Keberagaman/Multi-Kultural Perlu Dipahami Bersama. Tidak Boleh Ada Yang Superior Dari Yang Lain.

Wawancara Khusus dengan Rektor Untar Jakarta: Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, S.T., M.T., I.P.M

Merupakan sebuah berkat khusus dari Tuhan ketika pada edisi ini redaksi Majalah Flos Carmeli bisa memuat laporan hasil wawancara dengan Prof. Dr. Agustinus Purna Irawan, S.T., M.T., I.P.M. Prof. API, demikian lelaki  kelahiran Mataram, Tugu Mulyo, Lampung ini adalah seorang peneliti dan tokoh pendidikan yang mumpuni dalam bidangnya. Beliau diminta oleh Yayasan Sancta Maria Malang untuk memberikan seminar/workshop kepada para guru dan karyawannya. Di sela-sela persiapan workshop tersebut wartawan kita berhasil mewawancarainya. Berikut petikan hasil wawancara Bapak Irenius Sola (tulisan cetak miring) dengan Bapak API.

Bolehkah kami mengetahui secara sepintas identitas Bapak?

Nama saya Agustinus Purna Irawan. Saya punya satu istri, namanya. Dr. Dwinita Laksmidewi, S.E., M.Si. Sekarang istri saya bekerja sebagai dosen Fakultas Ekonomi Unika Atmajaya Jakarta.  Anak saya tiga: yang pertama bernama  Albertus Raditya Danendra, siswa SMA Kanisius Jakarta, Kelas XII. Yang kedua bernama  Gregorius Dimas Baskara, siswa SMA Kanisius Jakarta, Kelas XI. Terakhir bernama Brigita Jasmine Anindya, masih TKK Sang Timur, Kelas TK B.

Saya biasa dipanggil dengan nama API. Entah kebetulan atau suatu anugerah bahwa sapaan API sungguh penuh makna. Sebagaimana api berperan membakar semangat, demikianlah saya ingin selalu membakar semangat siapa pun. Pesan yang hendak saya sampaikan adalah, “Jangan pernah menyerah, pasti selalu ada jalan. Selama memiliki talenta, keyakinan, dan semangat, kita pasti bisa.”

Sekarang saya tinggal di Jalan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Daerah saya masuk lingkungan Antonius – Paroki Maria Bunda Karmel Tomang Jakarta. Saya berusaha aktif dalam hidup menggereja. Cukup banyak kegiatan menggereja saya libati: anggota koor Swara Antonius, Lingkungan Antonius; Pemandu Kitab Suci; Pemazmur; Ketua Lingkungan Antonius (2010-2015); Anggota Dewan Paroki Harian Gereja MBK Tomang (2010 – 2012); Sekretaris De2wan Paroki Harian Gereja MBK Paroki Tomang (2015 – 2018).

 Bagaimana tentang sejarah pendidikan Bapak?

Pendidikan SD dan SMP saya tempuh di Tugumulyo: SD Xaverius Tugumulyo, 1978-1984, SMP Xaverius Tugumulyo, 1984-1987. Pendidikan SMA saya tempuh di Lubuklinggau: SMA Xaverius Lubuklinggau, 1987-1990. Sarjana Strata Satu saya tempuh di Sarjana Teknik Mesin, FT-UGM, 1995. Kemudian saya melanjutkan S2 di Magister Teknik Mesin, FT-UI, 2003. Study doctoral saya tempuh di Teknik Mesin, FT-UI, 2011. Dan gelar Profesor Bidang Ilmu Teknik, FT Untar, 2014.

Tentang sejarah pendidikan ini saya punya pengalaman menarik. Dahulu sewaktu lulus SMA saya adalah juara satu se kabupaten Musi Rawas. Tetapi ketika harus sekolah di luar daerah, tepatnya di UGM saya harus akui bahwa kejuaraan saya itu tidak ada apa-apanya. IP saya sangat rendah. Kesadaran akan kenyataan ini membuat saya memacu diri untuk belajar giat.

Bagaimana peran Bapak dalam pendidikan nasional?

