Oleh: Bapak Yulius Lilik Andoko (Guru Sosiologi)

“Jujur, saat menulis refleksi ini saya bahagia mengingat semua pengalaman yang saya dapat dari tempat live-in. Saya mulai merindukan keluarga angkat saya, merindukan masyarakat Wonorejo, dan merindukan semua yang sempat terjadi di Desa Wonorejo selama saya live-in. Live-in ini mengajarkan saya bagaimana saya harus banyak-banyak bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan, tidak boleh bermalas-malasan, bekerja keras, dan belajar tentang bagaimana pentingnya bersosialisasi.”
(dikutip dari refleksi live in Arin Anjas, Peserta Didik SMAK St. Albertus Malang kelas XI-S.3/3 Tahun Ajaran 2015/2016)
Sudah lama live-in menjadi salah satu program pendidikan karakter di SMA Katolik St. Albertus (SMA Dempo) Malang. Bahkan menurut keterangan beberapa guru senior, SMA Dempo adalah sekolah pelopor pertama live in di Kota Malang. Dalam kegiatan ini, para siswa tinggal selama 4 hari 3 malam di tengah masyarakat desa. Tulisan ini mencoba mengkaji kegiatan ini secara filosofis-sosiologis serta memberikan saran/masukan demi semakin baiknya kegiatan ini selanjutnya.
Membentuk Manusia yang Integral
Plato, seorang filsuf Yunani kuno, mengatakan bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang integral (utuh). Manusia yang utuh adalah manusia yang mampu menghidupi αρετή (areti: keutamaan) dan ηθική (ithiki: moralitas). Live in dapat menjadi sarana bagi para siswa untuk mencari dan menemukan keutamaan-keutamaan hidup. Keutamaan itu bisa berupa kasih, keadilan, persaudaraan, kelemahlembutan, syukur, kesederhanaan, kerendahanhati, dan lain sebagainya.
Refleksi menjadi langkah pertama untuk menginternalisasikan keutamaan itu dalam kehidupan mereka. Mengapa refleksi? Dengan tegas Socrates mengatakan, hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani. Berefleksi adalah melangkah mundur untuk melihat peristiwa/pengalaman yang pernah dialami. Bukankah kita akan melompat lebih jauh kalau kita mundur ke belakang mengambil ancang-ancang? Atau terinspirasi puisi Kahlil Gibran “Anakmu Bukan Milikmu” yang menyebut anak-anak adalah anak panah, refleksi ibaratnya menarik mundur tali busur agar anak panah (dalam hal ini peserta didik) dapat melesat maju ke arah tujuan.
Aksi (act) menjadi langkah berikutnya dalam menginternalisasikan keutamaan hidup. Ini adalah langkah penting yang justru sering dilupakan. Mungkin pernah muncul pertanyaan: mengapa retret, outbond atau live in yang menghabiskan ratusan juta itu rasanya tidak mengubah apa-apa? Hal ini karena kegiatan-kegiatan tersebut, mengutip Jean Paul Sartre, hanya sampai pada tataran kesadaran reflektif, dan belum menjadi habitus. Barangkali dalam mengolah pengalaman live in kita bisa mengadopsi gagasan Cardinal Joseph Cardijn (1882-1967) yang dalam analisa sosialnya menggunakan metode see – judge – act.
Dalam act terjadi praktik penghayatan keutamaan hidup. Keutamaan tidak berhenti pada renungan indah, tetapi pada aksi nyata. Di sinilah seseorang menghidupi dan memperjuangkan keutamaan. Aksiyang dilakukan terus menerus akan melahirkan habitus. Paulo Friere mengatakan, pendidikan sebagai sebuah proses dialektika: aksi – refleksi – aksi. Dialektika ini terjadi berulang-ulang sehingga menghasilkan siklus dialektika.
Pendidikan Multikultural
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultur, live in dapat menjadi sarana pendidikan karakter. Di tengah berbagai gejala intoleransi yang masih terjadi akhir-akhir ini, para siswa diajak untuk menyadari realitas masyarakat Indonesia yang secara an sich adalah masyarakat multikultur. Pakar pendidikan, Paul Suparno, SJ mengatakan, melalui live in siswa bisa diajarkan menghargai perbedaan melalui tinggal bersama dengan komunitas berbeda, dan kemudian merefleksikannya.
