Oleh; Dyah Kirana Nusantara (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Paulus Jember)

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Oleh karena itu, pendidikan multikultural harus ditanamkan sejak dini. Mengingat bagaimana retaknya negeri ini karena saling tidak dapat menerima perbedaan membuat sistem pendidikan Indonesia memeras otak untuk menanamkan kembali rasa saling menghargai dan menghormati antarsesama.
SMAK Santo Paulus Jember adalah sekolah yang turut ambil bagian dalam hal tersebut. Salah satu cara yang dipilih oleh SMAK Santo Paulus untuk merekatkan persaudaraan antarwarga sekolah adalah dengan melakukan berbagai kegiatan bersama yang bernuansa budaya Indonesia. Di bulan Januari tahun 2018, kegiatan akbar yang memuat keberagaman budaya diselipkan dalam perayaanPesta Pelindung Sekolah (PPS).
Untuk tahun ini, tema yang diusung dalam perayaan PPS tersebut adalah“Ayo Ngraketke Paseduluran”. Dengan latar belakang budaya dan kebiasaan yang berbeda, kegiatan ini diharapkan dapat menjalin hubungan baik dan semakin mengakrabkan hubungan antarkeluarga besar SMAK Santo Paulus Jember.
Dengan diawali Misa Ekaristi,seluruh warga sekolah berbondong-bondong menuju GOR SMAK untuk ikut merayakan Pesta Pertobatan Santo Paulus. Acara yang berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 25-26 Januari 2018 menyimpan banyak keseruan, di antaranya adalah tentang pemilihan Mr dan Miss Saint Paul 2018. Dengan melewati berbagai macam seleksi yang diadakan, akhirnya terpilihlah 16 pasang Mr dan Miss perwakilan dari tiap-tiap kelas.
Tema ‘Tempoe Doloe’ merupakan tema yang dipakai sebagai dasar pembuatan kostum Mr dan Miss Saint Paul 2018. Dengan tidak menghilangkan unsur Indonesia, mereka diwajibkan untuk mendesain kostum dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas. Untuk itu, para perwakilan dari masing-masing kelas diwajibkan merancang kostum dengan menggunakan sentuhan barang bekas namun tetap terkesan ‘klasik dan Indonesia’. “Memang agak susah sih, kita bener-bener harus produksi kostum kita sendiri. Semua unsurnya harus bermakna. Waktu produksinya juga mepet. Tapi seru sih,”kata Natasha,finalis Miss Saint Paul 2018.
Keseruan kegiatan ini tak hanya muncul dari penampilan Mr dan Miss Saint Paul namun masih ada acara menarik lainnya yang berupa pentas seni dari masing-masing kelas. Pentas tersebut juga turut menampilkan keberagaman warna budaya Indonesia. Bagaimana tidak? Masing-masing dari perwakilan kelas berhasil mempersembahkan karya terbaik mereka untuk dinikmati dalam kegiatan akbar ini. Beragam budaya bermunculan dari persembahan mereka, mulai dari tari-tarian, nyanyian, puisi, bahkan berbalas pantun dengan menggunakan bahasa Madura. Keakraban yang berbalut budaya ini terasa begitu kental menyelimuti GOR SMAK Santo Paulus Jember. Acara puncak pada PPS tahun ini yaitu dengan terpilihnya Mr Jeremia Santoso (XI IPA3) dan Miss Sierin Velly Fiolita (XI IPA 1) sebagai Mr dan Miss Saint Paul 2018.Tentunya, acara PPS ini tak hanya berakhir dengan pengumuman terpilihnya Mr dan Miss Saint Paul Tahun 2018. Keluargabesar SMAK Santo Paulus menutupkegiatan ini dengan acara makan bersama sebagai bentuk syukur atas persaudaraan yang telah mereka jalin selama ini. Dengan makan bersama, kemajemukan antar keluarga besar SMAK Santo Paulus tampak begitu indah. Akan tidak bijaksana apabila kita merusak persaudaraan dan persatuan karena adanya kemajemukan.“Kemajemukan harus bias diterima, tanpa adanya perbedaan.”– Gus Dur-
