PERJUANGAN ROHANI IBU ZELI DALAM MERAIH KEKUDUSAN
Pepatah diskriminatif mengatakan, “Suarga nunut nraka katut.” Pepatah yang hendak mengatakan bahwa nasib wanita tergantung dari laki-laki ini tidak berlaku bagi Ibu Zeli. Pepatah lain yang senada dengan pepatah pertama adalah wanita hanya, “konco wingking.” Pada pepatah ini tergambar bagaimana peran wanita hanya “konco wingking.” Kanca bukanlah pengambil keputusan. Kanca berkewajiban melayani suami. Maka tugas seorang kanca wingking adalah 3M: masak (memasak), macak (merias diri), dan manak (melahirkan anak). Meski tugas wanita tidak terlepas dari 3M, tetapi Ibu Zeli mampu memaknainya sehingga menjadi jalan mencapai kekudusan. Lewat Zelie Marie Guerin kita belajar menjadi ibu yang baik, dimana selain pribadi yang mengagumkan juga membuat orang lain (suami dan anak) menjadi dikagumi.
Seorang Religius Bervisi Kedepan
Ibu Zelie memiliki nama lengkap Zelie Marie Guerin. Wanita pekerja keras ini lahir pada tanggal 23 Desember 1831 dekat Alencon, di kota kecil Gaudelain Perancis. Ayahnya seorang veteran Angkatan Darat Kekaisaran. Ia dibaptis dengan nama Maria Azelia. Dia mempunyai kakak seorang suster, Suster Marie-Dobisithee. Sedangkan adik laki-lakinya bernama Isidore Guerin (apoteker).
Zelie pernah berkeinginan menjadi seorang biarawati, namun suster pimpinan di mana Zelie melamar menolaknya dengan alasan kesehatan. Suster pimpinan menyarankan dia lebih dibutuhkan di luar biara. Setelah ditolak menjadi suster dalam setiap berdoa , dia berkata: “Allahku, karena saya tidak pantas untuk menjadi mempelai-Mu seperti saudariku, saya akan menikah untuk melaksanakan kehendak-Mu yang suci. Karena itu saya mohon kepada-Mu untuk memperkenankan saya memiliki banyak anak. Semoga mereka semua dapat kupersembahkan kepada-Mu, ya Allahku”. Hal ini menunjukkan Zeli tidak sedih dan putus asa karena gagal menjadi biarawati. Ia selalu berusaha untuk tetap menjadi religius dengan jalan berdevosi kepada Santo Yosef dan Santa Perawan Maria yang pada akhir berpuncak kepada Yesus Kristus. Dia juga seorang istri/ibu rumah tangga dan wanita karir.
Dalam memutuskan dan mempertimbangkan pekerjaan/bisnis pun, Zelie mendengarkan bisikan Santa Perawan Maria lewat suara hatinya ketika berdoa : “Lakukan pekerjaan pembuatan renda di Alencon”. Dia lalu ambi kursus renda prefosional. Setelah itu ia meninggalkan kursus guna membebaskan diri dari ketertarikan pimpinan kursus terhadapnya. Dengan kemampuanya, kecerdasannya , kecepatannya dan kepintarannya, Zeli mampu mengelola bisnisnya hingga mencapai kesuksesan.
Ibu Rumah Tangga Biasa
Dalam hal jodoh Zeli mendengarkan suara hati nuraninya. Suara hatinya berbisik saat berpapasan dengan seorang pria muda yang menyebrangi jembatan St. Leonard di Alencon. “Itulah dia yang Saya siapkan untuk engkau!” Dialah Louis Martin.
Pada tanggal 13 Juli 1858 akhir Zelie menikah dengan Louis Martin. Kecakapannya membuat renda menjadi daya tarik tersendiri bagi ibu mertuanya. Ada harta karun yang terpendam dalam diri Zelie. Pada setiap kelahiran-kelahiran anaknya, Zeli selalu berdoa:” Tuhan, berikanlah kepada saya rahmat agar anak ini dapat dipersembahkan kepada-Mu. Janganlah apapun menodai kesucianya. Jika anak ini akan meninggal, saya lebih suka kalau engkau mengambilnya tanpa menunda-nundanya lagi”. Hal ini menunjukkan bahwa anak adalah berkat dan rahmat, titipan sekaligus persembahan kudus untuk kemuliaan Tuhan.
Sekarang ini banyak pasangan yang tidak mau punya banyak anak dengan berbagai alasan, bahkan tidak mau punya anak dengan alasan misalnya tidak mau repot. Selain itu banyak keluarga Katolik pada era globalisasi ini tidak mau atau tidak rela bila anaknya menjadi biarawan-biarawati dengan alasan hanya punya anak sedikit (satu-satunya) atapun alasan yang lain. Di samping itu tidak banyak keluarga yang mendorong, mendukung dan mengarahkan dengan penuh dan benar saat anak punya hasrat untuk masuk menjadi biarawan-biarawati dengan banyak pertimbangan pula.
