Jadilah Tuan atas Media!!!!

oleh: Sr. Purnama Lusi Mandalahi, H.Carm

Hari menunjukkan pukul 06. 45. Para murid dan guru SMAK St. Albertus Malang berseliweran menuju ruang kerja dan kelas masing-masing untuk memulai kegiatan pembelajaran. Di sela-sela kesibukan itulah  biarawati Hermanas Karmelitas yang bertugas sebagai guru BK dan membantu sebagai Pembina asrama ini bersedia membagikan pemahaman dan pengalamannya dalam memanfaatkan barang-barang digital.

Serba Digital

“Sekarang ini memang era gitital. Hampir semua barang menyangkut hidup kita sudah didigitalisasi: kamera, computer, TV, HP, jam tangan, jam dinding, lampu lalu lintas, computer, dan sebagainya. Namanya jaman digital, maka semua barang memang berbasis digital. Kita tidak dapat mengelak dan menolak barang-barang digital. Sebaliknya kalau kita memanfaatkan secara tepat, justru akan membantu tugas dan pelayanan kita.” papar anak sulung 8 bersaudara pasangan K. Mandalahi dan L. boru Malau ini.

“Kami biasa menggunakan barang-barang ini untuk keperluan hidup sehari-hari. Bendahara rumah biasa menggunakan kalkulator. Untuk membuat laporan pembukuan, bendahara menggunakan program exel dalam computer. Para pendamping biasa menggunakan telpon untuk menyampaikan informasi kepada pihak-pihak di luar asrama; misalkan kepada para orang tua.  HP itu barang digital lho. Kami selalu berpesan kepada anak-anak asrama agar memberitahu dengan cara telpon atau melalui SMS ketika terlambat pulang atau meminta ijin. Kami juga memanfaatkan computer untuk membuat laporan pembinaan.”katanya kelahiran 8 Agustus 1976 ini. Biarawati asal Sumbul, Sumatra Utara ini mengatakan bahwa para Pembina asrama tidak akan dapat memantau anak didik tanpa masuk ke media digital. Para Pembina  bisa menyimak perkembangan dan perilaku anak lewat FB atau instagram yang mereka gunakan. “Jangan alergi terhadap barang-barang digital.”pesannya.

Ketika ditanya manfaatnya bagi seorang guru BK, biarawati yang bekerja di SMAK St. Albertus sejak tahun 2014 ini mengatakan bahwa media digital sangat mendukung tugasnya. Biarawati berjubah coklat ini  biasa menggunakan internet untuk mencari referensi-referensi pembinaan, meng-update ilmu, mencari solusi kasus-kasus pembinaan, juga berbagi ilmu. Membuat media pembelajaranpun menggunakan media digital. “Memang, mendampingi anak-anak di era digital ini tidak mudah. Kurangnya pengawasan orang tua karena kesibukan atau tinggal di tempat kos membuat anak-anak tidak tahu atau mengabaikan yang baik dan benar. Kita bisa belajar dari rekan-rekan guru berbagai sekolah yang dengan rela membagikan pengalaman pendampingannya melalui blog yang mereka buat. Kita juga perlu membudayakan kegiatan-kegiatan komunal dialogis agar orang muda  tidak makin jauh terseret dampak negative media digital.”

Dampak media digital.

“Harus diakui bahwa media digital selain membawa dampak positif juga dampak negative. Karena media ini, orang menjadi malas, khususnya dalam berelasi dengan orang lain.”ungkapnya. Biarawati berkacamata ini lalu mencontohkan kasus di mana orang  tinggal dalam satu rumah namun dalam berkomunikasi menggunakan HP. “Lucu kan, satu rumah dalam berkomunikasi dengan cara SMS-an?” katanya sambil senyum-senyum.  Akibatnya media digital justru menjauhkan orang-orang terdekat. “Sebaliknya, karena media digital seperti HP dan internet, orang terdekatkan dengan orang lain yang jaraknya bisa beratus-ratus kilometer. Lewat FB, WA, orang asyik chating dan ngobrol. Orang terkesan tiada sekat dan berakrab-akrab ria. Kalau sudah begini orang bisa lupa diri lho.”kelakarnya.  “ Hati-hati dengan media digital khususnya HP. Ada  orang-orang tertentu – mungkin juga kaum berjubah –  tersandung masalah karena kesalahpahaman.  Kata atau kalimat yang sepotong bias disalah tafsir dan dipahami berbeda-beda. Hal ini tentu berbahaya dalam hidup berkeluarga pun hidup membiara.”keluhnya.

