Oleh: Rm. Gregorius Maria Jeffrey Wibiksono, O.Carm.

Setiap orang Katolik tentu saja memiliki keyakinan kuat bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi semua manusia tanpa pembedaan SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) dan pembedaan ekonomi. Ia datang ke dunia yang penuh dosa ini agar semua manusia dari berbagai bangsa menjadi satu dalam Kerajaan Allah. Artinya, Tuhan membawa kasih-Nya yang berlimpah agar semua manusia dapat merasakan kasih-Nya dan menjadi perpanjangan kasih-Nya yang menghidupkan.
Pendidikan iman dari Yesus yang lintas budaya dan status
Orang Katolik yakin bahwa warna kulit, rambut, mata, bentuk hidung, mata, bibir adalah ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Biar pun fisik berbeda, namun memiliki fungsi yang sama karena perbedaan berasal dari Tuhan untuk menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Tidak ada satu pun makhluk hidup yang sama persis meski berasal dari spesies yang sama dan serupa secara kasat mata. Manusia pun tidak ada yang sama persis meski kembar sekali pun.
Demikian halnya dengan Yesus yang berkarya di Israel. Ia tetap melayani manusia tanpa pilih kasih.Ia memilih kedua belas murid-Nya yang juga disebut rasul dari berbagai latar belakang keluarga, budaya dan ekonomi. Ada yang bersaudara seperti Simon Petrus dan Andreas serta Yakobus dan Yohanes anak-anak Zebedeus (Mat 10:1-4). Meski mereka semua adalah orang Yahudi, namun mereka berbeda karakter dan sifatnya. Meski mereka berempat adalah nelayan atau penjalan ikan, mereka berbeda secara tingkat ekonomi. Perbedaan-perbedaan ini menjadi kekayaan yang disatukan oleh Yesus bersama dengan kedelapan pria Yahudi yang lain menjadi satu sekolah iman Kristiani yang pertama di dunia. Sekolah iman inilah komunitas Kristiani yang dalam sejarahnya menjadi Gereja Katolik yang bertahan hingga saat ini.
Dalam karya-Nya di masyarakat Israel dan juga dalam mendidik keduabelas murid-Nya secara langsung, Yesus menunjukkan bahwa kehadiran dan kuasa cinta-Nya bisa dirasakan pula oleh orang-orang bukan Yahudi. Misalnya ketika seorang perwira Romawi yang datang kepada-Nya untuk memohon agar Ia menyembuhkan hambanya yang menderita sakit lumpuh dan hanya bisa terbaring di rumah, Yesus bersedia menyembuhkannya tanpa harus datang ke rumahnya. Bahkan, Ia memuji perwira dari bangsa bukan Yahudi itu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi” (Mat 8:10-12).Yesus tidak lupa menyinggung atau memperingatkan secara cukup tegas para pendengar-Nya dari bangsa Israel sendiri agar mereka memiliki iman yang benar kepada Tuhan.
Teladan kasih Yesus yang lintas budaya dan gender
Pendidikan iman dari Yesus kepada para murid-Nya tidak berhenti di situ. Ia juga mengajarkan bagaimana kata-kata-Nya yang keras bisa diterima dan dipahami dengan baik dan benar oleh orang bukan Yahudi. Kali ini seorang perempuan Kanaan dari daerah Tirus dan Sidon yang memohon kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Cara Yesus menghadapi ibu yang sedang kebingungan itu sekilas terdengar tidak wajar dan kasar. Pertama, Yesus sama sekali tidak menjawab. Kedua, setelah itu Yesus menjawab bahwa Ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Ketiga, setelah perempuan itu menyembah dan memohon dengan sangat pertolongan-Nya, Yesus justru menjawab, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” (Mat 15:26).
Bagi banyak orang, kata-kata Yesus ini bisa memancing emosi dan sentimen negatif kalau mereka tidak memahaminya. Namun, ibu tersebut tahu dengan pasti bahwa Yesus tidak bermaksud menghinanya. Orang Yahudi memang suka memelihara anjing dan menganggap anjing bagian dari keluarga, khususnya anak-anak anjing yang disukai oleh anak-anak, tetapi tentu mengutamakan anak-anak manusia dalam memberi makan daripada anjing peliharaan. Ibu itu tanpa ragu mengamini kata-kata Yesus yang mengguncangkan pikiran dan hati, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya” (Mat 15:27). Komunikasi yang positif dalam pendidikan iman ini berakhir dengan penyembuhan oleh Yesus bagi anak perempuannya dan juga kelegaan hati sang ibu. Yesus memuji ibu itu dan mengabulkan permohonannya, “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki” (Mat 15:28).