Dalam mendidik anak, Zelie sangat memperhatikan pendidikan intelektual, pendidikan moral, pendidikan sosial dengan cara selalu menjauhkan dari berbagai hal yang tidak baik, selalu membimbing untuk berdoa dan berbagai kepada orang miskin. Dalam bimbingan doanya mengarahkan semua harus dipersembahkan kepada Tuhan hari itu: ” Allahku, aku serahkan kepada-Mu hatiku; terimalah itu, tiada yang lain, hanya engkau sajalah, Yesusku yang baik, yang dapat memilikinya”.
Bersama suaminya, dia meraih kesusksesan dalam pekerajaan, namun memiliki pandangan yang baik terhadap kesusksesan tersebut. Hali ini terungkap dalam surat kepada Pauline pada tanggal 10 Mei 1877: “uang bukan apa-apa tatkala ada suatu pertanyaan mengenai kesucian seseorang atau kesempurnaan jiwa”. Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa Zelie yang selalu terarah kepada kesempurnaan hidup. Kesuksesan yang berbuah kekayaan harus diimbangi untuk selalu berbagai kepada orang miskin dan gereja. Mereka tidak menggunakan seluruh waktu hanya untuk mencari kekayaan tetapi untuk Tuhan dan yang aktivitas lain, tidak terbatas hanya hari Minggu saja ataupun hari lainya. Dalam menjalani hidup berumah tangga dimulai dengan memiliki visi hidup untuk meraih kekudusan, pencegahan yang membahayakan iman, perbuatan kasih untuk sesama yang membutuhkan, menjaga hubungan humanis dan harmonis yang membanggakan dan membahagiakan pasanganya, dalam surat-surat dikisahkan bagaimana mereka menjaga komunikasi yang erat cinta kasih mereka, menempatkan pasangan sebagai yang teman yang selalu dirindukan dan mengasihi. Dalam suratnya kepada iparnya tanggal 12 Pebruari 1870: ‘kebahagian sejati tidak ditemukan di dunia ini. Kita hanya membuang-buang waktu untuk mencoba menemukannya di sini”. Dan lagi-lagi dia berbicara pada surat ke iparnya tanggal 12 November 1876: ” dibawah kenyakinan apakah sebagaian terbesar manusia itu hidup! jika mereka memiliki kekayaan, mereka juga ingin kehormatan. Dan ketika mereka memperolehnya, mereka tetap tidak bahagia, karena hati yang mencari apa pun diluar Allah tidak pernah terpuaskan. Alangkah benar bahwa sesorang sungguh tidak bahagia di dunia ini! saya mengenal orang yang telah mendapatkan keuntungan luar biasa dari bisnisnya tetapi merasa tidak nyaman dan tidak bahagia hanya karena kekayaan mereka”. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan materi/harta benda belum cukup dan mampu membahagiakan hidup ini dibandingkan kaya akan iman terang rahmat Tuhan.
Perjuangan Menikmati Sakit
Pada tahun 1865, Zelie mengalami sakit berat; menghidap tumor payudara. Dokter menyatakan bahwa sakitnya tidak bisa disembuhkan. Namun demikian, dia selalu tetap tenang dan pasrah dalam menghadapi penderitaannya. Dalam doanya ia berkata: “Saya tidak takut apapun; Allah kita menguatkan saya. Rahmat dari semua peristiwa itu cukup, dan akan saya miliki sampai akhir hidup saya”. Ditunjukkan pula dalam kata-kata beberapa baris pada surat kepada saudarinya:” Apa yang bisa dikerjakan? jikalau Santa Perawan tidak menyembuhkanku, itu artinya waktuku telah berakhir dan Allah yang baik berharap aku beristirahat di tempat lain selain di bumi ini”. Disamping itu keinginan untuk ziarah ke Lourdes menunjukkan betapa pentingnya dan kuatnya berdevosi kepada Santa Perawan Maria terungkap dalam surat kepada keluarganya di Lisieux: ” Saya sangat merindukan untuk berziarah ke Lourdes dan jika saya berguna bagi keluarga saya, saya yakin bahwa saya akan sembuh, karena bukanlah iman yang lemah pada saya”. Walaupun akhir dia meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 1877.
Tahun 1894 saat Paman Guerin mengali makam Zelie untuk dipindahkan makam keluarga ke Lisieux, menjumpai bahwa peti jenazahnya masih utuh, bagian dalam juga tidak yang hancur , tetapi tidak berani mengangkatnya karena tanah tersebut lembab. Setelah dipindahkan di makam keluarga tersebut terdapat tulisan “O crux Ave, spes unica!”- Salam O Salib, harapan kami satu-satunya, dan ” Disinilah beristirahat orang tua Santa Teresia dari Lisieux, Teresia dari Kanak-Kanak Yesus“.(staf redaksi MFC)
Sumber :
- Artikel Rm. Stanislaus Lirmanjayasastra, O.Carm.”Ingin Menjadikan Keluarga sebagai Jalan Kekudusan?”. 2015.Buku Kenangan Perayaan Syukur 25 Tahun Karmelit Awan di Jakarta. Komunitas Flos Carmeli Jakarta.
Santa Zelie Maria Guerin oleh Celin Martin. Terjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Rm. Alberto A. Djono moi, O.Carm.2016. Penerbit Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta
