
Rekoleksi Pegawai Yayasan Unit Kantor dan Asrama Tahun 2026
Pada tanggal 17 – 18 Juni 2026 telah dilangsungkan rekoleksi Yayasan Sancta Maria Malang di Rumah Pembinaan St. Julie Billiart Jalan Argomoyo No.2A Lawang. Sebanyak 39 orang peserta dalam kegiatan ini. Mereka terdiri dari pengurus dan karyawan kantor pusat, serta pembina dan karyawan keempat asrama di bawah kelola Yayasan. Rekoleksi ini sangat istimewa karena melibatkan seluruh karyawan asrama yang ada di bawah Kelola Yayasan meliputi asrama putra St. Albertus, Asrama Edit Stein 1 dan 2, serta asrama Putra-Putri St. Paulus. Selama ini kegiatan Yayasan belum melibatkan karyawan asrama Putra-Putri St. Paulus, Jember. Hadir sebagai pendamping adalah Rm. Frans Borta Rumapea, O. Carm. Hadir juga sebagai pencair suasana dua frater Karmel dari komunitas Rajabasa: Fr. Santus dan Fr. Mario.
Br. Vianey, O. Carm sebagai kepala PSDM Yayasan dalam pengantarnya mengatakan bahwa rekoleksi ini berpijak pada Peraturan Kepegawaian Yayasan pasal 11. Dikatakan bahwa setiap pegawai Yayasan wajib mengikuti pembinaan yang dilakukan oleh Yayasan. Pembinaan karyawan meliputi rekreasi dan rekoleksi yang dilaksanakan bergantian di setiap tahunnya. Tujuannya adalah selain untuk membina persaudaraan karyawan antar unit, juga terwujudnya visi misi Yayasan. Pembinaan karyawan juga menjadi sarana peneguhan dan pemotivasian karyawan asrama yang bekerja secara tersembunyi. Sebagai lambang kesatuan dan persaudaraan, masing-masing pegawai unit diminta menyanyian lagu Flos Carmeli. Sedangkan Rm. Dion sebagai ketua Yayasan dalam sambutannnya selain mengucapkan banyak terima kasih kepada Rm. Borta sebagai pemateri, tetapi juga menyampaikan rasa kebahagiaannya atas berkumpulnya seluruh karyawan asrama untuk berkegiatan bersama.
Pendalaman Tema
Sebagaimana ditulis sebagai judul artikel, rekoleksi karyawan Yayasan Sancta Maria kali ini mengambil tema “Melayani Sepenuh Hati.” Namun, sebagai karyawan lembaga yang bernaung di bawah perlindungan St. Maria, tema rekoleksi dibuat lebih menukik dengan sub tema “Melayani Sepenuh Hati seperti Maria Melayani Sepenuh hati.” Dengan demikian, maksud rekoleksi adalah mengajak peserta untuk meneladan St. Maria, sang pelindung yang telah melayani dengan sepenuh hati. Adalah sebuah tindakan yang sangat mulia bila suatu perlindungan dibalas dengan peneladanan.
“Apakah Anda bahagia bekerja di asrama atau kantor Yayasan?” demikian pertanyaan sederhana namun tampaknya tidak mudah dijawab oleh peserta. Pertanyaan ini menjadi salah satu pertanyaan pemantik untuk menggali pengalaman suka duka bekerja di asrama, pun di kantor pusat yayasan. Dari pertanyaan-pertanyaan macam ini, karyawan diajak berefleksi tentang perasaan bekerja di asrama selama ini untuk selanjutnya menemukan maknanya. Beberapa karyawan menyatakan bangga dan syukurnya bisa bekerja di asrama. Bangga dan bahagia karena diingat alumni. Bersyukur, karena asrama telah memberikan tempat dan kesempatan untuk bekerja. Ada juga pegawai yang mengungkapkan bahwa selalu bersemangat dalam kerja karena suasana dan aura positif asrama. Dari pengalaman konkrit itu, pastor paroki Gembala Baik, Batu ini masuk ke tema rekoleksi.
