PENDIDIKAN ABAD 21 – ENTREPRENEUR

Oleh: Immaculata Sriunon K.M. (Guru Bimbingan Konseling SMAK St. Paulus)

Sekolah bisa kalah cepat

Sekolah bisa kalah cepat dengan tuntutan masyarakat. Menurut Dr. Williard Dagget dari International Centre for Leadership & Education) dikatakan bahwa “ Dunia yang akan ditinggali anak-anak kita berubah empat kali lebih cepat dari pada sekolah-sekolah kita”. Masing-masing lembaga pendidikan harus berubah atau  mati, jika tidak memiliki strategi menyiasati tantangan abad 21, sudah seharusnya dalam menentukan visi dan misi lembaga, menyiasati atas perubahan yang mungkin terjadi.  Peserta didik memiliki tujuan, cara dan proses belajar yang mungkin berbeda dengan jaman orang tua mereka saat menjadi murid. Tuntutan dan kebutuhan menyesuaikan dengan perkembangan kemajuan masyarakat dan ilmu dan teknologi. Sekolah pun menyesuaikan dan harus berubah menghadapi tuntutan tersebut.

                Sekolah bukan lagi satu-satunya sumber belajar, sumber belajar yang ditemui saat ini sangat variatif ada perpustakaan, e-book, gadget, fasilitas dari situs yahoo, google, dan lain lain. Anak harus dilatih untuk mandiri. Guru berperan lebih sebagai fasilitator, motivator bagi murid, mereka perlu menumbuhkan kepada murid dan mengajarkan belajar bagaimana mereka belajar. Satu fakta yang terjadi, justru sebagian  murid semakin tidak senang belajar, lebih tertarik pada aktifitas di luar belajar (browsing internet, main game on line, chatting, bermain di dunia maya, dan  yang lain). Tantangan bagi para pendidik adalah bagaimana mereka menciptakan dan membuat murid senang belajar. Ini bukan hal yang mudah.

                Bekal dari sekolah untuk Sukses

                Hal hal apa saja yang sudah kita berikan ada anak didik? Mendidik atau mengajar? Mengajar hanya berpusat pada pemberian materi disiplin ilmu tertentu, sehingga pencapaian hasil belajar dari hasil tes atau ulangan. Salah satu ukuran keberhasil seorang guru mengajar adalah jika murid memiliki pencapaian ketuntasan belajar dan tidak remidi. Subyek didik memiliki tingkatan belajar yang meliputi unsur kognitif atau pengetahuan, ketrampilan atau psikomotor dan sikap atau afektif yang harus diasah. Mendidik memiliki arti yang lebih luas, dimana peserta didik sebagai subyek yang diolah supaya mereka mampu mengeksplore seluruh potensinya secara benar. Mereka diproses supaya  memiliki karakter secara utuh atau holistik, yang meliputi dimensi spiritual, sosial, intelektual,  emosional dan jasmaniah. Dimensi holistik inilah yang akan menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan dan mencapai kesuksesan.

                Peran orang tua

                Sudahkan tercipta peran aktif orang tua dalam proses belajar dan bersinergi dengan sekolah? Ataukah orang tua tidak memerlukan komunikasi dan kerja sama dengan sekolah. Sangat memprihatinkan jika orang tua beranggapan tidak perlu komunikasi, yang penting tahu beres, toh sudah membayar biaya ke sekolah, yang penting tahu jadi, awal masuk pendaftaran sampai dengan anak lulus. Masalah yang terjadi adalah adanya gap antara murid dengan orang tua dan guru, atas imbas dari kemajuan dan perkembangan ip-tek yang pesat. Menyikapi hal ini maka perlu adanya kesadaran akan “Parent Education”. Pendidikan untuk orang tua, dengan cara mereka bersinergi dengan pihak sekolah. Pengalaman membuktikan jika ada komunikasi dan kerjasama antara orang tua dengan sekolah, maka masalah yang terjadi dan perkembangan murid akan lebih terpantau dengan lebih baik . Ada pendapat bahwa “ Anak yang hebat akan dihasilkan dari keluarga yang hebat” dan “Sekolah yang hebat adalah sekolah yang ikut mendidik orang tua, sehingga mereka menjadi keluarga yang hebat”.

