KARAWITAN SIMBOL PERSATUAN

Oleh: Ujang Sarwono, S.Pd.

“Meski terdiri dari bermacam-macam alat musik, karawitan atau gamelan mampu menyuguhkan harmoni yang indah. Semua alat musik mampu menyuguhkan suara yang selaras. Karawitan adalah simbol indahnya persatuan dalam perbedaan.”

Begitulah kira-kira penggalan dalam homili yang disampaikan oleh Rm. Atanasius Mariyanto Eka, S.Fil., M.Th. dalam misa perayaan Pesta Pelindung Sekolah (PPS) Januari lalu di SMAK Santo Paulus Jember. Rasa-rasanya memang benar begitu analogi soal persatuan. Seperti yang kita tahu, karawitan atau yang merujuk pada gamelan memiliki unsur alat musik yang bermacam-macam dan terkesan rumit. Namun, ketika semua alat musik itu dimainkan dengan benar, maka  akan muncul suara yang merdu dan indah.

            Dalam buku Pilar-Pilar Bumi Panggung karya Ahmad Naufel, dikatakan bahwa karawitan berasala dari kata dasar rawit dalam bahasa Jawa yang berarti lembut, halus, atau rumit. Dari asal kata itu dapat diartikan bahwa karawitan merupakan karya seni yang memiliki sifat halus, rumit, dan indah. Adapun gamelan merupakan alat musik yang digunakan dalam karawitan. Gamel, dalam bahasa Jawa berarti ‘memukul’ atau ‘menabuh’. Akhiran ‘an’ menunjukkan kata benda sehingga gamelan bermakna seperangkat alat musik yang dimainkan dengan berirama.

            Gamelan terdiri dari kendang, bonang, penerus, demung, saron, peking, kenong dan kethuk, siter, gender, gambang, gong, slenthem, rebab, dan suling. Bisa dibayangkan betapa banyaknya alat musik dalam karawitan. Semua memiliki suara yang khas apabila dimainkan. Bukan hanya khas, setiap alat musik dalam gamelan juga mampu menjadi ‘penting’ sesuai peran masing-masing tanpa saling melemahkan suara alat musik yang lain. Kehadiran suara setiap alat musik justru seolah menjadi pelengkap yang semakin memperindah suara yang dihasilkan.

            Mari kita ulas beberapa terkait alat musik dalam karawitan. Pertama, mari membicarakan alat musik yang disebut kendang. Kehadiran kendang sangat penting dalam menciptakan harmoni dalam karawitan. Bagaimana tidak, kehadiran kendang menurut Bapak Sumarno, guru bahasa Jawa di SMAK Santo Paulus layaknya sebuah ‘aba-aba’ dalam gerak jalan. Bisa dibayangkan jika gerak jalan tanpa ada aba-aba. Sudah pasti semua yang telah tertata akan biungung akan bergerak ke mana. Kehadiran kendang seolah memberikan instruksi agar semua alat musik yang dimainkan mampu berada dalam irama yang sama. Penting sekali peran kendang dalam permainan karawitan.

            Lalu bagaimana dengan saron? Kehadiran saron juga seolah tidak bisa diremehkan. Lantunan suara yang dihasilkan seolah menjadi yang terlantang didengarkan. Jika tidak ada saron, sudah dapat ditebak akan seperti apa bunyi yang dihasilan. Akan benar-benar kehilangan sesuatu yang inti dalam permainan gamelan.

            Begitu juga dengan gong, alat musik yang dipukul atau dimainkan dengan kebanyakan ketukan terakhir pada setiap baris ini juga memiliki kekhasan tersendiri. Meski tidak sesering saron dalam memainkan, kehadiran gong seolah selalu dinanti karena menjadi penanda berakhirnya satu baris tembang atau keseluruhan tembang yang dimainkan. Bukan menjadi tidak penting meski hanya dipukul atau dimainkan ‘jarang-jarang’. Kehadiran suara gong justru menjadi yang dinanti dan begitu mudah terdeteksi ketika suara gong tidak sesuai ketukan yang seharusnya.

            Dari tiga alat musik saja, kita mampu belajar tentang perbedaan peran dan analogi menjalani hidup dalam perbedaan. Menjadi kendang berarti kita mengambil peran untuk ‘memimpin barisan’. Ketika menjadi kendang, kita harus paham betul kapan harus memainkan tempo cepat dan lambat. Kapan kita harus berjalan cepat, kapan harus pelan, dan kapan harus berhenti menjadi tanggung jawab sepenuhnya kendang sebagai ‘pemimpin barisan’. Memegang peranan kendang berati kita juga harus mampu memberikan kepercayaan pada semua alat musik yang lain. Selain itu, menjadi kendang yang dianalogikan sebagai ‘pemimpin barisan’ juga harus mempu percaya diri dengan irama yang dimainkan.

            Sementara itu, menjadi saron ibarat menjadi seorang yang lantang dalam menyuarakan segala sesuatu dengan lantang. Dalam hal ini kebaikan dan keburukan sekalipun. Nada dalam saron seolah menjadi yang paling lantang didengarkan. Oleh karena itu, jika mengambil peran menjadi saron wajib menyuarakan kebenaran dan keburukan dengan lantang dengan satu tujuan yakni keindahan berasama. Tidak banyak yang mampu mengambil peran sebagai saron. Terkadang kurang percaya diri hingga suara yang dihasilkan menjadi ‘samar-samar’. Tidak jelas salah atau benar. Berada pada posisi yang tidak hitam dan tidak putih. Menjadi saron kita belajar untuk ‘tegas’ dalam menyuarakan sesuatu. Katakan benar jika itu benar dan salah jika itu salah dengan suara yang lantang.

            Terakhir, melaui gong kita belajar untuk menjadi pribadi yang siap untuk diberikan masukan dan komentar. Bagaimana tidak, menjadi gong memang tidak terlalu mengambil banyak peran. Gong juga hanya dimainkan beberapa kali, lebih sedikit dibandingkan kendang atau saron. Akan tetapi, jika suara gong tidak sesuai dengan ketukan yang seharusnya, maka akan sangat mudah untuk didengarkan kesalahannya. Maka, dari gong kita belajar untuk ekstra berhati-hati dalam bertindak. Siap menerima segala konsekuensi jika ternyata apa yang kita lakukan ‘menyimpang’. Menjadi gong, kita berarti harus siap untuk menerima masukan atau kritikan terkait segala tindakan kita yang menyimpang.             Kendang, saron, dan gong hanya tiga dari sekian banyak alat musik dalam karawitan. Melalui ketiga alat musik tersebut, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang memegang peran masing-masing tanpa saling merendahkan atau menganggap diri paling penting di antara yang lain. Melalui karawitan kita belajar untuk menjadi pribadi yang mampu untuk mengenali diri menjadi siapa dan berperan menjadi siapa tanpa harus saling merendahkan yang lain. Melalui karawitan kita juga belajar untuk mengutamakan keindahan dan keharmonisan dalam setiap perbedaan yang ada. Seperti beragamnya alat musik dalam gamelan, namun mampu menciptkan harmoni yang menghasilkan keindahan.