Media digital juga mengakibatkan relasi dangkal. “Bagaimana relasi akan mendalam kalau komunikasinya hanya melalui SMS. Relasi mendalam diandaikan kalau orang mau ketemu muka dengan muka, lalu saling sharing, curhat, dan mengungkapkan isi hati. Dalam suasana itulah orang membina rasa saling percaya dan saling berserah. Dalam peristiwa itu mereka yang berdialog saling memperdalam pengenalannya satu dengan yang lain. Hal demikian juga berlaku dalam pembinaan BK. Tatap muka dengan murid sangat penting. Guru BK harus memberi waktu cukup pada murid yang ingin konsultasi, terlebih ingin curhat.”  

Media digital membuat orang terganggu belajarnya. “Di sekolah sering terjadi anak terkantuk-kantuk saat jam pelajaran karena suka begadang nonton You Tube atau main game. Maka orang tua, pemilik kos, atau Pembina asrama hendaknya selalu memantau anak-anak dampingannya saat malam hari. Tidak menutup kemungkinan tengah malam saat para Pembina tidur mereka bangun lalu nonton You Tube atau main game.”pesannya.

Usaha Mengendalikan Media Digital

Kelemahan manusia menjadikan media digital yang sifatnya netral membawa dampak buruk. Terkait dengan usaha mengendalikan dampak-dampak buruk media, kelahiran Sumbul 8 Agustus 1976 ini menyampaikan beberapa tips.

Dampak buruk media digital dapat dikendalikan dengan penghayatan spiritualitas persaaudaraan. “Secara pribadi saya lebih mengutamakan kebersamaan. Bukankah spiritualitas Karmel menekankan persaudaraan? Persaudaraan dapat diwujudkan dengan mengutamakan kepentingan orang lain. Misalnya saat nonton TV, kita  tidak harus menguasai remote demi kesenangan kita. Kita bias membiarkan anggota lain komunitas membawa remote untuk memilih acara yang disenangi.”

Mengutamakan komunitasi tatap muka adalah tips, berikutnya. “Saya lebih senang komunikasi “face to face” sejauh itu dimungkinkan. Dengan komunikasi demikian saya tahu reaksi dan sikap lawan bicara saya apakah dia senang, susah, tidak suka, marah, geram, dan sebagainya.  Ungkapan-ungkapan perasaan itu tentu membantu kita untuk menata perasaan pun menentukan sikap. Kalau memang lawan bicara kita tidak suka dengan yang kita bicarakan, kita tidak akan melanjutkan pembicaraan itu. Kalau lawan bicara tidak mood saat berbicara dengan kita kaarena mungkin sedang ada persoalan, kita bias member peneguhan, penghiburan, dan sebagainya. Orang mungkin juga sedang butuh dukungan kita sehingga enggan kalau diajak bicara yang mungkin sekedar ngobrol saja. Hal-hal macam  ini sering tidak dipedulikan dalam komunikasi melalui media sosial. Apakah Anda tahu reaksi lawan bicara saat baca SMS? Tidak kan?”

Sebagai Pembina asrama Sr. Lusi mengendalikan penggunaan internet sebagai salaah satu usaha mengurangi dampak buruknya. Pada jam-jam tertentu, terutama saat jam tidur, internet dimatikan. “Selain membatasi penggunaan internet, kami juga memantau apakah internet itu digunakan secara benar atau tidak. Kami tidak mengijinkan anak nonton You Tube saat jam belajar. Kalau ketahuan ada anak nonton you tube ya diberi sanksi. Kami tidak henti-hentinya mengingatkan pentingnya menggunakan internet secara benar.” kata Pembina Asrama Mahasiswi “Serafic” ini. 

Menyadari keluhuran martabat sebagai ciptaan adalah tips biarawati berkulit kuning langsat ini. “Kita itu makhluk paling mulia, diciptakan seturut citra Tuhan. Barang-barang digital itu buatan manusia. Masak kita kalah dan diperbudak oleh media. Ini namanya ironis. Sudah penyembahan berhala ini. Untuk itu kita harus menjadi tuan atas media di era digital ini. Kita dianugerahi akal budi untuk memilah, memilih dan bermenung tentang media digital ini. Media digital digunakan untuk kebaikan manusia bukan untuk keburukan manusia. Ini harus sunggguh-sungguh disadari. Kalau orang rajin berefleksi tentu ia akan bijaksana karena tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.  Kita bisa memperlakukan apa saja sesuai dengan kebutuhan dan tujuan. Kita juga bias tahu kapan harus menggunakan media ini, kapan harus jaga jarak, bahkan kapan harus melepaskan diri dari media digital.” pungkasnya