asesmen mengacu pada tujuan, baik item, maupun sasarannya, bukan mengacu pada kegiatan. Maka, bahan asesmen dibuat terlebih dahulu untuk menjadi panduan proyek. Asesmen dirancang untuk mengukur proses dan hasil pembelajaran terintegrasi yang menekankan pada berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah. Penilaian bisa dilakukan per pribadi, per kelompok, atau kedua-duanya. Penilaian dibuat berdasar UBD (understanding by Desain). Berdasar asesmen, kegiatan dilakukan. Asesmen bisa dilakukan berdasar jenisnya: awal kegiatan berupa pre tes, selama proses kegiatan, dan setelah kegiatan atau post test. Komponen Utama Rubrik asesmen STEAM mengacu pada kemampuan Sains, Tekhnologi, Tekhnik, Seni, matematika, serta proses dan sikap yang meliputi kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan berpikir kritis. Penilaian dibuat dalam bentuk gradasi dengan penjelasan kualitas, maupun kuantitas kompetensi yang dimiliki murid. Bapak Beny menutup sessi kegiatan dengan melihat kembali rangkaian kegiatan workshop yang sudah dilalui peserta. Selanjutnya beliau menyampaikan tips-tips tertentu dalam membelajarkan STEAM. STEAM bisa berangkat dari mata pelajaran tertentu, misalnya aritmatika sosial. Mengawali pembelajaran STEAM juga bisa dengan problem solving. Sebagai bentuk penghargaan umum, Tim STEAM menyarankan hasil pembelajaran STEAM agar dipamerkan kepada masyarakat, khususnya para wali murid. Hal ini merupakan sebuah kebanggaan bagi semua. Bahkan hasil pembelajaran STEAM bisa menjadi sarana promosi sekolah.
Testomony Peserta
Workshop Pembelajaran STEAM diikuti oleh bapak-ibu guru dengan begitu antusias. Kerendahan hati mereka untuk belajar tampak dengan kesungguhannya dalam mengikuti sesi demi sesi, khususnya sessi kerja kelompok. Mereka mencurahkan tenaga dan pengalamannya untuk berbagi dan belajar. Bahkan secara tidak sadar mereka telah mewujudkan spiritualitas karmel bersaudara dan melayani. Bahkan pada akhir kegiatan mereka merasa mendapatkan manfaat dari worshop ini. Beberapa peserta mengutarakan hal ini.
Rm. Thomas mengalami pencerahan setelah mendapatkan pelatihan pembelajaran STEAM. Rm. Thomas yang semula membayangkan betapa sulit dan rumitnya membelajarkan STEAM pada murid, setelah mengikuti workshop merasa tercerahkan. Pembelajaran STEAM ternyata sederhana, praktis, dan menarik. Banyak inspirasi muncul dari pelatihan pembelajaran SEAM untuk diterapkan dalam pembelajaran agama. Hal ini beliau sadari mengingat tidak dimilikinya latar belakang kependidikan yang mendukung KBM.
Hal senada juga diungkapkan oleh Bapak Galih. Berdasar pengalaman mengikuti sebuah seminar, beliau mendapatkan informasi betapa ribet dan tidak mudahnya menerapkan pembelajaran STEAM. Tetapi workshop pembelajaran STEAM Sanata Dharma telah mengubah paradigma lama itu. Beliau siap bersinergi, berkolaborasi, pun membagikan ilmunya kepada rekan guru di SMAK St. Albertus, Malang.
Bapak Dedi dan Ibu Dina merasa terdukung dan tersemangati untuk menindaklanjuti pembelajaran STEAM dalam kegiatan kokurikuler di SMAK St. Paulus Jember. Sebelumnya mereka sudah membelajarkan pembelajaran senada dalam kegiatan pembuatan ecoenzym. Bagi mereka, pembelajaran STEAM dapat menjadi penyempurna pembelajaran dari pembelajaran sebelumnya itu.
Br. Mardi setelah mengikuti workshop pembelajaran STEAM juga mendukung penerapannya di SMAK St. Albertus. Banyak inspirasi timbul dari mengikuti workshop STEAM. Pejabat kepala sekolah SMAK St. Albertus ini akan memantapkan penerapannya pada kegiatan Dempo Environmental Education Program (DEEP) tahun mendatang. Dengan pembelajaran STEAM setidaknya mencegah bertambahnya para pelaku polusi lingkungan.
Keterbukaan, kekeluargaan, dan totalitas dari Tim Pembelajaran STEAM Sanata Dharma sangat mengesankan bagi Br. Mungsi dan Br. Vianey. Pembawaan tim dalam menyampaikan materi sangat menginspirasi. Mereka merasa tidak sia-sia membawa para guru kedua unit sekolah Yayasan Sancta Maria Malang ke Universitas Sanata Dharma untuk menimba ilmu dan praktek pembelajaran STEAM. Maka mereka hanya dapat mengucapkan limpah terima kasih.
Testimony positif membuat tim pemateri Pembelajaran STEAM puas dan bahagia. Mereka tetap membuka diri untuk dimintai bimbingan ataupun pendampingan. Tim STEAM Sanata Dharma sendiri memang terlihat sungguh kompeten. Mereka mendampingi para peserta secara profesional ( Penulis Bruder Antonius Mungsi, O,Carm.)
