KREATIVITAS PENDIDIKAN, PAKEM, HINGGA KURIKULUM 2013

oleh: Br. Antonius Mungsi, O.Carm.

Pada dasarnya pendidikan tidak dapat dilepaskan dari kreativitas, baik kreativitas pendidik maupun peserta didik. Berkat kreativitas keduanya, KBM selain menarik juga menyenangkan. Karena tertarik dan senang, maka murid penasaran sehingga termotivasi untuk ingin tahu lebih jauh. Karena keingintahuan yang tinggi ini peserta didik menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk belajar. Peserta didik menggunakan berbagai cara dan kesempatan untuk memahami apa yang sedang dipelajari. Dari suasana-suasana demikianlah pembelajaran menjadi efektif. Memahami akan hal ini, pemerintah menetapkan standar kompetensi guru (baca FC.ed.III). Pemahaman dan penghayatan yang benar akan kompetensi ini pasti akan membuat para guru bukan hanya kreatif tetapi juga menjalankan prinsip pendidikan PAKEM.

Apa itu PAKEM?  

PAKEM singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Model pembelajaran ini muncul sebagai reaksi atau evaluasi dari model pembelajaran konvensional (behavioristik, kognitif) yang cenderung pasif. Dikatakan pasif karena pada model pembelajaran konvensional pendekatannya satu arah (teacher centre). Karena satu arah maka metodenya lebih banyak ceramah/monolog. Pembelajaran ini menempatkan guru sebagai sumber belajar satu-satunya. Dari sinilah muncul prinsip murid itu tabula rasa yang bak kertas putih bersih siap ditulisi, digambari dan dihiasi oleh guru. Karena prinsip ini muncul semboyan, murid tidak akan mampu menyamai gurunya. Perkembangan jaman membuka kesadaran para pemerhati pendidikan bahwa model konvensional perlu dievaluasi atau kalau tidak perlu dikombinasi. Sebab, pada dasarnya sebelum belajar murid sudah memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman bermacam-macam. Guru tidak lagi satu-satunya sumber belajar. Maka tidak tepat lagi murid digambarkan sebagai kertas putih. Murid juga memiliki kemampuan untuk membangun pengetahuan dari pengalamannya. Dari sinilah muncul pendekatan AJEL (Aktive Joyfull and Efective Learning). Itulah PAKEM.

PAKEM adalah model pembelajaran yang berdasar pada filsafat konstruktivisme. Filsafat yang digagas oleh Jean Piaget ini  berpendapat bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja oleh seorang guru kepada murid sebagaimana terjadi pada filsafat behaviorisme. Pengetahuan yang didapat murid bukanlah suatu perumusan yang diciptakan oleh orang lain (baca:guru), melainkan dibangun (dikonstruksi) oleh murid itu sendiri. Karena pengetahuan dibangun oleh murid sendiri maka murid harus aktif mencari dan mengkonstruksi. Dari sini akan muncul aneka macam konsep akan suatu hal sesuai dengan daya pikIr anak. Sedangkan guru harus memfasilitasi demi mudahnya murid mendapat dan mengkonstruksi pengetahuan tersebut. Guru hendaknya terbuka terhadap aneka konsep itu sejauh masih berada dalam koridor yang benar. Dari sinilah guru dituntut bukan hanya aktif, tetapi juga kreatif dalam merencanakan dan mengelola  pembelajaran. Guru juga harus menguasai konsep dengan baik.

Bagaimanakah Pembelajaran PAKEM?

Sebagaimana telah disinggung pada sub judul sebelumnya, PAKEM  singkatan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. PAKEM selain menjadi proses kegiatan juga menjadi ciri pembelajarannya. Dalam pembelajaran PAKEM dikondisikan kelas yang mendukung murid menikmati pembelajaran.

Pembelajaran AKTIF adalah  pembelajaran yang bernuansakan (kelompok) murid aktif selama KBM berlangsung. Murid aktif bertanya, mempertanyakan, menemukan, dan mengemukakan gagasan. Dalam hal ini guru aktif memberikan stimulus-stimulus atau pancingan-pancingan yang memungkinkan murid aktif. Pancingan bisa diusahakan melalui pernyataan, pertanyaan, pun penggunaan media dan alat peraga yang diciptakan. Pembelajaran aktif  memungkinkan peserta didik berinteraksi secara intensif  dengan lingkungan, memanipulasi obyek-obyek yang ada di dalamnya dan mengamati pengaruh dari manipulasi obyek-obyek tersebut. Dalam hal ini guru pun terlibat secara aktif, baik dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajarannya. Sebagaimana diuaraikan sebelumnya, keaktifan murid dimaksudkan untuk mengkonstruksi pengetahuan berdasar pengalaman-pengalaman yang ada. Pengalaman-pengalaman ini diperoleh dari latihan, kerja kelompok, diskusi dan sebagainya.

Pembelajaran  dikatakan KREATIF apabila mampu  membangun kreativitas/daya cipta  peserta didik dalam berinteraksi dengan lingkungan, bahan ajar, guru, dan sesama peserta didik, utamanya dalam menghadapi tantangan atau tugas-tugas yang harus diselesaikan dalam pembelajaran. Peserta didik kreatif dalam cara belajarnya sesuai dengan bakatnya pun dalam menampilkan hasil belajarnya. Guru kreatif menciptakan suasana belajar dengan kreatif pula membuat pun menyediakan media belajar pendukung. Guru kreatif adalah guru yang juga mampu menyikapi persoalan-persoalan yang dihadapinya di kelas secara tepat. Konsekuensinya, guru  dituntut untuk kreatif dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Akhirnya guru akan kreatif kalau mau berefleksi dan berevaluasi terhadap kinerjanya.

