Berkaca pada Prinsip Pendidikan  Titus Brandsma

Dunia pendidikan kita memang penuh dengan dinamika. Kebijakan-kebijakan pendidikan nasional khususnya kurikulum sering berubah seiring pergantian pejabat menteri yang berkuasa. Salah satunya pemberlakuan K.13 (Kurtilas) yang menurut pemerintah sebagai sebuah tanggapan atas persoalan pendidikan perlu terus menerus dikaji. Namun demikian, ada harapan terkandung di sana, penanaman nilai religious dan kepribadian dalam pelajaran mulai kembali mendapat perhatian.

Persoalan muncul ketika terjadi banyak  keluhan dari para  guru, terutama guru-guru eksak. Mereka kesulitan menyisipkan penanaman nilai sebagaimana diwajibkan oleh K.13. Apakah para guru ini memang tidak menemukan cara, atau tidak mau merepot diri, tetapi mestinya sebagai manusia Indonesia yang menghayati Pancasila, keluhan-keluhan itu tidak harus terjadi.

Pada sisi lain, di sekolah yang tidak ada keluhanpun penanaman nilai itu patut dipertanyakan juga. Banyak guru cenderung menekankan penyampaian materi daripada membumbui kegiatannya dengan penanaman nilai sebagaimana diharapkan oleh K.13. Maka situasi KBM lebih mirip ruang les privat.

Pada pertemuan para penanggungjawab pendidikan Ordo Karmel yang diprakarsai oleh Komisi Pendidikan Ordo di kantor Yayasan Sancta Maria Malang beberapa waktu lalu muncul keprihatinan bahwa hingga saat ini penanaman nilai Karmel masing dianggap kurang.  Baik pendidik maupun peserta didik belum mampu menunjukkan sikap dan tindakan sebagai buah penghayatan nilai Karmel. Justru yang terjadi adalah masih kentalnya persaingan tidak sehat, lemahnya pengabdian, dan melunturnya persaudaraan. Semakin memprihatinkan lagi, karena hingga saat ini belum ada format khusus pola penanaman nilai Pedagodi Karmel. Dalam hal ini Yayasan Sancta Maria Malang sedang berproses membuat format Pedagodi Karmel dengan membentuk tim penyusun.

Secara garis besar mestinya kita bisa berkaca  pada Bapak Pendidikan Ordo Karmel, Titus Bransdma. Dalam hal pendidikan memiliki semangat luar biasa dalam menuntut ilmu serta mau belajar terus. Ia aktif menulis  buku, artikel dan konferensi. Dalam spritualitas kita bisa belajar lewat sikapnya yang rendah hati, pantang menyerah, ketekunan & ketaatan pada ajaran Gereja, semangat doanya, penghayatan salib dan penyerahan dirinya, serta  pembelaan terhadap kaum tertindas. Sungguh seorang Karmelit yang sejati. Lewat tulisan kita bisa belajar banyak akan totalitas dalam mendidik diri sendiri dan orang lain.  Beliau  seorang yang berjiwa damai, sabar memahami pendapat orang lain, terlebih yang terlindas dan tersingkir. Beliau selalu memberikan kesaksian tentang kebenaran dan memerangi ketidakadilan serta selalu membela dan menegakkan apa yang menurut hati nuraninya benar. Sungguh hal yang sederhana namun sangat mendalam. Kita sering melupakan ini karena keegoisan yang masih mendominasi dalam diri kita.  Titus Brandsma mengajak kita semua untuk melakukan hal-hal yang sederhana atau ringan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan namun semua itu harus sangat berguna bagi sesama/orang lain.