Oleh: Joshua Kaleb Purwanto(Siswa XI-A.3 SMAK St. Albertus)

Bhineka Tunggal Ika, itulah paham dari negara kita Indonesia. Hal ini bertitik tolak dari keadaan bangsa Indonesia yang memiliki banyak kemajemukan dalam setiap aspek kehidupan. Salah satu perbedaan itu adalah budaya. Banyaknya pulau-pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke juga menjadi pendukung nyata bahwa Negara kita ini majemuk. Maka semboyan inilah yang mempersatukan kita semua. Meski berbeda, tetapi tetaplah satu bangsa dan satu bahasa yaitu bahasa Indonesia. Seperti halnya bangsa Indonesia, keberagaman budaya tampak dari siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Katolik Santo Albertus atau biasa dipanggil dengan nama “SMA Dempo”. Sekolah Dempo bisa disebut sebagai Indonesia kecil, karena keberagaman budaya yang dimilikinya. Secara khusus, demikianlah keadaan kelas kami, kelas XI IPA 3.
Keberagaman kelas bahkan sekolah berusaha kami ungkapkan dalam bentuk mural di dinding lapangan sekolah. Pada diinding itu kami lukiskan keberagaman budaya dalam bentuk-bentuk figure tertentu: Leak Bali, pemain Kendang, Kuda Lumping, Candi, dan Tugu Malang yang berdiri dengan tegaknya menjulang ke langit. Semua figure itu dipersatukan oleh bendera merah putih yang gagah berkibar. Lukisan ini menjelaskan bahwa budaya yang dimiliki bangsa Indonesia sangatlah banyak. Dari ujung barat Indonesia sampai dengan ujung timur berkumpulah kami semua di sekolah Dempo untuk merajut persaudaraan guna menggapai masa depan yang gemilang. Di sinilah letak keindahan dari perbedaan yang kami miliki satu sama lain.
Perbedaan juga sering kami alami dalam berpendapat. Salah satunya adalah saat persiapan lomba paduan suara untuk memeriahkan acara natal sekolah. Saat itu kami tampil sebagai juara dua. Predtasi itu ternyata harus kami raih dengan proses perdebatan dalam memilih lagu budaya yang akan dinyanyikan. Asal daerah yang bermacam-macam memunculkan masalah pelik. Kami bingung memutuskan lagu mana yang harus ditampilkan. Teman yang berasal dari Pulau Jawa mengusulkan lagu yang bernuansakan javanisme. Sedangkan teman yang berasal dari Pulau Papua mengusulkan lagu yang bernuansakan semangat yang selalu membara dalam setiap ketukan nada yang dimainkan. Ini jelas pandangan yang sangat berbeda dari sisi tempo dan pembawaan sifat lagu. Akan tetapi, kami dapat memutuskan perbedaan itu dengan saling mengerti dan menerima satu sama lain. Kemenangan itu juga kami raih dengan saling mempelajari budaya yang kami miliki sebagai bangsa yang bersatu. Pengalaman sederhana ini memunculkan kesadaran dalam diri kami bahwa perbedaan tidak selamanya membawa suatu kehancuran. Perbedaan bisa membawa keindahan dalam hidup bersosial. Dari sana ada nilai saling menghargai dan membantu satu sama lain. Kami juga disadarkan pun dimotivasi untuk selalu menjaga hubungan antar sesama yang berbeda ini.
