oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.

Hakekat kehidupan asrama bukan sekedar pembentukan kebiasaan dan kesan-kesan sensorik, namun juga suatu proses pembentukan nilai-nilai hidup(Hamiyah.2015:187). Salah satu fungsi dan tujuan asrama adalah menanamkan nilai dalam diri anggotanya sehingga menjadi sebuah karakter(2016:3-4). Sebuah nilai dikatakan menjadi karakter apabila sudah terinternalisasi atau terbatinkan. Pada sisi lain sebenarnya pada masing-masing anak sudah ada potensi untuk menjadi baik. Hanya kebaikan itu perlu diasah sehingga menjadi mengkilat. Seseorang dikatakan memiliki karakter apabila dalam dirinya sendiri mampu menampilkan nilai (nilai) tertentu secara terus menerus sehingga menjadi sebuah jati diri atau identitas. Maka penanaman karakter tidak sekali jadi atau beberapa kali jadi, melainkan butuh proses yang bersifat berkelanjutan dan terus menerus. Dari sinilah berangkat istilah pembiasaan dan kebiasaan.
Ada banyak nilai yang hendak ditanamkan pada anggota asrama. Ada banyak cara pula dalam usaha menanamkan nilai-nilai kehidupan. Salah satu cara yang dipakai adalah dengan menulis refleksi sepanjang dua puluh kalimat. Lho? Bagaimana caranya? Apa hasilnya?
Latar Belakang
Salah satu kelemahan anak asrama adalah soal tanggungjawab. Lemahnya tanggungjawab ini berkorelasi dengan nilai-nilai hidup lainnya: kepedulian, kebersihan, hemat, bela rasa, dan sebagainya. Dengan demikian, tanggungjawab merupakan nilai dasar yang harus sungguh-sungguh diperhatikan dan ditumbuhkembangkan dalam diri anak. Lemahnya tanggungjawab tampak pada sikap dan tindakan meninggalkan barang di sembarang tempat. Tidak heran bila pada masa-masa awal tahun pembinaan sering ditemukan barang-barang bergeletakan di tempat-tempat umum seperti teras, ruang belajar, dan sebagainya. Barang-barang yang ditinggalkan pun bermacam-macam, antara lain tas sekolah, buku – alat tulis, peralatan makan, HP, laptop, pakaian, dan sebagainya. Dampaknya adalah mereka sering membuang sampah sembarangan dan membiarkan tempat umum yang baru saja dipakai dalam keadaan berantakan.
Kebiasaan hidup nyaman dengan layanan pembantu di rumah dalam segala hal membuat anak-anak tidak peka terhadap harta milik. Hal ini didukung oleh sikap permisif orang tua yang tidak menghendaki anaknya “menderita atau susah.” Tidak jarang juga anak-anak ditinggal bekerja oleh orang tua dengan disediakan aneka macam mainan (termasuk game). Sikap cinta semu ini berlanjut pada sikap orang tua yang enggan menunjukkan apalagi mengajari anaknya hidup susah. Padahal bagaimanapun juga manusia butuh berjuang agar bisa hidup (struggle of life). Kenyamanan dan kemapanan hanya akan melenakan orang saja kalau tidak mau dikatakan membuat orang malas. Akibatnya (banyak) anak tidak menyadari bagaimana orang tua mengusahakan barang-barang itu melalui kerja kerasnya. Mereka tahunya hanya meminta, meminta, dan meminta. Bila barang itu rusak atau hilang dengan mudahnya mereka minta uang untuk membelinya. Pada sisi lain orang tua begitu mudah memenuhi keinginan dan permintaan anak. Padahal mereka sendiri tidak mampu mengusahakan.
Seperti sudah disingguung dalam awal sub ini, dalam tindakan meninggalkan barang sembarangan sebenarnya terkandung banyak nilai hidup terabaikan. Nilai-nilai hidup itu antara lain tanggungjawab, syukur/terima kasih, hemat, dan perjuangan. Nilai – nilai ini berubah menjadi sikap instan, tidak mau repot. Hal ini tidak dapat dibiarkan karena bertentangan dengan nilai pendidikan. Pendidikan tidak hanya sekedar mengembangkan otak tetapi mengembangkan sisi-sisi kehidupan manusia secara utuh (holistic). Anak-anak yang hanya sekedar berkembang otaknya hanya akan menyuramkan masa depannya.
Pembinaan Asrama.
Asrama sekolah adalah suatu tempat dimana para siswa bertempat tinggal dalam jangka waktu yang relative tetap bersama dengan guru sebagai pengasuhnya yang memberikan bantuan kepada para siswa dalam proses pengembangan pribadinya melalui proses penghayatan dan pengembangan nilai budaya(Hamiyah. 187). Salah satu prinsip pengelolaan asrama adalah memberikan pengaruh positif dalam pembentukan dan penanaman sikap serta kebiasaan-kebiasaan yang baik pada diri siswa((Latifah.2012). Untuk itu asrama bermanfaat sebagai pengendali perilaku buruk murid (ebagai lembaga pendidikan non formal, asrama prihatin dengan keadaan awal para anggotanya.
