oleh : Bapak Ardi Wina Saputra (Guru Bahasa Indonesia SMAK St. Albertus)

Saat Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) dijabat oleh Muhadjir Effendy. Bapak Muhadjir mewacanakan sekolah untuk giat gerakan literasi. Segala hal terkait literasi menjadi begitu penting arena kecakapan literasi merupakan salah satu kecakapan yang dibutuhkan pada abad 21. Prof. Dr. Djoko Saryono, Guru Besar Bahasa dari Universitas Negeri Malang (UM) mengungkapkan bahwa pada dasarnya terdapat tiga kecakapan yang harus dikembangkan di abad 21. Ketiga kecakapan tersebut adalah kecakapan karakter, kecakapan literasi, dan kecakapan kompetensi. Ketiga kecakapan ini dinilai mampu untuk mencetak generasi penerus bangsa yang kompeten serta kredibel di abad 21.
Menanggapi wacana tentang literasi yang begitu gencar tersebut, SMA Katolik St Albertus Malang (SMA Dempo) tidak tinggal diam. Inovasi terus dilakukan demi melayani siswa sesuai dengan tuntutan zaman. Jam membaca yang dilakukan setiap Kamis tetap dijalankan sebagai salah satu bentuk pembiasaan siswa membaca. Namun, itu saja nyatanya belum cukup. Siswa harus diajak berkarya dan berada dalam atmosfer literasi yang nyata. Oleh sebab itu diselenggarakanlah kegiatan bedah buku “Kumpulan Cerita Pendek Aloer Aloer Merah”. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (28/04/2017) tersebut diselenggarakan di perpustakaan SMA Dempo. Pemilihan tempat memang sengaja di perpustakaan, sekaligus mengajak siswa untuk akrab dengan perpustakaan.
Animo serta minat siswa sungguh luar biasa. Terbukti semua kursi yang berjumlah 180 kursi telah penuh terisi. Bahkan tidak sedikit siswa yang berdiri di belakang, di sela-sela rak buku untuk mengikuti kegiatan bedah buku ini. Buku yang dibedah merupakan buku karya salah satu guru Bahasa Indonesia SMA Dempo yang baru saja terbit pada pertengahan April lalu. Pembedah dalam kegiatan bedah buku itu adalah FX. Domini B.B Hera, peneliti sejarah dari Universitas Gajah Mada (UGM), Enny Dwi Cahyani (guru bahasa Indonesia) dan dimoderatori oleh Gatot Kusudihardjo (guru Matematika). Tujuan dari kegiatan itu sebenarnya adalah mengajak siswa untuk berani berkarya. Setiap Kamis, siswa telah diajak untuk membaca dan inilah momentum yang tepat agar siswa juga diajak untuk menulis. Oleh sebab itu buku yang dibedah adalah buku yang dibuat oleh gurunya sendiri. Tidak mungkin guru menyuruh siswa untuk menulis sedangkan guru tidak berkarya, itulah sebabnya karya yang dihasilkan oleh guru dan siswa harus patut diapresiasi.
Selain siswa, kegiatan bedah buku tersebut juga dihadiri oleh para perwakilan dari yayasan seperti Bruder Vianey, O. Carm, Legowo, dan Romo Teguh, O. Carm. Bukan hanya itu, para pegiat literasi Kota Malang pun juga turut hadir. Mulai dari pustakawan Kota Malang, siswa dari sekolah lain, mahasiswa dan dosen dari Universitas Negeri Malang serta Unidha. Atmosfer bedah buku merupakan atmosfer baru bagi siswa. Kegiatan yang notabene hanya ditemui dalam agenda perkuliahan ternyata cocok juga ketika dibawa masuk ke sekolah. Selama kegiatan, para siswa juga tidak sibuk sendiri. Mereka memperhatikan dengan saksama bahkan aktif dalam bertanya. Harapan dari kegiatan ini adalah semoga kelak yang dibedah adalah karya siswa yang sudah dibukukan, guru hanya mengawali saja. Apabila kegiatan ini terwujud, maka hiduplah iklim literasi secara berkesinambungan di SMA Dempo
