Penghayatan  Spritualitas Karmel dalam Hidup Sehari-Hari

Oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.

Pengantar

Spiritualitas Karmel adalah suatu nilai yang amat luhur bagi manusia. Namun demikian, nilai ini tidak begitu mudah untuk dihayati. Sejauh pengalaman, banyak orang merasa kesulitan menghayati Spiritualitas Karmel karena terasa  masih di awang-awang alias tidak jelas. Padahal sebagai orang yang belajar, bekerja dan mencari rejeki di lembaga pendidikan milik Ordo Karmel kita punya tanggungjawab menanamkan nilai-nilai itu untuk diri sendiri dan sesama sehingga menjadi kekhasan hidup. Orang demikian akan disebut sebagai karmelit. Artikel ini dimaksudkan untuk berbagi gagasan dan pengalaman penghayatan spiritualitas karmel. Jika ide-ide ini dapat ditindaklanjuti di tempat karya kita masing-masing, tentu sangatlah indah suasana tempat kerja kita masing-masing.

Doa

“Hidup Karmelit bersumber pada doa sebagai kerinduan akan Allah. Para Karmelit terpanggil untuk hidup di hadirat Allah dan melihat segala sesuatu dengan mata Allah sendiri (bisa disebut kontemplatif).”

Spiritualitas pertama ini terkait dengan hakekat manusia sebagai makhluk religius. Manusia makhluk religious adalah manusia yang terbuka akan hal-hal transenden yang mengatasi dirinya (Hardjana.2009:16). Kereligiusitasan bangsa Indonesia diwadahi dalam sila pertama Pancasila dan dilegalisasikan dalam pasal 37 UUD 1945. Maka siapapun orangnya dan di manapun keberadaannya, semasih menganggap diri sebagai orang Indonesia pasti bisa berdoa dan mengembangkan hidup rohani.  Perlu disadari bahwa doa tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Doa tidak juga harus  diungkapkan secara formal. Namun demikian sebagai anggota masyarakat ilmiah (baca sekolah) kemampuan berdoa seseorang dengan kata-kata menjadi perlu dan penting. Ketika orang ingat akan Tuhan beserta segala rahmatNya, lalu berusaha mengungkapkannya dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, dalam hal itulah sejatinya  spiritualitas doa dihayati. Dengan demikian, spiritualitas doa dapat dihayati dengan tetap menjaga hubungan dan kedekatan diri dengan Tuhan. Orang yang senantiasa menjaga hubungan dan kedekatan dengan Tuhan tentu akan mudah sekali ingat akan Dia dan berusaha mengungkapkan ingatannya itu melalui kata-kata.

Spiritualitas doa dapat ditumbuhkembangkan melalui berbagai kegiatan rohani bersama seperti retret, rekoleksi, dan sebagainya (bdk. Charmers. 1995:57). Sedangkan penumbuhkembangan spiritualitas doa secara pribadi dapat dilakukan dengan kemauan setia berdoa pribadi dan terlibat dengan aneka kegiatan rohani. Mengembangkan refleksi/permenungan pribadi akan kehendak Tuhan dalam setiap peristiwa hidup juga merupakan penghayatan pribadi spiritualitas doa. Dalam kaitan dengan proses pembelajaran, spiritualitas doa dapat diwujudkan dengan menyisihkan waktu barang  tiga menit menjelang akhir pelajaran untuk berefleksi atas materi pelajaran yang dibahas dan mensyukurinya. Guru dapat meminta seorang murid untuk menyampaikan doa secara spontan. Ketika orang bekerja dalam kesadaran penuh akan  Tuhan (dalam nama Tuhan), ia pasti akan melakukan pekerjaan yang terbaik. Tidak ada dosa dan dusta padanya. Maka hendaknya kita perlu senantiasa berdoa.

Persaudaraan

“Dari kelimpahan hidup doa ini para Karmelit menjalin dan mewujudkan hidup bersaudara dalam komunitas. saling menerima dan memahami adalah kunci utama untuk membentuk persaudaraan.” Spiritualitas  Persaudaraan terkait dengan spiritualitas pertama. Spiritualitas Persaudaraan merupakan tindak lanjut atau penerapan dari pengalaman doa (pengalaman religious/pengalaman iman). Pengalaman relasi baik dengan Allah hendaknya juga menjadi dasar dibangunnya relasi baik dengan sesama saudara. Pengalaman menikmati kasih Allah dalam doa dibagikan kepada sesama saudara di luar doa. Dalam orang lain kita melihat dan menemukan Allah (Charmer. 1995:22). Maka akan sulitlah orang menghayati spiritualitas persaudaraan sejati jika tidak mengindahkan hidup rohani (hidup doa).

Spiritualitas persaudaraan  akan dengan mudah dihayati apabila kita sadar akan hakekat diri sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial kita tidak dapat hidup sendiri. Kita dibutuhkan dan membutuhkan orang lain. Hanya dengan cara itulah manusia bisa mencapai tujuan hidup pribadi dan bersama. Supaya masing-masing dapat menjalankan tanggungjawabnya sebagai makhluk sosial, diperlukan perhatian dan kepekaan terhadap orang lain dan kebutuhannya. Untuk itu seseorang harus keluar dari egonya; keluar dari ketertutupannya,  untuk selanjutnya membuka diri terhadap  orang lain. Lalu, siapakah saudara kita? Mereka yang ada di sekitar kita. Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, persaudaraan karmel dapat diwujudkan dengan banyak ragam sikap dan perbuatan nyata. Persaudaraan dapat dibiasakan dengan bertegur sapa secara tulus penuh keramahan (bdk. Charmers.1995:40). Tegur sapa  menunjukkan niat baik seseorang untuk mengorangkan/memanusiakan orang lain. Ketika bertegur sapa seseorang sadar dan mengakui keberadaan/kehadiran orang lain di sekitarnya. Kepekaan untuk mengenal dan dikenal adalah bukti awal dari keterbukaan itu. Persaudaraan dapat diungkapkan dengan cara saling memberi hormat, khususnya kepada mereka yang lebih tua. Landasan dari persaudaraan adalah persahabatan (Romeral. 2013:56).