Banyak Lembaga menggunakan slogan “Melayani Sepenuh Hati” tetapi beda dalam implementasi dan tujuan. Ada lembaga yang melayani sepenuh hati demi menarik pelanggan, pun agar tidak kehilangan pelanggan, sehingga lembaga tetap bisa berdiri, bahkan mengeruk keuntungan yang besar. Dengan kata lain, para karyawan pada lembaga demikian “melayani sepenuh hati” dilakukan supaya tidak dipecat. Namun, “melayani sepenuh hati” bagi seorang karyawan Yayasan Sancta Maria lebih dari itu. Meski konsepnya sama, tetapi pelayanan seorang pegawai asrama berwujud nyata dalam kesaksian hidup. “Melayani Sepenuh Hati” mengandaikan adanya keselarasan antara pikiran, hati, dan ketrampilannya. Mengutip nasehat St. Paulus, Rm. Borta menyatakan bahwa apapun yang dilakukan, lakukanlah itu untuk kemuliaan Allah (bdk. 1 Kor. 10:31). Persoalannya adalah bagaimana perasaan kita, bila pelayanan sepenuh hati ini mendapat tanggapan yang tidak bagus. Sakit kan? Tidak enak kan? Solusinya adalah, bahwa kita perlu kembali ke tujuan pelayanan; untuk melayani Tuhan. Setiap aktivitas dilakukan sebagai kesaksian pelayanan kita pada Tuhan. Maka, tetaplah berbuat baik. Boleh sedih, menangis, marah, kecewa, dan sebagainya sebagai respon sementara. Tetapi selanjutnya adalah kembali pada prinsip, “Tetaplah berbuat baik.” Jadi setiap kali hendak bertindak harus kita senantiasa bertanya pada diri sendiri, apakah tujuan saya bekerja; untuk kepuasan dirikah, atau untuk memuliakan Tuhankah. Motivasi bekerja untuk Tuhan tetap harus dijunjung tinggi. Sebagaimana dipesankan oleh St. Paulus kepada Timotius, kita tidak perlu malu bekerja di asrama, tetapi perlu bangga bekerja di mana saja, dengan cara apa saja, asalkan pekerjaan baik.
Pelayanan sepenuh hati terutama diteladankan oleh Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya. Ia yang adalah Tuhan dan guru (martabat luhur) rela menjadi hamba (martabat rendah). Dalam tradisi Israel, tindakan membasuh kaki juga merupakan keutamaan seorang istri terhadap suami. Hal ini dilakukan sebagai tanda hormat, kasih, dan pelayanannya. Membasuh kaki adalah lambang kerendahan hati. Bekerja untuk Tuhan juga merupakan ungkapan penyembahan kepada Tuhan. Ketika kita mengatakan bekerja untuk Tuhan, maka apapun yang kita kerjakan tidak terpisah dari Tuhan.
Dalam persekutuan dengan Tuhan, tidak ada yang sia-sia meski secara manusiawi dan duniawi terasa sia-sia. Manfaat kita beragama dan rekoleksi adalah dalam agama ada keyakinan bahwa pekerjaan baik akan dapat pahala dari Tuhan. Ketika kita berkomitmen, kita menghidupi iman kita. Kita dipanggil tidak sekedar menjalankan tugas, tetapi menjunjung nilai-nilai keutamaan hidup/agama. Setiap momen menjadi kesempatan untuk menunjukkan iman. Setiap pekerjaan harus merupakan pewartaan kristus, ada semangat doa, membawa keselamatan, pelayanan, jangan menyalahgunakan mandate yang dimiliki.
Kita perlu berjuang menghadapi godaan untuk setia bekerja demi Allah. Godaan itu antara lain mencari keuntungan pribadi, mencari perhatian, mencari pujian, bekerja minimalis, berhenti bekerja, dll. Melayani sepenuh hati bukan hanya slogan, tetapi perlu dilandasi iman/keyakinan sesuai ajaran agama kita masing-masing. Untuk mengatasi godaan, seorang motivator, Yansen Sinamo menulis delapan ethos kerja professional:
- Kerja adalah rahmat. Harus disadari bahwa tidak semua orang mendapat pekerjaan. Oleh sebab itu perlu bekerja tulus.
- Kerja adalah Amanah/kepercayaan. Harus penuh tanggung jawab.
- Kerja sebagai panggilan: tuntas penuh integritas.
- Bekerja adalah aktualisasi/perwujudan diri. Bekerja untuk Bahagia.
- Kerja adalah ibadah; serius penuh cinta.
- Kerja adalah seni: cerdas penuh kreativitas
- Bekerja adalah kehormatan: tekun penuh keunggulan.