Spiritualitas kasih dalam diri Beato Baptista Spagnoli
Teladan kasih Yesus kepada manusia baik bangsa Yahudi maupun bukan Yahudi telah berkembang secara luas di dunia khususnya dalam Gereja Katolik. Ordo Karmel sebagai bagian kecil dari Gereja Katolik juga memiliki tokoh-tokoh yang meneladani kasih Yesus dan menghayati pendidikan iman dari Tuhan. Meskipun lahir di tanah Palestina tepatnya di Gunung Karmel, namun Ordo Karmel menjadi besar di Eropa Barat khususnya di Italia, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda dan Spanyol. Ini menjadi bukti bahwa kasih Tuhan berbicara kepada banyak suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda, namun tetaplah satu Roh Kudus.
Di bulan April, Ordo Karmel memperingati Beato Baptista Spagnoli Mantuanus. Ia lahir pada 17 April 1447 di kota Mantua, Italia utara, dari keluarga yang berasal Spanyol. Ia belajar teologi dan menjadi imam Karmelit sekitar tahun 1470dan pada tahun 1475 ia menjadi pengajar teologi di biara San Martino, Bologna. Ia berbakat dalam tulis menulis khususnya puisi. Pada umur 16 tahun, ia menulis buku berjudul De vita beata (Hidup Kudus) yaitusebuahdialog tentang hidup religius yang memuat aspirasi relasi manusia dengan Tuhan. Ia mendedikasikan dirinya secara sungguh-sungguh di bidang pengajaran dengan karya-karya tertulis tentang hidup religius, teologi, filsafat, prosa, puisi dan bahkan komedi.
Puisinya yang berjudul Parthenice Mariana mengisahkan hidup Bunda Maria dalam bahasa yang bersifat kepahlawanan. Ia juga memiliki sifat kritis dalam homilinya. Di Milan, ia dikenal sebagai tokoh pemberantas korupsi yang pada saat itu merajalela di masyarakat awam dan kaum klerus.Pada tahun 1489, ia berkhotbah di basilika Santo Petrus, Vatikan dan memberi konferensi di hadapan Paus Innocentius VIII dan para kardinal untuk melawan korupsi di dalam sistem Kuria Kepausan.
Salah satu puisinya yang berisi pesan tentang perlawanan menentang korupsi di kepausan telah digunakan secara khusus oleh Martin Luther dalam bukunya Against the Roman Papacy, An Institution of the Devil yang merupakan serangan besar terakhir Luthersecara langsung kepada Kuria. Puisi yang menentang korupsi kepausan itu telah membuat karya-karya Beato Spagnoli menjadi teks populer yang istimewa di kalangan Gereja Protestan Inggris.
Di samping menjadi pengajar dan penulis, Baptista juga mendedikasikan diri untuk Tarekatnya dengan enam kali menjadi Wakil Jenderal Kongregasi Mantova. Ia akhirnya menjadi Jenderal Ordo Karmel untuk periode 1513-1516. Ia juga dikenal sebagai tokoh pembaruan Kongregasi Mantova dan Ordo Karmel.
Beato Baptista Spagnoli telah menunjukkan kasihnya bagi Gereja, Ordo dan masyarakat. Sifat kritisnya telah membawa pembaruan karena berasal dari kasih akan Tuhan dan sesama. Siapa pun yang datang kepada Yesus akan mendapatkan pembaruan hidup yang nyata asalkan mau datang dengan rendah hati dan memohon agar Yesus melengkapi kekurangan dan kelemahan manusiawi kita.
Lembaga pendidikan, lembaga pemerintahan sipil dan militerserta lembaga hidup bakti tetap memerlukan sifat dan sikap kritis dari insan-insan yang peduli akan perkembangan positif dan kemajuan organisasi tersebut. Perwira Romawi dan perempuan Kanaan telah berjuang memohon dengan penuh kerendahan hati demi hidup hamba dan anaknya. Yesus pun dengan cara-Nya yang tegas, kritis dan mendidik mengabulkan permohonan dan memuji iman mereka yang bukan Yahudi. Para pendengar yang lain termasuk kita hendaknya menyadari juga pentingnya pendidikan iman yang kritis dan kasih yang unik dari Yesus bagi hidup kita setiap hari apa pun latar belakang budaya, sosial dan ekonomi kita.
Sumber:
1. Alkitab Deuterokanonika
2. Leks, Stefan, Tafsir Injil Matius, Yogyakarta: Kanisius, 2003.
3. Tinambunan, Edison R.L., Para Kudus Karmel, Malang: Karmelindo, 2015. 4. https://en.wikipedia.org/wiki/Baptista_Mantuanus