Asrama berusaha membuat mekanisme aturan untuk meminimalisir bahkan menghilangkan sikap tidak bertanggungjawab ini. Asrama – dalam hal ini pembina – mengambil dan menyimpan (menyita) barang-barang yang ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Barang ini tidak akan kembali pada pemiliknya tanpa ada tebusan. Tebusan itu bisa berupa membeli kembali saat diadakan pelelangan atau mengerjakan suatu tugas dari pembina. Hasil dari lelang – yang biasa berupa uang – ditambahkan dalam dana APP yang kemudian diserahkan kepada gereja saat Paskah. Kita tahu bahwa hasil APP digunakan untuk kegiatan-kegiatan sosial.
Terkait dengan tebusan berupa pengerjaan tugas, pembina asrama menentukan pembuatan refleksi tertulis sepanjang 25 kalimat. Aneka topik bisa menjadi bahan refleksi. Topik itu antara lain perjuangan orang tua mencari nafkah. Dalam refleksi juga dimuat beberapa hal antara lain alasan pengambilan barang, dan janji untuk tidak meninggalkan barang. Refleksi ditulis tangan – bukan diketik- dengan tangan dengan mengindahkan tata cara penulisan ilmiah.
Meski tampak sederhana, tidaklah demikian bagi anak asrama. Alasannya adalah bahwa perkembangan tekhnologi dan kemajuan jaman membawa dampak tidak menggembirakan. Budaya SMS mengakibatkan anak enggan membaca tulisan/kalimat panjang. Kebiasaan membuka referensi dan copy paste menyebabkan anak enggan menulis. Itulah sebabnya amatlah tidak mudah bagi anak-anak untuk dapat merangkai kalimat sebanyak 25 itu dengan runtut. Sanksi ini sebenarnya sudah menjadi penderitaan tersendiri.
Namun demikian, jika sanksi ini dijalankan dengan baik, sebenarnya ada makna lain yang hendak ditanamkan dalam diri mereka. Mereka dilatih dan dipaksa untuk bisa menuangkan gagasan/ide dalam tulisan secara tertata dan runtut. Hal ini sangat mendukung tugas mereka sebagai pelajar. Sebab pada dasarnya seorang pelajar harus membiasakan diri menulis guna menuangkan ilmu yang diperoleh. Untuk bisa menulis dengan baik, anak juga harus membiasakan diri membaca. Karena kesadaran akan jati diri demikian begitu lemah, maka harus ada pengkondisian dan pembiasaan ilmiah.
Proses Pembinaan.
Visi-misi asrama menuntut seorang Pembina asrama tidak hanya sekedar hadir. Seorang Pembina asrama harus mencintai tugas dan tanggungjawabnya. Rasa cinta dan tanggungjawab ini yang akan menggerakkan seorang Pembina asrama menghayati lebih dahulu nilai-nilai hidup berasrama sebelum menuntutkan kepada para anggotanya. Dengan kata lain, seorang Pembina asrama harus bias menjadi teladan bagi anak-anaknya (Rasa cinta ini pula yang membuat Pembina asrama selalu memiliki idealitas terhadap asrama beserta anggota-anggotanya. Pembina asrama selalu melakukan inovasi dan kreasi agar hidup berasrama tidak monoton dan mandeg.
Pembina asrama selain senantiasa menjaga relasi baik terhadap anak-anaknya, juga berusaha menerapkan prinsip pendidikan 6 N. Adapun yang dimaksud dengan 6 N adalah singkatan dari Nuntun, Nonton, Nuduhke, Ngaruh-aruhi, Nyeneni, dan Nyembahyangke. Penanaman nilai tanggungjawab termasuk bagian dari 6 N ini (Mungsi. 2013).
Sebelum melakukan penyitaan barang tertinggal, Pembina terlebih dahulu mengingatkan berkali-kali akan pentingnya sikap tanggungjawab dan manfaatnya. Sikap bertanggungjawab setidak-tidaknya mengajak anak untuk meringankan beban orang tua. Anak berlaku hemat sehingga tidak setiap kali minta uang untuk membeli barang yang hilang karena tidak dijaga keberadaannya. Kebutuhan orang tua tidak hanya untuk anak itu sendiri, tetapi masih banyak kebutuhan-kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Dengan ringannya beban hidup maka orang tua tidak stress.
Pembinapun tidak hanya sekedar menyita lalu menaruh barang sitaan secara sembarangan. Pembina juga tidak boleh meninggalkan barang-barang miliknya sembarangan. Untuk itu asrama menyediakan tempat khusus untuk menyimpan barang-barang itu. Tempat itu terkunci rapat dengan kunci hanya dipegang oleh Pembina sendiri. Di asrama putra tempat penyimpanan barang sitaan itu berupa dua almari.
