Oleh: Sr. Yohana Barek, CP.

Asrama putri St. Edith Stein yang beralamat di Jalan Bondowoso Dalam 22 adalan asrama yang menampung siswi-siswi SMAK St. Albertus. Sebagaimana SMAK ST. Albertus beranggotakan warga yang beragam. Demikian pula asrma putri St. Edith Stein. Tulisan ini rangkuman beberapa sharing pengalaman anak asrama tentang suasana multikultural di asrama St. Edith Stein.
Anak-anak masuk ke asrama membawa budaya masing-masing. Semua yang terjadi di asrama tidak terlepas dari peran Pembina. Para Pembina selalu membei pengarahan dan pengertian. Inti pengarahan dan penjelasan adalah bahwa hidup di asrama terdiri dari penghuni yang berlatar belakang budaya yang berbeda. Keragaman merupakan hal baik oleh berdampak positif. Persolan yang terjadi dalam hidup ber asrama banyak dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya, cara pandang dan cara berpikir, serta cara mengartikan setiap kata, Bahasa pun bicara yang berbeda.
Keragaman di asrama seringkali menjadi tembok atau batas-batas dalam pergaulan. Akibatnya seorang pribadi dapat sulit bergaul. Namun demikian, hal ini dapat diatasi dengan adanya pembinaan karakter oleh Pembina. Pembinaan awal atau induksi. Pembinaan awal dikemas dalam bentuk out bond dan live in. Pada kegiatan itu peserta dituntut bisa Kerjasama. Pembinaan berlanjut pada kehidupan sehari-hari dalam bentuk kegiatan-kegiatan bersama antara lain doa bersama, makan bersama, rekreasi bersama, rekoleksi dan retret. Semua itu telah dilakukan oleh asrma putri St. edith Stein malang. Pada awal masuk dalam lingkungan asrama, hamper semua yang berasal dari daerah masih mempertahankan sifat-sifat budayanya sendiri. Tetapi ketika mulai mengenal pribadi satu dengan pribadi yang lain, secara perlahan-lahan ada sikap di mana yang lain, secara perlahan-lahan ada sikap di mana anak itu membuka diri anatara satu dengan yang lain.
Dalam berasrama, ada anak yang dengan mudah membina pergaulan dan menjalankan aturan-aturan, tetapi ada juga yang belum terbiasa. Namu nada satu patokan untuk berkomunikasi yang baik dan terciptanya pergaulan. Patokan itu adalah sikap untuk berpikir positif kepada sesame. Menghargai perbedaan adalah sebuah nilai budaya yang indah. Ibarat rangkaian bunga dalam vas yang bila hanya dirangkai dengan satu warna bunga saja hasilnya tidak akan indah, demikianlah aneka perbedaan itu membentuk keindahan. Perbedaan membuat setiap mendapat teman baru dan diperkaya olehnya.
Dalam hidup berasrama pasti ada konflik. Konflikyang diawali dari perbedaan budaya. Tetapi Pembina asrama mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan konflik tersebut. Pembina menyelesaikan setiap permaslahan dengan cara bermusyawarah dan koreksi persaudaran. Koreksi persaudaraan membantu setiap pribadi berani terbuka, belajar rendah hati untuk menerima kritik dan nasihat. Tujuan koreksi persaudaraan sendiri adalah membantu setiap pribadi agar tidak menjadi pribadi yang egois, sadar kekurangan dan kelebihannya, sehingga mau belajar dan berubah dari kesalahannya.
Sekedar informasi. Ada lima agama hidup di asrama. Ada berbagai macam budaya, suku dan ras. Tetapi kami dapat tetap satu dan rukun. Kami sebagai bagian dari anggota asrama ini merasa bersyukur dan berterima kasih dengan situasi asrama kami. Dengan adanya multikultur ini kami menjadi pribadi yang memiliki cara pandang luas dan berkembang. Kami tidak lagi menganggap diri kami yang baik dan yang lain tidak baik.Untuk itulah kita sebagi generasi penerus bangsa, seharusnya mampu menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa tercinta Indonesia kit aini. Jangan biarkan perbedaan membuat kita lemah dan memicu konflik. Tapi marilah kita bergandengan tangan menyongsong Indonesia Jaya dan penuh dengan harapan indah.