Selain Yansen Amano, Rm. Borta juga memaparkan tips menjadi pelayan Yayasan yang profesional. Profesionalitas layanan tampak dalam pribadi yang manis, atraktif, alami, cerdas, dan profesional.
Pribadi yang manis tampak dalam kedewasaan/kematangan di mana ia tidak mudah tersinggung, tidak mudah ngambeg karena mampu memaknai setiap peristiwa dan perjumpaan. Profesionalitas pegawai Yayasan juga tampak dalam penampilan yang atraktif/menarik. Kemenarikan pegawai yayasan tampak pada pribadinya yang ramah, rapi, tidak kumuh. Profesional karena semua muncul dari hati yang tulus alias alami; bukan dibuat-buat; bukan suatu kepura-puraan. Profesional juga artinya cerdas atau kompeten. Orang kompeten mampu bekerja dengan baik pun mengatasi persoalan-persolan yang terjadi secara tepat, tidak menimbulkan masalah baru. Akhirnya profesionalias seorang pegawai diukur dari kepekaannya terhadap lingkungan maupun rekan kerja. Seorang pegawai profesional tahu apa yang harus diperbuat dan bersikap terhadap perubahan-perubahan lingkungan pun rekan kerja.
Meneladan Pelayanan Maria
Sebagai lembaga yang berlindung pada St. Perawan Maria, para karyawan Yayasan sudah pantas dan layaklah meneladan St. Maria. Peneladanan kepada St. Maria bisa dilakukan sebagaimana Maria melayani sepenuh hati sebagaimana tercatat dalam kitab Suci. Orang katolik percaya, meneladan Maria sama dengan mencintai dan mentaati ajaran Yesus. Orang katulik juga percaya melalui peneladanan pada St. Maria akan sampai pada Yesus, sang sumber keselamatan sebagaimana terkandung dalam slogan “Tota Christy Per Mariam.” Beberapa kutipan Kitab Suci dipaparkan sebagai contoh keutamaan Maria yang melayani sepenuh hati.
Kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk. 1:39-45) hendaknya menjadi contoh bagaimana para pengelola asrama khususnya, dan karyawan asrama pada umumnya, untuk dengan ringan hati melawat siapapun, khususnya mereka yang sedang dilayani. Sebagai ibu Tuhan, Maria adalah pribadi sangat mulia, tetapi ia mau mengunjungi siapa saja. Maria tidak gengsi. Pengelola asrama bisa tanpa gengsi melakukan kunjungan dan sapaan kepada siapa saja. Secara konkrit kunjungan bisa dilakukan pada anak-anak asrama yang sedang sakit di kamar, atau kepada karyawan yang mungkin sedang sakit pun sedang menghadapi persoalan lainnya. Dengan tujuan membina persaudaraan, para pengelola asrama dapat mengunjungi karyawan secara berkala.
Ketaatan Maria untuk pergi ke Betlehem dari Nazaret saat diadakannya sensus penduduk (Luk.2:1-6), meneladankan keterbukaan Maria pada perubahan. Tanpa mempedulikan keadaannya yang hamil tua serta jarak yang tidak dekat, St. Maria berangkat menuju Betlehem, kota Daud. Maria siap berubah seturut kebijakan pemerintah, khususnya kebijakan kaisar Agustus. Ketaatan Maria meninggalkan pertanyaan reflksi apakah kita terbuka dengan perubahan, khususnya yang diadakan/terjadi dari yayasan dan lembaga.
Ketaatan Maria pada Yusup untuk mengungsi ke ke Mesir (Mat. 2:13-18) menyiratkan sikap menghargai dan menghormati suami. Maria yakin bahwa meski hanya lewat mimpi, keyakinan Yusup akan bahaya yang mengancam anaknya benar dan nyata. Ketaatan Maria meladankan kepekaan terhadap suara Tuhan dalam diri kita. Ketaatan pada suami dan Tuhan juga menggambarkan perlunya taat pada pimpinan terutama, serta siapa saja yang berkehendak baik. Demikian juga hendaknya para karyawan Yayasan taat kepada suami (istri), rekan kerja, dan sebagainya demi kebaikan bersama.
