Ziarah Kubur Para Guru dan Karyawan SMAK St. Paulus Jember

Oleh: Ujang Sarwono (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus)

Mendoakan insan yang telah berpulang merupakan wujud cinta dan kerinduan kita yang masih berkelana di dunia. Itulah yang dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan karyawan SMAK Santo Paulus pada hari Jumat sore di awal bulan Agustus 2017 yang lalu. Sebuah kegiatan sederhana yang mencoba kembali mengenang jasa-jasa para pendahulu di SMAK Santo Paulus.

Setelah memarkir kendaraan kami segera menuju makam guru dan karyawan SMAK Santo Paulus. Berbagai rasa bercampur ketika kami mulai memasuki area makam. Terpancar rasa haru dari raut wajah para guru dan karyawan yang pernah mengalami masa-masa mengabdi di SMAK Santo Paulus bersama  mereka yang kini terbaring di pemakaman.

Beberapa makam yang kami kunjungi terlihat kurang mendapat perhatian. Banyaknya rumput liar yang tumbuh di badan makam seolah bercerita tentang rasa kepedulian yang terbatas. Bagi kami mendatangi dan berdoa di makam merupakan sebuah bahan refleksi. Jasa dan pengabdian yang pernah terukir di dunia akan tetap harum meski raga telah menyatu dengan tanah.

Rasa haru kembali muncul tatkala kami memanjatkan doa di depan makam. Namun di lain sisi, kami juga merasa senang bisa “berkenalan” dengan sosok guru dan karyawan lewat cerita dari beberapa rekan guru. Cerita tentang sosok guru yang cerdas, tegas, dan baik hati terus kami dengar sayup-sayup.

Tertulis nama Fransiscus Xaverius Hurjanto di nisan yang baru saja kami doakan. Lahir pada tanggal 1 April 1937 dan meninggal pada tanggal 30 Oktober 2005. Itulah sosok guru Bahasa Inggris yang pernah mengabdi di SMAK Santo Paulus Jember. “Pak Hur merupakan guru yang sangat kuat dalam mengingat sesuatu. Karena itulah Pak Hur memiliki pengetahuan yang sangat luas,” cerita Pak Yosef.

Selain mengunjungi dan berdoa di depan  makam Pak Hurjanto, kami juga mengunjungi makam Pak J.H. Wiyono, Bapak H.J. Subiantoro, Bapak J.M.V. Marjono, dan Bapak Robertus Soemaji. Kami juga mengunjungi makam Bapak G. Sumarto dan Bapak Suwito. Dua orang terakhir adalah karyawan SMAK Santo Paulus Jember.

Makam Ibu Sri Warih Pujiastuti menjadi makam terakhir yang kami kunjungi. Cukup lama kami mencari makam mantan guru Geografi di SMAK Santo Paulus Jember ini. Nyaris tidak ada yang mampu mengingat letak pasti makam Ibu Warih. Bu Siska, guru Ekonomi yang sudah lebih dari dua puluh tahun mengabdi di SMAK Santo Paulus mencoba mengingat kembali letak pasti makam yang telah sekian lama tidak dikunjungi. Setelah menyusuri sela-sela makam, akhirnya dapat juga kami temukan. Sebuah makam yang rata dengan tanah tanpa penanda dari keramik atau semen. Hanya tulisan Sri Warih P.A. yang sudah mulai memudar terukir di nisan sebagai penanda. Di sinilah juga telah berbaring sosok guru yang pernah menebar ilmu bagi para murid SMAK Santo Paulus.

“Bu Warih merupakan sosok guru dengan etos kerja yang sangat tinggi,” cerita Ibu Fransisca Dinamika. Sedangkan Ibu Rosery Tritantina bercerita bagaimana Ibu Sri Warih merupakan pribadi yang memegang kuat prinsip hidup dan pekerjaan. Meski demikian Ibu Warih dapat menjadi bersahabat bagi siapa saja.

Tanpa terasa dua keranjang bunga yang kami bawa hanya tinggal beberapa genggam saja. Di makam Ibu Warih inilah kami taburkan dua genggam bunga terakhir sebagai wujud cinta dan rindu yang teramat dalam. Ada cerita yang pernah terbangun bersama mereka. Ada cinta yang pernah saling berbalas dengan mereka. Ada juga rindu yang hanya bisa terobati dengan kenangan dan doa yang coba selalu kami panjatkan kepada mereka yang telah pergi. Senja mulai datang menghampiri pemakaman. Rombongan kepala sekolah, guru, dan karyawan SMAK Santo Paulus berjalan meninggalkan makam. Sungguh menjadi pengalaman berharga bisa mengenang sekaligus mendoakan mereka yang telah pergi. Selamat beristirahat dengan tenang guru kami. Teladan dan jasamu akan terus kami kenang.