
Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Anggota Dewan Pendidikan Tinggi dan Dewan Pendidikan Nasional; Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik
Memahami krisis iklim saat merayakan Hari Bumi berarti menyadari bahwa perayaan ini bukan sekadar simbol, melainkan panggilan untuk menghadapi realitas ekologis yang kian genting.
Pendidikan berkeadilan sosial ekologis menjadi kunci karena krisis iklim menyingkap keterkaitan antara kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial ekologs yang sering tersembunyi di balik narasi pembangunan demi kemajuan serta kemakmuran.
Tanpa pemahaman ini, upaya merawat bumi mudah jatuh pada tindakan seremonial yang tidak menyentuh akar persoalan. Sebaliknya, kesadaran kritis mendorong tindakan kolektif cerdas yang lebih adil, menghargai semua makhluk, dan berpihak pada para papa miskin rentan yang paling terdampak krisis.
Dengan demikian, merayakan Hari Bumi menjadi momentum refleksi kritis berkesadaran sekaligus transformasi, mengubah cara berpikir, belajar, dan hidup demi masa depan bersama, hidup sehat dan bahagia berkelanjuan (sustainable happiness).
Krisis Iklim
Krisis iklim datang tidak seperti badai yang tiba-tiba, melainkan seperti bisikan panjang yang diabaikan, angin yang menghangat, hujan yang lupa waktu, dan tanah yang perlahan kehilangan ingatan akan kesuburannya.
Krisis iklim adalah cerita tentang hubungan yang retak antara manusia dan bumi, tentang keserakahan, ketamakan, kerakusan yang disamarkan sebagai kemajuan.
Di ufuk yang memerah, kita melihat bukan hanya matahari terbenam, tetapi juga peringatan: bahwa dunia yang kita warisi sedang berubah menjadi dunia yang harus kita perjuangkan kembali.
Di tengah kegelisahan itu, pendidikan berdiri sebagai cahaya yang belum padam. Ia bukan sekadar ruang kelas dengan papan tulis dan angka-angka, melainkan ruang kesadaran yang mengajarkan kita untuk bertanya: siapa yang paling terdampak, dan mengapa?
Pendidikan untuk keadilan sosial ekologis mengajak kita membaca dunia seperti kita membaca buku, mengurai ketimpangan, memahami sejarah eksploitasi, dan menemukan suara-suara yang selama ini disenyapkan oleh arus pembangunan yang tak adil.
Anak-anak yang tumbuh hari ini mewarisi lebih dari sekadar pengetahuan; mereka mewarisi krisis. Namun di tangan mereka juga tersimpan kemungkinan, kemungkinan untuk membangun ulang relasi dengan alam, bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai bagian yang setara.
Dalam kurikulum yang berkeadilan, hutan tidak hanya menjadi objek ekonomi, melainkan saudara yang harus dijaga, sungai bukan sekadar sumber daya, melainkan nadi kehidupan yang mengalirkan cerita.
Keadilan ekologis tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial, sebab krisis iklim selalu menemukan jalannya menuju mereka yang paling rentan.
Pendidikan yang berpihak harus berani mengungkap kenyataan ini: bahwa kerusakan lingkungan sering kali berakar pada ketimpangan kekuasaan. Dari desa yang terendam banjir hingga kota yang tercekik polusi, suara keadilan memanggil kita untuk tidak hanya memahami, tetapi juga bertindak melampaui teori menuju perubahan nyata.
Maka, dalam narasi besar ini, pendidikan menjadi lebih dari sekadar alat; ia adalah gerakan. Sebuah gerakan yang menanam harapan di tengah tanah yang retak, yang mengajarkan bahwa masa depan tidak ditentukan oleh krisis semata, tetapi oleh keberanian untuk meresponsnya.
Di setiap langkah kecil menuju kesadaran, di setiap dialog yang jujur, kita menulis ulang kisah bumi bukan sebagai tragedi yang tak terelakkan, melainkan sebagai perjalanan menuju keadilan yang kita bangun bersama.
Retak Bumi Manusia
“Retak bumi manusia” adalah ungkapan yang menggambarkan putusnya keseimbangan antara manusia dan alam yang selama ini menjadi penopang kehidupan bersama.
