Oleh : Ujang Sarwono, Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember

Beberapa waktu yang lalu suasana di SMAK Santo Paulus Jember sedikit berbeda. Sebuah spanduk berwarna merah berukuran 5 meter terpasang di halaman sekolah dengan tulisan “MER(D)EKA” Gerakan Membagi Mainan Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Itulah tema yang sengaja diusung dalam rangka memaknai hari lahir negara Indonesia oleh murid SMAK Santo Paulus Jember. SMAK Santo Paulus bekerja sama dengan Kompas TV Jember melakukan aksi sosial dengan membagikan mainan baru dan bekas kepada anak-anak di sekitar Kota Jember.
Sejak pagi beberapa murid dan guru sudah terlihat menyiapkan acara yang akan digelar tepat pukul 09.00 WIB. Hari itu telah terjadwal bahwa Bupati Jember akan hadir untuk membuka acara seklaigus memberikan sambutan terkait acara tersebut. Sekitar pukul 09.30 Bupati hadir di sekolah dengan seragam dinas warna cokelat. Suasana makin meriah ketika bupati memberikan sambutan di tengah ratusan murid, guru, dan karyawan yang berkumpul di halamn sekolah.
Sebuah ide sederhana yang berlandaskan kemanusiaan menjelama menjadi acara yang berkesan bagi murid. Ratusan murid memberikan maianan-mainan mereka untuk disumbangkan kepada anak-anak yang mungkin belum pernah merasakan memiliki mainan pada masa bermainnya. Kegiatan ini diawali dari sebuah keinginan untuk membuat pembelajaran Pendidikan Kewarganegaran (PKn) lebih bermakna dan berdampak langsung kepada murid. Salah seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan mencoba mengaktualisasikan dengan sebuah gerakan sosial. Para murid diberikan tugas berkelompok untuk mengunjungi panti asuhan dan orang-orang terlantar untuk berkontribusi memberikan sumbangan berupa materi dan motivasi.
Inilah langkah awal yang menurut saya awal dari sebuah bentuk pembelajaran yang variatif dan bermakna. Sebenarnya bisa saja materi-materi yang diajarkan hanya disampaikan di papan tulis. Namun akan lebih bermakna jika murid mengalami langsung terkait materi yang mereka pelajari. Paling tidak ada dua hal besar yang perlu diapresiasi guna mengembangkan pembelajaran yang lebih berdampak langsung pada masyarakat.
Pertama, langkah dan ide awal dari seorang guru PKn tersebut perlu diapresiasi. Seandainya guru tersebut hanya mengajarkan materinya di papan tulis maka tidak akan timbul gerakan berbagi yang sampai terkumpul ratusan maianan dan disumbangkan kepada puluhan anak-anak yang membutuhkan. Diperlukan keberanian untuk mengajarkan materi pembelajaran tidak sekadar memahami tapi juga mengalami. Terlebih sampai pada tingkat kebermanfaatan pada permasalahan-permasalahan kemasyarakatan. Jika pelajaran di tingkat sekolah sudah sampai pada tingkat bermanfaat bagi masyarakat, maka sebenarnya pembelajaran sudah pada fase yang lebih mulia yakni lebih humanis.
Kedua, yakni terkait kebijakan kepala sekolah yang memberikan ruang terhadap kreasi guru tersebut. Seandainya kepala sekolah selaku pengambil kebijakan di sekolah tidak mengizinkan kegiatan yang belum tentu “berdampak” besar bagi murid, maka tidak akan muncul sebuah aksi yang memberikan dampak sosial baik bagi murid maupun anak-anak yang mendapatkan donasi mainan. Perlu pemikiran dan pola pikir besar untuk memahami sebuah ide kreatif dari setiap guru. Hal ini berkaitan dengan dampak dan tingkat keberhasilan kegiatan yang belum tentu sesuai dengan harapan. Bisa saja kegiatan tersebut “kurang sukses” jika tidak banyak anak-anak atau murid yang mengumpulkan mainan untuk dibagikan. Namun kebijakan kepala sekolah yang berani mengambil keputusan tersebut layak diapresiasi. Berani mengambil risiko merupakan salah satu ciri orang yang berpikir maju.
Pendidikan Karakter
Setiap pembelajaran sudah seharusnya memasukkan nilai-nilai karakter untuk perkembangan anak didik. Namun tidak selalu mudah memasukkan setiap nilai karakter dari setiap pelajaran. Oleh karena itu, perlu ruang-ruang kreatif agar pendidikan karakter lebih nyata dirasakan oleh murid. Selain contoh kegiatan berbagi mainan saya rasa masih diperlukan lagi bentuk-bentuk kegiatan di sekolah yang banyak memberikan ruang kreatif kepada murid dengan tujuan menanamkan pendidikan karakter.
Sebagai bentuk sederhana, setiap mata pelajaran dimungkinkan untuk melakukan kegiatan yang bersinggungan dengan masyarakat. Pendidikan sudah seharusnya lebih kontekstual dengan melibatkan masyarakat atau menjawab permasalahan-permasalahan dalam masyarakat. Contoh sederhana yakni tentang kepedulian dalam hal pengurangan sampah plastik. Sudah menjadi isu dunia bahwa masalah sampah terutama plastik menjadi permasalahan serius. Dalam hal ini bisa direspon dengan mengampanyekan budaya antiplastik kepada murid dan warga sekolah. Tidak menggunakan kantong plastik saat belanja, menyediakan kantong dari bahan nonplastik, atau dengan cari aksi pengolahan sampah plastik merupakan bentuk respon yang bisa dilakukan oleh materi biologi dari isu yang terjadi di masyarakat.
Terakhir merupakan keberanian untuk mengambil risiko dalam setiap tindakan dalam pembelajaran. Setiap ide sebesar apapun akan tetap menjadi ide jika disimpan dalam pikiran. Oleh karena itu, perlu keberanian untuk mengaktualisasikan pembelajaran yang berdampak dan menjawab permasalahan di masyarakat. Pemegang kebijakan, yakni kepala sekolah hendaknya terbuka dan memberikan ruang kepada guru-guru untuk melakukan terobosan dalam pembelajaran.
Diharapkan dengan pembelajaran yang bersinggungan dengan masyarakat murid akan lebih mudah dalam memahami proses pembelajaran. Terlebih murid dapat merasakan dan mengalami langsung untuk menjawab permasalahan di masyarakat sebagai bekal dalam kehidupan ke depan. Lebih penting lagi pembelajaran selayaknya mampu merespon permasalahan-permasalahan sosial dan kemanusiaan sebagai bentuk aktualisasi pendidikan yang humanis.
