Berani Beda dalam Memberi Nilai

Rm. Herman Joseph Denteneer, O. Carm

Oleh; Br. Antonius Mungsi, O.Carm.

Keberadaan Yayasan Sancta Maria Malang beserta unit-unitnya yang berkembang baik hingga saat ini tidak terlepas dari rahmat Tuhan yang terus hadir dan berkarya melalui tokoh-tokoh pendidikan yang terlibat di dalamnya. Ketika kita mau menengok ke belakang, membuka-buka arsip, dan mengorek informasi dari saksi sejarah, kita akan menemukan banyak mutiara di sana. Dari sana kita  banyak belajar bagaimana menjadi pejuang pendidikan yang baik.

Kita akan mengenal Rm. H.J. Denteneer, O.Carm, seorang imam yang lebih banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru, kepala sekolah, dosen, perfek para frater, dan ketua Yayasan Sancta Maria.

Di antara tokoh pendidik awal SMAK St. Albertus Malang, tersebutlah  Rm. Herman Joseph Denteneer, O.Carm.  Beliau tercatat sebagai kepala SMAK St. Albertus yang ke III. Ia juga tercatat sebagai ketua Yayasan Sancta Maria Malang periode 1949 – 1954. Tentu ini ada kaitannya dengan jabatan sebagai superior misi yang saat itu merangkap sebagai ketua yayasan. Jabatannya sebagai superior regularis menjadikan karmelit yang pernah menjadi superior misi Belanda (1923 – 1927) ini  memiliki peran besar dalam pembangunan awal pun pembangunan kembali gedung SMAK St. Albertus yang dibumihanguskan oleh tentara republic ini. Jabatan superior regularis Ordo karmel Indonesia diembannya menggantikan Rm. Henkens (1933-1940) hingga tahun 1951.  Lebih dari itu, ia juga pernah menjabat sebagai kepala SMAK St. Albertus tahun 1940 – 1941. Karena alasan itu Flos Carmeli menempatkan sosok ini sebagai tokoh yang layak dikenang.

Rm. Denteneer lahir di Linne, Belanda 15 Agustus 1898. Sebelum mengelola SMAK Dempo, kemenakan dari Rm. Servatius Denteneer ini  telah lama berkecimpung di dunia pendidikan. Ia pernah tinggal serumah sebagai  asisten Rm. Titus Brandsma , O.Carm di Nijmegen saat masih sebagai mahasiswa. Rm. Titus sendiri dikenal sebagai karmelit yang sangat perhatian dengan dunia pendidikan. Rm. Denteneer juga pernah menjadi perfek para frater di Merkelbeek. Salah seorang muridnya menuturkan bahwa ahli  bahasa Perancis dan ilmu ukur ini  adalah model pemimpin yang tenang, punya visi jelas, ramah tetapi tidak ramai, pun mudah bergaul. Sedangkan seorang mantan mahasiswanya menuturkan bahwa kebijaksaan karmelit ini tampak pada penggunaan ukuran berbeda dalam memberi penilaian terhadap pekerjaan mahasiswanya. Ketika marak paham bahwa seorang murid tidak berhak mendapat nilai sama dengan dosennya, justru Rm. Denteneer bersikap beda. Beliau tidak segan-segan memberi nilai 4 (A) yang adalah nilai tertinggi yang dicapai oleh seorang mahasiswa. Ketika mahasiswa ini bertanya mengapa beliau berbuat demikian dijawabnya bahwa nilai ini adalah wujud hasil tertinggi penguasaan paham yang memang diharapkan oleh dosen. Sama-sama bernilai 4 tetapi maknanya berbeda. Sebagai dosen dan guru ia mengajar dengan tenang, menarik, jelas, dan juga tegas.

Ketika Rm. Denteneer memimpin SMAK St. Albertus, sekolah ini masih sangat muda. Baru lima tahun berdiri. Sebagaimana pernah dimuat dalam media ini, saat itu sekolah ini bernama Rooms Katholiek Algemene Middelbare School (RKAMS). Sebagai lembaga pendidikan yang masih sangat muda tentu banyak hal yang harus dilengkapi dan benahi. Sejauh pengembangan informasi tampaknya beliau termasuk tokoh pembangun gedung baru di Jl. Talang no.1. Mungkin ia yang memboyong RKAMS dari lokasi lama Jl. Rampal Koelon ke Jl. Talang no.1. Sesuai dengan keahliannya, sembari menjadi kepala SMAK St. Albertus, Rm. Denteneer mengajar bahasa Perancis. Ketika proses pelengkapan dan pembenahan masih berlangsung, tiba-tiba usahanya dikacaukan oleh kedatangan tentara Jepang. Tgl 7 Maret 1942 Jepang menduduki Malang. Bala Nipon ini langsung merebut bangunan sekolah untuk dijadikan markas. Situasi genting. Beliau diinternir. Para pendidik lainpun juga diinternir. Maka “tamatlah” riwayat RKAMS. Bukti lain bahwa beliau pernah diinternir adalah kisah, “Seuntai Kalung Sang Interniran.”  Pada saat itu, Rm. Denteneer diinternir bersama dengan para frater Yesuit. Sebagaimana diketahui, penjajah Jepang jauh lebih brutal dan kejam daripada penjajahan Belanda. Karena itulah banyak tawanan termasuk para frater Yesuit kelaparan. Melihat hal ini beliau  menjual kalungnya untuk mendapatkan uang guna memberi makan para frater Yesuit yang berada dalam satu  kam interniran dengannya. Buku kronik Ordo Karmel Indonesia mencatat bahwa setelah mengalami kesulitan di kamp internir Jepang dan kengerian perjuangan kemerdekaan Indonesia, beliau dengan sepenuh hati bekerja untuk provinsi Indonesia.

Bagi sebagian orang yang mengenalnya, Rm. H.J. Denteneer dikenal sebagai orang yang jaim (jaga image). Ia enggan berbahasa Indonesia. Seorang mantan muridnya menduga bahwa hal ini disebabkan oleh rasa takut keliru berbahasa Indonesia.

Sumber:

Aukes, H.W.F. 1985. Titus Bransdma. Ultrech/Antwerpen: Het Spectrum. Hasil wawancara dengan Rm. Cyprianus Verbeek, O.Carm.