Ia menandakan bahwa bumi tidak lagi diperlakukan sebagai rumah, melainkan sebagai objek yang terus dieksploitasi hingga mengalami luka sosial ekologis yang mendalam.
Retakan itu juga mencerminkan krisis moral dan kesadaran manusia yang semakin jauh dari rasa keterhubungan dengan sesama makhluk hidup. Dalam makna terdalamnya, frasa ini menunjukkan bahwa kerusakan bumi adalah cermin dari keretakan dalam cara berpikir dan cara hidup manusia itu sendiri.
Namun di balik retakan itu, masih ada kemungkinan untuk memperbaiki relasi dan membangun kembali kesadaran bahwa manusia dan bumi adalah satu kesatuan yang saling bergantung.
Relasi manusia dan bumi kini seperti cerita lama yang kehilangan makna aslinya. Dahulu, bumi dipahami sebagai rumah bersama, tempat manusia hidup berdampingan dengan hutan, sungai, dan makhluk lainnya dalam keseimbangan yang halus.
Namun perlahan, hubungan itu retak. Bumi tidak lagi dilihat sebagai ruang hidup yang harus dirawat, melainkan sebagai objek yang bisa diambil, dieksploitasi, dan ditaklukkan.
Dalam cara pandang ini, manusia menempatkan diri di atas segalanya, melupakan bahwa ia sendiri adalah bagian dari jaringan kehidupan yang sama.
Retaknya relasi ini tampak dalam berbagai krisis yang kita saksikan hari ini: hutan yang hilang, udara yang tercemar, dan perubahan iklim yang mengganggu ritme alam. Ketika manusia memisahkan diri dari bumi, ia juga memutus rasa empati terhadap makhluk lain.
Padahal, dalam banyak kearifan lokal, bumi tidak pernah diposisikan sebagai “milik” manusia. Semua adalah saudara, pepohonan, hewan, air, bahkan tanah tempat kita berpijak. Hubungan ini bukan sekadar metafora, melainkan cara hidup yang menekankan saling menjaga dan menghormati.
Mengembalikan relasi itu berarti mengubah cara kita melihat dunia. Bumi perlu dipahami kembali sebagai ruang kebersamaan, di mana manusia bukan penguasa, tetapi bagian dari keluarga besar kehidupan. Kesadaran bahwa semuanya adalah saudara membuka jalan bagi sikap yang lebih adil dan berkelanjutan.
Dari sanalah, harapan tumbuh bahwa hubungan yang retak ini masih bisa dipulihkan, jika manusia bersedia belajar kembali untuk hidup selaras, bukan menguasai.
Legitimasi Kekuasaan
Retaknya hubungan manusia dan bumi, jika dilihat dari perspektif legitimasi kekuasaan, bukan sekadar krisis ekologis, melainkan krisis cara manusia membenarkan dominasinya.
Dalam logika modernitas, kekuasaan memperoleh legitimasi melalui narasi kemajuan, pembangunan, dan rasionalitas teknologis, narasi yang, seperti diuraikan dalam Reinventing Eden, menempatkan manusia sebagai pengendali alam melalui sains dan teknologi.
Ekodemokrasi kemudian hadir sebagai kritik, menuntut distribusi kekuasaan ekologis yang lebih adil, di mana keputusan tentang lingkungan tidak dimonopoli oleh negara atau korporasi, tetapi melibatkan komunitas yang terdampak.
Namun retakan tetap terjadi karena struktur kekuasaan global masih bertumpu pada ekstraksi, mengambil dari bumi tanpa mengembalikan, seolah legitimasi kekuasaan lebih penting daripada keberlanjutan kehidupan itu sendiri.
Dalam kerangka ekofeminisme, retaknya relasi ini dibaca sebagai akibat dari logika patriarki yang sama yang menindas perempuan dan alam. Sejak Feminism or Death memperkenalkan istilah ekofeminisme, hubungan antara dominasi gender dan eksploitasi alam menjadi semakin terang: keduanya berakar pada sistem yang menormalisasi kontrol, hierarki, dan objektifikasi.
