Menanamkan Pendidikan Berkarakter Melalui Sastra

Oleh : Ujang Sarwono, Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember

Siapa yang belum membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata? Atau adakah yang belum melihat film Laskar Pelangi? Pasti sebagian besar dari kita sudah pernah membaca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata atau hanya sekadar melihat film Laskar Pelangi. Novel yang menjadi best seller dengan penjualan mencapai ratusan ribu eksemplar ini begitu diburu oleh masyarakat. Lalu kenapa buku berjudul Laskar Pelangi begitu diminati oleh masyarakat hingga sutradara ternama bernama Riri Riza mengangkatnya menjadi sebuah film pada tahun 2008? Inspiratif, membangkitkan semangat, dan banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Mungkin itu adalah sebagian jawaban dari kita saat ditanya kenapa tertarik dengan karya sastra berbentuk novel yang berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.

Novel yang menceritakan tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di Belitung yang penuh dengan keterbatasan ini begitu menarik perhatian masyarakat. Mulai dari pelajar, guru, dosen, pejabat, hingga masyarakat umum tertarik membaca novel ini.

Novel berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata adalah salah satu dari ribuan karya sastra di Indonesia. Sebagian orang rela untuk membeli buku ini selain membeli kebutuhan primer manusia. Melalui tulisan, Andrea Hirata mampu memberikan pengaruh yang sangat besar kepada pembacanya. Melalui karyanya seorang penulis mampu membuat orang menangis, tertawa, bahkan sanggup memberikan semangat baru kepada pembacanya. Karya sastra mampu memberikan pelajaran hidup kepada setiap pembacanya.

Sastra (Sanskerta: shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta ‘sastra’, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘sas’ yang berarti “instruksi” atau “ajaran” dan ‘tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Oleh karena itu, sudah pasti sebuah karya sastra entah itu novel, cerpen, puisi, atau drama memberikan nilai tersendiri bagi pembaca.

Dari mana orang dapat menemukan nilai-nilai kehidupan saat membaca sebuah karya sastra? Pada setiap karya sastra baik itu puisi, cerpen, drama, atau novel selalu mengandung unsur intrinsik dan ekstrinsik baik sebagian ataupun keseluruhan. Unsur intrinsik meliputi, tema, tokoh, alur, latar, gaya bahasa, dan amanat. Sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur pembangun karya sastra dari luar seperti latar belakang pengarang dan nilai-nilai kehidupan

( politik, sosial, maupun budaya ). Melalui salah satu unsur intrinsik yaitu amanat para pembaca karya sastra diajarkan tentang nilai-nilai kehidupan yang salah satu fungsinya dapat digunakan oleh guru Bahasa Indonesia sebagai bahan untuk membentuk karakter siswa.

Nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kerja keras, semangat pantang menyerah, keadilan, kebijaksanaan, dan takwa kepada Tuhan perlu ditanamkan kepada siswa sebagai bentuk pelaksanaan pendidikan berkarakter. Sebuah karya sastra merupakan salah satu media yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan tersebut kepada siswa. Oleh karena itu, menjadi hal penting kepada guru, terutama guru Bahasa Indonesia untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan pada setiap (KD) kompetisi dasar yang akan diajarkan kepada siswa.

Karya sastra seperti, cerpen, novel, atau drama adalah sebagian dari karya sastra berbentuk prosa fiksi yang terdapat dalam (SK) standard kompetisi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai guru Bahasa Indonesia yang memiliki tugas menyampaikan materi tersebut kepada siswa harus menepis pandangan bahwa karya fiksi hanya ditulis berdasarkan imajinasi pengarang. Konsepsi bahwa prosa fiksi merupakan cerita hasil khayalan para sastrawan dapat menimbulkan pandangan bahwa sesuatu yang dibicarakan dalam karya sastra itu bukanlah sesuatu yang serius dan berharga. Penjelasan dari guru Bahasa Indonesia kepada murid yang lebih menyeluruh sangat diperlukan sebagi upaya pemahaman bahwa di dalam karya sastra berbentuk prosa fiksi mengandung nilai-nilai kehidupan yang sarat akan kebaikan.

“…kau terpelajar Minke, seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.” Kalimat tersebut adalah penggalan dari novel karya Pramodya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Melalui kalimat tersebut kita akan bisa menangkap sebuah pesan atau nilai kehidupan yaitu keadilan. Ya, sebagai manusia kita harus selalu berperilaku adil kepada siapapun, bahkan Prammodya mengajak kaum terpelajar sudah berperilaku adil sejak dalam pikirannya. Hal ini menjadi bukti bahwa dalam karya sastra mengandung sebuah nilai-nilai kehidupan yang layak dijadikan bahan untuk membentuk karakter siswa.

Masih banyak karya sastra lain yang dapat dijadikan bahan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada siswa di sekolah. Semua itu tergantung bagaimana seorang guru dapat menyajikan sebuah materi sastra kepada siswa secara menarik. Hal ini untuk menumbuhkan rasa ketertarikan atau antusiasme siswa dalam mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia khususnya materi sastra (drama, cerpen, novel, atau puisi) yang kurang disenangi oleh sebagian besar siswa.

Berdasarkan fakta mengenai pelajaran Bahasa Indonesia yang kurang diminati siswa, menjadi tantangan tersendiri bagi setiap guru Bahasa Indonesia untuk menyampaikan materi Bahasa Indonesia khususnya sastra secara menarik dan menyenangkan. Dengan menyajikan materi secara menarik dan menyenangkan akan membuat siswa memiliki motivasi untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Jika sudah timbul motivasi yang tinggi dari siswa untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia khususnya sastra, akan lebih mudah bagi seorang guru untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada siswa sebagai bentuk proses pendidikan berkarakter.