Pembelajaran EFEKTIF adalah pembelajaran tepat sasaran. Tepat sasaran berarti  sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Murid menemukan makna, nilai, manfaat, dan relefansinya dalam hidup. Dengan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik.

Pembelajaran dikatakan  MENYENANGKAN apabila murid dan guru merasa nyaman dalam KBM. Murid nyaman karena difasilitasi dan diberi keleluasaan pun kebebasan dalam berproses memahami sesuatu. Murid tidak takut berbuat salah,  sebab dari kesalahan itu murid menjadi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Murid nyaman dalam belajar karena dimungkinkan mengungkapkan kemampuannya sesuai dengan potensi dan kecerdasannya. Sedangkan tanggungjawab guru adalah menjaga dan mengarahkan agar kebebasan dan keaktifan murid terkendali, serta berada dalam koridornya.

Aplikasi PAKEM dalam Kurikulum 2013

Kreativitas Pendidikan sebenarnya mulai berkembang sejak terkritisinya model belajar behavioristik. Persoalan yang terjadi adalah bahwa seringkali kurikulum berubah tidak disertai dengan perubahan mindset/pola pikir para pendidik. Persoalan lain adalah sosialisasi perubahan beserta pelatihannya tidak sampai di wilayah-wilayah terluar, termiskin, terpinggirkan (bdk. 3T). Akibatnya, meski kurikulum silih berganti, tetapi pola pikir pendidik tetap “setia” pada mindset behavioristik. Maka masuk akal kalau perkembangan pendidikan Indonesia lamban. Namun demikian, pendidikan Indonesia sebenarnya telah mengadopsi teori konstruksivistik saat pemerintah memberlakukan model belajar/kurikulum CBSA. Selanjutnya model belajar ini terus dibenahi melalui kurikulum KBK, KTSP, dan sekarang dengan kurikulum 2013. Ciri kurikulum 2013 adalah penggunaan pendekatan pembelajaran Scientific. Pendekatan PAKEM nyata dalam pembelajaran scientific dengan proses  mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mempentuk jejaring pembelajaran.

Pada proses mengamati Guru menyajikan media atau alat peraga obyek secara nyata. Saat ini guru telah menunjukkan kreativitasnya membuat, menyiapkan media dan alat peraga yang menarik. Melihat apa yang dibawa/ditunjukkan guru peserta didik merasa terangsang dan  tertantang untuk belajar. Pada awal pembelajaran guru menunjukkan kebermaknaan atau kemanfaatan dari materi yang akan dipelajari. Oleh karena itu pada apersepsi guru mengaitkan materi dengan hidup sehari-hari peserta didik.

Pada proses bertanya terjadi interaksi saling bertanya antara guru dengan murid, antara murid dengan murid, ataupun sebaliknya. Tidak menutup kemungkinan pada awal pembelajaran murid sudah diliputi dengan banyak pertanyaan. Situasi ini hendaknya senantiasa dijaga oleh guru. Dalam tahap bertanya ini pertanyaan dan pernyataan guru hendaknya mampu menggerakkan murid untuk mencari jawaban pendalaman materi.

Pada tahap menalar murid diberi kesempatan berpikir secara logis. Di sinilah murid mulai mengkonstruksi pengetahuannya: menandai, mengklasifikasi, memilah, memilih, mengumpulkan, memerinci, mengevaluasi, menyimpulkan, merumuskan dan sebagainya. Salah satu tanda bahwa murid telah berhasil menyelesaikan persoalannya tampak pada raut muka yang puas dan bangga. Mungkin kalau diungkapkan dengan tindakan, murid akan mengepalkan tangan sambil berkata, “Yes. Aku bisa.”

Pada proses mencoba peserta didik mempraktekkan ilmu yang telah didapat. Dengan kreativitasnya, talentanya yang berbeda, bahasanya, dan sebagainya murid mengerjakan tugas sebagaimana diintstruksikan oleh guru. Murid mengungkapkan kembali, murid mengadakan latihan-latihan, hingga menghasilkan sesuatu. Kemauan keras menyelesaikan tanggungjawab akan menjadikan (kelompok) murid bekerja dengan asyik. Sebagaimana pada tahap bertanya pada tahap inipun ketika murid berhasil menyelesaikan tugas dengan raut muka puas dan bangga. akan mengepalkan tangan sambil berkata, “Yes. Aku bisa.”

Pendekatan scientific sebenarnya tidak terpaku dengan tahap-tahap secara berurutan. Tahap-tahap itu bias saling terbalik dalam proses atau saling berkelindan satu dengan yang lain. Contoh sederhanya tentang hal ini adalah bahwa tahap bertanya bisa berlangsung dari awal proses pembelajaran hingga akhir pembelajaran.

Sinergi Guru dan Peserta Didik

Meski masih menimbulkan kontroversi, pemerintah telah berbuat sesuatu demi peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini dengan ditetapkannya Kurikulum 2013. Pemerintah  berusaha menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.

Pada tataran sekolah keberhasilan Kurikulum 2013 salah satunya terletak pada  kerjasama antara guru dengan peserta didik. Kreativitas guru tanpa mendapat tanggapan yang selayaknya oleh murid hanya akan membuat guru frustasi. Sebaliknya kreativitas murid tidak dikukung oleh keterbukaan guru akan perubahan akan mati.

Bahan Bacaan

H. E. Mulyasa.  2015. Guru dalam Implementasi kurikulum 2013. Bandung: PT. Rosdakarya.

H. E. Mulyasa. 2015. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT. Rosdakarya.

Nana Sudjana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Wina Sanjaya. 2012. Strategi pembelajaran Berorientasi Standar proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.

http://www.salamedukasi.com/2014/06/langkah-langkah-pembelajaran-scientific.html.