Pemikir seperti Vandana Shiva melalui Staying Alive: Women, Ecology and Development menunjukkan bahwa perempuan, terutama di Global South, sering berada di garis depan krisis ekologis sekaligus menjadi penjaga pengetahuan alternatif tentang keberlanjutan.
Di sini, retaknya relasi manusia-bumi bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga ketidakadilan gender yang terinstitusionalisasi.
Dari perspektif dekolonisasi dan feminisme epistemik, retakan itu semakin dalam karena adanya ketidakadilan pengetahuan, di mana cara-cara mengetahui dari masyarakat adat, perempuan, dan komunitas lokal disingkirkan oleh epistemologi Barat yang dominan.
Ketidakadilan ini, yang dikenal sebagai epistemic injustice, menghapus legitimasi pengetahuan lain dan mempersempit cara manusia memahami alam.
Proyek dekolonisasi berupaya membongkar warisan kolonial yang menjadikan bumi sebagai objek eksploitasi global, sekaligus mengembalikan ruang bagi pluralitas pengetahuan ekologis.
Dalam konteks ini, pendidikan untuk keadilan sosial ekologis dan pendidikan multikultural holistik menjadi medan penting: bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi memulihkan relasi, mengajarkan bahwa manusia tidak berdiri di atas bumi, melainkan hidup bersama dalam jaringan yang setara dan saling bergantung.
Sebagai kesimpulan reflektif kritis, beberapa karya penting dari para pakar yang dapat menjadi rujukan untuk memahami kompleksitas ini antara lain: Staying Alive: Women, Ecology and Development, Feminism and the Mastery of Nature, The Good-Natured Feminist: Ecofeminism and the Quest for Democracy, Unsustainable Inequalities: Social Justice and the Environment, serta Reinventing Eden.
Karya-karya ini memperlihatkan bahwa retaknya hubungan manusia dan bumi bukan takdir, melainkan hasil konstruksi sosial, politik, dan epistemic, yang karenanya masih mungkin untuk dipulihkan melalui transformasi cara berpikir, cara belajar, dan cara hidup bersama.
Cara Berpikir
Memulihkan relasi manusia dan bumi tidak cukup dengan kebijakan teknis, ia menuntut perubahan cara berpikir yang mendasar. Tindakan pertama adalah menggeser paradigma dari dominasi ke keterhubungan, melihat alam bukan sebagai objek, melainkan sebagai jaringan kehidupan yang setara.
Ini berarti menantang logika antroposentris dan membuka ruang bagi cara pandang relasional yang selama ini hidup dalam kearifan lokal. Tindakan kedua adalah membangun kesadaran kritis terhadap kekuasaan: memahami bagaimana ekonomi, politik, dan budaya membentuk cara kita memperlakukan bumi. Dengan kesadaran ini, manusia tidak lagi menerima eksploitasi sebagai “normal”, melainkan mulai mempertanyakan dan mengubahnya.
Transformasi cara belajar menjadi langkah berikutnya. Tindakan ketiga adalah mengintegrasikan pendidikan untuk keadilan sosial-ekologis ke dalam kurikulum, bukan sebagai tambahan, tetapi sebagai fondasi.
Pembelajaran perlu bersifat kontekstual, menghubungkan teori dengan realitas lingkungan sekitar, serta memberi ruang bagi pengetahuan lokal, pengalaman komunitas, dan perspektif yang beragam.
Tindakan keempat adalah mendorong pedagogi partisipatif, belajar tidak lagi satu arah, tetapi dialogis dan kolaboratif. Dalam proses ini, peserta didik dilatih untuk tidak hanya memahami krisis, tetapi juga mengembangkan empati, tanggung jawab, dan kemampuan bertindak bersama.
Transformasi cara hidup bersama menjadi kunci yang mengikat semuanya. Tindakan kelima adalah membangun praktik hidup kolektif yang berkelanjutan mulai dari pola konsumsi yang lebih sederhana, pengelolaan sumber daya secara adil, hingga solidaritas lintas komunitas.
