Oleh; Ardi Wina Saputra (Pebelajar Bahasa Indonesia di SMAK St. Albertus)

Saat ini dunia sedang lari tunggang langgang. Itulah ungkapan An Revolusi digital membuat pergerakan segala bidang semakin cepat dan tak terarah. Pola baru selalu muncul dari tahun ke tahun. Banyak hal hal yang mengejutkan yang tak lagi mampu diprediksi secara tepat. Pola ini ternyata berpengaruh pada generasi baru yang dilahirkan. Rhenald Kasali menamakan generasi baru yang muncul ini adalah generasi strawberi (strawbery generation). Dinamakan strawberi karena generasi zaman sekarang lahir dengan fasilitas yang serba komplit sehingga terlihat indah berkilau, ranum segar layaknya buah strawberi. Di sisi lain strawberi juga memiliki kelemahan yaitu mudah rapuh dan mudah busuk jika tidak cepat dimakan. Hal itu juga ditemui pada genersi kita. Kerapuhan serta mudahnya rasa putus asa semakin sering dialami anak zaman sekarang. Kosa kata untuk menggambarkan kerapuhan itu pun semakin lama semakin banyak mulai dari patah hati, broken heart, hingga galau. Herannya lagi, kosa kata itu semakin lama semakin menjadi trending topic. Anak zaman sekarang malah senang jika kerapuhanya tersebar luas di media sosial sehingga dia mendapat simpatisan. Inilah fakta-fakta yang menunjukkan bahwa generasi starwberi itu benar-benar ada. Oleh sebab itu, diperlukan inovasi dari para pendidik untuk mendidik generasi strawberi ini.
Salah satunya adalah dengan cara memperkuat karakter. Karakter digunakan sebagai kompas diri agar anak tidak terjerumus dalam badai arus informasi yang makin lama makin menghanyutkan jiwa dan badan. Untuk mewujudkan hal ini maka inti pendidikan perlu diperkental, aspek kompetisi, skill, keterampilan harus dipertajam. Apabila aspek-aspek tersebut diasah maka generasi strawberi tadi akan berubah menjadi generasi yang kokoh serta mampu mempertajam diri sendiri.
Berbicara tentang pendidikan, sesungguhnya Pak Mentri, Muhadjir Efendy telah memberikan keluwesan terhadap Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam mempresepsikan kebijakan-kebijakannya. Salah satunya adalah kebijakan Lima Hari Sekolah (LHS). Sering kali LHS ini dianggap sebagai Full Day School (FDS) padahal tidak! LHS adalah sistem belajar di sekolah yang mengintegrasikan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui LHS sesungguhnya kegiatan belajar mengajar tak hanya duduk di ruang kelas. Jika siswa masih dipaksa duduk di kelas sejak pagi hingga malam, maka tentu saja rasa betah menjadi pertanyaan. Apabila sekolah mampu menanggapi kebijakan ini maka sesungguhnya pemerintah sedang menanamkan Penerapan Pendidikan Karakter (PPK) bagi generasi strawberi.
Pemerintah mendorong sekolah untuk berinovasi dan tidak saklek. Penerapan kebijakan pemerintah ini dapat dikategorisasikan ke dalam lima tempat yaitu sekolah perkotaan, sekolah satelit, sekolah perdesaan, sekolah terpencil, dan sekolah pedalaman. Penanaman karakter dan wujud pembelajaran di luar kelas pun juga berbeda dari masing masing tempat tersebut. Semisal sekolah di desa saat jam pelajaran IPA sangat diperbolehkan mengajak siswa untuk ke sawah, ikut praktik dan berproses di sawah. Demikian pula dengan sekolah di kota, sangat dianjurkan agar sekolah tidak kuper (kurang pergaulan). Apabila letak sekolah tersebut dekat dengan perguruan tinggi, maka bisa saja siswanya diajak untuk mengikuti seminar, melihat pementasan drama, atau berkunjung ke perpustakaan kota saat jam pelajaran. Hal ini sekaligus memberi pengalaman baru pada siswa dan mengajak siswa untuk berani berinteraksi di masyarakat.
Lingkungan Superdiversitas
Seorang ahli sosiologi, Ralph Keyes mengatakan bahwa saat ini manusia berada dalam zaman pasca kebenaran. Zaman itu menyebabkan lingkungan menjadi serba luas seluas taman kota. Lingkungan superdiversitas ini juga dialami oleh anak. Melalui gawai yang berada dalam genggaman, mereka bisa menjelajah dan melebarkan sayap hingga ke ujung dunia sekali pun. Sesungguhnya faktor lingkungan maya ini juga mempengaruhi keranuman sekaligus kerapuhan generasi strawberi.
Anak-anak sedang diarak untuk tumbuh dalam hutan rimba informasi yang menyediakan berbagai macam buah. Mulai dari buah yang segar lezat bergizi, hingga buah yang beracun dan mematikan. Tentu tidak ada yang berharap seorang anak memakan buah tersebut. Dalam kitab suci dikisahkan Hawa memakan buah kuldi di taman Eden Ia tak tahu bahwa buah yang dimakannya adalah buah pengetahuan yang menjerumuskanya dalam dosa asal.
Begitulah kondisi generasi strawberi sekarang, mereka sedang berada dalam taman surga yang bisa saja memakan buah kuldi informasi sehingga tak mampu mengolahnya dan akhirnya terjerumus dalam dosa. Sungguh mengerikan, Oleh sebab itu sebagai pendidik alangkah baiknya kita menjauhkan ular-ular penggoda di Taman Eden anak anak agar anak tak mengkonsumsi informasi yang salah. Sekolah harus mampu luwes menerjunkan anak ke masyarakat, memaparkan realita sosial dan menunjukkan berbagai kemungkinan buruk yang terjadi. Sekolah tidak hanya terpatok dan bersungut ria dengan nilai-nilai kognitif saja tapi juga harus mampu mendobrak tembok sistematis yang justru membelenggu cara berpikir anak. Semoga restu keluwesan MBS yang disampaikan oleh Menteri ini dapat sampai juga di lapangan sehingga semakin luwes dan inovatiflah metode pembelajaran yang diberikan pada siswa, terlebih mampu mengembalikan siswa pada nilai hidup sesungguhnya, nilai karakter menghadapi realita kehidupan.