Keterlibatan saya dalam kegiatan eksternal (Kementerian dan Organisasi Profesi) cukup banyak. Anggota Tim Reviewer Kenaikan Jabatan Fungsional Akademik Dosen, Kopertis Wilayah III Jakarta. Evalutor Program Studi Baru, Kemristekdikti. Panitia Teknis Penyusunan SNI di IKM Kementerian Perindustrian. Reviewer Hibah Penelitian Dikti. Asesor Sertifikasi Dosen dan Laporan Beban Kerja Dosen. Koordinator Bidang Sertifikasi dan Profesi, Badan Kejuruan Mesin, Persatuan Insinyur Indonesia. Wakil Sekretaris merangkap Anggota, Majelis Penilai Sertifikasi Insinyur Profesional, Badan Kejuruan Mesin, Persatuan Insinyur Indonesia.

Keterlibatan dalam Lembaga pendidikan sejak tahun 1998 hingga sekarang juga lumayan banyak. Tahun 1998-sekarang Dosen Tetap di FT UNTAR. Tahun 2004-2009 Sekretaris Jurusan Teknik Mesin FT UNTAR. Tahun 2011-2012 Staf Rektor Bidang Pengembangan Aakdemik . Tahun 2012-2017 Dekan Fakultas Teknik UNTAR. Tahun 2016-sekarang Rektor UNTAR. Tahun 2000-sekarang Kepala Laboratorium Fenomena Mesin. Tahun 2000-2009 Wakil Kepala Bagian Konstruksi Mesin . Tahun 2009-sekarang Kepala Bagian Perancangan Mekanikal dan Otomasi. Tahun 2011-2017 Manajer Sentra HKI UNTAR

Luar biasa padat ya Pak? Sekarang kita masuk ke pokok wawancara. Bagaimana sikap dan pandangan  Bapak Agustinus tentang masyarakat multikultural?

Secara essensi, kita ini selain makhluk individu, juga makhluk social. Fakta ini menunjukkan bahwa kita tidak dapat hidup sendiri. Hidup kita tergantung banyak hal dan banyak orang, pun melibatkan banyak orang. Keterlibatan dapat dilihat dari  berbagai lini, budaya, agama, bangsa dan negara.

Multikultur merupakan satu sistem yang besar. Maka multikultur ini perlu dipahami bersama. Penting juga untuk diperhatikan adalah bahwa di dalam multikultur ini tidak boleh ada yang superior dari yang lain. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, sehingga dapat saling mengisi dan melengkapi. Multi kultur harus dan sangat perlu dikembangkan terus.

Akhir-akhir ini, Indonesia sering dilanda konflik horizontal yang bernuansa SARA, apa tanggapan  Bapak Agustinus atas hal tersebut?

Konflik horizontal sebenarnya tidak banyak. Ini terkesan menjadi banyak kan karena di-blowup di media sosial. Secara umum, masyarakat kita sesungguhnya masyarakat yang betul-betul baik. Kita sudah dapat merasakan di tempat kita masing-masing. Persoalannya adalah bahwa kadang-kadang hal yang kecil di perbesar atau dibesar-besarkan maka menjadi konflik yang luar biasa.

Pemerintah sangat berperan dalam memelihara keragaman. Untuk itu perlu pemerintah terus mengedapankan penegakan  hukum terhadap pelanggaran hukum, sehingga tidak terjadi konflik apalagi konflik yang berkepanjangan. Tidak kalah penting adalah keteladanan para pemimpin. Mereka harus memberikan teladan dalam kerukunan. Misalnya, tidak ada konflik di TV atau media.

UNTAR perguruan Tinggi besar dan ternama di Indonesia. Tentu yang kuliah di situ beragam etnis-agama-ras-golongan. Sebagai orang nomor satu di UNTAR, apa kiat yang Bapak Agustinus jalankan untuk mengayomi semua yang beragam tersebut?

Ya. UNTAR memang memiliki mahasiswa yang berasal dari semua propinsi dari Sabang sampai Merauke. Maka bias dikatakan bahwa UNTAR adalah universitas nasional. Kalau ingin melihat Indonesia mini ada di sana. Sikap kami terhadap hal ini adalah tidak membeda-bedakan. Semua orang boleh kuliah di UNTAR.