Hasil Pembinaan
Penderitaan menulis refleksi menyebabkan anak-anak cukup jera meninggalkan barang sembarangan. Dengan sadar mereka memilih untuk menjaga barang-barangnya daripada menulis. Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa tujuan dan harapan penanaman nilai mulai menampakkan buahnya. Secara tidak sadar mereka diajak untuk bertanggungjawab terhadap barang-barang miliknya. Selanjutnya mereka juga diajak bertanggungjawab terhadap barang-barang pun tanggungjawab yang dipercayakan kepada mereka. Barang-barang itu termasuk barang asrama.
Berdasar pencermatan proses, usaha ini baru menampakkan hasil yang cukup menggembirakan setelah pelaksanaan minimal 6 bulan berjalan ke depan secara terus menerus. Anak-anak baru (baca kelas X) mulai tidak meninggalkan (lagi) barangnya secara sembarangan. Mereka juga berusaha mengingatkan temannya untuk tidak meninggalkan barang sembarangan. Semakin sering mengingatkan maka dalam diri seseorang terpatri nilai apa yang diingatkan itu. Sedangkan kelas XI dan kelas XII sangatlah jarang meninggalkan barang – barang miliknya. Dengan demikian, selanjutnya konsentrasi penanaman nilai tanggungjawab berpusat terarah pada kelas X saja.
Meski dikatakan bahwa anak asrama tidak suka menulis, itu bukan berarti anak asrama tidak dibiasakan dan dikondisikan menulis. Dengan cara dan konteks berbeda anak asrama diwajibkan menulis. Mereka wajib melaporkan kegiatan liburan saat akhir semester. Kegiatan pembinaan awalpun menuntut anak untuk memaknainya dalam bentuk tulisan. Beberapa tulisan ini dikumpulkan dan digabungkan dengan jenis-jenis tulisan lain kemudian dibukukan sebagai bentuk laporan pembinaan kepada orang tua. Buku yang dimaksud adalah buku Segulung Benang Pengurai Berkat.
Siklus yang Terus Terulang
Persoalan pembinaan asrama terletak pada selalu terulangnya kasus-kasus kelemahan manusia: kurang tanggung jawab, tidak peduli, masa bodoh, dan sebagainya. Hal ini sangat masuk akal karena setiap tahun ada rombongan anggota baru yang masuk. Meski tidak semua anggota baru memiliki kelemahan dalam hal tanggungjawab, tetapi kelemahan itu menghinggapi mayoritas orang baru.
Dalam konteks tertentu penanaman nilai di asrama St. Albertus dapat dikatakan cukup berhasil. Hal ini dapat dicermati pada pemikiran, sikap perbuatan, dan perkataan anak-anak kelas XI dan XII. Sangat jarang ditemukan barang-barang anak kelas XI dan XII berceceran di tempat umum. Bahkan tidak segan-segan mereka mengingatkan adik kelasnya untuk tidak meninggalkan barang sembarangan. Namun demikian, penanaman nilai tanggungjawab bukan berarti selesai. Penanaman nilai selalu dan terus berlangsung. Maka dalam kurikulum pembinaan asrama anak kelas XI dan XII memang harus sampai pada tugas menghayati nilai dan menjadi teladan bagi adik-adiknya.
Selalu berulangnya masalah seringkali membuat bosan Pembina asrama. Namun cinta dan kesadaran akan tanggungjawab kepada banyak pihak menggerakkannya untuk tidak membiarkan rasa bosan terus terjadi. Nilai 6 N harus senantiasa dihudupi, dihayati dan dijalankan dalam pembinaan asrama. Pembina asrama harus senantiasa mendekatkan diri pada Tuhan untuk menjalankan prinsip ke 6; Nyembahyangke, nyembahyangke anak asrama dan nyembahyangke diri sendiri.
Daftar Referensi
Hamiyah, Nur dan Mohammad jauhar. 2015. Pengantar Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
Latifah, Nur. 2012. Pengelolaan dan Penyelenggaraan Asrama Sekolah. dalam https://manajemenlayanankhusus.wordpress.com diunduh 29/8/2017.
Mungsi, Antonius. 2016. Buku Tata Hidup dan panduan Hadiah – Sanksi Asrama Putra St. Albertus Malang. Malang: Literasi Aspuci
Mungsi, Antonius. 2016. Segulung Benang Pengurai Berkat. Kumpulan Refleksi dan laporan Kegiatan Asrama Putra St. Albertus. Malang: Literasi Aspuci.
Mungsi, Antonius. 2014. Mendidik Kaum Muda Berkarakter Sebuah Sharing Usaha Penanaman Nilai Di Sekolah Dan Asrama. Materi Pembinaan Guru Katholik Keuskupan Malang. Pusat Pastoral Keuskupan Malang.
Nurwardani, Paristiyanti. 2017. Panduan Asrama Pendidikan Profesi Guru 2017. Jakarta: Direktorat Pembelajaran. Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset dan Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi. Rahmatullah Putri, Anisa. 2015. Administrasi Layanan Khusus dalam http://annisarahmatullahputri.blogspot.co.id. diunduh 29/8/2017.