Perjumpaan dengan masyarakat akar rumput dapat menjadi sarana bagi para siswa bagaimana hidup dalam harmoni. Perbedaan yang ada bukan menjadi halangan untuk menjalin persaudaraan. Umumnya sifat hubungan masyarakat pedesaan berbentuk komunitas paguyuban (gemeinshacft). Sosiolog Ferdinand Tonnis menyatakan, salah satu ciri masyarakat desa ialah adanya ikatan kebersamaan (kolektif) yang sangat kuat. Semangat kesetiakawanan dan gotong royong menjadi dasar ikatan kebersamaan itu. Di sinilah para peserta live in dapat belajar bagaimana membangun persaudaraan sejati di tengah masyarakat multikultur.
Beberapa Masukan
Pengalaman terlibat sebagai tim Pastoral Care, panitia dan pendamping live in selama lima tahun membuahkan beberapa evaluasi dan masukan untuk kegiatan ini.
Pertama, perlu ada act/karya nyata sebagai follow up dari buah-buah refleksi. Live in yang dilakukan di SMA Dempo menurut Penulis sudah terencana dengan baik. Kegiatan ini dimulai dengan 3 kali pembekalan, meliputi pembekalan spiritualitas, pembekalan tentang sosiologi pedesaan, dan pembekalan etiket. Setiap peserta masing-masing diberi buku harian yang digunakan untuk mencatat peristiwa/pengalaman selama mereka live in. Di akhir kegiatan live in setiap anak diwajibkan untuk menulis refleksi pengalaman dan dikumpulkan kepada Pastoral Care.
Menurut Penulis, buah-buah refleksi itu perlu diwujudnyatakan dalam karya nyata. Karya nyata itu, misalnya, dapat berupa pengabdian sosial kepada masyarakat yang ditinggali. Bersama pendamping, para siswa dapat diajak untuk berefleksi dan menemukan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat tersebut. Sebuah karya nyata pernah dilakukan ketika para siswa live in di Paroki Purworejo dan Lodalem, Malang Selatan pada tahun 2011. Mereka membagikan dan menanam 1000 pohon jambu merah. Setelah para siswa kembali, sekolah pun masih memberikan sumbangan kepada sebuah Taman Kanak-Kanak yang kondisi bangunannya sangat memprihatinkan.
Pengabdian sosial bisa juga dilakukan dalam lingkup yang lebih luas. Misalnya, pendampingan belajar untuk anak-anak jalanan, pendampingan PIA/Sekolah Minggu, pelayanan ke panti asuhan, kunjungan ke penjara, relawan pelayanan kesehatan, dan lain sebagainya. Kegiatan ini dapat diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran tertentu, misalnya Pendidikan Agama, PPKn, atau Sosiologi. Di sini proses dialektika aksi – refleksi – aksi dapat diimplementasikan.
Kedua, live in dapat diberi nilai tambah sebagai sarana pendidikan multikultural. Selama ini, pintu masuk untuk mengadakan live in adalah melalui pendekatan Gereja. Kelebihan dari pendekatan ini adalah lebih praktis dan mudah dalam membagi dan menempatkan para siswa. Selain itu, pengawasan/mekanisme kontrol dapat dilakukan dengan mudah. Namun, kalau live in ingin diberi nilai tambah sebagai sarana pendidikan multikultural, maka para siswa yang selama ini tinggal di keluarga-keluarga Katolik atau Kristen, dapat juga tinggal di keluarga-keluarga non-Katolik/Kristen. Maka, pendekatan Gereja yang selama ini dilakukan dapat ditambah dengan pendekatan Pemerintahan.
Sebagai sebuah sekolah kehidupan, live in dapat menjadi harapan di tengah-tengah usaha menanamkan karakter pada peserta didik. Dukungan dari Kepala Sekolah dan para guru selama ini menunjukkan komitmen SMA Dempo sebagai sekolah yang unggul dalam penanaman karakter. Semoga terus berlanjut!