Kegalauan Maria saat kehilangan Yesus (Luk. 2:41-52) meneladankan sikap baik/bijaknya ketika tidak dimengerti pun “dibuat susah.” Tidak ada dalam diri Maria keinginan memaksakan kehendak, ataupun amarah karena merasa tidak diindahkan dan dibuat susah. Sebaliknya, Maria justru mengambil sikap rendah hati; merenungkan pengalamannya untuk diambil maknanya. Bagaimana kita mencari solusi ketika kita mengalami kesulitan, kegalauan. Maria menyimpan dalam hati, artinya merenungkannya. Kesabaran dan permenungan yang memungkinkan ditemukannya nilai-nilai positif suatu peristiwa inilah yang perlu diteladani pada Bunda Maria.
Peristiwa mukjizat air menjadi anggur di Kana (Yoh. 2:1-11) meneladankan kepekaan Maria terhadap situasi lingkungannya. Maria adalah teladan manusia yang bermasyarakat dan memasyarakat. Karena kepekaan Maria, masalah masyarakat yang digambarkan dengan peristiwa kehabisan anggur teratasi. Karyawan asrama diharapkan juga baik dalam berelasi dengan masyarakat, khususnya dalam masyarakat lingkup asrama dan Yayasan, serta tanggap untuk melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Jangan sampai, gara-gara ketidakpedulian para pegawainya, Yayasan kehabisan semangat, kepercayaan, murid, dan sebagainya.
Peristiwa Golgota (Yoh. 19) meneladankan sikap teguh berpengharapan. Ibu mana yang mampu berdiri tegak menyaksikan kesengsaraan amat sangat anaknya karena dituduh menghujat Allah? Ibu mana yang tidak tercabik-cabik hatinya melihat anak terkasihnya teraniaya? Dalam bentuk lain, peristiwa Golgota bisa menimpa kita juga di jaman ini. Perkembangan jaman pun perubahan-perubahan kebijakan memungkinkan para karyawan Yayasan “menderita” karenanya. Mampukah kita tetap melayani di tengah krisis yang melanda institusi dan kehidupan?
Sessi Keakraban
Salah satu tujuan dari rekoleksi Yayasan adalah terwujudnya keakraban antar karyawan asrama dan kantor Yayasan. Dari keakraban terjalin persaudaraan. Dari persaudaraan terwujud kesaksian hidup dalam layanan yang berkualitas. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat tidak semua karyawan yayasan bisa selalu bertemu dan bekerjasama setiap harinya. Rekoleksi adalah kesempatan istimewa untuk mewujudkan pertemuan dan kerjasama itu, meskipun pertama-tama lebih bersifat simulasi.
Maka, selain mendapat asupan pengetahuan, keutamaan hidup, pun pembinaan rohani. rekoleksi Yayasan juga mengupayakan terwujudnya keakraban karyawan antar unit karya sebagai keluarga besar Yayasan Sancta Maria Malang. Para karyawan diingatkan bahwa saudara dan rekan kerjanya bukan hanya sebatas lingkup unit yang dilayani, tetapi mencakup antar unit kerja di bawah tata kelola Yayasan Sancta Maria Malang. Hal ini dipahami dengan sangat baik oleh dua frater Karmel yang secara khusus dihadirkan untuk kegiatan tersebut. Dengan sarana-sarana permainan dan lagu-lagu yang telah disiapkan, para frater dengan cakap mengelola sessi game keakraban. Saat itulah, para karyawan keluar dari ikatan kelompok unitnya, menjadi satu warga lembaga Yayasan Sancta Maria Malang. Mereka bekerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh fasilitator dalam bentuk game atau permainan. Game-game itu antara lain volly balon, jualan makanan dan minuman, dan mengeluarkan bola dari dalam keranjang kawat jaring. Mereka juga konsekwen terhadap kesalahan yang mungkin terjadi dengan siap menjalankan sanksi yang oleh para frater diistilahkan dengan kata “persembahan.”
Suasana baru juga terjadi saat saat pagi hari. Para karyawan yang biasa disibukkan dengan tugas kantor dan kerja dapur ataupun kebun pagi itu melakukan kegiatan yang sama sekali berbeda. Di bawah instruksi para frater, para karyawan melakukan doa dan olah raga ringan. Guna melibatkan peserta, para frater mengajak peserta untuk menampilkan daya kreativitasnya mengacu pada mudik-musik yang diputar melalui sound system yang sudah disiapkan. Kreativitas-kreativitas ditampilkan peserta membuat suasana pagi begitu semarak.
Rekoleksi ditutup dengan perayaan Ekaristi. Dalam perayaan Ekaristi, Rm. Borta kembali menekankan pentingnya pelayanan dengan sepenuh hati (Br. A. Mungsi, O.Carm).
