SANTA TERESIA DARI AVILA,SANG PEMBARU

Oleh: Rm. Alberto A. Djono Moi, O.Carm.

Santa Teresa dari Avila, juga dipanggil Santa Teresa dari Yesus, lahir dengan nama Teresa Sanchez de Cepeda y Ahumada, Spanyol 28 Maret 1515. Dia meninggal di Salamanca, Sponyol pada tanggal 4 Oktober 1582 pada usia 67 tahun. Teresa termasuk seorang biarawati Karmelites Kontemplatif, seorang mistik, seorang pembaru dalam kehidupan Karmel.

Selama hidupnya, dia terus berusaha menghayati tata hidup monastic Karmel yang lebih keras – hidup kontemplatif yang keras, seperti idealnya hidup para Karmelit awali di Gunung Karmel. Selain mendirikan 16 biara baru di Spanyol, dia juga menulis beberapa buku rohani yang terkenal hingga sekarang, dan buku-buku ini sangat membantu orang di dalam mengembangkan hidup rohaninya, antara lain: “Pendirian Biara-Biara Pertama”, “Puri Batin”, “Jalan Kesempurnaan”,  dan “Hidup”.

Beberapa peristiwa penting setelah kematian Teresa, antara lain: 24 April 1614 – Paus Paulus VI menyatakan Teresa sebagai beata.; 16 November 1617 –  Pemerintahan Spanyol menyatakan bahwa Teresa sebagai pelindung Spanyol. Pada 12 Maret 1622 Paus Gregorius XV menyatakan Teresa sebagai orang kudus, Santa. Pada tanggal 18 September 1965, Paus Paulus VI menyatakan Teresa sebagai pelindung penulis Spanyol. Paus yang sama juga menyatakan Teresa sebagai Doktor Gereja pada tanggal 27 September 1970 – yang merupakan penghormatan pertama Gereja diberikan kepada seorang perempuan.

Selanjutnya, saya akan mengajak pembaca untuk melihat beberapa hal penting yang diajarkan oleh Teresa dalam hubungan dengan pendidikan – khususnya pendidikan karakter yang menjadi tema majalah kita. Dalam bukunya “Pendirian Biara-Biara Pertama”, Teresa selalu mengajak semua orang untuk sesering mungkin menerima Komuni Kudus. Kita tahu bahwa pada waktu itu, penerimaan komuni kudus tidak sesering seperti sekarang. Teresa memandang bahwa dengan menerima Komuni Kudus, hati dan pikiran orang disucikan oleh Yesus, sehingga tidak berbicara kotor, tidak gosipin orang, tidak membenci orang lain.

Selain menerima Komuni Kudus supaya pikiran dan hati disucikan, umat beriman diharapkan untuk senantiasa melakukan pantang dan puasa. Pantang dan puasa setiap hari Jumat dalam Minggu. Teresa melihat bahwa pantang dan puasa bukan soal tidak makan ini dan itu, tetapi lebih-lebih hal-hal yang buruk yang keluar dari mulut seseorang. Pantang marah, pantang berkata-kata kasar. Puasa untuk tidak menaruh dendam.

Tentang kerendahan hati. Teresa menandaskan bahwa seorang pemimpin itu dipercaya oleh saudara-saudaranya sendiri untuk memimpin mereka. Dia itu pengganti Yesus. Karena pengganti Yesus, maka dia harus belajar memimpin seperti Yesus memimpin 12 rasul-Nya. Seorang pemimpin harus bersikap rendah hati, mau mencuci kaki saudara-saudaranya, mau melayani tanpa minta dihormati, mau mendengarkan, mau membimbing, mau dicaci maki, dikianati, disakiti bahkan dijual oleh saudaranya sendiri. Bukan hanya pemimpin, juga saudara-saudara yang dipimpin, hendaknya tidak boleh mencela dan membenci satu sama lain karena melakukan kesalahan.

Sejak kecil, Teresa terbiasa memberikan sedekah kepada orang miskin. Untuk itu dia mengatakan bahwa belas kasih tumbuh di dalam hati bukan hanya karena doa atau teori buku, tetapi juga lebih-lebih melalui pengalaman nyata hidup sehari-hari. Teresa meminta kepada kita untuk menaruh belas kasih kepada orang yang miskin, lapar dan haus; juga belas kasih terhadap mereka yang tengah berada dalam dosa, seperti yang dikatakannya: “kita jangan melupakan mereka, melainkan mendoakan mereka yang berada dalam dosa berat sebagai bukti belas kasih yang besar.”

Teresa memiliki gambaran yang indah dalam hidup bersaudara, yakni melalui correction fraternal – koreksi persaudaraan. Bagi Teresa, memperbaiki hidup sesama saudara itu sangatlah penting dalam hidup bersama yang berdasarkan cinta kasih Kristus kepada kita. Teresa melihat bahwa hidup setiap orang akan menjadi sempurna bersama orang lain, karena “jika ada orang melihat yang lain menyeleweng dari jalan yang benar atau melakukan beberapa kesalahan, maka ia langsung menegur secara persaudaraan agar berpaling pada jalan yang benar”.

Teresa melihat bahwa saling mengoreksi tidak hanya dilaksanakan antara atasan – bawahan atau bawahan – atasan tetapi juga antara bawahan dengan bawahan. Tujuannya tak lain untuk memperbaiki, bukan untuk menghakimi. Semuanya harus dilakukan atas dasar persaudaraan dan kasih.

Bagaimana gagasan Teresa mengenai kerja? Teresa mengatakan bahwa mereka yang sibuk bekerja dan mengarahkan hati kepada salib Kristus, akan memperoleh kemajuan rohani dengan cepat. Ia menambahkan bahwa cinta mengubah karya menjadi istirahat. Ini berarti bahwa seseorang yang bekerja dan menaruh cinta pada pekerjaan, akan memperoleh anugerah dari Tuhan. Teresa mengajarkan kepada para susternya untuk bekerja tanpa batas waktu. “Janganlah para suster diberi pekerjaan yang harus diselesaikan dalam batas waktu tertentu. Mereka masing-masing harus berusaha bekerja sehingga suster lain memperoleh makanan.”

Nah terakhir mengenai uang. Teresa mempunyai pengalaman berharga yang dapat bermanfaat bagi kita soal sikap terhadap uang. Ia mengakui bahwa ia pernah sangat menginginkan dan menghargai uang. Akan tetapi dia menulis, “jiwa merasa geli sendiri tentang masa ketika menghargai uang dan merindukannya.” Sikap kita terhadap uang memperlihatkan bagaimana iman kita yang sesungguhnya. Kita memang membutuhkan uang, tetapi hal itu jangan pernah membawa kita pada rasa kuatir sekaligus merindukannya. Karena bila setiap waktu kita merindukan uang, maka jangan sampai kita jatuh dalam sikap manipulasi dan korupsi. Marilah kita mencoba menghayati apa yang diajarkan Santa Teresa ini. Semoga hidup kita dibarui menjadi manusia baru yang hidup dengan pikiran baru, hati baru, dan perasaan yang baru. Semoga Tuhan membimbing dan menuntun kita seperti kata Teresa, “Jangan kamu gelisah, jangan kamu gentar, semua akan berlalu; Allah tidak berubah. Dengan kesabaran, semua dapat diraih, orang yang memiliki Allah tiada kekurangan: Allah saja cukup!”