Hidup bersama berarti menyadari bahwa kesejahteraan tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui relasi yang saling menjaga antara manusia dan seluruh makhluk. Dalam langkah-langkah kecil yang konsisten, menanam, merawat, berbagi, dan mendengar retakan itu perlahan dapat dipulihkan, membuka kemungkinan bagi masa depan yang lebih adil dan lestari.
Pedagogi Partisipatif
Di tengah krisis iklim, memahami kompleksitas persoalan tidak cukup dengan pendekatan pembelajaran yang konvensional. Lima pedagogi pembelajaran pedagogi kritis, ekologis, feminis, dekolonial, dan partisipatif, menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran yang utuh.
Pedagogi kritis, yang banyak dipengaruhi pemikiran Paulo Freire, mendorong peserta didik untuk membaca realitas secara reflektif dan mempertanyakan struktur ketidakadilan yang melanggengkan krisis. Sementara pedagogi ekologis menanamkan kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari jejaring kehidupan, bukan entitas yang terpisah dari alam.
Lebih jauh, pedagogi feminis dan dekolonial membuka ruang bagi suara yang selama ini terpinggirkan. Pemikiran Vandana Shiva menegaskan bahwa krisis iklim tidak dapat dipisahkan dari ketimpangan gender dan eksploitasi sumber daya di wilayah Global South.
Pedagogi dekolonial, di sisi lain, menantang dominasi pengetahuan tunggal dengan menghidupkan kembali kearifan lokal dan pengetahuan komunitas adat. Kedua pendekatan ini memperkaya cara belajar dengan menghadirkan perspektif yang lebih adil dan beragam, sehingga pemahaman tentang krisis iklim menjadi lebih kontekstual dan manusiawi.
Pedagogi partisipatif mengikat semuanya dalam praktik nyata. Ia menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif yang tidak hanya memahami, tetapi juga bertindak bersama dalam menghadapi krisis.
Dalam kerangka pendidikan berkeadilan sosial-ekologis, kelima pedagogi ini bukan sekadar metode, melainkan jalan transformasi, mengubah cara berpikir, cara belajar, dan cara hidup. Dengan pendekatan ini, pendidikan menjadi ruang untuk menumbuhkan harapan dan aksi kolektif, yang sangat dibutuhkan untuk merespons tantangan krisis iklim secara adil dan berkelanjutan.
Aksis Kolektif Cerdas
Aksi kolektif cerdas adalah upaya bersama yang tidak hanya mengandalkan semangat kebersamaan, tetapi juga pengetahuan yang kritis, terarah, dan berbasis pemahaman mendalam terhadap akar persoalan.
Dalam konteks krisis iklim dan pendidikan berkeadilan sosial-ekologis, aksi ini berarti menggabungkan kesadaran ekologis, analisis sosial, dan kemampuan membaca relasi kuasa yang membentuk kerusakan lingkungan. Ia tidak berhenti pada tindakan simbolik, tetapi bergerak menuju perubahan sistem yang lebih adil dan berkelanjutan.
Kecerdasan dalam aksi kolektif juga terletak pada kemampuan belajar dari berbagai sumber pengetahuan baik sains modern, kearifan lokal, maupun pengalaman komunitas yang hidup langsung dengan dampak krisis.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan pedagogi kritis yang menekankan kesadaran reflektif dan tindakan transformatif, sebagaimana dirumuskan oleh Paulo Freire.
Dalam kerangka ini, masyarakat tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi subjek yang aktif merancang solusi bersama berdasarkan konteks sosial dan ekologisnya.
Aksi kolektif cerdas adalah praktik hidup bersama yang sadar, terorganisir, dan berorientasi pada keadilan sosial ekologis.
Ia menuntut kolaborasi lintas komunitas, disiplin pengetahuan, serta keberanian untuk mengubah kebiasaan yang merusak bumi.
Dengan demikian, aksi ini bukan sekadar respons terhadap krisis, melainkan jalan untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan, di mana manusia dan alam dapat pulih dalam relasi yang lebih setara dan saling menjaga.
Saduran dari : https://voxntt.com/2026/04/22/memahami-krisis-iklim-dan-pendidikan-keadilan-sosial-ekologis/110355/