                Pemilikan Ketrampilan Hidup (Life Skills)

                Perkembangan ketrampilan hidup (Life skills) seseorang dengan baik menjadi tuntutan kesuksesan jaman ini. Abad 21 lebih menganggap EQ (Kecerdasan Emosional) lebih pentigg dari pada IQ (Kecerdasan Umum). Perkembangan IQ terjadi secara pesat di saat anak masih berusia 10 tahun kebawah, Menurut S. Bloom, hasil penelitian di usia tersebut sudah tercapai perkembangan kapasitasnya sebanyak 80 %, dan akan dicapai secara optimal 100 % disaat anak  berusia 20 tahun. Setelah stagnan secara normal. Sedangkan EQ akan mengalami peningkatan dan perkembangan seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup seseorang. Dalam buku The millionaire Mind  karya Thomas Stanley, suatu jajag pendapat melibatkan 733 multi milioner di Amerika Serikat, berkenaan dengan kesuksesan mereka, ditemukan bahwa ada sekitar 30 item yang berperan dalam sukses mereka.  Lima item tertinggi didominasi oleh kecerdasan EQ, yakni jujur kepada semua orang, disiplin, bergaul baik dengan orang lain, Bekerja lebih giat daripada kebanyakan orang dan memiliki pasangan hidup yang mendukung. IQ menduduki urutan ke 21. Ketrampilan hidup perlu dimiliki setiap orang dengan memadukan kecerdasan Spiritual (SQ), kecerdasan Emosional (EQ), kecerdasan Adversitas (AQ) dan kecerdasan umum (IQ).     Hasil survey terhadap kualitas pribadi karyawan, dilakukan oleh NACE’Job Outlook 2006 survey) dalam  The top Qualities Employers look for the in College Graduates

  1. Communication skills (verbal and written)
  2. Honesty/ integrity
  3. Teamwork skills (works well with others)
  4. Strong work ethic
  5. Analytical skills
  6. Flexibility/adaptability
  7. Interpersonal skills (relates well with others)
  8. Motivation/Inisiative
  9. Computer Skills
  10. Detail oriented

Kesepuluh item survey tersebut semua merupakan dimensi kecerdasan EQ.

                Abad 21 adalah Abad untuk Manusia Holistik dan Menuntut kehadiran Sumber Daya Manusia (SDM) yang Multi Tasking

Sebagian kecil pekerjaan menuntut kecakapan AKADEMIS yang TINGGI untuk berhasil namun sebagian besar pekerjaan menuntut kecakapan NON AKADEMIS yang tinggi untuk berhasil. Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan memiliki berbagai ketrampilan dan mengembangkan berbagai kecerdasan pribadi yang akan bertahan dan mampu bersaing. Tuntutan harus diimbangi dengan bagaimana menciptakan kecintaan pada belajar adalah penting sekali, Kelenturan menghadapi berbagai persoalan hidup dan pentingnya memiliki kecakapan berpikir.

                Abad 21 adalah abad untuk Mereka yang Kreatif

                John H. Kins dalam bukunya Economic Creative mengatakan bahwa “How people make money from ideas? ” Mereka yang memiliki kreatifitas dan idelah yang akan berhasil dan dengan ide yang dimilikinya bisa menghasilkan uang. Menurut bapak Ciputra, salah tokoh yang getol menyosialisaikan tentang entrepreneur dengan hasil yang nyata bagaimana mengubah sampah atau rongsokan menjadi emas yaitu : 1. Menciptakan peluang (opportunity creating), bukan sekadar mencari peluang (opportunity seeking), 2. Melakukan inovasi produk (innovation) 3. Berani ambil resiko (Calculated Risk Tasking) dalam buku Quantum Leap. Menurut Ciputra salam entrepreneur (3-E) mengandung makna bagaimana kita memotivasi untuk mencapai Ekonomi Indonesia yang sejahtera dengan cara mengurangi jumlah pengangguran intelektual, Manusia yang memiliki empati terhadap sesama. Untuk mencapai kesejahteraan economi, kita harus mampu mengekpresikan segala potensi yang dimiliki menjadi pribadi yang produktif. (Gambar 1 : salam Entrepreneur)

                Abad 21 adalah abad untuk Wirausaha

                Pada tahun 2020 kebanyakan ATASAN atau BOS di  negara maju adalah “Diri sendiri” (Nicholas Negroponte: Being Digital).  Bagaimana menyiapkan diri sebagai bos? Inilah ciri-ciri mereka yang akan menjadi entrepreneur yang dibutuhkan abad 21, mereka yang kreatif, inovatif, memiliki daya juang tinggi, pandai mecari peluang dan mampu memperhitungkan resiko. Sudahkah ini kita berikan paradigma ini kepada peserta didik kita?

                Guru abad 21 berkompeten dalam :

  1. Learning environments
  2. A Thingking pedagogy
  3. Information management
  4. Creative and publishing
  5. Web access
  6. Building a new paradigma
  7. Skill set for the 21 st century

Mari kita sebagai pendidik berefleksi hal apa yang sudah dan dapat kita lakukan untuk menghantar generasi Z (generasi Millenia) menjalani dan mengisi abad 21 ini dengan paradigma baru;  menjadi peserta didik yang mandiri, mampu menghadapi dan tuntutan abad 21. (Gambar illustrasi guru abad 21).

Sumber :

  1. Materi Seminar Entrepreneur, 15-17 Januari 2008 di Jakarta
  2. Buku-buku terkait Kecerdasan Umum (IQ), Kecerdasan Emosi (EQ )dan Entrepreneur