Debat Korupsi di KPK Jakarta

oleh : Ariel Tantono (murid kelas XII.S1 SMAK St. Paulus Jember)

Perlu berbagai cara untuk menanamkan budaya antikorupsi di kalangan pelajar. Salah satu cara yang bisa dilakukan yakni dengan melibatkan murid pada berbagai kegiatan terkait upaya memerangi korupsi di Indonesia. Tujuannya jelas, memupuk rasa peduli dalam diri murid untuk memerangi korupsi.

Suatu kehormatan bagi siswa SMAK Santo Paulus Jember dapat mengikuti ajanglomba debat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta. Lomba debat tingkat nasional tersebut diikuti oleh hampir seluruh pelajar SMA dari berbagai penjuru tanah air.Sudah menjadi agenda tahunan bagi KPK menyelenggarakan lomba debat dengan tema antikorupsi. KPK berkeinginan generasi muda semakin menyadari tentang bahaya korupsi yang harus diperangi bersama. Selain itu, KPK juga berharap generasi muda semakin memiliki karakter yang kritis, jujur, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

            SMAK Santo Paulus Jember mengirimkan satu tim yang beranggotakan tiga orang yakni, Ariel Tantono kelas XII IPS1, Carmelie Clara Martin Kelas XI IPA 3, dan Margareta Yulinda Kelas XI IPS 1. Pelaksanaan lomba diadakan mulai tanggal 4 – 7 September 2017 bertempat di Gedung KPK C-1, Jakarta Selatan. Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang dengan mengirimkan esai kami lolos ke Jakarta untuk mengikuti debat bersama 15 tim dari sekolah yang berbeda.

Bagi kami, pertama kali memasuki gedung KPK merupakan pengalaman yang tidak akan terlupakan sepanjang sejarah hidup. Beberapa orang besar yang kami temui selama di KPK mampu memberikan kesan yang cukup mendalam. Pengalaman yang kami rasakan seolah merupakan mimpi yang menjadi kenyataan. Sebelumnya tidak pernah menyangka, esai yang kami kirimkan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti lomba akan memikat hati para juri yang membacanya. Hasilnya, kami menjadi salah satu tim yang berhak mengikuti perlombaan di Jakarta. Tim ini menjadi satu-satunya tim yang mewakili Kota Jember dalam lomba debat KPK. Rasa bangga yang melekat pada diri kami, dapat membawa nama sekolah untuk maju sampai ke tingkat nasional.

            Suatu tantangan tersendiri bagi kami sebagai siswa SMAK Santo Paulus yang berdomisili di Jember untuk berkompetisi dengan pelajarSMA lain se-Indonesia yang didominasi pelajar SMA dari DKI Jakarta. Selain pengalaman berharga yang kami dapatkan, hubungan dan relasi juga kami bangun saat bertanding dengan siswa dari SMA lain. Di dalam ruangan debat mungkin kami beradu argumen dan berselisih pendapat, tapi di luar kami berteman dan bercengkerama bersama. Akhirnya, kami mendapat gelar Top 10 Candidates Finalist yang dapat mewakili Jawa Timur.

Ketertarikan dalam bidang politik ternyata mampu mengantarkan saya pada titik ini. Semua ini bermula dari kegemaran saya membaca buku dan mendengarkan berita. Bermula dari hal yang kecil dan ditekuni terus menerus, lama kelamaan akan membentuk karakter yang kuat dalam diri kita. Kuncinya adalah selalu fokus kepada apa yang kita kerjakan, Karena yang bisa menghambat perkembangan dalam diri kita satu-satunya yaitu diri kita sendiri.

            Banyak pelajaran yang dapat saya ambil dalam perlombaan yang saya ikuti ini. Entah itu ketidaktahuan saya ataupun kesalahan yang saya perbuat. Kekurangan yang saya rasakan pada saat perlombaan menjadikan tempaan bagi saya, guna terbentuknya kepribadian yang rendah hati dan mau bertanggung jawab. Saya sadar bahwa selama ini saya terkungkung dalam lingkungan saya sendiri, tapi sebenarnya masih banyak yang ada di luar sepengetahuan kita. Saya selalu percaya peribahasa bahwa di atas langit masih ada langit.             Keberhasilan yang kami raih, tidak lepas dari dukungan sekolah dan guru. Peran sekolah sebagai agen penanaman karakter yang paling utama. Penanaman Pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah dapat membawa kami sampai pada pengalaman berharga. Kedisiplinan yang diterapkan pada sekolah berbuah keberhasilan yang dapat kami nikmati pada kemudian hari. Bakat yang dimiliki murid tidak dibiarkan terpendam dan terlupakan. Kami bangga sebagai pelajar dan generasi muda mampu memberikan warna dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kami diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan bakat yang kami miliki.