Terkait dengan hidup bersama, penghayatan Spiritualitas Persaudaraan tampak nyata pada kehadiran seseorang yang menyejukkan dalam tutur kata, sikap,  dan perilaku. Orang akan merasa adem dan ayem berada di dekatnya. Tetapi ketika kehadiran seseorang menjadikan gerah orang lain bisa dipertanyakan sejauhmana ia menghayati Spiritualitas Persaudaraan.  Sedangkan terkait dengan kehidupan bersama penghayatan persaudaraan tampak dalam suasana kekeluargaan yang penuh dengan keguyupan dan kerukunan.

Kerasulan/ Pelayanan“Para Karmelit tidak mau hidup dalam “menara gading”, lepas dari saudaranya. Sebab itu akan menghentikan makna hidup doa dan persaudaraan. Para Karmelit hendak hidup di tengah-tengah umat. Mereka rindu memberikan kesaksian tentang kasih Allah  yang tak terhingga. Lewat karya pastoral dan kemasyarakatan inilah bentuk pelayanan sempurna karena berguna untuk sesama dan lingkungan.”

Kerasulan atau pelayanan adalah spiritualitas Karmel yang ketiga. Sebagaimana uraian di atas, spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas doa dan persaudaraan. Apa yang dirasakan dan dialami dalam doa dan persaudaraan dikonkritkan lagi dalam tindak pelayanan. Spiritualitas Pelayanan adalah wujud konkrit dari dua spiritualitas yang lain. Bagaimana spiritualitas ini dapat dihayati? Santo Yakobus dalam suratnya mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia (Yak. 2:20). Dalam konteks ini pelayanan merupakan bagian dari perbuatan perwujudan iman. Lebih lanjut Prior Jendral Ordo Karmel mengingatkan bahwa pelayanan hendaknya dilakukan  secara sukarela dan tanpa pamrih (Romeral. 2013:39). Pelayanan yang tidak dilandasi dengan kerelaan dan tanpa pamrih hanya akan menyebabkan turunnya pengorbanan dan pengabdian seseorang.

Kerasulan atau pelayanan adalah spiritualitas Karmel yang ketiga. Sebagaimana uraian di atas, spiritualitas ini tidak dapat dipisahkan dari spiritualitas doa dan persaudaraan. Apa yang dirasakan dan dialami dalam doa dan persaudaraan dikonkritkan lagi dalam tindak pelayanan. Spiritualitas Pelayanan adalah wujud konkrit dari dua spiritualitas yang lain. Bagaimana spiritualitas ini dapat dihayati? Santo Yakobus dalam suratnya mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia (Yak. 2:20). Dalam konteks ini pelayanan merupakan bagian dari perbuatan perwujudan iman. Lebih lanjut Prior Jendral Ordo Karmel mengingatkan bahwa pelayanan hendaknya dilakukan  secara sukarela dan tanpa pamrih (Romeral. 2013:39). Pelayanan yang tidak dilandasi dengan kerelaan dan tanpa pamrih hanya akan menyebabkan turunnya pengorbanan dan pengabdian seseorang.

Spiritualitas Karmel doa, persaudaraan, dan pelayanan adalah satu kesatuan. Doa mendasari dan berbuah persaudaraan dan pelayanan. Sebaliknya pengalaman persaudaraan dan pelayanan dibawa dan dipersembahkan dalam doa. Dalam penghayatan satu tindakan dapat menjadi cermin perwujudan ketiga spiritualitas sekaligus. Seorang guru   menjadi promotor kebersihan kelas karena sadar bahwa kelas yang bersih akan menggembirakan pegawai kebersihan (persaudaraan dan pelayanan) pun sebagai bentuk syukur atas kesehatan yang diterima (doa). Seorang murid  dengan rela membantu temannya yang kesulitan belajar (persaudaraan dan pelayanan) karena sadar bahwa tindakan membantu itu merupakan ungkapan  syukurnya pada Tuhan  atas ilmu yang diterima. Dalam doa menjelang akhir pelajaran seseorang dapat mengungkapkan syukurnya pada Tuhan (doa) dan mendoakan orang-orang yang telah terlibat dalam proses belajar hari ini (persaudaraan dan pelayanan). Keluarga karmel hendaknya menjadikan ketiga Spiritualitas Karmel sebagai pilar penopang kehidupan. Dengan tetap menyadari ketiga spiritualitas sebagai satu kesatuan, kita tidak akan mudah jatuh ke dalam pragmatisme-pragmatisme pelayanan yang memerosotkan kualitas kinerja sebagai murid, guru, pun karyawan.

Sumber :  

Charmers, Joseph. 1995. Konstitusi Ordo saudara-Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Malang: Karmelindo.

Hardjana, Agus M. 2009. Religiositas, Agama, dan Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius.

Kitab Suci Deuterokanonika. Jakarta: Lembaga Biblika.

Romeral, Fernaando Milan. 2013.Pembinaan Karmelit: Suatu Perjalanan Transformasi. Ratio Institutionis Vitae Carmelitane. Kuria Jendral Ordo Karmel Roma 2013.  Malang: Karmelindo.

www.ordokarmelindonesia.org.