Batman Humanis, Jurus Ampuh Hadapi Siswa Bermasalah

Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia)

Dunia pendidikan kembali dibuat miris karena aksi tidak terpuji dilakukan di lingkungan sekolah. Lagi-lagi, perselisihan guru dan siswa menjadi penyebab utama. Parahnya, kali ini melibatkan pihak ketiga yaitu orang tua siswa yang turut memperkeruh suasana. Telah kita ketahui bersama, ada kejadian pemukulan yang dilakukan oleh orang tua siswa terhadap gurunya. Kejadian tersebut terjadi di Makasar. Awal kejadiannya sebenarnya sederhana, seorang guru menegur siswanya yang tidak tertib dan tidak mengerjakan tugas. Merasa tidak terima, siswa tersebut mengadu pada orang tuanya. Nada marah diiringi emosi meluap luap membuat siswa mampu membakar api kemarahan ayahnya yang saat itu juga langsung ke sekolah, memukul guru yang dimaksud.

Sungguh, merekonstruksi kejadian tersebut membuat kita patut mengelus dada. Akar permasalahan sebenarnya cukup sederhana yaitu teguran yang diberikan oleh guru pada siswa. Di sini mulai timbul pertanyaan. Bagaimana cara guru menegur sehingga dia meledak emosinya? Apakah cara guru menegur siswa sudah tepat? Meskipun guru berdalih tidak melakukan kekerasan fisik, tapi bisa jadi ada kekerasan simbolik yang secara tidak sengaja dilakukan oleh guru sehingga membuat siswa yang ditegur merasa benar-benar tersakiti. Kekerasan simbolik dapat berupa kekerasan verbal (ucapan), atau mempermalukan siswa di hadapan teman-temannya.

Itulah sebabnya perlu penanganan cerdas dalam menghadapi siswa bermasalah. Siswa zaman sekarang tentu tidak sama dengan siswa sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Perkembangan teknologi informasi diiringi peralatan canggih, membuat siswa semakin mudah untuk mengakses sesuatu dan memperoleh fasilitas yang dapat membantu mereka memenuhi kebutuhannya. Hal tersebut secara tidak langsung juga berpengaruh pada mentalitas siswa. Khususnya mentalitas dalam hal ketahanmalangan. Akses dan kemudahan fasilitas yang diperoleh anak zaman sekarang, sebenarnya menurunkan tingat ketahanmalangan mereka. Di sisi lain, guru harus paham kondisi itu. Situasi dan kondisi yang dialami oleh guru saat menjadi siswa tidak sama dan sangat berbeda jauh dengan situasi siswa zaman sekarang. Teguran dan peringatan yang hendak diberikan pada siswa seharusnya memperhatikan kondisi latar belakang siswa.

Siswa yang memiliki ketahanmalangan tinggi akan patuh dan jera ketika ditegur di hadapan teman-temannya, dibentak, bahkan ditegur dengan menggunakan kekerasan fisik. Apabila cara itu diterapkan untuk siswa zaman sekarang, mereka akan berontak. Teguran tersebut terlalu menyakitkan bagi mereka sehingga ada hasrat dalam dirinya untuk melakukan pembelaan diri. Bentuk pemberontakan ini bermacam-macam, ada yang melaporkan pada orang tua, ada yang menggebrak meja, menggebrak pintu, atau bahkan menyentak balik gurunya.  Saat kejadian tersebut berlangsung, guru bukan lagi dianggap sebagai pengajarnya bahkan mereka tetap kesulitan melihat guru sebagai orang yang lebih tua. Bagi mereka, guru adalah sosok monster yang telah merenggut, mencabik-cabik hatinya hingga terluka.

Batman Humanis                

Berdasarkan fakta tersebut, diperlukan pendekatan khusus dalam menghadapi siswa bermasalah. Salah satu cara yang dilakukan adalah pendekatan Batman. Seperti yang kita ketahui bersama, Batman merupakan super hero dari kota Gotham yang membrantas kejahatan. Menangkap orang-orang bermasalah adalah tugasnya. Uniknya, Batman sangat jarang mengeksekusi sasarannya di tempat kejadian perkara. Setelah berhasil menangkap targetnya, Batman membawanya ke ruang interogasi. Di situ, dia selalu mengajak berdialog secara empat mata. Salah satu orang yang sangat tidak disukainya, yaitu Joker pun diperlakukan sama. Ditangkap dalam keadaan hidup dan diinterogasi di tempat khusus.

Ketika menghadapi siswa, tentu kita tidak mungkin mengadopsi metode Batman ini secara 100%. Perlu modifikasi yang mampu memperhalus metode ini agar dapat diaplikasikan secara nyata di lapangan. Modifikasi tersebut adalah dengan cara menambahkan sisi-sisi humanis saat berbicara empat mata dengan siswa. Oleh sebab itu metode ini dapat disebut dengan metode Batman Humanis.                

Cara penerapannya pun cukup mudah. Pertama, apabila guru menemukan siswa bermasalah saat jam pelajaran maka ambil saja tatibsi atau salah satu buku mereka. Setelah itu, instruksikan untuk mengambil buku tersebut sepulang sekolah atau saat jam istirahat dengan cara menemui guru terlebih dahulu. Sebagian besar siswa akan menurut melakukan hal ini. Mereka akan menemui guru yang bersangkutan saat istirahat atau jam pulang sekolah. Ketika siswa telah menemui guru, maka ajaklah siswa tersebut ke kelas kosong atau ruang kosong. Ruang Bimbingan Konseling (BK) atau sudut perpustakaan dapat digunakan sebagai tempat untuk mengajak siswa berbicara secara empat mata. Ketika guru dan siswa yang bermasalah tersebut sudah bertemu secara empat mata, maka saatnya guru untuk menyembuhkan masalah siswa.

Cara penyembuhannya pun juga bertahap. Hindari menuduh kesalahan siswa secara langsung. Jangan jadikan siswa sebagai tersangka, namun tanyakan terlebih dahulu penyebab siswa melakukan kesalahan. Kecenderungan siswa adalah mereka akan menceritakan bahkan curhat masalah pribadinya ketika guru menanyakannya secara pribadi. Biasanya guru akan dibuat terperangah dengan kejujuran siswa dan masalah sebenarnya yang sedang mereka hadapi, sehingga mereka membuat masalah di sekolahan. Pancing agar siswa mau menceritakan permasalahan terdasar. Dari sini, guru dapat menasihati siswa untuk menyelesaikan masalahnya. Obat berupa nasihat yang diberikan oleh guru pun tentu tepat guna karena guru tahu penyebab siswa tersebut bermasalah. Hal tersebut tentu jauh lebih efektif daripada membentak atau menegur siswa di hadapan teman lain. Biar bagaimanapun, siswa bermasalah membutuhkan obat untuk menyelesaikan masalahnya. Mereka ingin motivaasi, perhatian, dan kepedulian yang mendalam dari orang-orang terdekat termasuk guru. Mereka tidak ingin, bahkan tidak butuh diobati secara keras dan menyakitkan. Itu hanya akan menambah luka dan rasa sakit mereka. Jadi, sudahkah anda siap menerapkan metode Batman Humanis untuk memperbaiki siswa anda? Silahkan dicoba dan rasakan manfaatnya.