Kami mengayomi berdasarkan keragaman budaya dan agama masing-masing. Semua kegiatan kemahasiswaan semua agama ada pun  dibiayai oleh Untar. Lebih dari itu, ada pentas bersama, misalnya perayaan bersama dalam kegiatan keagamaan. Sebentar lagi ada perayaan Imlek, Natalan Bersama, Halalbihalal bersama. Semua civitas akademika diundang.

Sebagai orang Katolik yang diberi kepercayaan sebagai orang nomor satu di lingkungan UNTAR, kalau boleh tahu: apakah ada tantangan/hambatan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab? Apa itu?

Tantangan jelas banyak. Pertama, nilai-nilai yang dikembangkan di Untar sifatnya nasional. Kedua, tidak semua orang seiman dengan kita. Ketiga, mahasiswa beragam. Namun demikian, bukan berarti tidak dapat dikembangkan dari kaca mata kristiani.

Apa yang harus kita buat sebagai orang katolik. Perbuatan kita harus berdasarkan injil. Pelayanan untuk semua orang. Kesempatan diberikan kepada semua orang: potensi, penilaian. Sebisa mungkin kita mempertahankan nilai-nilai kekatolikan. Dalam setiap pengarahan atau pidato saya selalu mengutip ayat-ayat injil. Misalnya: Selagi beri ceramah saya kutip dari Kej.:3:19. Selain itu kita harus member pelayanan lebih dari yang lain. Sejauh saya tahu, tidak ada rektor yang datang paling pagi dan pulang paling malam. Saya melakukan ini. Semua orang kaget dan heran. Saya kira tidak semua rektor demikian.

Bagaimana menanamkan sikap saling menghormati dalam keberagaman yang multikultural di Negara kita yang tercinta ini?

Pertama-tama harus berangkat dari para pemimpinnya. Keteladanan dari para pemimpin menjadi sangat penting. Kalau pemimpin tampil saling menghargai, maka di bawah akan menjadikan tindakan para pemimpinnya ini sebagai acuan.

Kedua, kita perlu mengembangkan pendidikan karakter.  Pendidikan karakter yang berkaitan dengan penumbuhkembangan niali-nilai keberagaman harus dikembangkan, seperti pendidikan bela negara, juga prinsip persatuan yang mengarah kepada pengakuan akan Negara Indonesia yang multikultur.  

Apakah di UNTAR ada semacam model pendidikan multikultutral yang yang terserap dalam mata kuliah khusus?

Ya.  Ada tiga nilai yang menjadi pilar pendidikan UNTAR. Ketiga nilai itu adalah  integritas, profesionalisme, dan enterpreneuship. Dari ketiga nilai itu terdapat nilai multikultur, entrepreneurship, budaya inovasi, budaya saling menghargai, yang ada di mata kuliah agama. Dalam kegiatan kemahasiswaan terjadi pembauran antara satu  dengan yang lain.

Bagaimana pandangan Bapak Agustinus tentang kebhinekaan yang sifatnya multikultural dalam merajut harmoni Tunggal Ika?

Kita harus bangga dan bersyukur dengan kebinekaan yang menjadi ciri kas bangsa kita. Suatu rahmat kekayaan yang sungguh luar biasa. Selain itu kebhinekaan harus kita kembangkan. Untuk itu, orang Indonesia harus memiliki semangat kebhinekaan. Kalau tidak amat sangat berbahaya.  Negeri ini akan cepat hancur oleh perpecahan dan peperangan. Sejak jaman dulu kita telah diajarkan sikap yang namanya “tepo seliro”, atau tenggang rasa.

Di sekolah kami (SMAK St.Albertus dan SMAK St.Paulus) tidak lepas dari murid-murid dan guru-guru yang beragam multikultual. Apa saran Bapak Agustinus untuk pengelola, juga warga masyarakat (murid, guru, karyawan) sekolah-sekolah ini? Saran saya adalah bahwa sistem harus dibuat yang baik. Sistem sangat menentukan arah ke mana lembaga ini akan dibawa. Tidak kalah penting bahwa semua orang yang menjadi warga lembaga ini harus memtuhi aturan yang sama. Lembaga harus  mempunyai visi dan misi yang sama. Harus juga sering diadakan dialog, komunikasi, pertemuan dari hati ke hati. Tujuannya adalah untuk membangun kebersamaan. Kalau ada persoalan, utamakan mencari solusi bukan punishment.