Meluruskan K13:Upaya Mengembalikan Marwah Multikulturalisme Pendidikan

Oleh: Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Albertus)

Kurikulum 2013 pada dasarnya dibuat sesuai dengan pola pikir pendidikan abad 21 yang bersifat multikultural. Pemaknaan multikultural ini dapat dilihat dari segi pemberdayaan potensi beragam yang dimiliki oleh peserta didik. Niat dan landasan utama pembentukan K13 tersebut sudah sangat baik karena mampu mewadahi keberagaman yang dimiliki oleh siswa. Permasalahanya ternyata timbul dalam hal implementasi. Ketika ditelusuri dengan jeli dan dikembalikan pada landasan teoretisnya, ternyata masih ada kegagapan dalam menerjemahkan maksud dari arah juang K13 ini.

Dalam tayangan power point yang diedarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 16 Maret 2013, disebutkan bahwa proses pembelajaran dalam K13 merupakan proses pembelajaran yang mendukung kreatifitas sesuai dengan kecakapan abad 21. Pada slide ke 59 dikatakan bahwa landasan teori yang digunakan adalah teori Jeff Dyer. Dalam slide tersebut dikatakan bahwa teori Dyer diimplementasikan menjadi lima tahap utama yaitu observing, questioning, associating, experimenting, dan networking. Hal ini kemudian diwujudkan dalam sintaks pembelajaran yang diterjemahkan menjadi SKL. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata ada kekeliruan tahapan dalam menerjemahkan maksud dari teori Dyers.

Setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata teori Dyers tidak diawali dengan observing, melainkan associating, questioning, observing, dan experimenting. Landasan ini diperoleh dari buku babonya langsung, buku yang ditulis oleh Jef Dyer, Hal Gregersen, dan Clay M. Cristensen yang berjudul “The Innovator’s DNA”. Buku ini terbit tahun 2011 di Boston denganpenerbit Harvard Business Review Press. Apabila ditinjau dengan saksama, maka isi buku ini sesungguhnya mengajak pembaca untuk menjadi seorang inovator yang penuh kreatifitas. Dyer menyebutnya sebagai DNA Inovator. Maksudnya adalah bakat inovasi sesungguhnya sudah menubuh dan mendarah daging dalam diri setiap manusia. Inovasi pada apa? Inovasi pada setiap kemampuan yang dimilikinya.

Inovasi tersebut dapat terwujud apabila dilakukan dengan cara associating atau kemampuan untuk mengasosiasikan pemikiran dan pengalamanya. Tahap awal ini sebenarnya mengajak siswa untuk berani menjadi dirinya sendiri. Berani berbeda dan mengakui perbedaan yang dimilikinya. Hal tersebut menjadi logis karena inovasi yang dimiliki setiap individu pastilah berbeda. Ketika tahap awal ini dirubah menjadi observasi, maka cikal bakal kemurnian individu sudah dikurangi. Observasi yang mewujud pada sintaks dan standard pembelajaran merupakan observasi yang ditentukan oleh sistem pembelajaran. Baik dalam bentuk buku, media, atau instruksi dari guru sehingga siswa mengerjakan apa yang diinstruksikan bukan apa yang diinginkan.Peran guru dalam mengembangkan diri siswa sesuai dengan teori Dyer ini pun juga lebih terarah. Guru menjadi fasilitator siswa dalam mengembangkan bakatnya, bukan jadi instruktur atau penyuruh siswa.

Kekeliruan dasar yang bersifat elementer ini perlu diluruskan. Meskipun demikian, merubah kebijakan dan memperbaikinya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kementrian pendidikan dan kebudyaan pun juga tak sesempit yang dipikirkan. Banyak elemen yang menaungi sehingga sosialisasi pada perubahan ini tentu tidak bisa instan. Meskipun demikian, saya yakin menteri pendidikan kita Muhadjir Effendy meyakini perlunya perbaikan dan pelurusan kembali K13. Keyakinan tersebut muncul setelah Pak Menteri menginstruksikan agar Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) lebih luwes, cair, dan fleksibel dalam menghadapi kebijakan dari pusat. Diharapkan setiap sekolah memiliki manajemen yang baik untuk menyesuaikan, menyaring hingga memodivikasi kebijakan atau langkah yang dibuat oleh pihak kementrian. Hal ini menunjukkan bahwa Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Univrsitas Negeri Malang itu menginginkan adanya kemurnian dari setiap MBS dalam mengelola pembelajaran di sekolahnya. Pak Menteri sadar benar pada multikuluturalisme dunia pendidikan.

Kesadaran ini diperkuat dengan kebijakan barunya yang menghimbau agar pelaksanaan pembelajaran itu lebih luwes, akrobatik dan out of the box. Dia juga mengusulkan agar pendidikan menengah, kejuruhan, hingga universitas mulai membuka jurusan baru yang relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Usul ini berjalin berkelindan dengan pendapat Prof. Rhenald Khasali yang mengatakan bahwa setiap tahun lapangan kerja berubah dengan pesat, ada yang punah dan ada yang baru, sehingga generasi muda perlu disiapkan benar dalam menghadapi tantangan zaman. Salah satunya adalah dengan pendidikan. Pendidikan yang seperti apa? Pendidikan multikulturalisme, dengan melihat keberagaman dalam diri siswa sebagai potensi sekaligus talenta yang diberikan oleh Tuhan untuk menyongsong hari depan mereka.